Evina adalah wanita biasa yang hidupnya penuh dengan luka. ketika kecil dia pernah dilecehkan oleh orang dekatnya. Ia juga harus menerima segala sakit fisik maupun mental karena keluarganya yang berantakan. Dan Fahri sang pujaan hatinya yang dia kira akan menyelamatkan hidupnya. Nyatanya justru menjadi puncak dari segala dukanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuisakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EP. 25 SISKA PACARAN
Evina masih menyusul Siska, yang entah mengapa terlihat kesal. Tidakbiasany temannya itu marah. Siska sangat periang, jarang sekali marah.
"Vi, jangan cepat - cepat!" ujar Fahri yang mengikuti Evina.
"Kamu ngga usang ngikut," ujar evina masih sambil melangkah kakinya dengan cepat.
Mereka berjalan melewati tempat cukup berbahaya dilalui karena di dalam hutan pinus. Jika salah melangkah saja bisa jatuh terpeleset.
Setelah mengejar beberapa saat Evina dan Fahri mendapati Siska seperti sedang berselisih dengan Aris.
"Apa sih, Ris? Aku sudah bilang kalau aku ngga bisa," ujar Siska dengan nada tinggi.
"Apa kurangku Sis,"ujar Aris balik. Siska tak memberikan jawaban apappun. Ia tak punya jawab atas pertanyaan Aris.
" Jawab aku Sis,. Apa kurangku sampai kamu menolakku.
"Aris, kita ini teman, ngga lebih. Dan aku menghargai pertemanan kita. Kita akan lebih cocok jika berteman saja.
"Ngga bisa Sis, aku ngga mau cuma jadi teman. Aku menyukaimu sejak kelas satu. dan kini kita sudah beranjak ke kelas tiga. Aku tak mau perasaan yang ku punya sia - sia.
"Tapi aku tak meminta kamu menyukaiku. Jadi tak ada yang namanya sia - sia. Kamu hanya bermain dengan pikiranmu sendiri, Ris. Lagi pula..." ujar Siska belum selesai mengatakannya.
"Lagipula apa?" tanya Aris.
"Aku sudah punya pacar, Ris.,"jawab Siska dengan berat.
"Jangan mencari alsan yang payah begitu Sis. aku ngga akan tertipu," ujar Aris.
"Aku nggabohong Ris. Dan dia hari inidatang kesini untuk menjemputku," ujar Siska yang berani menatap ke arah Aris.
"Kamu tega, Sis" ujar Aris dengan penuh kekecewaan. Ia segera pergi meninggalkan Siska. Ia langsung menuju parkiran motor dan segera mengendarai motor dan bergegas pergi.
Fahri dan Evina yang sedari tadi mengintipdi balik pohon pun segera menghampiri Siska.
"Kamu berantem sama Aris?" tanya Evina.
"Engga ,Vi," ujar Siska.
"Kamu bohong, Sis. Tadi jelas - jelas Aris marah ke kamu. Tapi sebelumnya aku lihat kamu yang marah ke Aris. Kalian kenapa sih?" tanya Evina. Siska tak menjawab, sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kalian lagi ada hubungan spesial?" tanya Fahri menambahi.
"Engga, aku udah punya cowok. Dia yang maksa......" kata Siska keceplosan.
Evina tersenyum mendengar kata - kata Siska. Jadi ceritanya Aris ditolak oleh Siska. Fahri pun tak bisa berkata apa pun. Jika memang Siska tak mau menerima Aris.
"Vi, aku pamit pulang," kata Siska.
"Lho, kog buru buru? Kita kan baru nyampe?" ujar Evina heran.
"Aku tadi minta di jemput cowokku. Habis si Aris ngotot banget. Kan akhirnya aku ngomong kalau aku punya cowok. Dia aku minta ke sini supaya Aris percaya," kata Siska.
"Wah, kamu sadis Sis," kata Fahri.
"Ya, gimana Ri, perasaan kan, ngga bisa dipaksa. Apalagi aku udah punya hubungan sama orang lain. Lagian kita kan teman. Kalau menjalin hungungan lebih, rasanya aku ngga bisa," kata Siska.
"Nyindir kami?" kata Fahri.
"Oh, engga Ri, aku justru seneng kamu jadian sama Evina. Hanya saja kalau aku sam Aris kan memang ngga ada arah ke sana. Kalau kalian dari awal emang udah klop," kata Siska.
Mereka asyik berargumen di tempat itu. Sampai tak ingat dengan Aris. Sementara itu seseorang datang menghampiri mereka.
"Mas Ryan? Nagapain ke sini?" tanaya Evina. Ternyata orang yang datang itu adalah Ryan.
"Mau jemput pacar aku," jawab Ryan.
Evina dan Fahri saling berpandangan. Mereka sedang mencoba mencerna situasi yang sedang terjadi. Apa maksudnya? Mereka pacaran? kapan?
"Bentar, ini kalian?" tanya Evina yang masih meraba kondisi ini.
"Kami jadian," jawab Ryan.
"Sis?" tanya Evina.
Siska hanya mengangguk pelan seperti sedang ketahuan melakukan sesuatu. Evina tersenyum dengan keheranan. Mengapa ia tak bercerita. Jadi Siska benar serius mendekati Ryan.
"OK, selamat untuk kalian. Aku merasa kecolongan banget deh," ujar Evina.
"Vi, bukan begitu. Kejadiannya cepet banget. Aku baru dua minggu juga sama mas Ryan,"ujar Siska yang takut juka Evina marah.
"Ngga masalah. Kamu ngga perlu jelasin begitu. Ya, kalau kalian pacaran ya selamat. cuma aku kaget aja. Kapan ketemunya?" kata Evina.
"Lho, bukannya waktu test aku pernah ktmu sama kamu?" kata Ryan.
"Oh, iya waktu itu. Itu kalian udah jadian?" tanya Evina.
"Iya," kata Siska.
"Ya, udah Vi, aku pulang dulu. Maaf ya jadi bikin kacau acaranya," ujar Siska.
"Kacau apanya? Ngga da yang kacau. Ya kan, Ri,?" ujar Evina bertanya pada Fahri.
Fahri hanya menganguk bingung. Ia kasian kepada sahabatnya Aris.Wanita yang sudah lama diincarnya ternyata tak bisa menerima perasaannya.
"Ya, udah kami pulang dulu," kata Ryan.
"Oh, iya mas ati - ati," kata Evina.
Siska lantas melambaikan tangannya ke Evina dan Fahri. Evina membalas lambaian tangan itu. Dan Fahri masih asyik dengan pikirannya sendiri.
Sepeninggal Siska dan Ryan tersisa Fahri dan Evina yang terdiam bersama. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing -masing.
"Kenapa?" tanya Evina. Fahri hanya menggelengkan kepalanya.
"Mikirin Aris?" tanya Evina lagi.
Fahri hanya tersenyum pertanda mengiyakan pertanyaan Evina. Namun sepertinya Fahri tak ingin mempermasalahkan itu dengan Evina. Ia ingin bersama Evina saja.
"Udah, ah. Ngga usah bahas itu! Itu urusan mereka. Sekarang kita fokus sama kita berdua aja," ujar Fahri.
"Kita? Emang kita ada masalah?" tanya Evina.
Fahri tak menjawab pertanyaan Evina , Ia segera menggandeng tangan Evina. Serta menuntunnya berjalan.
"Sekarang kita jalan - jalan dulu. Jangan bilang kamu mau pulang karena Siska juga pulang," ujar Fahri.
"Siapa yang mau pulang. Kan aku mau di sini sama kamu," ujar Evina.
Fahri tersenyum bahagia mendengar ucapan Evina. lantas mereka berjalan - jalan mengelilingi tempat wisata itu.
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
Setelah seharian jalan - jalan mereka memutuskan untuk pulang. Febi dan yang lain lain pulang dengan kendaraan masing - masing. Tinggal Evina dan Fahri.
Fahri sedang membujuk Evina agar diperbolehkan mengantarkannya samapi rumahnya.
"Ayolah, Vi. Masa kamu mau kuanter sampe halte bus di deket sekolah. Ku antar sampai rumah. Nanti kamu pulang bisa kesorean," kata Fahri.
"Ya, ngga apa - apa. Kan ngga masalah," jawab Evina.
"Ngga masalah gimana? Kamu itu perempuan, pulang sendirian sore - sore gitu. Orangtuamu ngga nanyain?" tanya Fahri.
"Engga, mereka ngga nanya. Kan biasanya juga pulang sore," balas Evina.
"Kamu ini ya. Kalau dikasih tahu sukanya bantah aja. Aku yang ngga tega kamu pulang sendiri'. Aku ngga mau tahu, ah. Pokoknya aku antar kamu samapi rumah," ujar Fahri.
Fahri bergegas menaiki motornya, namun Evina masih terdiam.
"Cepet, naik," kata Fahri. Terlihat wajah Evina yang cemberut.
"Kalau ngga mau aku tinggal di sini sendiri," kata Fahri lagi.
Dengan kesal pun Evina menuruti kata -kata Fahri. Ia sangat tidak ingin Fahri tahu tempat tinggalnya. Ia takut jika Fahri tahu keadaan keluarganya yang berantakan.
Nmaun belum Fahri memutar gas motornya, tiba - tiba hujan turun. Fahri dan Evina buru - buru turun darimotor dan pergi mencari tempat berlindung. mereka berlinding di tempat petugas parkir yang sudah pulang sedari tadi.
"Aduh, belum pulang udah hujan. Gimana ini," ujar Fahri bingung. Ia takut akan telat mengantarkan Evina pulang. Hari sudah sore jika hujan tak berhenti dia bisa kemalaman menunggu hujan reda.
"hujan - hujanan aja," kata Evina.
"Engga, nanti kamu sakit. Tunggu bentar nanti kan reda," uajr Fahri.
Beberapa saat mereka menunggu hujan reda namun tak kunjung reda. Malh semakin deras. Evina terlihat menggigil kedinginan. Jaketnya yang tipis tak bisa melindunginya dari hawa dingin.
Fahri yang melihat itu segera membuka jaket dan i pakaikan ke Evina.
"Kamunantibkedinginan Ri," ujar Evina yang tengah menggigil.
"Udah jangan ngomong. Kamu sendiri coba lihat. Aku kan laki - laki, cuma dingin bisa tahn," ujar Fahri. Lantas evina menggenggam tangan Fahri. Ia tak tahan dengan suasana dingin itu.
"Tanganmu dingin banget," kata Fahri yang kemudian menggenggam kedua tangan Evina. DItiupnya perlahan tangan Evina.
Namun tak dapat dibohongi fahrijuga lama - kelamaan merasa kedinginan. hari yang semakin larut dan hujan yang takklunjung reda membuat tulang - tulangnya seras di tusuk -tusuk.
Saking tak kuatnya Fahri segera mendekap Evina, supaya ia juga bisa merasa hangat.
"Kamu kedinginan kan, Ri?" kata Evina yang khawatir dengan Fahri.
"Heeem," Fahri hanya mengerang, seraya mempererat pelukannya. Evina pun mengajaknya duduk hingga mereka dalam posisi duduk sambil berpelukan.
"Fahri?" panggil Evina.
"Sebentar dulu, Vi. Aku kedinginan banget," ujar Fahri.
"Jaketmu pakai lagi! kata Evina seraya melepas jaket Fahri dari badannya.
"Jangan - jangan nanti kamu sakit," ujar Fahri.
Evina tak tega melihat Fahri seperti itu. Ia mengusap wajah Fahri perlahan. Ditatapnya wajah Fahri dengan lembut. Fahri menikmati perlakuan Evina.
"Kasian," uajr Evina.
Fahri menatap ke arah Evina. Perlahan ia mulai terbawa suasana. Diciumnya bibir Evina yang sudah terasa dingin. Evina pun tak menolak ciuman dari Fahri. Semakin intenst, Fahri mulai membuka bibirnya.
Evina tak bosan menahan perasaannya, ia pun mengikuti setiap gerakan bibir Fahri. Kedua insan ini terlena dengan suasana hariitu. Fahri pun dengan penuh gelora tak melepaskan ciuman membaranya dari Evina. Kini Evina pun hanya pasrah dicium Fahri dengan begitu dahsyatnya.
mampir juga di karyaku My Kids My Hero
mampir juga di karyaku
Kangen fahri evina,,