NovelToon NovelToon
Sekar

Sekar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.

Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketakutan Wulan

Sementara itu, di rumah Juragan Ramli, Wulan tampak duduk termenung di dalam kamarnya.

Sejak pulang dari rumah orang tuanya sore tadi, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.

Tatapannya kosong mengarah ke jendela.

Namun sebenarnya dia tidak sedang melihat apa pun.

Pikirannya melayang jauh, kepada pertemuannya dengan Baskoro di jalan desa.

Kepada semua ucapan pria itu. Dan, terutama pada satu kalimat yang masih terus terngiang-ngiang di telinganya.

"Apa dia tahu kau sudah nda perawan lagi?"

Wulan langsung memejamkan mata.

Seolah ingin mengusir suara itu dari kepalanya.

Namun semakin dia mencoba melupakannya, semakin jelas kalimat itu terdengar.

Dia menggenggam ujung selimut di pangkuannya.

Ucapan itu membuatnya ketakutan, bagaimana jika nanti, ternyata Lindu tidak bisa menerima hal itu.

Wulan menghela napas panjang.

Lalu menggeleng pelan, dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, Lindu bukan orang seperti itu.

Selama ini Lindu selalu bersikap baik kepadanya.

Bahkan, Lindu selalu memperlakukannya dengan hormat.

Namun tetap saja.

Wulan adalah manusia biasa.

Dan manusia sering kali takut pada kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.

Malam itu, setelah makan malam, Wulan duduk di ruang tengah bersama sambil menonton televisi.

Suara acara yang sedang tayang terdengar pelan memenuhi ruangan.

Sesekali Bu Diya ikut menanggapi apa yang muncul di layar, hingga akhirnya wanita itu teringat sesuatu.

"Wulan, kamu sudah dengar cerita tentang Pakde Nanang?" Tanyanya.

Wulan menoleh.

"Cerita apa, Bu?"

Bu Diya lalu mulai menceritakan kabar yang beberapa hari terakhir menjadi bahan pembicaraan seluruh desa.

Tentang Pak Nanang yang mengaku bertemu Sekar saat pulang dari kebun.

Tentang bagaimana pria tua itu mengantar Sekar sampai ke rumah Bu Ratmini.

Dan tentang Sekar yang tiba-tiba menghilang begitu saja saat mereka sampai di depan rumah.

Semakin Bu Diya bercerita, wajah Wulan semakin berubah.

Matanya membulat, tubuhnya bahkan sedikit menegang.

"Benarkah, Bu?" Tanyanya pelan.

"Iya. Sekarang satu desa membicarakannya."

Wulan terdiam.

Pandangannya kembali tertuju ke televisi, tetapi pikirannya sudah jauh melayang ke mana-mana.

Benarkah Sekar kembali?

Pertanyaan itu langsung muncul di benaknya.

Namun kalau memang Sekar kembali, kenapa dia tidak pulang?

Dan jika benar dia sempat berada di depan rumahnya sendiri lalu pergi lagi, ke mana dia pergi?

Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan. Membuat kepalanya terasa semakin berat.

Belum selesai dia memikirkan pertemuannya dengan Baskoro sore tadi.

Belum selesai dia mencoba menenangkan dirinya dari semua ucapan pria itu.

Sekarang muncul lagi persoalan tentang Sekar.

Wulan mengembuskan napas pelan. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Jujur saja, dia juga merindukan sahabatnya itu.

Wulan masih ingat saat mereka bermain bersama di sungai.

Masuk ke kebun mangga tetangga diam-diam.

Atau saling bercerita tentang mimpi-mimpi mereka saat remaja.

Sekar bukan hanya teman, Sekar adalah sahabat yang tumbuh bersamanya.

Karena itulah, di balik semua kekacauan yang terjadi, dalam hati Wulan yang berharap Sekar baik-baik saja.

"Kata orang-orang, kemungkinan laki-laki yang kabur sama Sekar itu sudah meninggalkan dia."

Wulan menoleh pelan.

Bu Diya melanjutkan,

"Makanya dia pulang."

Wulan tidak langsung menjawab.

Dia hanya mendengarkan.

"Kalau memang benar begitu, ya baru tahu rasa."

Nada suara Bu Diya terdengar dingin.

Wulan menunduk.

"Sampai sekarang ibu masih sakit hati."

Wulan terdiam.

"Sakit hati dengan apa yang dia lakukan pada Lindu."

Bu Diya menghela napas panjang.

"Dan juga pada keluarga ini."

Wulan menggenggam jemarinya sendiri.

Dia bisa memahami perasaan wanita itu.

Hari ketika Sekar menghilang memang menjadi hari yang memalukan bagi keluarga Juragan Ramli.

Tamu sudah datang, persiapan pernikahan sudah selesai.

Namun pengantinnya justru menghilang.

Banyak orang membicarakan mereka saat itu.

Dan yang paling terluka tentu saja adalah Lindu.

"Mas Lindu itu nda pernah macam-macam sama dia."

Bu Diya kembali bersuara.

"Dia sayang sama Sekar, semua orang juga tahu itu."

Wulan hanya diam.

"Aku bahkan pernah menganggap Sekar seperti anak sendiri."

Suara Bu Diya kini terdengar lebih pelan.

"Tapi apa balasannya?"

Wulan menelan ludah, dia ingin mengatakan sesuatu.

Dia ingin membela sahabatnya.

Ingin mengatakan bahwa mungkin ada sesuatu yang belum diketahui mereka semua.

Bahwa mungkin tidak sesederhana yang dibayangkan orang-orang.

Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

Karena dia sadar, apa pun alasannya, luka yang ditinggalkan Sekar pada keluarga ini memang nyata.

Terutama bagi Bu Diya.

Karena itulah Wulan memilih diam.

Dia hanya menatap televisi yang terus menyala di depan mereka.

Meski sebenarnya dia tidak benar-benar memperhatikan acara yang sedang tayang.

Di dalam hatinya, perasaannya bercampur aduk.

Di satu sisi, dia memahami kemarahan Bu Diya. Namun, di sisi lain, dia juga mengenal Sekar.

Mengenal gadis yang selama bertahun-tahun menjadi sahabatnya.

Dan entah kenapa, sampai saat ini Wulan masih sulit percaya bahwa Sekar dengan sadar meninggalkan semuanya hanya demi seorang laki-laki.

Karena itulah setiap kali mendengar orang-orang menyalahkan Sekar, ada bagian kecil dalam dirinya yang selalu bertanya-tanya.

Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?

Pertanyaan yang sampai sekarang belum memiliki jawaban.

Sementara di sampingnya, Bu Diya kembali fokus pada televisi.

Namun sesekali wanita itu masih menggeleng pelan.

Jelas terlihat bahwa luka lama yang ditinggalkan oleh kepergian Sekar belum benar-benar sembuh dari hati keluarga itu.

Setelah berbincang dengan Bu Diya, Wulan pamit masuk ke kamar.

Malam semakin larut.

Di dalam kamar, lampu kecil di atas meja masih menyala, Lindu duduk di kursi kayu di depan meja itu.

Di hadapannya terbuka beberapa buku kas yang berisi catatan pemasukan dan pengeluaran usaha penggilingan milik keluarganya.

Sesekali dia menulis sesuatu, sesekali pula menghitung angka-angka yang tertera di halaman buku.

Wulan masuk dan menutup pintu perlahan.

Lalu berjalan menuju ranjang, dia duduk di tepinya sambil memperhatikan Lindu yang masih sibuk dengan pekerjaannya.

Suasana kamar terasa sunyi, hanya suara lembaran kertas yang sesekali dibalik oleh Lindu.

Beberapa menit berlalu. Namun, pikiran Wulan masih dipenuhi oleh cerita tentang Sekar.

Akhirnya dia memberanikan diri membuka suara.

"Mas..."

"Hm?" Sahut Lindu tanpa mengalihkan pandangan dari buku kas.

"Apa Mas sudah dengar kabar tentang Sekar yang kembali?"

Pertanyaan itu membuat gerakan tangan Lindu berhenti.

Pulpen yang berada di tangannya terdiam di atas kertas.

Beberapa detik berlalu.

Barulah Lindu menutup buku yang sedang dibacanya.

"Iya." Jawabnya pelan.

"Aku sudah dengar."

Wulan menunduk.

Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan.

Entah kenapa pertanyaan berikutnya terasa begitu berat untuk diucapkan.

Namun rasa penasaran dan kegelisahan di hatinya jauh lebih besar.

"Kalau..." Dia berhenti sejenak, mencari keberanian.

"Lalu bagaimana kalau Sekar benar-benar kembali?"

Lindu tidak langsung menjawab.

Tatapannya kini tertuju ke meja di depannya.

Wulan menarik napas pelan.

Lalu melanjutkan,

"Apakah..." Suara wanita itu semakin lirih.

"Apakah Mas akan kembali padanya?"

Kalimat itu akhirnya keluar.

Dan setelah mengucapkannya, Wulan langsung menundukkan kepala.

Dia bahkan tidak berani melihat wajah Lindu.

Jantungnya berdebar begitu keras, takut mendengar jawaban yang mungkin akan menyakitinya.

Di sisi lain, Lindu terdiam.

Cukup lama.

Hingga Wulan mulai merasa cemas karena tidak mendapat jawaban apa pun.

Lalu akhirnya terdengar suara kursi bergeser pelan.

Kini Lindu menghadap Wulan. Tatapannya tepat ke arah Wulan.

"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Tanyanya pelan.

Wulan menggigit bibirnya.

"Aku cuma ingin tahu."

Lindu kembali terdiam.

Beberapa saat kemudian, pria itu menghela napas panjang.

"Sekar itu masa lalu."

Wulan perlahan mengangkat wajahnya.

"Dan masa lalu tidak bisa diulang."

"Apa yang terjadi sudah terjadi." Wulan menatapnya tanpa berkedip.

"Sekar memilih jalannya sendiri waktu itu."

"Sedangkan aku..." Dia berhenti sejenak.

"Aku juga sudah menjalani hidupku sekarang."

Namun, tidak demikian yang di lihat Wulan. Wulan tahu, jika suaminya itu masih begitu mencintai sahabatnya itu.

Semua itu tergambar jelas di mata Lindu, meskipun bibirnya mengatakan tidak, tapi hatinya masih menyimpan cinta yang besar untuk Sekar.

1
Siti Yatmi
duh ..Thor .betapa hancur hati seorang ibu .tiap hari berharap anaknya pulang, tapi malah mayat yg ditemukan, ga sanggup deh, bayangin nya ..
M.S Inisial
Suka banget sama karya author satu ini
Yulia Lia
ceritanya bagus
Riska Salahudin
seru kak
Yulia Lia
lanjut KK ,,nah yg kmaren ngatain sekar lari SM laki2 lain taunya dia ada di dlm sumur
Yulia Lia
lanjut ya kk
Yulia Lia
mudah2 itu Sekar biar gosip yg berenar gk bener
Nurr Tika
warga heboh knp sekar mati
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
harusnya tdi di angkat sekalian yah, gara" takut akhirnya lupa
Siti Yatmi
jgn2 Sekar itu..ya Tuhan ...
Wiwit
lanjut thor
Nurr Tika
bnr kah itu mayat sekar
Riska Salahudin
pasti sekar
Nurr Tika
mayat sekar di buang ke sumur
Nurr Tika
bagus
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
oh ternyata baskoro dan wulan ada hubungan
Elgi 07
aduhhh thor keren sekali ceritanya. serasa gantung banget babnya.
sepatal city
thor bagus banger, selalu di buat penasaran sama karya horor author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!