"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangat Ramah
Udara pagi khas pegunungan yang sejuk menyelimuti perjalanan mereka saat Mercedes-Benz G-Class hitam milik Arsen melaju membelah jalanan menuju kawasan Puncak, Bogor.
Di dalam kabin, suasana jauh lebih tenang dibanding perjalanan beberapa jam sebelumnya. Senja duduk di kursi penumpang sambil sesekali melirik pemandangan hijau di luar jendela. Luka di lutut dan pergelangan tangannya masih terasa ngilu, tetapi setidaknya rasa takut semalam mulai sedikit memudar.
Sementara itu, Arsen tetap fokus mengemudi. Meski wajahnya terlihat tenang, sepasang mata elangnya tak pernah berhenti mengawasi kaca spion.
Mobil yang sempat membuntuti mereka di Jakarta sudah tidak terlihat lagi.
Namun insting Arsen belum juga tenang.
Beberapa menit kemudian...
Gerbang besi hitam setinggi hampir empat meter perlahan terbuka secara otomatis saat sistem keamanan mengenali kendaraan Arsen.
Mercedes G-Class itu masuk perlahan melewati jalan berbatu yang diapit deretan pohon pinus tinggi. Di kejauhan, sebuah vila bergaya modern berdiri megah di atas lahan yang luas, menghadap langsung ke hamparan perbukitan hijau.
Senja tak mampu menyembunyikan kekagumannya.
"...Cantik banget."
"Itu baru halaman depannya," jawab Arsen singkat.
Senja langsung menoleh.
"Pak... ini benar-benar vila?"
"Hm."
"Kirain resort."
"Banyak yang salah kira."
Senja kembali melihat ke luar jendela.
Kolam kecil dengan air yang jernih, taman bunga yang tertata rapi, serta udara segar yang jauh berbeda dari hiruk-pikuk Jakarta membuat tempat itu terasa begitu damai.
Sulit dipercaya tempat setenang ini dimiliki oleh pria yang semalam berubah menjadi monster demi menyelamatkannya.
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan teras utama vila.
Belum sempat Senja membuka sabuk pengaman, pintu vila mendadak terbuka.
"Senja!"
Mata Senja langsung membulat.
"Ibu!"
Tanpa berpikir panjang, Senja buru-buru turun dari mobil lalu berlari kecil menghampiri ibunya.
"Ibu..."
Bu Ratih langsung memeluk putrinya erat.
"Lho, kok mukanya capek begitu? Lemburnya berat ya, Nak?"
Senja memejamkan mata sesaat.
Syukurlah...
Ibunya benar-benar percaya dengan cerita soal hadiah liburan dari kantor.
"Ibu nggak apa-apa, kan?"
"Ibu baik-baik aja." Bu Ratih tersenyum hangat sambil mengusap kepala Senja. "Tempatnya nyaman sekali. Orang-orang di sini juga baik. Ibu malah jadi nggak enak sama kantor kamu."
Senja hanya tersenyum tipis.
Kalau saja Ibu tahu alasan sebenarnya mereka berada di sini...
Saat pelukan mereka terlepas, barulah Bu Ratih menyadari ada seorang pria tinggi yang baru saja turun dari Mercedes-Benz G-Class hitam di belakang Senja.
Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku dan celana jins hitam. Penampilannya sederhana, tetapi wibawa yang dipancarkannya membuat siapa pun tanpa sadar menghormatinya.
Bu Ratih langsung tersenyum ramah.
"Oh... ini pasti Pak Arsen, ya?"
Senja mengangguk pelan.
"Iya, Bu... bos Senja."
Arsen melangkah mendekat, lalu sedikit menundukkan kepala sebagai bentuk salam.
"Selamat pagi, Bu Ratih."
"Selamat pagi juga, Pak Arsen." Bu Ratih membalas dengan sopan. "Terima kasih ya sudah begitu perhatian sama Senja. Anak saya sering cerita tentang Bapak."
Senja langsung menegang.
Ya ampun... semoga jangan cerita yang itu.
Bu Ratih tersenyum polos.
"Katanya Bapak galak sekali kalau di kantor."
"Bu..."
Senja langsung menutup wajahnya sendiri karena malu.
Arsen menoleh pelan ke arah Senja.
Tatapan datarnya membuat Senja semakin salah tingkah.
Beberapa detik berlalu.
Lalu...
Sudut bibir Arsen terangkat sangat tipis.
"Sepertinya... dia tidak melebih-lebihkan."
Ucapan itu membuat Bu Ratih tertawa kecil.
Sementara Senja hanya bisa memejamkan mata, berharap tanah di bawah kakinya terbuka dan menelannya saat itu juga. Untuk pertama kalinya, dia melihat bos tirannya mampu bercanda—meski dengan ekspresi yang tetap sedingin biasanya.
"Pak Arsen, ayo masuk dulu. Dari tadi berdiri di luar nanti kopinya keburu dingin."
Bu Ratih mempersilakan dengan senyum ramah, sama sekali tidak canggung meski baru pertama kali bertemu.
Arsen mengangguk singkat.
"Terima kasih, Bu."
Mereka bertiga masuk ke dalam vila.
Interior vila itu didominasi warna krem dan cokelat kayu dengan jendela-jendela kaca besar yang menghadap langsung ke hamparan kebun teh di kejauhan. Suasananya hangat, jauh berbeda dengan penthouse Arsen yang didominasi warna hitam dan abu-abu.
"Silakan duduk, Pak."
Bu Ratih buru-buru menuangkan teh hangat yang tadi sudah disiapkan salah satu staf vila.
"Maaf ya, saya nggak tahu selera Pak Arsen. Jadi saya bikinin teh aja."
"Tidak perlu repot, Bu."
Arsen menerima cangkir itu dengan sopan.
Senja yang melihat pemandangan itu hanya bisa berkedip beberapa kali.
Ini... beneran Pak Arsen?
Bos yang biasanya bicara seperlunya itu sekarang duduk dengan tenang, bahkan nada suaranya jauh lebih sopan dibanding saat di kantor.
Bu Ratih lalu duduk di samping Senja.
"Pak Arsen."
"Iya, Bu."
"Senja ini dari kecil orangnya keras kepala."
"Bu..." Senja langsung memprotes pelan.
"Biar Ibu selesai dulu."
Arsen menoleh sebentar ke arah Senja, lalu kembali memperhatikan Bu Ratih.
"Kalau sudah fokus kerja, dia bisa lupa makan. Kalau lagi sakit juga suka bilang nggak apa-apa padahal mukanya sudah pucat."
Senja langsung menundukkan kepala.
"Bu... malu."
"Memang begitu, kan?"
"Iya sih..."
Bu Ratih terkekeh kecil.
"Jadi kalau nanti di kantor Senja mulai bandel lagi, tolong diingatkan ya, Pak."
Arsen terdiam beberapa detik.
Lalu tanpa sadar, matanya beralih kepada luka samar yang masih terlihat di pergelangan tangan Senja.
"Saya akan pastikan dia menjaga dirinya."
Jawaban itu keluar begitu saja.
Nada suaranya tetap datar.
Namun entah kenapa, kalimat sederhana itu terdengar jauh lebih dalam daripada sekadar janji seorang atasan.
Senja ikut menoleh.
Tatapan mereka bertemu sesaat.
Arsen segera mengalihkan pandangannya kembali ke cangkir teh.
Bu Ratih yang tidak menyadari perubahan kecil itu justru tersenyum lega.
"Syukurlah."
Beliau berdiri.
"Kalau begitu, Ibu ke dapur dulu ya. Dari tadi staf vila sudah nyiapin bahan makan siang. Kasihan kalian pasti lapar habis perjalanan."
"Ibu, biar Senja bantu."
"Nggak usah."
"Tapi—"
"Kamu istirahat dulu."
Bu Ratih tersenyum lalu berjalan menuju dapur bersama salah satu staf vila.
Ruangan mendadak kembali sunyi.
Kini hanya tersisa Arsen dan Senja.
Senja mengembuskan napas panjang.
"Pak..."
"Hm?"
"Ternyata Bapak bisa juga ya ngobrol santai."
Arsen menyesap teh hitamnya sebelum menjawab.
"Saya memang tidak banyak bicara."
"Iya sih."
"Tapi ibu kamu orang yang baik."
Senja tersenyum kecil.
"Ibu memang begitu. Baru kenal orang lima menit aja rasanya udah kayak kenal lima tahun."
Arsen mengangguk pelan.
"Lumayan."
"Hah?"
"Setidaknya sekarang saya tahu dari mana sifat cerewet kamu berasal."
Senja langsung membelalak.
"Pak Arsen!"
Sudut bibir Arsen kembali terangkat tipis.
Sangat tipis.
Hampir tidak terlihat.
Namun kali ini Senja benar-benar melihatnya.
Dan untuk pertama kalinya...
Senja sadar, ternyata saat tidak memasang wajah sedingin es, Arsen Malik terlihat jauh lebih tampan daripada yang berani ia akui dalam hati.
Setelah makan siang, Bu Ratih memilih beristirahat di kamar tamu.
Suasana vila mendadak jauh lebih tenang.
Udara pegunungan yang sejuk masuk melalui jendela-jendela besar, membawa aroma pinus yang menenangkan.
Senja berdiri di balkon belakang vila sambil memandangi hamparan kebun teh yang membentang luas.
"Indah banget..."
Sudah lama dia tidak menghirup udara sebersih ini.
Langkah kaki pelan terdengar dari belakang.
Tanpa menoleh pun Senja tahu siapa orangnya.
"Pak Arsen."
Arsen berdiri di sampingnya, ikut memandang ke arah perbukitan.
"Hm."
Beberapa detik berlalu tanpa percakapan.
Keheningan di antara mereka justru terasa nyaman.
Tidak canggung.
Tidak juga menyesakkan.
"Pak..."
"Hm?"
"Terima kasih."
Arsen menoleh.
"Untuk apa?"
"Karena sudah menyelamatkan Ibu saya."
Senja tersenyum tipis.
"Walaupun cara Bapak... ya... agak ekstrem."
Sudut bibir Arsen nyaris terangkat.
"Itu cara yang paling aman."
"Saya tahu."
Senja menundukkan kepala.
"Dan... maaf."
Arsen mengernyit pelan.
"Maaf?"
"Saya bandel."
"..."
"Saya keluar kantor lewat jam enam."
"Saya nggak nurut sama peringatan Bapak."
"Sampai akhirnya malah nyusahin semua orang."
Suara Senja semakin pelan.
"Maaf."
Arsen mengembuskan napas perlahan.
"Saya tidak marah karena kamu membantah."
Senja mengangkat kepala.
"Saya marah..."
Arsen menatap lurus ke mata Senja.
"...karena saya hampir terlambat menemukan kamu."
Kalimat itu membuat Senja membeku.
Tatapan Arsen tidak menunjukkan amarah.
Justru dipenuhi rasa takut yang masih tersisa.
"Saat Genta melapor kamu keluar kantor..."
"...saya benar-benar berpikir saya akan kehilangan kamu."
Jantung Senja berdetak lebih cepat.
Arsen langsung mengalihkan pandangannya ke kebun teh.
Seolah baru sadar dia terlalu banyak bicara.
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
Namun kali ini...
Perlahan, Senja menggeser tangannya di atas pagar balkon.
Tanpa sengaja...
Jari kelingkingnya menyentuh punggung tangan Arsen.
Keduanya sama-sama terdiam.
Tidak ada yang menarik tangannya.
Tidak ada yang berani menoleh.
Sentuhan kecil itu berlangsung hanya beberapa detik.
Namun entah mengapa...
Rasanya jauh lebih membuat jantung berdebar dibanding ciuman mereka malam sebelumnya.
Tiba-tiba...
"Tuan."
Suara Genta terdengar dari arah pintu balkon.
Arsen dan Senja refleks melepaskan tangan mereka.
Genta menghentikan langkahnya sesaat.
Tatapannya sempat bergantian melihat Arsen dan Senja.
Meski ekspresinya tetap datar, seolah-olah dia memilih berpura-pura tidak melihat apa pun.
"Maaf mengganggu."
"Ada laporan dari tim perimeter."
Wajah Arsen kembali berubah serius.
"Apa?"
"Tim kami menemukan jejak kendaraan yang sejak pagi mengikuti mobil Tuan."
Senyum tipis di wajah Arsen lenyap seketika.
"Masuk ke ruang kerja."
"Jangan sampai Bu Ratih mendengar."
"Baik, Tuan."
Arsen menoleh sebentar kepada Senja.
"Tetap di dalam vila."
"Kemana-mana harus ada petugas yang menemani."
Senja mengangguk pelan.
"Baik, Pak."
Arsen segera berjalan mengikuti Genta menuju ruang kerja di sisi dalam vila.
Sementara Senja tetap berdiri di balkon.
Entah kenapa...
Perasaan tenang yang baru beberapa menit ia rasakan perlahan menghilang lagi.
Instingnya mengatakan...
Ancaman itu belum benar-benar berakhir.