"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Dinding Es di balik Kesadaran
Bunyi ritmis dari layar monitor jantung menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan di dalam ruang perawatan VIP rumah sakit swasta tersebut. Aroma antiseptik yang menyengat seolah mengunci udara, menciptakan atmosfer yang mencekam sekaligus penuh harap. Di atas ranjang rumah sakit yang serba putih, jemari tangan Aruna bergerak sedikit. Kelopak matanya yang terasa seberat timah perlahan-lahan terbuka, menyesuaikan diri dengan pendar lampu ruangan yang menusuk netranya.
Setelah berhari-hari terjebak dalam kegelapan koma yang sunyi, Aruna akhirnya kembali. Namun, ada yang berbeda. Sorot mata indah yang dulu memancarkan kehangatan dan semangat, kini berubah menjadi sangat kosong, redup, dan sedingin es di kutub utara.
Di sisi ranjang, Deon Prawijaya dan istrinya langsung bangkit dari kursi dengan wajah yang merekah penuh rasa syukur. Air mata kebahagiaan mengalir di pipi sang ibu saat melihat putri tunggal mereka akhirnya lolos dari masa kritis setelah operasi jantung yang menegangkan itu.
"Aruna... Sayang, ini Mama, Nak," ucap ibunya dengan suara bergetar menahan tangis. Ia segera mengulurkan tangan, mencoba membelai rambut Aruna dan menggenggam jemari putrinya yang terasa sangat dingin.
Namun, belum sempat telapak tangan hangat itu menyentuh kulitnya, Aruna menarik tangannya perlahan namun pasti. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang menampilkan langit Jakarta, menghindari kontak mata dengan kedua orang tuanya. Sikap penolakan itu begitu kentara, membuat pergerakan ibunya terhenti di udara dengan hati yang mencelos.
Deon yang melihat hal itu mencoba mencairkan suasana. Pria konglomerat yang biasanya selalu tampak tegas di dunia luar kini menurunkan seluruh egonya di depan sang putri. Ia melangkah mendekat, memasang senyum paling ramah yang ia bisa.
"Aruna, Papa di sini, Nak. Kamu sudah melewati masa-masa sulitmu. Dokter bilang kondisi jantungmu pascaoperasi sudah mulai stabil. Jangan banyak bergerak dulu, ya?" ujar Deon dengan nada suara yang sengaja dibuat seakrab dan selembut mungkin, mencoba membangun kembali kedekatan yang selama belasan tahun ini hilang di antara mereka.
Mendengar suara sang ayah, rahang Aruna justru tampak mengencang. Ia menghela napas pendek yang terasa sangat berat, seolah kehadiran kedua orang tuanya di ruangan itu adalah beban baru yang menghimpit dadanya yang masih dibalut perban pascaoperasi.
Aruna menolehkan kepalanya kembali perlahan. Tatapan matanya yang sedingin es menghujam tepat ke arah Deon dan istrinya. Tidak ada binar kerinduan, tidak ada tangis haru karena berhasil bertahan hidup. Yang ada hanyalah sebuah dinding pembatas yang sangat tebal dan tinggi.
"Kenapa kalian baru datang sekarang?"
Pertanyaan itu keluar dari bibir Aruna yang pucat dan pecah-pecah. Suaranya terdengar sangat parau, lirih, namun setiap kata yang terucap sarat akan sinisme yang begitu tajam menusuk ulu hati kedua orang tuanya.
Deon dan istrinya tertegun, membeku di tempat mereka berdiri.
"Kenapa kalian baru bersikap akrab dan peduli padaku ketika aku sudah lulus dari London, dan ketika aku sudah terbaring sakit parah seperti ini?" lanjut Aruna, nadanya datar tanpa emosi, namun justru kedataran itulah yang membuat kata-katanya terdengar berlipat ganda lebih menyakitkan.
"Aruna, bukan begitu, Nak... Papa dan Mama selalu,"
"Cukup," potong Aruna dengan lambaian tangan yang lemah namun penuh penekanan. Ia kembali memalingkan wajahnya menatap langit-langit kamar, enggan melihat raut penyesalan di wajah kedua orang yang telah melahirkannya namun terasa seperti orang asing itu. "Aku lelah. Aku ingin sendiri."
Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, sebuah kehampaan yang teramat pekat mengembang. Aruna merasakan dadanya begitu sesak, bukan hanya karena luka fisik akibat pisau bedah yang membelah dadanya, tetapi karena luka emosional yang telah membusuk sekian lama di dalam dirinya.
Aku tidak ingin berbicara pada siapa pun lagi, batin Aruna dalam kesunyian pikirannya sendiri. Untuk apa semua kemewahan, semua perhatian, dan semua sikap manis ini jika baru diberikan saat aku hampir mati? Ke mana mereka saat aku menangis sendirian menghadapi kerasnya hidup di London? Ke mana mereka saat aku harus menahan sakit di dadaku tanpa ada satu pun tangan yang memelukku?
Setiap memori tentang masa lalunya di London kembali berputar seperti film usang di kepalanya. Masa-masa di mana ia harus berjuang sendirian di bawah tekanan akademis, dihina oleh dosen berhati es seperti Baskara Dirgantara, dan bertaruh nyawa dengan penyakit jantungnya yang perlahan menggerogoti sisa waktunya. Selama masa-masa kelam itu, kedua orang tuanya hanya sibuk dengan ekspansi bisnis, pertemuan triliunan rupiah, dan nama baik keluarga Prawijaya. Mereka mengirimkan uang melimpah ke rekeningnya, seolah lembaran-lembaran kertas itu bisa menggantikan kehadiran sepasang orang tua.
Bagi Aruna, perhatian yang mereka tunjukkan hari ini terasa sangat terlambat dan palsu. Sifat kekanak-kanakan atau keinginan untuk bermanja-manja yang mungkin pernah ia miliki dulu, kini telah mati bersamaan dengan berhentinya detak jantungnya di ruang operasi beberapa hari lalu. Jiwanya yang baru kembali dari ambang kematian kini telah bermutasi menjadi sosok yang benar-benar dingin, apatis, dan tidak tersentuh.
Ibunya hanya bisa membekap mulut, air matanya menetes deras melihat penolakan yang begitu dingin dari putri tunggalnya. Deon pun hanya bisa berdiri mematung dengan bahu yang mendadak melorot lesu. Pria yang mampu mengguncang bursa saham itu kini menyadari bahwa ia telah kehilangan hati putrinya sendiri, dan uang sebanyak apa pun yang ia miliki tidak akan pernah bisa meruntuhkan dinding es yang telah dibangun Aruna di sekeliling dirinya.
Aruna memejamkan matanya rapat-rapat, mengunci seluruh indranya dari dunia luar. Ia benar-benar telah memutuskan untuk menutup pintu hatinya rapat-rapat, mengunci dirinya sendiri dalam keheningan yang dingin, dan bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun, baik orang tuanya, maupun pria mana pun yang mencoba masuk, untuk menyentuh hatinya yang kini telah membeku.