Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 2 -BAB 2 -LABIRIN TANPA UJUNG (3)
Monster laba-laba batu itu mengunci pandangannya pada Elian. Makhluk itu merayap di atas struktur labirin, membuat dinding-dinding batu di bawahnya bergetar hebat karena beban tubuhnya yang masif.
Elian mendongak.
Ia sadar sepenuhnya bahwa tubuh raksasa monster itu mustahil masuk ke dalam lorong yang sempit, namun pilar-pilar obsidian yang menjuntai dari kegelapan atas tetap menjadi ancaman maut. Salah satu kaki raksasa itu melesat turun, membelah udara dengan kecepatan tinggi.
"!!!" Mata Elian melebar, mengunci arah serangan pilar batu yang mengincar kepalanya.
Dengan gerakan refleks yang terlatih, Elian melompat ke samping. Ujung kaki batu itu menghantam lantai labirin, menciptakan ledakan debu dan serpihan batu yang beterbangan. Pandangan Elian seketika tertutup kabut pasir pekat.
"Sial, aku harus keluar dari sini!" Elian berteriak. Ia berlari sekuat tenaga, mencoba menjauh dari pilar-pilar yang terus menghujam ke dalam lorong di balik debu.
Namun, monster itu tetap bisa melacaknya. Sebuah kaki lain menyapu rendah, bergerak menyamping dari arah yang tak terlihat.
Elian tidak sempat menghindar sepenuhnya; hantaman keras pilar batu itu mengenai rusuknya, menghempaskan tubuhnya hingga membentur dinding labirin dengan dentum yang memekakkan telinga.
Beruntung, pelindung sihir tipisnya sempat aktif. Meski begitu, dadanya terasa sesak dan panas. Paru-parunya seolah dipaksa berhenti bernapas sejenak.
"Ternyata kau cukup pintar juga," geram Elian sambil berusaha berdiri. Darah segar merembes dari luka lecet di lengannya, perih saat debu menempel di sana.
Elian memejamkan mata, menarik napas dalam meski menyakitkan. Ia mulai merapalkan mantra rahasia keluarga Pahlawan. Pedang di tangannya bersinar terang benderang.
Energi Mana di sekitar tempat itu menjadi liar, berputar hebat membentuk pusaran di sekeliling Elian. Angin kencang menarik debu dan kerikil masuk ke dalam putaran energi, sekaligus memulihkan lukanya secara perlahan.
Arta dan anggota tim lainnya yang berada puluhan meter di depan bisa merasakan getaran tanah dan fluktuasi Mana yang luar biasa kuat.
"Apa itu?" tanya Grom dengan wajah heran melihat cahaya yang memancar dari balik dinding-dinding tinggi.
"Itu salah satu kemampuan unik Elian," jawab Arta pelan. "Ia menarik paksa energi Mana dari alam dan memusatkannya dalam jumlah yang tidak masuk akal."
Sebuah ledakan cahaya yang membutakan terjadi. Elian menerjang maju dengan kekuatan penuh. Bilah pedangnya yang diselimuti energi murni menebas ke arah langit-langit.
Tebasan itu memotong kaki-kaki yang menjuntai, lalu terus melesat naik hingga membelah tubuh laba-laba batu yang berada jauh di atas puncak labirin menjadi dua bagian sempurna. Tak hanya monster itu, dua baris dinding labirin yang terkena sisa energi tebasannya ikut terbelah dan runtuh seketika.
Pusaran Mana perlahan memudar. Elian berdiri di tengah puing, napasnya mulai teratur. Ia tidak terlihat terlalu lelah karena kekuatan tadi memanfaatkan energi alam sekitar.
Arta berjalan mendekat melalui kepulan asap untuk menjemput temannya. "Serangan yang gila. Kamu terlihat keren tadi," ucap Arta dengan senyum tipis. Ada rasa lega melihat Elian baik-baik saja.
Elian menyarungkan pedangnya. "Monster selevel ini bukan tandingan untukku. Tapi jujur, aku sedikit sedih karena kamu terlihat tidak khawatir sama sekali."
"Aku tahu seberapa kuat kamu kalau duel satu lawan satu," sahut Arta tenang.
"Hahaha, kau terlalu percaya padaku," tawa Elian pecah. Ia menepuk bahu Arta, dan mereka berdua mulai berjalan kembali menuju tim.
Namun, tawa mereka terhenti. Tanah kembali bergetar, jauh lebih kuat dari sebelumnya. Elian dan Arta menoleh ke belakang secara bersamaan. Dari atas dinding-dinding labirin, muncul pasang-pasang mata batu yang bersinar dingin dalam jumlah banyak.
Laba-laba raksasa itu ternyata tidak sendirian; mereka semua merayap di atas sana, menjulurkan kaki-kaki pilar mereka ke bawah.
"Sepertinya sekarang situasinya jadi benar-benar gawat, kan?" bisik Elian, tangannya kembali mencengkeram gagang pedangnya.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat