Salam manis dari saya buat yang sudi datang kepoin cerita saya. Jangan lupa beri bintang lima dulu di pojok kanan paling
Ucapkan selamat tinggal untuk cerita CEO Tajir dan ganteng ! karena kalian tak bakal nemuin para CEO di cerita ini.
Tak ada cerita manis, romantis dan dramatis di novel ini karena novel ini adalah hasil pemikiran koplak kami dari para penulis Gesrek dan Koplak.
Dimohon siapkan hati sekuat baja sebelum membaca ini karena yang memiliki darah tinggi akan makin naik tensinya dan yang memiliki kolesterol serta asam urat akan kehilangan urat malu. Bukan urat bakso ya 🤧
Sekian dan terimagaji 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan Lalu Lintas (Peluk)
.
.
Bukan Mheta namanya, jika jiwa binalnya tidak meronta-ronta. Puas dengan asupan vitamin C jeruk keprok yang di suguhkan oleh Edward. Kini, wanita setengah berkarat tersebut terlihat lebih sumringah. Bahkan wewangian di tubuh bak body gitar Vietnam tersebut lebih semerbak.
Seperti yang sudah-sudah. Jika di rasa terong ungu yang di anggapnya sebagai jamu merasa kenyal, enak serta legit. Maka, wanita mantan penghuni gang Doli tersebut akan menjaganya hingga ia merasa bosan.
"Aku kudu nang pasar iki, koyone neng pasar Kembang akeh wong dodolan kembang pitung rupo. Lumayan gawe sajene yayang Edward, ben tetep kemanthil nang bokongku. (Aku harus ke pasar ini, sepertinya di pasar Kembang banyak orang jualan kembang tujuh rupa. Lumayan buat sesajen yayang Edward, biar tetap lengket di bokongku.)" Ucap si lintah darat di depan cermin berbentuk ovel nya. Sesekali terlihat sedang memanyunkan bibir sexsinya yang tengah di poles lipstik merk wargah.
Sedangkan dari luar pintu kost milik Mheta yang biasa di panggil dengan sebutan Bu Tedjo tersebut, tengah terdengar suara gaduh bak TPI daerah Romokalisari.
"Jiangkrek... ramene eram lambe-lambe lemese arek-arek iki. Bahas opo tho jane...Mberebeki kuping ae! (Jiangkrik... rame banget mulut lemesnya anak-anak ini. Bahas apa sih sebenarnya!" Seloroh Bu Tedjo dengan sedikit murka.
Dengan kaki jajar genjangnya, wanita binal tersebut keluar kamar dengan lilitan handuk di atas kepalanya. Menandakan jika ia habis mandi basyah.
"Woe.... cuangkeme iso meneng nggak rek! Suarane koyo lelangan iwak nggak payu seminggu ae! (Woe... mulut kalian bisa diem nggak! Seara udah kaya lelangab ikan yang nggak laku seminggu aja!)" Teriaknya dari lantai paling bawah.
"Iki lho Bu The... dek Sita ngamuk-ngamuk, mbuh kenopo..."
"Iya Bu The... masa dari tadi mecahin gelas udah habis satu setengah lusin"
Dheswita dan JengAt bak orang setengah sawan, melihat kelakuan Sita yang memang benar adanya. Mengamuk hingga keadaan kamarnya benar-benar berantakan.
Dari lantai bawah, terlihat kerlingan kebahagiaan dari sorot mata Bu Tedjo. 'Pasti cemburu karo aku iki, yakin aku.' Monolognya dalam hati.
"Durung di penyet paling pitik'e!" Teriak Bu Tedjo masih dari lantai bawah. Nampaknya perempuan binal itu tak mau ambil pusing perkara Sita. Baginya, mendapatkan Edward sudah lebih dari cukup. Ia tak mau tahu tentang nelangsanya batin Sita, tersebab oleh Edward yang saat ini benar-benar telah bertekuk lutut di kedua pangkal pahanya.
"Bu The! Sampean nggak ndelok keadaane ta? Mesakno iki!" Seloroh Dhe dari lantai tiga.
"Aduh... salam ae kanggo Sita. Aku sek sibuk arep nang pasar!" Suara Bu Tedjo tak mau kalah. Terdengar setengah berteriak dengan kerlingan mata yang berbinar-binar.
"Nyapo nang pasar isuk-isuk Bu The... arep masak opo sampean? Tumben-tumbenan arep melebu pasar?" Suara Dhe masih terdengar cempreng dari lantai bawa.
"Golek terong duooooong...." jawab Bu Tedjo dengan tawa gelak-gelak, yang menjadikan Sita semakin murka di buatnya.
"Woe...jiancuk!!! Awas koen yo, tak santet koen assyuu!" Karena merasa terbakar api cembokur, Sita nyelonong keluar kamar dan berteriak sembari berlari dari lantai tiga menuju kamar Bu Tedjo.
Tak mau ambil pusing, sebelum Sita benar-benar sampai di depan pintu kamarnya. Bu Tedjo cepat-cepat menyalakan motor bebek merk sowang miliknya. Sedangkan lilitan handuk di atas kepala masih melekat pasrah.
Di sepanjang jalan menuju pasar Kembang, Bu Tedjo terlihat senyum-senyum sendiri. Otak mesumnya masih belum bisa move on denga suguhan jeruk keprok milik Edward semalam.
"Eeemmmh... Yang, kok ya jerukmu bener-bener legit nggak ono kecut-kecutnya. Aku kan jadi pengen di suapi jeruk lagi." Gerutunya di sepanjang jalan. Sesekali terlihat memejamkan mata karena membayangkan kejadian semalam dengan si Edward.
Karena keteledoran Bu Tedjo yang menyetir motor sambil berhayal. Alhasil wanita setengah tua tersebut mencium sesuatu.
Bruaakk
Motor bebek merk sowang keluaran terbarunya mencium seseorang yang tengah berdiri di bahu jalan. Handuk yang melilit diatas kepalanya pun melayang dan menikam kepala seseorang yang menjadi korban tabrak dari Bu Tedjo. Sedangkan Bu Tedjo sendiri jempalitan di bawah pohon Mahoni.
"Aduh...tolong, bokongku loro...(Aduh tolong, bokongku sakit...)" suara Bu Tedjo terdengar parau sedikit merengek.
'Waduh! Aku nabrak uwong ta iki?' Batin Bu Tedjo, sedang bibirnya masih terlihat meringis akibat menahan sakit di area bokongnya.
"Anda tidak punya mata! Sampai menabrak Polisi yang sedang bertugas! Hmmm!!" suara dari pemuda yang di tabrak oleh Bu Tedjo terdengar marah, hingga membuat wanita jebolan Doli tersebut semakin menunduk dan menyembunyikan raut di sela-sela rambut basahnya.
"Maaf OmPol, kulo mboten sengojo...(Maaf OmPol, saya tidak sengaja...)" jawabnya lirih.
"Apa!! OmPol? Kamu kira saya ini ngompol?? Bangun, ikut saya! Kamu saya tilang atas pelanggaran lalu lintas! Sudah tidak pakai helm, malah pakai handuk. Belum lagi pakai baju dan rok serba mini seperti ini. Satu lagi! anda menabrak saya, dan bilang saya ngompol!"
Deg
Bu Tedjo kali ini benar-benar ketakutan. Bagaimana bisa dia memanggil seorang anggota Sabara dengan sebutan 'OmPol'?
"Maaf OmPol, eh PakPol... itu maksud saya tadi? Saya biasa kalau panggil Pak Polisi dengan sebutan OmPol, Pak. Jangan tilang saya. Saya mohon." Jawabnya sembari berusaha bangun dari jatuhnya.
Setelah berusaha berdiri dan melihat wajah sang Pak Polisi. Betapa terkejutnya Bu Tedjo. Bukan hanya terkejut, kali ini air liurnya berontak ingin segera keluar dari rongga mulutnya. Cepat-cepat Bu Tedjo menutup mulutnya dengan kedua daun tangannya. 'Duh Gusti... OmPole gianteng banget...lambeku sampe susah mingkem... (Duh Gusti... Ompolnya ganteng banget... bibirku sampai susah mingkem...)' batinnya mulai bermonolok panjang kali lebar kali tinggi hingga menjuntai seperti entahlah.
"Anda saya tilang..." tukas pemuda yang ber status sebagai seorang Polisi Sabara tersebut.
"Iya OmPol... eh PakPol... Monggo kalau mau di tilang, tapi boleh ngajuin syarat nggak?" Entah ada setan apa yang mengendap di otak Bu Tedjo. Dengan beraninya dia mengajukan syarat kepada Pak Polisi.
"Syarat?" Si Polisi nampak menautkan kedua alisnya. Merasa aneh dengan seseorang yang hendak di tilang, namun mengajukan syarat.
"Iya..." jawab Bu Tedjo, kali ini mulutnya benar-benar susah untuk di katupkan.
"Oke, apa syaratnya?"
"Peluk aku OmPol... bokongku sakit. Siapa tahu, setelah di peluk OmPol, bokong saya jadi mendingan." Selorohnya tanpa rasa takut.
"Anda tidak sopan! Saya ini Polisi... oke, karena anda telah berlaku tidak sopan kepada saya. Maka anda saya tangkap."
"Saya siap OmPol... di penjara seumur hidup juga siap. Asal ditemani OmPol mah.." jawabnya, kali ini saliva sang istri CEO tersebut telah menetes dengan derasnya.
Polisi pun kebingungan. Baginya, ini adalah pengalaman pertama ada seseorang yang di tilang malah semakin menawarkan diri untuk di penjara. Bukan hanya itu, ini adalah kali pertama sang Polisi dimintai untuk memeluk seseorang yang hendak di tilang.
****
walau kadang nylekit
Eh mbaknya di Surabaya?
Penasaran akutuh
gara2 nie novel otak q traveling kemana2 🤣🤣🤣🤣
but overall aku suka...
genderuwo wedok
bang sam kali😆