NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Tak Lagi Sama

Ketika Cinta Tak Lagi Sama

Status: tamat
Genre:Dosen / Selingkuh / Tamat
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Adra

Eva dan Purbaya menikah karena cinta. Rumah tangga mereka tampak utuh hingga jarak dua tahun terakhir mengubah segalanya. Saat Purbaya menempuh studi doktoral di Jerman, Eva berjuang mempertahankan pernikahan sambil membesarkan Noya, putra mereka yang terlahir dengan Down Syndrome.
Purbaya berusaha setia, namun kebosanan dan jarak emosional perlahan menggerus rumah tangga mereka. Sepulang ke Yogyakarta, Eva mulai menyadari bahwa cinta yang ia jaga sendirian tak lagi sama.
Di tengah kelelahan batin, kehadiran seorang pria sederhana yang lebih dulu menerima Noya apa adanya mengguncang keyakinan Eva tentang arti cinta, keluarga, dan kesetiaan.

Ketika cinta tak lagi sama, apakah bertahan masih menjadi pilihan?

Ig deemar38

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERASAAN DAN PILIHAN

Purbaya terdiam cukup lama.

“Mbak...” suaranya pelan.

“Aku... punya wanita lain.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Begitu saja.

Tanpa hiasan.

Tanpa ditarik kembali.

Mbak Ningsih tidak langsung bereaksi.

Ia hanya menatap adiknya beberapa detik, lalu menggeleng pelan.

Tidak marah, lebih seperti... kecewa.

Purbaya menunduk.

Reaksi itu justru membuat dadanya terasa lebih berat.

“Aku tahu ini salah,” lanjutnya cepat, seperti ingin mendahului penilaian.

“Tapi... ini nggak sesederhana itu, Mbak.”

Ia mulai mencari kata-kata, berusaha menjelaskan.

Mbak Ningsih tetap diam.

Mendengarkan.

Ada bagian yang ingin ia katakan.

Namun tertahan.

Tentang kebutuhan.

Tentang kedekatan yang hilang.

Tentang hal-hal yang lebih dalam... yang tidak mudah diucapkan, apalagi di hadapan kakaknya sendiri.

Purbaya mengusap wajahnya kasar.

“Aku cuma...” ia menggantung kalimatnya.

Ragu.

Canggung.

Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia tidak bisa melanjutkan.

Karena apa yang ingin ia katakan... terlalu pribadi.

Mbak Ningsih akhirnya bersuara.

“Pur...”

Nada suaranya tetap tenang.

“Tiap orang punya alasan waktu berbuat salah,” katanya pelan.

“Tapi alasan itu... nggak otomatis bikin semuanya jadi benar.”

Purbaya terdiam.

Tidak membantah.

Mbak Ningsih menatapnya lebih dalam.

“Kamu ini lagi cari pembenaran... atau memang lagi tersesat?”

Pertanyaan itu sederhana.

Purbaya menggeleng pelan.

“Bukan, Mbak,” katanya akhirnya. “Aku nggak lagi cari pembenaran.”

“Aku cuma... mau menjelaskan dari sisi yang mungkin selama ini nggak pernah aku ceritakan.”

Mbak Ningsih tidak menyela.

Purbaya menegakkan sedikit duduknya, seperti sedang menyusun kalimat di kepalanya.

“Mbak tau, setelah Noya lahir... banyak hal berubah,”Purbaya memulainya.

“Bukan cuma rutinitas, tapi juga... dinamika hubungan kami sebagai suami istri.”

Nada suaranya lebih stabil sekarang.

Lebih terukur.

“Eva jadi lebih fokus ke Noya. Itu wajar. Aku paham.”

“Tapi di saat yang sama... ada aspek lain dalam pernikahan yang pelan-pelan terabaikan.”

Ia berhenti sejenak, memastikan kata-katanya tetap berada di jalur yang ia inginkan.

“Dalam pernikahan, kedekatan itu bukan hanya soal komunikasi atau tanggung jawab,” lanjutnya.

“Ada kebutuhan emosional... dan juga kebutuhan fisik, yang sebenarnya sama-sama penting.”

Mbak Ningsih tetap diam, memberi ruang.

“Seiring waktu, Eva semakin sering menolak ketika aku mencoba mendekat,” kata Purbaya, lebih pelan sekarang.

“Awalnya aku anggap... mungkin dia lelah, atau belum siap. Aku mencoba mengerti.”

Ia menunduk sedikit.

“Tapi penolakan itu... berlangsung terus.”

Kalimat itu menggantung sesaat.

“Sebagai suami, aku merasa... ada bagian dari peranku yang tidak lagi berjalan,” lanjutnya.

“Bukan soal menuntut, Mbak... tapi lebih ke kebutuhan dasar dalam hubungan yang seharusnya dijaga bersama.”

Ia kembali mengusap wajahnya.

“Aku mencoba bertahan dengan cara lain. Menahan. Mengalihkan. Tapi lama-lama... rasanya seperti diabaikan.”

Nada suaranya mulai turun.

Tidak lagi seperti penjelasan.

Lebih seperti pengakuan.

“Dan mungkin... di situlah aku mulai salah langkah.”

Ia tidak melanjutkan. Namun maksudnya sudah cukup jelas.

Ruangan kembali sunyi.

“Kalau dilihat dari rentang waktunya... ini bukan sesuatu yang terjadi sesaat.”

Ia menatap ke depan, seolah sedang memaparkan sebuah analisis.

“Kurang lebih hampir lima tahun,” katanya.

“Sejak setelah Noya lahir... pola itu mulai terbentuk dan bertahan.”

“Aku tidak langsung bereaksi. Justru sebaliknya--aku mencoba bersabar,” lanjutnya.

“Mencoba memahami kondisi psikologisnya sebagai ibu baru, perubahan fisik, kelelahan... semua itu masuk akal secara rasional.”

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan lebih pelan.

“Dan memang, ada beberapa momen di mana Eva... terlihat merasa tidak enak hati.”

Mbak Ningsih sedikit mengangkat pandangannya.

“Dalam beberapa kesempatan, dia tetap ‘melayani’aku,” kata Purbaya, memilih kata dengan hati-hati.

“Tapi... tidak dalam konteks kedekatan yang utuh.”

Kalimat itu menggantung sesaat.

“Responsnya cenderung pasif,” lanjutnya.

“Tidak ada keterlibatan emosional. Tidak ada timbal balik.”

Ia menunduk.

“Seolah-olah... hanya menjalankan kewajiban.”

Nada suaranya mulai berubah.

Lebih rendah.

“Dalam posisi seperti itu,” katanya pelan,

“rasanya bukan lagi soal kebutuhan fisik yang tidak terpenuhi...”

Ia berhenti.

Lalu melanjutkan, hampir seperti kesimpulan dari penjelasannya sendiri--

“...tapi soal harga diri.”

Sunyi.

“Karena ketika seseorang yang seharusnya menjadi pasangan... hanya ‘menyerahkan diri’ tanpa kehadiran secara utuh,” lanjutnya,

“itu terasa seperti... bukan hubungan.”

Ia menggeleng pelan.

“Lebih seperti... formalitas.”

Mbak Ningsih tetap diam.

Sementara Purbaya menghela napas pelan.

“Dan dalam kondisi seperti itu... wajar kalau seseorang mulai merasa ditolak,” katanya akhirnya.

“Bukan sekali. Tapi berulang.”

Ia menatap kakaknya.

“Suami mana yang tidak merasa tersakiti dengan perlakuan seperti itu, Mbak?”

Pertanyaan itu tidak menuntut jawaban.

Karena sebenarnya... itu bukan lagi pertanyaan.

Melainkan perasaan yang selama ini ia simpan.

Mbak Ningsih tidak langsung menjawab.

Ia menatap Purbaya cukup lama, bukan untuk menyalahkan, tapi mencoba untuk meluruskan.

“Pur...

“Kalau kamu tanya ini dari sudut pandang mbak, jawabannya nggak sesederhana benar atau salah.”

Purbaya terdiam.

Mbak Ningsih melanjutkan,

“Perasaan kamu--itu valid.”

Ia menekankan kalimat itu.

“Kebutuhan untuk diperhatikan, untuk dekat secara emosional dan fisik... itu memang bagian dari hubungan suami istri. Dan ketika itu nggak terpenuhi dalam waktu lama, wajar kalau kamu merasa ditolak, merasa nggak dihargai.”

Purbaya tidak bergerak.

Seolah menyerap setiap kata.

“Tapi...” lanjut Mbak Ningsih, nada suaranya sedikit berubah,“cara kamu merespons perasaan itu... itu yang jadi masalah.”

Sunyi.

“Ini menurut pandangan Mbak, kita bedakan antara perasaan dan perilaku,” katanya.

“Perasaan itu muncul otomatis. Kamu nggak salah merasa kecewa, marah, bahkan kesepian.”

Ia menatap Purbaya lebih dalam.

“Tapi perilaku... itu pilihan.”

Kalimat itu jatuh pelan.

“Dan memilih orang lain sebagai pelarian... itu tetap pilihan, Pur.”

Purbaya menunduk.

Tidak membantah.

“Kalau hubungan kalian bermasalah,” lanjutnya, “seharusnya yang diperbaiki adalah hubungan itu... bukan mencari pengganti di luar.”

“Mungkin Eva salah karena menutup diri,” tambahnya.

“Tapi kamu juga salah... karena tidak menyelesaikan, malah menambah masalah baru.”

Purbaya menarik napas berat.

Namun Mbak Ningsih belum selesai.

“Dan satu hal lagi,” katanya lebih pelan,

“kamu tadi bilang Eva ‘menyerahkan diri tanpa rasa’...”

Ia berhenti sejenak.

“Kamu pernah tanya kenapa dia bisa sampai di titik itu?”

Purbaya terdiam.

Benar-benar diam.

“Perempuan itu jarang menolak tanpa sebab, Pur,” lanjutnya.

“Bisa karena lelah... bisa karena merasa tidak aman... bisa juga karena ada luka yang nggak pernah kamu sadari.”

Kalimat itu menggantung.

“Jadi kalau kamu tanya... kamu benar atau salah?”

Mbak Ningsih menggeleng pelan.

“Kamu manusia. Bisa salah. Dan dalam hal ini... kamu memang salah langkah.”

Ia menatap adiknya dengan lebih lembut.

“Tapi bukan berarti semuanya sudah selesai.”

Ada jeda.

“Asal kamu mau berhenti... dan mulai memperbaiki dari tempat yang seharusnya.”

Ruangan kembali sunyi.

Apa yang dikatakan Mbak Ningsih... masih berputar di kepalanya.

Satu per satu.

Seolah diulang kembali, dipaksa untuk dipahami lebih dalam.

Purbaya menunduk, jemarinya saling bertaut.

Ia tidak langsung bereaksi.

Tidak juga membantah.

Tapi juga belum sepenuhnya menerima.

Perasaannya... belum menentu.

Ada bagian dari dirinya yang merasa tersentuh--tersadarkan.

Namun di sisi lain, masih ada sisa-sisa pembelaan yang belum benar-benar hilang.

Ia menarik napas panjang.

Pelan.

Seolah mencoba meredakan sesuatu di dalam dirinya sendiri.

“Mbak..., Aku butuh waktu.”

Mbak Ningsih mengangguk.

“Iya,” jawabnya singkat. “Dipikir pelan-pelan saja.”

Tidak ada paksaan.

Tidak ada tuntutan untuk langsung berubah.

Dan justru itu... yang membuat semuanya terasa lebih berat.

Purbaya menyandarkan tubuhnya ke sofa.

Menatap kosong ke depan.

Saat ini, ia sedang berpikir belum tahu... harus bagaimana.

1
Yati Susilawati
tak rela.. tamat secepat ini😌
terimakasih telah membuat cerita yang hebat👍👍
Ilfa Yarni
yah ending deh ga ketemu irgi lagi dong
Ilfa Yarni
maaf ya Thor ga suka lihat Purbaya bahagia aku lebih suka lihat eva atau irgi yg bahagia maaf egois hehe
Dee: Makasih ya, Kak udah jujur dan emosional banget baca cerita ini! Berarti karakternya berhasil menyampaikan rasanya ke pembaca. Setiap karakter punya porsinya masing-masing kok, tetap pantau terus dinamika mereka ya..
total 1 replies
Ilfa Yarni
nikmati hukuman atas perbuatanmu ya Purbaya berubahlah km kpd yg lbh baik
aku seneng banget akhirnya irgi dan eva menjadi sepasang kekasih semoga cepat diresmikan ke jenjang yg lbh serius kalian kan udah cukup dlm segala hal ga perlu ditunda lg menikahlah kalian secepatnya
Ilfa Yarni
udah ga papa irgi klo budi comel toh kenyataannya km mangencintai eva kan ga ada salahnya toh tetap bersikap tegas pd karyawanmu Aku sangat senang kalian akhirnya saling mencintai dan tinggalelangkah ke jenjang yg lbh serius yaitu menikah
Daniah
Aku cemburu💔
Wahyuni Abuzar
mau pake bangeet mas
yaa Allah yaa Allah aku yang ikutan baper maaas 😄😄
Dee: Hha.. ko berasanya ke aku, Mas😁🫶
total 1 replies
Ilfa Yarni
bagus Purbaya aku sedikit senang liat kejujuranmu
Ilfa Yarni
aaaaaaa so sweet akhirnya irgi mengungkapkan perasaannya pd eva ini yg aku tunggu tunggu Terima Terima ya eva km pantas bahagia dgn orang yg tepat aku tunggu acara dan hari pernikahan kalian
Dee: Siapa sih yg gk mau sama cowok paket lengkap begini😆💖
total 1 replies
Dokkan Battle
dih goblok
Ilfa Yarni
dia buka bengkel ya untuk membantu orang2 yg ga punya pekerjaanlah irgi mah ga seperti km punya jabatan sedikit bertingkah selingkuh irgi adalah laki2 yg bertanggung jwb dan sangat baik penyayang pokoknya byk nilai plusnya sebagai laki2 udah gitu kaya dan rendah hati
Wahyuni Abuzar
bengkel yg di kelola irgi itu hanya untuk kamuflase pur..biar g ada penjilat dan perempuan pecinta harta yg nge deketin irgi 🤣🤣
Daniah
mantap
Ilfa Yarni
ya udah km jadian aja sama rania dia suka lho sama km pur aku ingin lihat eva dan irgi bersatu krn aku suka tipe laki seperti irgi klk laki tipe sepertimu dikasih aku jg ga mau sifatnya ga bagus udah gitu suka selingkuh tipe sombong klo lg diatas klo irgi nilai plusnya byk banget eva sangt beruntung nanti klo jadian sama irgi
Yati Susilawati
akhirnya kebohongan harus dibayar mahal..
tapi hidup harus tetap dijalani.
semangat mas pur..
gusti Alloh ora sare. kejujuran pasti ada balasannya
Ilfa Yarni
baguslah dN bagaimana naIbmu nanti itu adalah konsekwensi dr perbuatanmu terimalah dgn lapang dada
Yati Susilawati
sudah kumaafkan... tapi izinkan aku menyayangi noya dan eva.. 🤣🤣🤣

bgm mas pur.. boleh😄😄
Ilfa Yarni
lapor polisi irgi biar dia benar2 sadar dgn apa yg tlah dia lakukan dan sebagai efek jera buat kdpnnya yg salah hr dihukum jgn keenakan cuma dimaafkan saja
Ilfa Yarni
oh ya Thor irgi namanya yg bener siapa irgi pratama atau irgi ardiansyah
Ilfa Yarni: kan aku suka ceritanya aku klo baca pake hati jadi ingatlah
total 2 replies
Ilfa Yarni
aku juga penasaran apakah irgi mau ketemu Purbaya tp feeling aku sih mau up kg donk thor
Dee: mudah2an bisa up satu bab lg ya kak😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!