Setelah mengalami kecelakaan, mata batin Nino terbuka. Pemuda berusia 20 tahun itu jadi bisa melihat makhluk astral di sekitarnya.
Sejak tersadar dari komanya, pemuda itu selalu diikuti oleh arwah seorang wanita muda yang dilihatnya ketika kecelakaan terjadi.
Karena tak kuat terus menerus harus melihat makhluk astral, Nino meminta bantuan Pamannya untuk menutup mata batinnya. Sang Paman pun memberikan doa agar bisa menutupi mata batin.
Alih-alih menutup mata batin, kemampuan Nino yang awalnya hanya bisa melihat, justru berkembang jadi bisa berkomunikasi dengan para arwah.
Tak mau menderita sendirian, Nino pun meminta sahabatnya yang penakut, Asep untuk ikut membaca doa dengan dalih supaya menjadi berani. Dan ketika Asep mengamalkannya, sama seperti Nino, pemuda itu juga bisa melihat makhluk halus.
Kejadian demi kejadian aneh terus menimpa kedua sahabat tersebut. Lewat petunjuk dari makhluk astral, mereka bisa mengungkap kejahatan kasus kriminal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saksi Baru
Sesampainya di kantor, Miko dan Iqbal kembali berkutat dengan pekerjaan. Miko kembali menyelidiki semua tentang Anton, begitu juga dengan Iqbal yang menelusuri akun sosmed dosen jurusan administrasi niaga tersebut.
“Bal.. kamu bilang setiap bulan, Maya mendapat transferan sejumlah delapan juta. Siapa yang mentransfer? Apa orangnya berbeda-beda?”
“Dari catatan bank, hanya satu nama saja yang mentransfer setiap bulan. Namanya Lilik Supriyani.”
“Coba gali soal wanita itu. Mungkin saja wanita itu suruhan Anton juga, seperti Cipto.”
Iqbal menjentikkan jarinya. Kenapa dirinya sampai melewatkan sosok Lilik Supriyani? Karena nama pengirim adalah seorang wanita, dan jumlah yang dikirim nominalnya tetap setiap bulannya, Iqbal berpikir kalau yang mengirim uang masih keluarga dari Maya.
Untuk mencari tahu soal Lilik, Iqbal menghubungi bagian catatan sipil. Tidak ada jejak sosial media yang bisa ditelusuri oleh Iqbal, jadi pria itu terpaksa meminta informasi dari catatan sipil. Tak butuh waktu lama, informasi tentang Lilik pun didapat.
“Lilik Supriyani. Usia 55 tahun, seorang janda dan hanya pekerja sebagai pemetik teh. Rumahnya berada di Desa Cisaat, Subang.”
“Kalau begitu, ayo kita ke sana sekarang.”
Tak ingin membuang waktu, Miko segera bangun dari duduknya. Iqbal dengan cepat menyusul di belakangnya. Mereka langsung pergi ke Subang menggunakan kendaraan roda empat milik Miko.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, akhirnya mobil yang dikendarai Miko sampai juga di Desa Cisaat. Iqbal harus bertanya ke warga sekitar agar bisa sampai di rumah Lilik. Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya mereka tiba juga di kediaman Lilik.
Miko memandangi rumah Lilik yang nampak sepi. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Dilihatnya ada seorang warga yang berdiri di depan rumahnya. Bergegas Miko mendekati wanita yang sedang menyiapkan dagangannya.
“Punten, Bu.”
“Iya, a. Ada apa?”
“Itu benar rumah Bu LIlik?” jari Miko menunjuk rumah yang tadi didatanginya.
“Iya, benar.”
“Bu Liliknya ada?”
“Jam segini masih di kebun. Tapi sebentar lagi juga pulang.”
“Saya bisa tunggu di sini?”
“Silakan, a.”
Tangan Miko melambai memanggil Iqbal yang masih berkeliling di seputar kediaman Lilik. Pria itu segera mendekati Miko yang sudah duduk santai di warung makanan.
“Jual apa, Bu?”
“Lotek a.”
“Pesan deh Bu, dua ya.”
“Mangga a. Pedas ngga?”
“Sedang aja.”
“Pakai lontong?”
“Boleh.”
Wanita itu segera membuatkan lotek pesanan Miko. Hanya menunggu sekitar lima menitan saja, lotek pesanan mereka selesai. Sambil menikmati lotek, keduanya menikmati pemandangan Desa Cisaat yang terlihat asri.
Desa ini memang merupakan salah satu desa wisata edukasi yang ada di Kabupaten Subang. Selain memiliki pemandangan pegunungan yang indah, desa ini juga terkenal dengan produk lokalnya berupa kerajinan bambu dan susu serta kuliner khas, papais Cisaat.
Berjarak beberapa meter dari warung tempat Miko dan Iqbal makan, nampak seorang wanita paruh baya datang mendekat.
“Itu Ibu Lilik,” seru pedagang lotek.
Buru-buru Miko dan Iqbal menghabiskan makanannya. Setelah membayar makanan dan minuman, keduanya bergegas menghampiri Lilik yang sudah mendekati pintu rumahnya.
“Bu Lilik.”
Mendengar namanya dipanggil, wanita bernama Lilik itu membalikan tubuhnya. Wanita itu hanya diam memandangi dua pria bertubuh tegap di depannya bergantian. Sepertinya dia belum pernah melihat mereka di sini.
“Bu Lilik, perkenalkan nama saya Miko.”
Miko segera memperkenalkan diri seraya menunjukkan kartu identitasnya. Keterkejutan nampak di wajah Lilik setelah tahu dua pria di depannya adalah anggota kepolisian.
“Apa kita bisa bicara sebentar, Bu Lilik? Ada yang ingin kami tanyakan sebelumnya.”
“Si.. silakan masuk.”
Walau terkejut dan takut, namun Lilik tidak melupakan kesopanannya. Wanita itu segera mempersilakan Miko dan Iqbal masuk. Ketiganya sekarang sudah duduk bersama di ruang tamu.
“Ibu Lilik, apa anda mengenal Maya Indira?”
“Ti.. tidak.”
Begitu nama Maya disebut, Lilik langsung terkejut. Namun jawaban yang diberikannya tidak sepenuhnya salah. Dia memang tidak mengenal Maya. Wanita itu hanya menjalankan perintah Anton untuk mentransfer uang ke rekening Maya setiap bulannya. Dan dia akan mendapat upah sebesar lima ratus ribu rupiah dari Anton.
Sebenarnya Lilik dan Anton tidak saling mengenal. Anton tahu tentang Lilik dari asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya. Lilik adalah teman dari asisten rumah tangga Anton dan dari wanita itulah Lilik mengenal Anton.
“Kalau anda tidak mengenalnya, kenapa anda mentransfer sejumlah uang ke rekening Maya setiap bulan selama setahun?”
Miko memulai interogasinya sambil memperlihatkan lembaran kertas berisikan informasi transaksi perbakan milik Maya.
***
Nah kan merembet kemana² nih gara² Anton
Upin ipin lgi sibuk liburan 🤣
eeehh🤔
belum waktunya kamu ke tangkep Anton...tunggu aja gk bakal lama juga kamu akan mendekam jd penghuni hotel prodeo...karena apartemen mu udah di pindah sewakan ke orang lain...untuk meniggalkan jejak ke jahatanmu....ementara kamu tinggal gretongan di bui 😂
pintar sekali kamu ya Anton /Curse/