Menikah tanpa dasar cinta, akankah bertahan lama ?
Kalaupun berjuang hanya seorang diri, mungkinkah akan bahagia ?
Fira menerima perjodohannya dengan Bara. Namun setelah menikah, Bara memberikan Fira beberapa lembar kertas perjanjian pernikahan mereka. Bara berkuasa atas segala peraturan yang dibuatnya.
"Kenapa kau melakukan semua ini hah?" tanya Fira, gemetar penuh emosi dan tak menyangka.
"Karena aku, tidak pernah menginginkan kehadiranmu!" seru Bara, menyentak Fira.
Bagaimanakah kelanjutan kisah antara Bara dan Fira ?
Apakah pernikahan mereka akan berlangsung lama atau Fira menyerah begitu saja ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Sore harinya, Fira dan 4 karyawannya yaitu Fenny, Siti, Maya dan Mang Ujang. Kini mereka sudah berada di sebuah restoran jepang ternama di kota itu, jarak nya tak jauh dari toko kue milik Fira. Mereka duduk di bangku masing-masing mengelilingi satu meja.
Kemudian seorang waiters datang menghampiri mereka, menanyakan makanan yang ingin di pesan, Fira memperbolehkan karyawannya untuk memesan apa saja, terserah keinginan mereka, para karyawannya pun dengan antusias memilih makanan yang mereka inginkan, tak lupa Fira memesan makanan dan minuman untuk dirinya pula.
Selesai mencatat pesanan, waiters itu pergi meninggalkan mereka. Dan kini mereka asyik mengobrol satu sama lain, dengan diselingi candaan sehingga membuat tawa menggelegar dianatara mereka. Bahkan diantara meja-meja yang lain, hanya meja merekalah yang terlihat begitu hangat dan ramai dengan obrolan.
Tak lama kemudian ada dua orang pelayan yang mengantarkan makanan mereka, disimpannya makanan itu di atas meja. Ketika semua makanan sudah tersaji, merekapun tak segan untuk segera melahap makanan yang sangat menggugah selera itu.
Dari arah belakang, ada seseorang yang menepuk pundak Fira, Fira yang sedang melahap sushinya, segera menengok.
“Eh... Kak Adit..” Fira segera menelan sushi yang sedang di kunyah nya.
Adit tersenyum, dan tanpa meminta persetujuan dari Fira, Adit langsung mendudukan tubuhnya di kursi kosong sebelah Fira.
“Kebetulan sekali ya kita bisa ketemu disini.” ucap Adit kepada Fira. Adit begitu serius melihat Fira, tanpa menoleh ke arah karyawannya yang ada di situ. Karyawan Fira pun, hanya diam melanjutkan makannya.
“Kak Adit sendirian?” tanya Fira, yang sibuk mengelap bibir mungil nya itu menggunakan tissue. Sambil matanya berkeliling melihat ke arah sekitar.
“Iya.. oh ya Fir, tiga hari lagi aku akan tunangan.” Adit menyodorkan selembar kartu undangan pertunangannya dengan Messy. Fira meraihnya dan membaca surat undangan yang Adit berikan.
“Wah... selamat ya Kak Adit, semoga semuanya lancar.”
“Terimakasih, nanti hadir ya.”
“Insyaallah di usahakan hadir.” ucap Fira tersenyum.
“Baiklah kalau begitu, aku tinggal ya mau pesan makanan juga soal nya, maaf sudah mengganggu waktu makan nya.” ucap Adit. Fira hanya mengangguk tersenyum. Lalu adit berlalu meninggalkan mereka.
***
Sepulangnya dari kantor, Bara mampir terlebih dahulu kerumah orang tua nya, ia bertemu dengan Hito dan Wina. Mereka berbincang sambil makan sore, karena kebetulan ketika Bara datang, Hito dan Wina sedang menyiapkan makanan, dan Bara pun ikut makan bersama mereka. Tentunya Hito dan Wina menanyakan Fira yang tak di ajak oleh Bara.
“Fira masih di toko kue nya, tadi sepulang kerja aku langsung ke sini, nanti pulang dari sini aku jemput dia ko Ma.” ujar Bara, sambil melahap sesendok nasi kedalam mulutnya.
“Oh begitu, oh ya nak maafin Mama sama Papa ya belum bisa berkunjung menemui kamu sama Fira.” Ucap Wina.
“Iya tidak apa – apa ko Ma, nanti kalo Mama sama Papa mau ke rumah, kabarin aku dulu ya.”
“Iya.. pasti.” ucap Wina tersenyum menatap Bara, kemudian mereka melanjutkan makannya.
Selesai makan bersama Bara berpamitan untuk pulang. Ia keluar menuju mobil nya, masuk dan segera menancap gas mobil menuju apartemennya.
Tapi sebelum ke apartemen, Bara menyempatkan diri untuk menjemput Fira di Toko, tapi sesampainya di toko Bara melihat, kalau toko kue Fira sudah tutup dan tidak ada karyawan lain disana.
“Tumben sore begini sudah tutup,” gumamnya dalam hati.
Karena memang biasanya toko kue Fira tutup jam 21.00 malam. Tapi dikarenakan hari ini Fira ingin mengajak semua karyawannya makan diluar, maka toko nya tutup lebih awal.
Bara kembali memutar mobil nya, melaju pulang menuju apartemennya dengan kecepatan sedang.
Bara turun dari mobilnya, karena kini ia sudah sampai di depan apartemennya, Bara berjalan memasuki gedung menuju lift. Sesampainya di lantai 14, Bara keluar dari lift itu, perlahan berjalan, jari tangannya sibuk memainkan kunci mobil yang dipegangnya. Bara masuk ke dalam ruang apartemennya, dilihatnya kesekeliling ruangan tapi Bara tak melihat Fira.
“Kemana dia?” dalam hati.
Bara berjalan menuju kamar Fira, diketuknya pintu itu beberapa kali sambil memanggil nama Fira, namun tak ada sahutan suara di dalam kamar. Bara mencoba membuka pintu kamarnya, tapi sialnya pintu kamar Fira di kunci.
“Hey... apa kau ada di dalam?” teriak Bara di depan pintu.
“Fir...”
“Fira... apa kau baik-baik saja?” Bara terus menggedor pintu kamar Fira, tapi tetap tidak ada sahutan dari dalam kamar itu.
Bara mulai merasa cemas, apalagi hari sudah beranjak magrib, tapi Fira belum keluar dari kamarnya. Ia memutuskan untuk melaksanakan solat magrib terlebih dahulu dan membersihkan badannya.
Sampai adzan isya berkumandang, tapi Fira belum muncul juga. Bara semakin cemas, pikirannya kini mulai dirasuki hal-hal aneh mengenai Fira.
“Jangan jangan dia...” Bara melamun, seketika dirinya berlari keluar dari kamarnya, menuju kamar Fira.
Bara terus menggedor pintu kamar Fira, namun tetap tak terdengar sahutan.
“Fira... buka pintunya!”
“Hey... Kamu di dalam tidak apa-apa kan?”
“Fir Fira...”
“Apa karna hal kemarin dia jadi seperti ini ya?. Tidak, tidak, dia tidak mungkin melakukan hal aneh, atau... jangan-jangan dia kabur?” Bara merasa semakin panik.
Ia baru terpikir untuk menelpon Fira, Bara segera mencari ponsel nya yang sempat ia simpan di atas meja kerja, kamarnya. Diraihnya ponsel itu, dan Bara mulai mencari kontak nomor Fira di ponselnya. Ia menekan tombol hijau yang ada di layar ponsel nya itu untuk menghubungi Fira.
“Sial... kenapa handphone nya tidak aktif.” gerutu Bara.
Bara mencoba menelpon nya sekali lagi, tapi tetap tidak aktif.
“Lebih baik aku kerumah paman Alex.” Bara segera meraih kunci mobil yang berada di atas meja, ia keluar drai kamarnya, berjalan menuju pintu keluar. Dan ketika Bara membuka pintu, tiba-tiba Fira muncul dihadapannya, sehingga membuat Bara sedikit terkejut.
“Kau!” ucap Bara, dengan tatapan kesal.
“Kamu mau pergi kemana?” tanya Fira dengan polosnya.
“Masuk!”
Bara tak menjawab pertanyaan Fira, ia berjalan terlebih dahulu menuju ruang Tv, dan mendudukan tubuhnya di atas sofa. Fira pun mengikutinya dan duduk di sofa sebelahnya.
“Dari mana saja kamu! jam segini baru pulang.” gerutu Bara dengan kesal.
“A-aku baru pulang dari restoran, tadi aku makan bersama semua karyawanku.” ucap Fira dengan gugup.
Nampak sedikit ketakutan di dalam hatinya, melihat mimik muka Bara yang tampak arogan. Fira menundukan kepalanya, tak berani menatap Bara.
“Lain kali beritahu aku dulu!”
“Aneh... bukannya dia bilang kalau aku boleh pergi kemanapun tanpa harus meminta izin darinya.” gumam Fira dalam hati.
“I–iya maaf tadi ponselku mati.” ucap Fira.
“Dan biasakan pintu kamar jangan kau kunci!”
“Memang kenapa?” Fira balik bertanya dengan wajah lugunya.
“Kalau aku bilang jangan di kunci ya jangan di kunci!” seru Bara. Ia berdiri dan hendak pergi menuju kamarnya.
“Tunggu.” ucap Fira yang menahan tangan Bara.
Bara melirik ke arah Fira kemudian matanya menyorot ke arah tangan Fira yang sedang memegang pergelangan lengannya.
Fira yang baru menyadarinya langsung melepaskan genggamannya dari lengan Bara.
“Maaf, maaf”
“Apa kau mau makan malam, biar aku siapkan.” tawar Fira.
“Tidak, aku sudah makan. Bersihkan dulu dirimu, nanti temani aku menonton.” ucap Bara, ia berlalu, masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Fira yang masih duduk di sofa.
“Huft... hari ini sungguh melelahkan sekali.” Fira merebahkan tubuhnya di bahu sofa.
“Tumben dia mau ditemani nonton, apa dia tadi mengkhawtirkanku ya... ah tapi manamungkin, lihatlah wajahnya tadi yang begitu arogan bahkan kalau dilihat, tanduk di kepalanya seakan keluar.” gumam Fira dalam hati, sambil memejamkan matanya.
Beberapa saat setelah ia merasa cukup untuk rebahan, Fira kembali berdiri dari duduknya dan langsung masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap dan membersihkan diri.
***
.
.
.
.
.
.
Hallo readers semuanya 😊
Maaf update nya 1 episode saja dulu ya...
Jangan lupa untuk terus dukung author ya... dengan cara Like Komen dan Vote nya juga.
See you on the next chapter.😘
bye bye.