NovelToon NovelToon
Jodohku Pak CEO DUDA

Jodohku Pak CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO
Popularitas:55.2k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Ketika seorang duda kaya anak dua terpikat dengan pesona seorang wanita yatim piatu yang hanya tinggal berdua bersama adiknya. Namun kisah cinta mereka harus berasa di Antara Status yang berbeda jauh. Bukan hanya itu, Cinta mereka juga harus berada diAntara dua keyakinan yang berbeda.

Bagaimana kisah keduanya? Siapakah yang akan mengalah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Suasana meja makan benar-benar sunyi setelah Leo pergi. Udara yang tadinya hangat berubah dingin seketika, seperti rumah itu ikut menahan napas.

Aska masih memeluk lengan Vana erat-erat. Wajahnya menengok ke arah pintu tempat Leo menghilang, matanya besar, penuh ketakutan.

“Mami… adek takut…” bisiknya lirih, hampir tidak terdengar.

Aksa langsung mencondongkan tubuh, meraih bahu adiknya. “Kamu nggak usah takut, dek. Kita nggak bakal balik ke rumah setan itu.” Suaranya tegas untuk menenangkan adiknya. “Papi pasti udah usir nenek sihir itu.”

Aska menatap kakaknya, bibirnya bergetar. “Tapi… adek takut, bang…”suara Aska bergetar.

Agam mendekat, menunduk sejajar dengan Aska.“Kamu aman, Aska. Ada Uncle, Om Kenan, abang kamu, dan mami kamu. Kita semua di sini buat jagain kamu.”

“Iya, Dek." Aksa menimpali cepat. "Kamu aman sama kami. Nggak bakal ada yang bawa kamu pergi. Nggak ada.”ucap Aksa meyakinkan adiknya itu.

Aska menggigit bibirnya kuat-kuat. Tubuhnya gemetar halus.

Vana mengusap rambut anak itu lembut. “Nggak apa-apa, sayang. Mami di sini kok,” ucapnya pelan, walaupun ia sendiri tidak tau apa yang membuat Aska ketakutan seperti ini.

Tapi tatapan Aska kosong. Nafasnya mulai terdengar tidak stabil—cepat, pendek, seperti sedang mengejar udara.

Seketika mereka semua terkejut dan panik melihat keadaan Aska, para pelayan juga segera mendekat

“Dek?” panggil Aksa panik. “Dek, kamu kenapa?”

Aska tidak menjawab. Dadanya naik turun cepat. Terlalu cepat.

Vana menegakkan tubuh, wajahnya berubah panik. “Aska? Sayang? Dengar mami—tarik napas… pelan… pelan…”

Tapi Aska justru mencengkeram baju Vana lebih kuat, matanya melebar ketakutan.

“A… adek… ngg-nggak bisa…” suaranya terputus, seperti tertahan di tenggorokan. “Nafas… nggak bisa…”

Kenan berdiri cepat, kursinya bergeser keras. Ia segera memeriksa keadaan Aska.

"Sial!!! Trauma nya kambuh lagi. " ucap Kenan membuat Aksa, Agam dan para pelayan membolakan mata mereka.

Kenan bangkit dan langsung berlari menuju kamar.

“Aska, lihat mami.” Vana menangkup pipi Aska, suaranya gemetar tapi berusaha tetap lembut. “Sayang, tenang dulu… tarik napas sedikit… sedikit aja…”

Tapi anak itu mulai terisak tanpa suara. Dada mungilnya naik turun dengan panik.

Aksa memeluk adiknya dari samping. “Dek, dengerin abang! Jangan takut! Papi nggak bakal biarin siapa pun ambil kamu! Adek aman! Adek aman!”

Aska menggeleng lemah, tubuhnya semakin kaku. “N-nenek… nenek itu… jangan kasih… jangan kasiih—” kata-katanya terputus oleh napasnya yang tersengal.

Kenan kembali dengan cepat sambil membawa sebotol kecil obat dan memberikan nya pada Aska.

Vana menatap Kenan. "Tenang saja. Ini obat penenang khusus untuk Aska. " ucap Kenan. "Setelah 10 menit Aska akan tenang. " sambungnya.

Kenan menoleh pada Agam yang berdiri disamping nya“Agam, sebaiknya lo panggil Leo,sekarang” ucap Kenan.

Agam mengangguk, ia tidak menunda. Ia berlari keluar menuju ruang tamu.

Aksa menggenggam tanganan adiknya. "Adek…Abang di sini… abang di sini, Dek… jangan takut…”

Aska akhirnya mengeluarkan suaranya— walaupun suara itu masih berada di antara ketakutan dan kehabisan tenaga. Napasnya putus-putus, setiap hembusan seperti menyakitkan.

Vana semakin erat memeluk anak itu, mencoba menstabilkan gerak tubuhnya. “Sayang, peluk mami… peluk mami kuat-kuat…”

Aska menempel ke dada Vana, gemetar keras. “Ma-mami… jangan biarin adek dibawa… jangan biarin…”

Vana menutup mata, menahan air mata yang hampir jatuh. Entah ikatan apa yang membuat Vana juga merasakan sakit nya.“Mami nggak akan biarin siapa pun ambil kamu, Sayang… nggak akan…"ucap nya.

Napas Aska masih cepat, tapi perlahan—pelan sekali—ia mulai mengikuti ritme tangan Vana yang mengusap punggungnya naik turun secara stabil. Kenan juga membantu menenangkan Aska.

Aksa tetap menggenggam tangan adiknya erat, seolah nyawanya sendiri bergantung di situ.

Suasana masih kacau… Langkah berat dan cepat terdengar di lorong sebelum seseorang muncul di ambang pintu.

Leo.

Matanya langsung mencari—dan ketika melihat Aska di pelukan Vana, dengan tubuh yang masih gemetar, napasnya tersengal seperti sedang dikejar mimpi buruk yang hidup…

Wajah Leo langsung berubah.

Dingin yang tadi ia pakai sebagai tameng,kini lenyap total.

“AS—” Leo hampir memanggil, tapi suaranya patah sebelum selesai. Ia menutup mulut beberapa detik, mencoba menguasai diri, namun gagal. Napasnya terdengar keras, seperti baru saja berlari melewati badai.

“Mi…” Aska menangis tanpa suara, tubuhnya mengejang pelan di dada Vana.

"Tenang. Ini efek dari obatnya." ucap Kenan sambil memeriksa keadaan Aska.

Leo melangkah cepat, lalu berlutut tepat di depan mereka. Ia menatap Vana, suaranya serak.

“Kapan ini terjadi?”

“Barusan,” jawab Vana lirih. “Dia takut… sangat takut.”

"Nggak perlu khawatir, gue udah ngasih obatnya." ucap Kenan.

Leo tidak meresponnya,ia langsung mendekat dan menyentuh punggung Aska, gerakannya hati-hati seolah anak itu terbuat dari kaca.

“Aska…” panggilnya pelan, penuh genting. “Dengar suara papi, Nam… Papi di sini.”

Aska mengangkat kepala sedikit. Matanya basah, merah, panik.

“Pa… pi…” suaranya seperti pecahan kaca. “Nenek… nenek itu… jangan… jangan kasiih…”

Leo memejamkan mata sepersekian detik—dan dalam waktu sesingkat itu, semua amarah, luka lama, dan ketakutan paling gelapnya terlihat jelas.

Ia mendekap Aska dari sisi lain, memeluk kecil tubuh itu bersama Vana.

“Tidak ada yang akan ambil kamu,” ucap Leo, tegas tapi bergetar. “Tidak ada yang bisa menyentuh kamu. Papi aku selalu disini bersama kamu.”

Aska tersedu makin keras, napasnya tersengal, tapi kini mulai mengikuti ritme Leo yang menenangkan.

Aksa maju ke depan, duduk dekat kaki ayahnya, tangannya memegang lengan Aska.

“Dek… dengerin papi. Kita aman, Dek. Aman…”

Leo menarik Aska ke pelukannya—perlahan, takut menyakitinya. Aska langsung memeluk Leo kuat, seolah pelukan itu tidak akan pernah lepas. Dibalik kenakalan dan sikap mereka yang sedingin kutub utara, ternyata ada rasa sayang, sakit dan trauma besar yang merangkul mereka.

“Papi… papi jangan pergi…”

Suara itu menghantam Leo tepat di bagian yang paling rapuh dalam dirinya.

Leo mengusap punggung Aska ritmis. “Papi nggak akan pergi. Lihat papi. Tarik napas pelan…”

Aska mencoba, tapi tubuhnya masih bergetar.

Vana turut memegang tangan Aska, suaranya lembut. “Sayang,Sedikit lagi. Ikutin papi.”

Pelan… perlahan…

Napas Aska mulai membaik.

Kenan dan Agam berdiri terpaku. Hening. Wajah mereka berubah—bukan sekadar kasihan, tapi kemarahan yang membara pada satu orang: Nyonya Martha.

Setelah sekian tahun lamanya mereka menyaksikan dan merasakan sakit melihat Sahabat yang sudah mereka anggap seperti saudara mereka dan kedua keponakan mereka menderita karena ulah orang terdekat mereka sendiri.

Setelah beberapa menit yang terasa sangat panjang, Aska akhirnya bisa bernapas lebih normal. Masih tersedu, tapi tidak tersengal. Perlahan tubuh Aska juga mulai terkulai, ia terlelap dalam pelukan Leo. Ini bukan tidur yang seharusnya, tapi tidur yang dipaksakan oleh obat.

Leo segera menggendong Aska dan membawanya menuju kamar anak itu. Vana, Aksa, Agam dan Kenan juga mengikuti mereka dari belakang.

Sesampainya di kamar Aska pelayan segera membuka pintu, Leo membawa Aska masuk bersama dengan Kenan.

"Kita tidak bisa masuk. " ucap Agam menoleh pada Vana. "Mereka akan menangani Aska. " sambungnya membuat Vana mengangguk paham. Ia juga tidak ingin banyak bertanya untuk saat ini.

"Mami." lirih Aksa di samping Vana.

Vana menoleh. Aksa langsung memeluk Vana dengan kuat. Ia merasakan ketenangan dalam diri Vana yang mengalir seperti sesuatu yang menenangkan badai dalam dadanya.

Vana mengelus rambut Aksa lembut. “Semuanya akan baik-baik saja, sayang…”

Dan untuk pertama kalinya sejak insiden tadi, bahu Aksa mulai turun perlahan, seolah ada beban besar yang sedikit terangkat dari tubuh kecilnya.

Agam yang berdiri di samping mereka tak mengalihkan tatapannya.

Ia terdiam. Benar-benar terdiam.

Dalam hati Agam, sesuatu bergeser—perlahan tapi dalam.

"Ini yang yang selama ini kalian cari. "bisik Agam dalam hatinya.

 Selama ini Agam selalu melihat Aksa sebagai bocah yang keras kepala, liar, bandel, dan dingin seperti ayahnya. Anak itu selalu menjaga jarak, bahkan pada Leo sendiri.

Tapi sekarang… Aksa menempel pada Vana seperti anak kecil yang akhirnya menemukan tempat pulang.

Agam menelan ludah, dadanya menghangat dengan perasaan yang sulit ia jelaskan.

"Vana… lo beneran punya pengaruh yang nggak bisa gue jelasin. Dua bocah yang bahkan gue sama Kenan nggak tau cara nanganin… bisa setenang ini cuma gara-gara dipeluk dia. Kalau Aska takut mati-matian sampai kayak tadi, Aksa biasanya juga langsung ngilang… ngurung diri… bikin kekacauan. Tapi sekarang? Anak itu malah nyari perlindungan ke Vana. Seolah cuma dia yang bisa bikin dunia Aksa berhenti goyang."

Tatapan Agam melembut tanpa ia sadari.

"Kayak… ibu beneran sama anaknya. Sial. Gue nggak tau apa yang akan terjadi sama keluarga ini nanti… tapi kalau ada orang yang pantas buat dua bocah itu, cuma dia. Gue berharap lo adalah wanita pilihan yang dikirim oleh Tuhan untuk saudara dan kedua ponakan gue Van."

Agam menghela napas pelan, tapi dalam.

Ada rasa tenang, sekaligus lega, menyelimuti dirinya—perasaan yang selama ini jarang ia rasakan tiap kali menyaksikan krisis yang melibatkan kedua keponakannya.

Untuk pertama kalinya, Agam benar-benar percaya…

bahwa mungkin, mungkin saja, Aksa dan Aska akhirnya menemukan seseorang yang bisa membuat mereka merasa aman.

Bersambung,,,,,,,,,,,,,,,,,,

1
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban guys
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Farah HakimKapau Farah Hakim
Ending nya gi mana ini...
Farah HakimKapau Farah Hakim
Masih menunggu...
Farah HakimKapau Farah Hakim
Kapan up episode baru ni... Lama dah tunggu...
Farah HakimKapau Farah Hakim
👍👍👍👍👍
Farah HakimKapau Farah Hakim
😍😍😍😍😍
Azarrna
maaf ya say,
akan diusahain setiap hari up🙏😍😊
Farah HakimKapau Farah Hakim
Jangan lama2 up episode nya darlings.. Makin penasaran ini
Azarrna
/Bye-Bye/🤭
Farah HakimKapau Farah Hakim
Still waiting...
Azarrna: thank you for waiting🤭
total 1 replies
Farah HakimKapau Farah Hakim
Makin penasaran aja
Azarrna
makasih kk😍
falea sezi
ngakak q/Curse//Curse/
falea sezi
cie aska Aksa cmburu mami nya meluk anak lain/Chuckle/
falea sezi
ceritanya bagus q suka
falea sezi
SMP seumuran anak ku anak ku. tidur aja kagak. mau deh di. kelonin malu katanya
Azarrna
oke kk😍
Farah HakimKapau Farah Hakim
Terima kasih... Tunggu update seterusnyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!