NovelToon NovelToon
Mythtopia, Creatures From The Six Realms

Mythtopia, Creatures From The Six Realms

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College
Popularitas:567
Nilai: 5
Nama Author: Fredyanto Wijaya

Kejadian pada masa lalu diramalkan akan kembali terjadi tidak lama lagi. Tuan kegelapan dari lautan terdalam merencanakan sesuatu. Enam sisi alam dunia mitologi sedang dalam bahaya besar. Dari seratus buku komik yang adalah gerbang penyebrangan antara dunia Mythopia dan dunia manusia tidak lagi banyak yang tersisa. Tapi dari sekian banyak kadidat, hanya satu yang paling berpeluang menyelamatkan Mythtopia dari ramalan akan kehancuran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fredyanto Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25: Class Duel (Part 4)

Sampai akhirnya Medeina berlari cepat menyusul melalui Julian dan Miranda dan berhasil tiba di garis akhir di momen-momen tipis nyaris mengalami kekalahan.

"Yeeeeii!!!" Seru Onette dari ujung sana. Kembali melompat-lompat kegirangan.

Karena kemenangan berturut-turut Underground untuk yang kedua kalinya itu membuat murid dari kelas lain yang sedang menonton tadi sama-sama menatap kesal kepada murid-murid dari kelas Underground.

"Oh wow! Itu nyaris sekali!" Melody terhibur. Menikmati momen akhir pertandingan duel lari tadi.

"Yang tadi itu tidaklah buruk," Asha mengambil Vanessa yang masih menempel pada tiang tadi dan menaruhnya di atas telapak tangannya. Mengambilnya seperti selembar kertas yang lengket.

"Tapi kita kalah! Wuaaaaahahahaa!" Vanessa menangis sejadi-jadinya. Duduk berselonjor_ menjatuhkan diri di atas telapak tangan Asha sambil membanting-banting kedua kaki mungilnya.

Dan Asha mengelus-ngelus pelan kepalanya. Menghiburnya.

Selesai pertandingan duel kedua tadi, kemudian langsung dilakukan duel ketiga. Sesuai yang sudah direncanakan sejak awal... Sekarang waktunya duel sihir.

Itu berarti para murid boleh menggunakan sihirnya kali ini. Dan mereka melakukannya di tempat berbeda. Di halaman tengah sekolah_ tidak jauh dari lokasi gerbang portal.

Akan tetapi, sayangnya itu bukan seperti pertandingan duel sihir yang mereka harapkan. Bukan dengan saling menembakan sihir kepada lawan kelas mereka... Melainkan memainkan teknik sihir semacam mengutuk atau mengubah benda sederhana menjadi sesuatu yang mungkin lebih besar dan mengagumkan.

Peraturannya sederhana! Siapa saja yang dapat membuat hasilnya bagus, besar dan mungkin mengaggumkan itulah yang akan memenangkan duel. Yang menang akan memiliki nilai tinggi untuk tim nya. Dan mereka tinggal menunjuk satu saja dari masing-masing kelas.

Dari kelas Mermaid atau Merman ada Delphine yang kembali masuk dalam pertandingan duel. Sedangakan dari kelas Peri ditunjuk Luna yang akan berduel. Dari kelas Penyihir ditunjuk Nova. Lalu dari kelas Bangsawan ada Harper_ ya walaupun pemilihan langsung dari ketua kelas itu sempat ditentang oleh si kembar dua saudari Miranda dan Sophia. Dan dari kelas Underground si Misha lah yang menunjuk dirinya sendiri.

Jadi semua sudah siap. Benda-benda acak yang akan diubah mereka juga sudah ditaruh disediakan di hadapan mereka.

Hasil akan dinilai oleh para Guru sebagai jurinya. Semakin memuaskan hasilnya berarti semakin tinggi juga poin atau nilainya. Bagi tim kelas yang kalah pada dua pertandingan duel sebelumnya tetap dapat berpeluang menutupi poin kekalahan mereka.

Dimulai giliran pertama oleh si Delphine dari kelas Mermaid!

Dihadapanya ada benda berupa patung lumba-lumba. Dan Delphine mulai menyihirnya dan mengubahnya menjadi sesuatu. Tapi yang dilakukan Delphine dan peserta lainnya tidak selalu bisa ditebak oleh yang lain.

Dan Delphine membuat patung itu menjadi hidup. Sungguh seekor lumba-lumba yang hidup_ bukan lagi bertubuh batu pahatan. Lapisan keras rontok dan menunjukan sosok tubuh lumba-lumba asli di dalamnya.

"Sudah kuduga kau akan melakukan itu. Bagus!" Puji Baba Yaga menilai. Guru yang lainnya juga sudah menilai di dalam pikiran mereka masing-masing.

"Sekarang aku sarankan kau untuk memindahkannya sebelum dia mati," Lagi ucap Baba Yaga kepadanya sambil berlalu menuju murid lainnya yang akan bergilir melakukan sihir.

"Ouh ya!" Delphine tersadar. Hampir lupa kalau itu makhluk hidup yang butuh air jadi... dia menggunakan telekinesis trisulanya dan melemparnya tinggi-tinggi jauh sampai tepat jatuh menyebur masuk ke dalam lautan_ tempat bagi alam Mermaid dan Merman.

Setelah Delphine, sekarang giliran Harper dari kelas bangsawan. Objek yang harus diubahnya adalah sebuah buah labu. Dan hasilnya... dia menumbuhkan ukurannya semakin besar lalu berubahlah secara ajaib menjadi kereta labu.

"Cinderella?! Hm, aku bertanya-tanya Kenapa kau harus mengubahnya menjadi yang satu ini?!" Baba Yaga memperhatikan. Walaupun hasilnya memang indah dan menakjubkan.

"Entahlah! Karena itu buah labu, jadi yang terlintas di kepalaku adalah kereta labu," Jelas sederhana dari Harper sambil menaikan bahu.

"Terserahlah kalau begitu...," Baba Yaga pergi berganti peserta. Dan setelah Baba Yaga menuju murid lainnya, si unicorn kecil Ruby langsung berlari dan melompat ke kereta labu itu. Sebagian sampai hancur berhamburan dan mengenai tubuh Harper. Lalu dimakannya dengan lahap yang tersisa dari kereta labunya.

"Hey Ruby, jangan! kuda nakal!" Harper berlari mendekatinya.

"Giliranmu!" Ucap Bab Yaga kepad Nova_ murid dari kelas Penyihir. Nova hanya mengangguk dan mulai fokus pada objek benda di hadapannya. Benda berupa beberapa dari bagian-bagian tulang.

Nova membuat sihirnya menjadi pusaran tornado, mengubah tulang-tulang itu menjadi banyak dan berukuran besar sesuai keinginannya, lalu terbentuklah menjadi satu seutuh kerangka dinosaurus T-Rex. Dan itu bergerak.

..."ROAAAAAR...!!!"...

T-Rex itu meraung keras. Murid-murid lain dari kelas penyihir menyoraki hasil dari yang dilakukan satu rekan mereka di depan sana. Serentak bertepuk tangan. Yang dari kelas lain pun ada yang mengakui hasilnya.

"Mengendalikan seperti boneka kayu. Bagus! Akan ada nilai tambah untukmu!" Baba Yaga mencatat sambil berjalan berlalu pergi menuju giliran yang lain.

Dan untuk giliran Misha dari kelas Underground, para guru memilih objek kursi tua dari gudang penyimpanan.

"Tidak," Ucap Misha. Mendengar ucapannya... yang lain menjadi terpancing fokus memandangnya. Tidak yakin apa maksud dari yang dia katakan.

"Tidak?! Apa maksudmu tidak?!" Baba Yaga berhenti dari kesibukan mencatatnya.

"Aku bilang aku tidak bisa!" Ulang Misha lagi. Dia hanya menatap lurus pada kursi di hadapannya. Misha beralasan kalau dia tidak memiliki sihir semacam itu untuk benda semacam itu. Jika itu benda hidup mungkin dia bisa.

Tapi sebenarnya, dari awal Misha memang mau mengalah untuk duel yang satu itu. Itulah kenapa dirinya sendiri yang sengaja kembali masuk dalam pertandingan. Teman-teman sekelasnya juga tida tahu apa yang sedang direncanakannya. Dia selalu memiliki pikiran yang sulit ditebak.

"Baiklah jika kau memang tidak bisa," Baba Yaga pergi menjauh darinya.

Lalu yang terakhir... giliran Luna dengan objek yang ada di hadapannya berupa pot yang tumbuh tanamannya masih dalam ukuran kecil. "Kau bisa mulai!" Ucap Baba Yaga menyuruhnya. Luna bersiap dengan tongkat bunga sihirnya.

Di sisi lain...

Sambil samar terkekeh, "Ini belum berakhir!" Samuel mengintip miring dari balik pilar gerbang portal. Memunculkan tongkat sihirnya dan menembakan sedikit percikan sihir ke pot tanaman yang akan diubah oleh Luna. Dia melakukan sesuatu.

Yang lain tidak menyadarinya.

Dan Luna mulai. Dia menaburkan sihir berupa debu pixie ke atas pot tanaman itu. Dan mulailah tanaman itu tumbuh semakin besar dalam waktu singkat.

Tapi ada yang salah. Tanaman itu tumbuh cepat tanpa terkendali. Semakin besar dan semakin besar saja. Potnya sampai hancur karena akar-akar itu membengkak dan menjulur panjang sampai melilit Baba Yaga dan murid-murid lainnya yang sedang menyaksikan.

Sedangkan yang lain berusaha menjauh melarikan diri. Beberapa ada yang menjerit ketakutan.

"Tunggu... apa yang terjadi?!" Luna tidak mengerti. Sihirnya seharusnya tidak pernah gagal. Dia yang paling dalam hal sihir di kelas Peri.

Terus membesar... dan sampai tumbuh di puncaknya bukan berwujud bunga, melainkan mulut tanaman pemakan. Atau disebut tanaman Venus. Tanaman itu berusaha melahap yang berlarian di sekitarnya.

Asterion melompat dan berusaha menahan tanaman itu.

"Apa yang kau lakukan?!" Richard dan beberapa teman dari kelas bangsawan menebas-nebas akar yang terus berusaha melilit dengan pedang mereka.

"Bukan aku!" Sahut Luna.

"Ada makhluk rendahan yang mensabotase pekerjaanku!" Lanjutnya, Luna kesal. Pandangannya menoleh-noleh mencari di tengah kekacauan.

Abigail membantu.

Melihat seseorang bersembunyi dibalik pilar, "Itu dia!!" Abigail menunjuk lurus-lurus. Luna dan Asha juga menoleh.

"Sudah kuduga!" Luna menatapnya tajam.

"Oh Tidak!" Samuel berusaha melarikan diri.

"Tangkap dia!!" Seru Luna. Berusaha mengejarnya. Abigail, dan Asha juga membantunya.

Di saat berusaha menangkap si pembuat onar itu, Abigail hampir saja di lahap oleh tanaman Venus itu. Tapi untung saja Melody yang menyadari ancaman langsung sigap melompat dan mendorongnya.

"Awas!!"

BRAAAASH!!! Mulut Venus menghantam tanah_ nyaris menelan mereka berdua. Debu pasir sampai mengepul hebat.

"Terimakasih!" Ucap Abigail.

Masih dalam pengejaran... "Kalian tidak akan mendapatkanku!" seru Samuel sambil sedikit menoleh kebelakang.

"Oya?! Kalau begitu bertaruh!!" Asha masih mengejarnya. Lalu dia meraih Venessa yang masih dalam ukuran kecil dari atas pundaknya.

"Vanessa, dia milikmu!" Dan Asha melemparnya kuat-kuat ke arah Samuel tadi.

"Ini untuk yang tadi!!!" Serunya dengan suara cempreng. Tubuh mungilnya melesat kencang seperti roket. Dan tepat ketika Samuel mencoba berbalik mengecek belakang... "Pluak!" Vanessa tepat meluncur menerjang wajah Samuel. Debu pixie memercik udara.

Dan Samuel langsung jatuh terjengkang.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!