"Kau menghancurkan semuanya, mimpiku, cintaku, hidupku, harapanku Anggun ... kau menghancurkan semuanya, mulai hari ini pergilah sejauh mungkin jangan berani tunjukkan wajahmu dihadapanku! Saat kepercayaanku hilang, maka hubungan ini sudah tidak ada artinya!" Ariel Erlangga.
Harapan menikah muda harus berakhir di tengah jalan saat, Ariel laki-laki posesif ini menemukan foto Anggun tertidur pulas di pelukan laki-laki asing.
Hingga lima tahun kemudian, Ariel kembali kehadapan Anggun dengan menggandeng wanita lain. Bahkan Anggun sendiri yang akan merancang busana pengantin Ariel dan calon istrinya.
Benarkah Anggun sudah ternoda? Mampukah Anggun merelakan Ariel untuk wanita lain?
"Ternyata kau datang hanya untuk meninggalkanku lagi." Anggun Anggraini.
Facebook Violla
Instagram @Violla536
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manda jangan pergi lagi
Lama mereka duduk dalam diam, saling memandang, saling melempar pertanyaan dalam hati. Hanya suara dentuman musik yang masih menggema di ruangan itu.
"Aku harus memulai dari mana?" Ariel mulai buka suara sambil menyenderkan punggungnya di sofa.
Yusri melirik jam yang ada di tangannya. sudah jam 3 dini hari, tapi mereka masih belum keluar dari tempat ini. " Sebaiknya kita pulang dulu". Katanya sembari menoleh ke arah Ariel.
"Aku akan membalas pukulan mu ini nanti." Perlahan Ariel bangkit dan melangkahkan kakinya, melewati Yusri yang masih duduk di tempat semula. Ternyata dia masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dengan baik.
"Can.....ti....k...ayo tam- tambah kan lagi..."
Langkah Ariel terhenti, dia menoleh, melihat Endi yang masih belum sadarkan diri, bahkan dia tidak tau apa yang sudah terjadi di ruangan itu. "Kau urus dia!". Ariel pergi tanpa mendengar jawaban dari Yusri.
Dengan malas Yusri mendekati Endi yang tergeletak di sofa panjang itu. "Kalian ini, menyusahkan ku saja, bangkit lah!" Bentaknya pada orang yang masih memejamkan matanya ini.
"Cantik...ka....kau..da..tang, ayo sini sini duduk!" Endi Merentangkan tangannya seolah olah ingin memeluk wanita yang tadi menemaninya.
Yusri menepuk pelan pipi Endi. "Hei kau buka mata mu. Lihat aku, Yusri....Aku Yusri, sejak kapan aku jadi cantik ha?"
Siapa yang mabuk sekarang? orang mabuk diajak bicara.
"Hahaha Sir...sir....Kau...Kau sisir haha, kau jelek sekali nama mu itu sisir haha". Perlahan Endi membuka matanya, dia duduk dan memperhatikan Yusri yang menatapnya dingin "Kau je...jelek". Endi menunjuk Yusri dan kembali berbaring, kali ini dia benar benar sudah tidak sadarkan diri.
Dengan malas Yusri menuntun sahabatnya yang gila ini berjalan keluar dari tempat ini. "Kalau bukan karena Ariel, aku akan membiarkan mu disini, ah...aku sudah seperti bodyguard saja." Ketus Yusri sambil melangkahkan kakinya.
*****
Jam 10 pagi waktu setempat Ariel mulai membuka matanya, perlahan dia duduk dan memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada orang lain di kamar ini, dia memegang kepalanya yang terasa pusing, perlahan diusapnya wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lagi lagi cincin di jarinya menarik perhatiannya. "Ceh...semua karena mu, Kau yang sudah menanamkan dendam ini, lihat lah nanti, apa yang akan aku lakukan". Mulutnya membenci tapi tanpa disadari hatinya masih mencintai.
Ceklek.......
"Kau sudah bangun?" Yusri datang membawa beberapa dokumen ditangannya. "Lihat ini" Katanya mengangkat tangan kanannya yang memegang map berwarna coklat, agar Ariel melihatnya.
"Apa itu?" Tanya Ariel penasaran, perlahan dia menyingkapkan selimutnya dan berjalan mendekati Yusri yang sudah duduk di sofa yang ada di depan ranjangnya.
"Bersiaplah dulu, bukan kah kau ingin membalaskan dendam mu itu?" Yusri bicara tapi tangannya sibuk membuka lembaran dokumen yang sudah ada di pangkuannya.
"Aku...aku tidak bisa membalasnya" Ariel mulai goyah.
Yusri menatap tajam Ariel yang juga sedang melihatnya. "Cukup Ariel, aku muak melihatmu seperti ini, kau menghabiskan semua waktu mu di Bar setiap malam, kau sering marah marah tidak jelas, bahkan kau sudah tidak perduli lagi dengan masa depan mu, aku tidak mau jadi supir mu setiap malam, membawa mu kembali kesini dalam keadaan mabuk, apa kau pikir aku tidak punya urusan lain huh?" Entah kenapa Yusri sering emosi menghadapi Ariel yang sekarang.
"Hanya karena satu wanita kau menjadi seperti ini!" Lanjutnya lagi sambil menghempaskan dokumen yang dipegangnya denagn kasar tepat di atas meja.
"Yang mau balas dendam Kau atau Aku?" Ariel meninggikan suaranya dia tidak terima dengan semua yang dikatakan Yusri karena semua yang dikatakan temannya ini memang benar adanya.
Yusri mengangkat kedua tangannya pertanda dia ingin mengakhiri percakapan ini "Terserah kau pelajarilah ini, karena itulah yang terbaik, balas dendam dengan cara yang elegan."
Setelah mengatakan itu Yusri pergi keluar dari kamar Ariel.
Ariel mengambil dokumen yang sudah sedikit berantakan itu, dia membacanya sekilas, matanya terus fokus, lembar perlembar dibukanya "Cukup!" Katanya perlahan di letaknya di atas meja, dan melangkahkan kakinya ke toilet yang ada di sudut kamarnya.
*****
Di tempat lain.......
Mama Fery yang masih belum bisa tenang, sedari tadi mengamuk karena kehilangan bonekanya yang selama ini setia menemaninya.
"Kembalikan, kembalikan putri cantik ku, kembalikan dia...cepat kembalikan dia" Terus berontak dan memukul mukul Fery yang berusaha menenangkannya.
"Sudah Ma...sudah, tenang ya Ma...tenanglah"
Kata Fery sambil memeluk mama yang masih histeris.
"Kau yang mengambilnya kan? kembalikan kembalikan dia...cepat kembalikan dia padaku..!" Bukan hanya memukul bahkan Mama Fery menggigit lengan anaknya yang kekar ini, tapi Fery masih tetap sabar memeluk mamanya, bahkan dia tidak menghiraukan rasa sakitnya.
"Ibu...tenang lah Bu" Anggun datang dengan dada yang narik turun, perlahan dia mengatur nafas nya yang tidak beraturan. Dia melihat ada bekas gigitan di tangan Fery, bahkan sang mama masih saja meronta di pelukan anaknya ini.
"Sudah Bu...tenang ya Bu" Anggun bicara sambil melepaskan tangan Fery yang memeluk mamanya .kemudian Anggun beralih memeluk dan mengusap punggung mama Fery yang terlihat sudah mulai sedikit tenang.
"Kembalikan dia...kembalikan dia..jangan pergi, jangan pergi" Katanya dalam pelukan Anggun.
"Tidak ada yang pergi Bu, semua disini, ada bersama ibu" Anggun bicara dengan nada yang lembut, hatinya pun menjadi tenang, setidaknya dia bisa merasakan lagi pelukan seorang ibu yang selama ini dia rindukan.
Mama Fery bisa merasakan ketulusan Anggun, perlahan dia menatap Anggun lama, bahkan dia bisa melihat air mata yang perlahan mengalir di pipi Anggun. "Jangan menangis Nak!" Katanya sembari mengelap air mata Anggun dengan kedua tangannya.
"Tidak buk...Anggun tidak menangis"
"Bukan...kamu bukan Anggun, kamu Manda anak ku, ya Manda Anak ku" Mama Fery membelai rambut Anggun dan menciumi setiap wajah anak gadis yang ada di depan matanya ini.
"Ma...dia Anggun Ma" Fery mencoba menjauhkan Anggun dari Mamanya, dia takut Mamanya akan menyakiti Anggun, seperti menyakitinya.
"Tidak...Manda ku, lihat dia Manda ku, Anak ku iya Anak ku Manda, jangan pergi lagi, jangan pergi lagi,Manda ku sayang" Katanya yang tidak mau dijauhkan dari Anggun.
Anggun hanya diam dalam pelukan Mama Fery, tapi air matanya terus mengalir, perlahan Anggun kembali mengusap punggung wanita yang sedang depresi ini. Dia merasakan pelukan seorang ibu lagi, pelukan yang sudah lama dia rindukan.
"Anggun.....Manda tidak akan pergi lagi Bu, Manda ada di sini" Suara lembut Anggun menenangkan Mama Fery. Kemudian dia melepaskan pelukannya dan mencium lama kening Anggun.
"Manda...jangan pergi lagi ya Nak"
Anggun menganggukkan kepalanya pertanda ia, mulai sekarang dia akan hidup sebagai Manda.
baru hadir, nyimak kayaknya seru dech