Hanya seorang penjual ikan disiang hari. dan pengantar barang dimalam hari itulah pekerjaan pria yang bernama Satria.
Di caci maki sudah menjadi makanannya sehari-hari. Bahkan lebih parahnya lagi dia di khianati oleh istrinya sendiri dan hampir dibunuh oleh selingkuhan istrinya tersebut.
Tapi nasib merubah hidupnya sejak dia menolong seorang kakek tua misterius yang memberinya sebuah kalung pusaka naga.
Dan itu merubah hidupnya menjadi seorang penguasa.
Akhirnya Satria bertekad untuk membalas orang yang sudah merendahkan nya.
Penasaran dengan kisahnya? Baca yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
*
*
*
Satria dan kedua asistennya kembali lagi ke perusahaan pusat. Ketiganya keluar dari dalam lift saat sudah tiba di lantai dasar.
Para karyawan wanita berbisik-bisik saat melihat ketampanan wajah Satria. Tubuh kekar serta tinggi menjadi ciri khas dalam dirinya.
Satria berjalan dengan gagahnya, disamping kiri kanan ada Dewi dan Ariel yang seperti bodyguard nya. Satria mengangkat sebelah tangannya sejajar dengan kepalanya sebagai sapaan kepada karyawan yang ia temui.
Begitu saja, para karyawan sudah merasa dihargai. Mereka malah memuji kebaikan bosnya tersebut.
"Bagaimana dengan peraturan disini?" tanya Satria.
"Seperti biasa tuan muda, kalau jam kerja mulai 8 pagi dan istirahat siang jam 12 selama 2 jam. Pulang jam 5 sore," jawab Ariel.
"Maksudku makan siang mereka," kata Satria.
"Biaya makan beli sendiri, tuan muda. Baik di kantin maupun diluar," jawab Ariel.
"Buat peraturan baru, makan siang gratis untuk semua karyawan tanpa terkecuali, dan kalau ada yang lembur bayar 2 kali lipat," perintah Satria.
"Baik tuan muda," jawab Ariel.
Ariel kembali mengumpulkan semua karyawannya, dari yang paling bawah hingga yang sudah punya jabatan tinggi.
"Semua sudah berkumpul?" tanya Ariel.
"Sudah...." jawab mereka serentak.
"Ada perubahan peraturan sedikit dari tuan muda kita yaitu tuan Satria. Mulai besok, makan siang di kantin gratis. Tapi tidak untuk diluar. Dan juga uang lembur akan dibayar 2 kali lipat," ucap Ariel.
Mereka semua sangat gembira mendengarnya. Mereka bisa menghemat uang saku mereka.
"Sekarang lanjutkan pekerjaan kalian," titah Ariel.
"Tuan, bagaimana kalau kami yang jaga malam?" tanya salah satu sekuriti.
Karena tugas sekuriti adalah jaga siang dan malam secara bergantian. Mereka bertanya tentang itu, agar mereka bisa mengerti.
"Yang bagian jaga malam, akan diberi uang saku oleh perusahaan," jawab Ariel.
Karena kantin perusahaan tidak buka dimalam hari.
"Jadi kalian bisa beli makanan sendiri atau bawa dari rumah," ucap Ariel lagi.
"Terima kasih tuan," ucapnya.
"Sekarang lanjutkan pekerjaan kalian," titah Ariel.
"Baik tuan," jawab mereka serentak.
Satria sudah berada di parkiran mobil, saat hendak masuk tiba-tiba datang Shisi mendekatinya.
"Satria!" Shisi berjalan lenggak-lenggok mendekat ke Satria.
Satria mengernyitkan keningnya, lalu ia tersenyum miring. Timbul ide jahil di otaknya.
"Kamu memanggilku?" tanya Satria.
"Maafkan aku karena dulu menolakmu, aku tidak tau ternyata kamu orang kaya," jawab Shisi.
Satria mulai memerankan aktingnya. Dewi yang mengerti lirikan Satria kepadanya segera menyingkir dan memanggil Ariel untuk kembali ke perusahaan pusat.
"Tidak apa-apa, itu bisa saja terjadi," ucap Satria.
"Apa boleh kita kembali seperti dulu? Sebenarnya aku juga menyukai kamu, tapi aku terpaksa menolak mu karena orang tuaku," ucap Shisi penuh dramatis.
"Masuklah," pinta Satria membuka pintu mobil untuk Shisi.
Shisi merasa sangat senang saat Satria menyuruhnya masuk kedalam mobil mewah milik Satria. Kalau saja dia tidak menjaga image nya, sudah pasti ia akan melonjak senang.
Shisi masuk kedalam mobil dan duduk dikursi penumpang. Dari dalam gedung perusahaan sepasang mata menatap marah kearah Shisi dan Satria. Ya dia adalah Revan. Revan akhirnya mengetahui sifat sesungguhnya Shisi.
Revan mengepalkan tangannya kuat, berkali-kali ia memukul tembok hingga tangannya berdarah. Saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kekuasaan Satria jauh diatasnya.
"Kep**at...!" umpat Revan.
Sedangkan Satria tersenyum sinis kearah Revan dan melambaikan tangan ke Revan. Satria sengaja memperlihatkan hal itu, agar Revan tau dan sadar bahwa Shisi tidak pantas dipertahankan.
Satria kemudian masuk kedalam mobil, dengan perlahan Satria menjalankan mobilnya keluar dari perusahaan itu. Sedangkan Dewi pulang bersama Ariel.
Satria melajukan mobilnya setelah keluar dari gerbang perusahaan. Satria akan membawa Shisi ke mansion miliknya. Satria sengaja pamer kepada Shisi.
Satu jam perjalanan, Satria tiba di mansion megah bak istana. Saat pintu gerbang terbuka, Satria masuk, jarang antara gerbang dan mansion kalau berjalan kaki memakan waktu 20 menit. Saking luasnya kawasan tersebut.
Shisi terperangah melihat kemegahan mansion tersebut. Kemudian Dewi dan Ariel juga datang, karena tadi Satria sempat mengirim pesan kepadanya.
"Tuan muda!" sapa keduanya lalu menunduk.
"Hmmm, kenalkan ini nona kalian," ucap Satria.
Sandiwara Satria benar-benar natural. Sehingga Shisi yang gila harta tidak bisa membedakan antara akting dan sungguhan.
"Hormati aku," pinta Shisi.
Dewi dan Ariel saling pandang, kemudian mereka tersenyum tipis. Shisi diajak masuk kedalam mansion. Lagi-lagi ia terperangah melihat kemewahan mansion tersebut.
"Sebentar lagi aku akan menjadi nyonya di rumah ini," batin Shisi.
"Tuan muda, lihatlah wanita dia begitu bahagia," bisik Ariel.
"Biarkan saja dulu dia senang-senang. Nanti baru kita hempaskan," jawab Satria.
"Tuan muda mau balas dendam?" tanya Ariel.
"Hanya memberikan sedikit pelajaran, dulu dia menghina karena aku miskin," jawab Satria. Ariel mengangguk mengerti.
"Mari Nona," ajak Dewi.
Dewi juga memainkan perannya untuk menyanjung tinggi Shisi. Dewi menyuruh pelayan untuk melayani Shisi dengan baik.
"Satria benar-benar orang kaya, menyesal dulu aku menolaknya dan menghinanya. Ternyata identitasnya tidak sederhana," gumam Shisi.
Shisi dibawa kekamar tamu yang tidak kalah mewahnya dari kamar-kamar yang lain. Hanya kamar utama yang berbeda. Yang nantinya akan ditempati oleh Satria.
"Bagaimana?" tanya Satria.
"Aku sangat menyukainya. Mengapa kamu menyembunyikan identitasmu?" tanya Shisi balik.
"Soal itu tidak penting, dan aku tidak perlu menjawabnya," jawab Satria.
"Bolehkah aku tinggal disini?" tanya Shisi.
"Boleh, tapi sebagai pelayan," jawab Satria.
"Apa?!" Shisi menaikkan suaranya beberapa oktaf.
Satria tersenyum, "kamu pikir aku akan menerima kamu?"
"Tapi kamu bilang? Aku ...?"
"Kapan aku bilang mau sama kamu? Sampah!" Satria meninggal kamar itu.
Kemudian datang beberapa pelayan dengan membawa seragam khusus milik mereka saat bekerja.
"Cepat ganti pakaianmu, dan bekerja mulai sekarang," pinta kepala pelayan.
Shisi terpaksa menuruti kemauan kepala pelayan tersebut. Harapannya kini hancur berkeping-keping. Tadinya ia berpikir Satria akan dengan mudah menerimanya kembali. Tapi siapa sangka dibawa kesini hanya dijadikan pelayan.
"Awasi dia, jangan sampai kabur," perintah Satria pada ketua pelayan.
"Baik tuan muda," jawab ketua pelayan.
Satria sengaja memperkerjakan Shisi hanya untuk memberikannya pelajaran. Nanti kalau sudah menyadari kesalahannya baru Satria akan membebaskan nya.
Shisi hanya bisa menangis, apalagi ketua pelayan dan yang lainnya membentaknya. Dia tidak menyangka akan menerima perlakuan seperti ini dari Satria.
Sementara Satria sudah kembali lagi ke perusahaan. Di mobil lain Dewi dan Ariel juga akan kembali ke perusahaan.
Satria tiba-tiba teringat Fisya, rencananya ia akan menemui Fisya setelah pulang dari perusahaan.
Ketiganya pun tiba di perusahaan. Satria sengaja ingin mengemudi mobil sendiri, hingga Dewi pun tidak jadi untuk mengemudi mobil yang ditumpangi Satria.
*
*
*