Bagaiaman jika kamu harus menikah dengan orang yang mempunyai rasa trauma akan sebuah hubungan masa lalu yang masih menghantuinya? Begitu juga dengan Darin dan Arga yang terpaksa harus menikah karena keegoisan kedua orang tuanya. Arga yang meliliki trauma karena perceraian kedua orang tuanya, harus dipaksa hidup bahagia dengan Darin yang juga masih menyimpan rasa sakit hati karena ditinggal pergi Akaz.
Awal rumah tangga mereka diselimuti perdebatan, sampai akhirnya Arga mengetahui siapa sosok Darin sebenarnya yang membuat semua pandangannya selama ini berubah. Arga kembali merasakan getaran dalam hatinya, ia kembali merasakan bagaimana rasanya cemburu dan gundah. Namun Arga hanyalah lelaki yang mempunyai sifat cuek dan dingin, ia tidak tahu bagaimana caranya mengutarakan perasaannya. Hanya diam-diam Arga bisa mengutarakan perasaannya lewat tindakan kecil. Sampai akhirnya Arga berani mengungkapkan perasannya secara lantang karena ia tahu jika Darin adalah perempuan yang dicarinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langit Tak Bisa Digapai
Gara-gara kejadian semalam keenam putra Harun menjadi sibuk karena pintu password ruang kerja Arga sudah bisa dibuka kembali, semua karena Dewa yang tidak memberitahukan password-nya kepada Arga hanya karena masalah Arga tidak bertanya kepadanya. Hasilnya Alex dan Bintar harus ikut ke kantor hari ini juga dan menukar kuliah paginya dengan kuliah malam.
"Sial. Gara-gara tuh bayi satu, gue harus datang ke kantor," gerutu Alex yang pagi-pagi sekali sudah terlihat sangat sibuk memakai Dasi bukan kebiasaannya seraya menatap dirinya di cermin.
Menggunakan kemeja berwarna biru navy dengan setelan celana hitam dan dasi hitam bermotif membuat Alex terlihat sangat tampan.
"Dewa! Awas ya lo, lihatin aja pembalasan gue nanti. Gara-gara lo sekarang gue harus ikut meeting!" Bintar kesal Bicara sendiri sambil sedikit berteriak karena ini bukanlah kemauannya
Melihat Bintar yang sedang marah-marah membuat Dewa yang sedari tadi berada di ambang pintu kamar Bintar tertawa. Ternyata tanpa sepengetahuan kakaknya sedari tadi adik bungsunya sudah berada di ambang pintu kamarnya sedari tadi.
"Akhirnya anak itik kerja di kantoran juga," ledek Dewa menggoda Bintar yang sedang kesal.
Suara Dewa mengagetkan Bintar yang sedang bercermin, sontak kakaknya menoleh saat mendengar suara Dewa yang tiba-tiba saja berada di kamarnya.
"Ngapain lo di sini?" tanya Bintar dengan mimik wajah sedikit sinis menatap Dewa yang menyebutnya anak itik.
"Lihat lo lah," jawab Dewa berjalan masuk ke kamar Bintar.
"Jangan masuk!" teriak Bintar menahan langkah kaki Dewa agar tidak masuk ke kamarnya.
Teriakan Bintar berhasil membuat Dewa menghentikan langkahnya dan menatap ke arah kakaknya. Begitu polosnya wajah Dewa tanpa dosa mengikuti apa yang Bintar ucapkan.
"Kenapa?" tanyanya dengan ekspresi wajah begitu tidak berdosa.
"Gue mau pergi, kalau lo ada di sini nanti yang ada berantakan kamar gue."
"Nggak kok, gue mau lihat lo aja pake jas," ucapnya singkat.
Semua ini karena Dewa, andai saja jika ia tidak memberitahu Arga password ruang kerjanya pasti Bintar dan Alex tidak akan mungkin ikut ke kantor hari ini. Ingin rasanya Bintar menjambak rambut Dewa melampiaskan rasa kesalnya.
"Gara-gara lo sekarang gue harus ke kantor! Apa lo tahu kalau gue nggak mau ada di sana! Kenapa juga lo harus kasih tahu Bang Arga password ruang kerjanya?" nada bicara Bintar seolah mulai meledak.
Namun Dewa tidak pernah menanggapi ucapan Bintar secara serius, justru Dewa begitu senang membuat Bintar marah dan emosi. Dewa adalah adik yang sangat usil kepada kakak-kakaknya, karena ia kurang kasih sayang mamanya dan papanya. Hanya kakak-kakaknya yang selalu ada untuknya dan menggantikan posisi kedua orang tuanya bagi Dewa.
"Karena gue kasihan sama Bang Arga."
"Sekarang lo pergi dari sini dan jangan ganggu gue, oke!" usir Bintar yang amarahnya mulai murka karena Dewa karena sedari tadi mencoba untuk menahannya.
Sama halnya dengan Bintar dan Arga yang sangat sibuk hari pertama mereka pergi ke kantor. Darin juga ikut sibuk membantu Arga menyediakan pakaian untuk suaminya. Ini adalah pertama kalinya bagi Darin yang sudah menjadi istri Arga.
Sepertinya Darin memang sudah terbiasa dan sangat telaten sekali mempersiapkan pakaian kerja Arga. Dari mulai setelan jas, kemeja, dasi, sepatu sudah disediakan olehnya di atas tempat tidur. Melihat semua keperluannya sudah ada di atas tempat tidur membuat Arga keheranan menatap Darin yang masih sibuk menyiapkan laptop milik Arga. Darin terlihat sangat bersemangat dan cekatan mempersiapkan kebutuhan suaminya sehingga membuat Arga tersenyum manis menatap istrinya.
"Apa ada yang kurang?" tanya Darin saat Arga yang baru saja keluar dari kamar mandi yang masih memakai handuk berjalan mendekati tempat tidur melihat pakaiannya untuk bekerja.
"Nggak ada, semuanya sudah ada di sini," jawab Arga memperhatikan satu per satu keperluannya.
Senyum manis terlukis di wajah Darin akhirnya ia bisa menyelesaikan tugas pertamanya menjadi seorang istri dengan lancar.
"Baguslah. Aku akan menunggumu di ruang makan," pamit Darin yang mengetahui jika Arga akan berpakaian.
Tidak mungkin Darin berada di sana melihat Arga berpakaian, meskipun sebenarnya banyak ruangan di dalam sana. Tapi Darin merasa sangat risih jika melihat Arga sedang berpakaian, entah mengapa ia merasa sedikit gugup ketika mereka berdua setiap kali bertemu pandang.
"Oh, ya sudah. Nanti aku menyusul."
Saat Darin hendak keluar kamarnya datanglah Dewa yang membawa susu untuk Darin. Seperti biasa sudah dua hari ini Dewa selalu melakukan ritual untuk Darin dengan memberikan segelas susu, meskipun sebenarnya Darin sering menolaknya.
"Darin!" panggil Dewa sedikit berteriak seolah suasana hatinya sedang bahagia.
Darin dan Arga menoleh secara bersamaan melihat kedatangan Dewa. Raut wajah Darin yang tadinya berseri-seri berubah sedikit datar ketika melihat apa yang ada di tangan Dewa. Sesuatu yang selalu ingin dihindarinya sejak kemarin.
"Susunya seperti biasa." Dewa memberikan susu kepada Darin.
"Lo nggak perlu repot-repot. Gue bisa bikin sendiri," kata Darin yang mengambil segelas susu dari tangan Dewa dengan sedikit membatin.
"Nggak kenapa-kenapa, gue nggak repot kok. Sekarang cepetan diminum," kata Dewa yang meraih tangan Darin dan menyuruhnya untuk segera meminumnya.
Takut akan susunya tumpah akhirnya Darin mengikuti perintah Dewa dengan meminum susu buatannya, meskipun sebenarnya Darin belum sarapan pagi.
Waktu cepat berlalu membuat Alex dan Bintar tidak sempat untuk menikmati sarapan di rumah, begitu juga dengan Arga, Zein dan Herry yang memilih untuk sarapan di kantor. Kelima putra Harun berangkat secara bersamaan dalam mobil terpisah.
"Jangan pergi ke mana-mana. Tetap di rumah," kata Arga saat Darin mengantarkan dirinya ke mobil.
"Iya," jawab Darin singkat sambil menyerahkan tas kerja kepada Arga.
"Haruskah kita melakukan adegan ini?" tanya Darin yang seolah risih dengan kisah drama mereka berdua yang membuat keduanya semakin dekat dan berhubungan sangat intens.
Arga tahu mungkin Darin sangat risih dengan kebiasaan seperti ini, tapi ini adalah salah satunya cara agar mereka terlihat baik-baik saja dan harmonis sebagai sepasang suami istri baru.
"Harus. Agar mereka semua percaya," jawab Arga yang mendekatkan wajah tampannya ke wajah Darin dengan jarak hanya beberapa senti saja.
Deg, kedua pasang mata mereka berdua kembali bertemu begitu dekat. Mengapa Arga tiba-tiba saja berbuat seperti ini? Membuat Darin sedikit salah tingkah dan gugup.
"Aku mau segera ke kamar. Hati-hati di jalan," kata Darin yang terlihat begitu gugup karena sikap Arga yang sedikit menggodanya.
Arga tahu jika Darin sedang dilanda rasa gugup dan salah tingkah saat dirinya berhasil menggodanya. Sebenarnya Arga sengaja bersikap seperti itu karena ingin tahu sesuai yang Darin ucapkan, apakah gadis itu masih bisa merespon lelaki lain selain mantan kekasihnya yang sangat dicintai olehnya.
Hanya senyum ringan yang terlukis di bibir Arga saat tahu sikap Darin begitu cuek dan dingin kepadanya. Jadi memang benar jika dalam hati Darin masih ada mantan kekasihnya. Itu adalah kabar baik bagi Arga karena mereka tidak akan mungkin jatuh cinta dan sesuai kesepakatan mereka berdua sejak awal.
"Oke istriku. Jangan nakal," ucap Arga menggoda sambil mengusap kepala Darin karena ketiga adiknya sedang menatap ke arah mereka berdua jadi Arga harus bersikap seolah-olah sedang dimabuk asmara.
Lagi-lagi Darin dibuat bingung dengan sikap aneh Arga, apa pagi ini Arga salah makan obat atau kepalanya terbentur sesuatu sehingga membuat dirinya aneh seperti ini.
"Kenapa sih?" tanya Darin dengan suara kecil menatap Arga yang masih saja tersenyum manis kepadanya.
"Cepetan senyum, mereka melihat ke arah kita," ucap Arga dengan nada perlahan memberitahu Darin jika saudara-saudaranya sedang menatap mereka berdua.
Ucapan Arga membuat Darin tersadar dan segera melakukan apa yang Arga perintahkan dan membuat adik-adiknya yang sedari tadi menatapnya tidak merasa curiga jika pernikahan mereka berdua hanyalah sementara.
"Kakak lo lagi bucin noh," gumam Alex yang merasa sedikit kesal dengan sikap Arga yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Lah dia juga kakak lo. Amnesia lo," balas Bintar tidak mau kalah dengan ucapan Alex.
"Jangan suka sirik lihat orang lagi bahagia, makanya jangan jomblo. Ngenes kan lihat yang kayak gituan," sela Herry meledek kedua adiknya sambil tertawa bahagia.
"Bagaimana setelah menikah? Ada yang membantu kan?" tanya Zein saat mereka berdua berada di dalam mobil menuju kantor.
Zein berusaha untuk mencari tahu bagaimana perasaannya Arga setelah menikah. Pasti ada perubahan besar yang dialami oleh Arga setelah menikah.
"Biasa aja. Makin ribet," jawab Arga dengan nada seolah tidak menyukai pembahasan yang sedang ditanyakan oleh Zein.
Spontan ekspresi wajah Zein menatap Arga begitu keheranan, apa yang Arga ucapkan tidak sesuai dengan apa yang baru saja dilihatnya. Apa Arga sedang menyembunyikan sesuatu darinya?
"Ribet gimana? Bukannya tadi lo kelihatan bahagia tadi?"
"Itu yang bikin ribet, harus pamit setiap hari kalau mau berangkat," jelas Arga yang membuat Zein tertawa ringan.
Rupanya hanya masalah kecil yang belum terbiasa dilakukan oleh Arga. Zein pikir ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh adiknya.
"Namanya juga suami istri, nanti juga terbiasa," kata Zein terus berusaha menggoda adiknya yang dudu di sampingnya.
Tatapan sinis Alex begitu lekat menatap gedung yang sangat tinggi menjulang, mulai saat ini ia akan menghabiskan sebagain waktunya di sini bersama kakak-kakaknya. Mengurus perusahaan bukanlah impiannya, ia ingin menjadi seseorang yang bebas menentukan pilihan hidupnya. Namun garis takdirnya berkata lain.
Tuhan menginginkan dirinya menjadi bagian dari kakak-kakaknya yang juga mengurus perusahaan keluarganya. Ini bukanlah cita-cita dan impian Alex sebenarnya. Ia ingin menjadi seorang model brand ternama, bukan menjadi seorang CEO atau pengusaha muda seperti kakak-kakaknya.