Bagaimana bisa, Lucas yang memiliki fobia haphephobia bisa meniduri seorang wanita yang tidak dia kenal?
yuk simak kisahnya, seorang dokter yang memiliki fobia langka, di mana dia merasa takut untuk bersentuhan secara skin to skin dengan orang lain, tetapi dia adalah seorang dokter hebat dan juga pemimpin rumah sakit yang terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rira Syaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 - Bawa aku pergi
"Terima kasih, karena sudah sudah mengantarkan aku!" ucap Nia dengan menggunakan bahasa Inggris, saat Martin mengantarkan dirinya sampai ke apartemen.
"Kamu yakin pulang ke sini?" tanya Martin memastikan, di saat dirinya mengingat jika seharusnya Nia kembali ke hotel.
"Ya, lagi pula di hotel aku hanya sendiri," jawab Nia dengan tersenyum kecil.
Nia menarik napas dan menghelanya secara perlahan. "Seperti apa yang aku katakan kepada kamu, jika dia meninggalkan aku sendirian di hotel."
Martin menggenggam erat setir mobil, di saat mengingat apa yang di lakukan oleh Lucas terhadap wanita yang dia cintai. Lagi pula, Martin sudah menyuruh seseorang untuk memeriksa, apakah benar jika Lucas berada di rumah sakit, seperti apa yang di katakan oleh Nia. Dan menurut info yang Martin dapat, jika ternyata Lucas memang berada di rumah sakit.
Sakit. Sungguh sakit sekali hati Martin rasanya. Di mana wanita yang dia cintai, di lakukan secara tidak baik oleh Lucas. Hasrat untuk memberikan pelajaran kepada pria itu pun tiba-tiba saja muncul. Rasanya, Martin ingin membuat Lucas babak belur. Kalau perlu, sampai pria itu tidak berdaya.
"Aku akan menunggu di sini, dan mengantarkan kamu kembali ke hotel," usul Martin.
"Tidak! Kamu tidak perlu menunggu aku. Lagi pula, bukankah kamu harus menghadiri pertemuan yang penting?" tolak Nia.
Sebenarnya Nia ingin menyendiri di dalam kamarnya. Merenungi dan berpikir bagaimana caranya agar dia bisa bercerai dari Lucas. Mengingat jika pria itu pernah berkata, untuk tidak berpikir berpisah darinya. Bagaimana Nia bisa hidup dengan pria yang tidak mencintai dirinya? Dan bagaimana kehidupan Nia, jika dia harus mengarungi hidup berumah tangga dengan pria yang tidak bisa menyentuh dirinya. Bagaimana bisa?
"Aku akan mengantarkan kenana pun kamu mau pergi. Katakan, kamu ingin ke mana?" tanya Martin yang mana membuat Nia menatapnya dengan nanar.
Nia ingin menyendiri, tapi dia tidak ingin jauh dari Martin. Apa yang harus Nia lakukan?
Mungkin, menghabiskan waktu bersama dengan Martin, bukanlah hal yang buruk. Lagi pula, untuk apa dia kembali ke apartemen, pasti semua orang akan menyuruhnya untuk kembali ke hotel. Sungguh membosankan!
"Sebenarnya aku ingin pergi. Pergi ke tempat yang jauh. Pergi ke tempat di mana pun tidak ada yang mengenali aku!" lirih Nia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Baiklah. Pasang kembali sabuk pengamanmu," titah Martin dan langsung melakukan mobilnya menjauh dari apartemen Nia.
*
Di sinilah Nia dan Martin berada. Di negara tetangga yang pastinya tidak akan ada yang memperdulikan penampilan mereka yang terlihat kaya. Tidak sulit bagi Martin untuk membawa Nia ke negara lain.
"Maaf, aku hanya bisa membawa kamu ke sini," ujar Martin dengan menggunakan bahasa Inggris, sambil menunjuk ke arah patung singa yang mengeluarkan air.
Nia tersenyum, setidaknya berjalan-jalan dengan menggunakan kakinya sendiri, sambil menikmati pemandangan di sekelilingnya, tanpa ada orang yang memandang aneh ke arahnya adalah hal yang Nia butuhkan saat ini.
" Tidak, ini sudah lebih cukup untukku," jawab Nia sambil tersenyum.
Martin selalu dapat mengetahui apa yang bisa membuat perasaannya membaik.
"Ayo, kita ke sana." Nia menggenggam tangan Martin dan mengajaknya duduk di atas rumput yang ada di taman sekitar.
Martin hanya diam dan menuruti apa yang Nia inginkan.
Di Negara lain.
Lucas memandang ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Nia belum juga kembali. Bahkan, wanita itu menonaktifkan ponselnya, sehingga Lucas sulit mengacak di mana keberadaan Nia.
Lucas menarik napas dan menghelanya secara perlahan, pria itu memandang jauh ke arah gedung yang ada di sekitarnya.
Lucas merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Dia mencari nomor seseorang dan membuat panggilan.
"Cari di mana Nia berada," titah Lucas kepada orang yang ada di seberang panggilan.
*
Martin melirik ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya. Saat ini jam sudah menunjukkan 1 malam, sesuai dengan waktu di Singapura. Martin melirik ke arah wanita yan sedang tertidur di sampingnya saat ini. Nia terlihat sangat lelap sekali, seolah wanita itu baru saja habis berlari kencang. Sebenarnya, Martin tidak ingin membawa Nia kembali ke Jakarta, tapi dia sangat yakin sekali, jika Lucas dan semua orang akan mengkhawatirkan keberadaan Nia. Untuk itu, tanpa izin dari Nia, Martin pun membawa Nia kembali ke Jakarta, walaupun sebelumnya wanita itu sudah memohon untuk tidak membawanya kembali.
Tak sulit bagi Martin pergi ke luar negeri, di waktu kapan pun yang dia suka. Secara Martin memiliki pesawat pribadinya sendiri.
Martin mengendong Nia secara perlahan, berusaha agar wanita itu tidak terbangun dari tidurnya. Usahanya tidak sia-sia, karena Nia masih terlelap dalam tidur saat sudah berada di dalam pesawat pribadi Martin.
"Kita berangkat sekarang," titah Martin dan menyelimuti tubuh Nia agar tidak kedinginan.
Sesampainya di Jakarta.
Martin membawa Nia langsung ke apartemen wanita itu. Dia menyamar, agar orang suruhan Lucas tidak mengetahui siapa dirinya. Ya, Martin tahu, jika Lucas sudah menyuruh seseorang untuk mencari dan memantau apartemen Nia.
Martin merebahkan tubuh Nia di kasur secara perlahan, berharap agar wanita itu tidak terbangun. Tak lupa, Martin menyelimuti tubuh Nia.
"Tidurlah, Nia," bisik Martin pelan.
Martin berbalik, hendak meninggalkan Nia. Akan tetapi, tiba-tiba saja tangan Martin di genggam, membuat langkahnya terhenti. Siapa lagi pelakunya, jika bukan Nia.
"Kenapa kamu membawa aku pulang, Mark? Kenapa? Bukankah sudah aku katakan, jika aku tidak ingin kembali!"
Martin menatap Nia yang saat ini memandangnya dengan tatapan kecewa.
"Bawa aku pergi, Mark. Bawa aku pergi jauh dari kehidupan ini. Bawa aku pergi!"
semakin seru, mak crazy up dong