Sebut saja Mawar, sebuah nama yang diambil dari tumbuhan perdu, berduri, berbau wangi, dan berwarna indah. Mawar juga melambangkan romantisme, cinta, keindahan, dan keberanian. Namun, gadis yang bernama Mawar ini tidaklah seperti gambaran dari definisinya. Tragedi mengerikan membuat sang mawar menjadi layu, kering, dan dipenuhi oleh dendam yang membara.
Dari tragedi itu, Mawar tidak hanya menjadi korban kebiadaban para penjahat, ia pun harus menanggung fitnah yang mengarah padanya.
Dalam kondisi batin yang terguncang hebat, Mawar meneguhkan hatinya untuk membalas dendam tragedi nahas yang menimpa diri dan keluarganya.
Bagaimana cara Mawar dalam membalaskan dendam dan siapakah yang dapat menghentikannya? Simak terus ceritanya dalam novel yang kalian baca ini!
Kisah ini murni dari karangan dan imajinasi author. Selamat Membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Wisata
“Sayangnya waktu Anda telah habis. Silakan pergi, pintu keluar ada di sebelah sana!” Mawar berdiri dan dengan tegas menunjukkan arah keluar.
Namun, si pria tampan bergeming. Ia angkat badannya, berdiri berhadapan dengan Mawar, dan mulai bicara dengan nada dingin, “Aku suka gadis yang memiliki prinsip dan idealisme sepertimu.”
Mawar tetap tenang. “Pintu keluar ada di belakang Anda. Anda hanya perlu berbalik dan berjalan cepat ke arah pintu.” Mawar mendelikan mata ke arah pintu, memintanya untuk segera pergi.
Si pria mendengus kesal, lalu berkata, “Baiklah, akan kukatakan padamu. Kalau kau ingin mengetahui siapa sebenarnya Baron Martin, kau harus menjadi bagian dari jaring laba-laba di Kota Metrolink. Di sana kau akan menemukan jawaban yang selama ini kaucari. Hanya saja, kau terlalu muda untuk memahami dunia bisnis. Waktumu masih panjang, maka persiapkanlah dari sekarang.”
Mawar tercenung memikirkan semua ucapan si pria tampan yang masih sulit dipahaminya. Sementara si pria tampan hanya tersenyum licik melihat ekspresi sang gadis.
“Seharusnya aku bermain-main dahulu denganmu sebelum mengatakannya, tapi harus kuakui, kau gadis yang sangat berbeda. Aku sama sekali tidak menduganya,” ujar si pria, lalu dengan anggunnya berbalik badan, meninggalkan Mawar yang masih termenung dalam pikirannya.
“Tunggu!” panggil Mawar cepat.
“Katakan dalam kurun waktu 18 detik. Waktumu dimulai dari ... sekarang!” sahut si pria sambil melirik arloji di tangan kirinya.
“Apa yang Anda maksud dengan jaring laba-laba dan di mana lokasi Kota Metrolink yang Anda sebutkan itu?”
“Waktumu habis, aku tidak bisa menjawabnya. Permisi!” Si pria melangkah pergi, meninggalkan Mawar dengan pertanyaan-pertanyaan yang melayang di pikirannya.
Mawar mendengus kesal. Bahkan waktu yang diberikan oleh si pria masih cukup panjang.
“Apa Anda tidak mau minum dulu? Aku akan mengambilnya untuk Anda.” Mawar mencoba menahannya dengan sebuah tawaran.
Pria tampan itu menghentikan langkah tepat di ambang pintu. Sorot matanya berbinar dan senyum keji terukir dari sudut bibirnya. Ia kemudian berbalik dengan seringainya yang licik.
“Aku ingin susu murni langsung dari sumbernya,” kata si pria sambil menatap kedua balon besar yang membusung indah di hadapannya.
“Anda yakin menginginkannya?” Mawar menggigit bibir bawah seraya membusungkan dada lebih ke depan.
“Kau menggodaku seakan ingin menjeratku dan membinasakanku seperti korban-korbanmu, ha-ha-ha!”
Mawar masih belum memahami maksud dari ucapan si pria. Ia terdiam tanpa ekspresi menatap pria yang melangkah santai dan menatapnya penuh provokasi.
Sedikit rasa cemas terlintas di hati Mawar. Namun, bukan cemas pada pelecehan yang mungkin akan diterimanya, tetapi pada hal yang sulit dijelaskan oleh nalarnya, dan juga pada buntunya naluri dalam diri seorang manusia yang memiliki kesaktian seperti dirinya.
Benar saja dengan apa yang menjadi kecemasannya itu. Pria tampan tanpa terlihat gerakannya tiba-tiba mencekik Mawar dengan kuat dan mendorongnya sampai membentur dinding. Tiba-tiba pula wajah pria tampan itu berubah pucat. Lebih mengejutkan lagi, Mawar mengenali wajah itu, wajah yang pernah dilihatnya ketika melakukan ritual.
“Ka … kau!” Mawar sulit melepaskan diri dari cengkeraman sang pria.
“Sampai berjumpa lagi, Penyihir!” ucap si pria lalu menghilang begitu saja.
Mawar megap-megap sambil menyentuh lehernya, terpaku dalam kebingungan dan kepanikan yang menyelubungi.
“Siapa sebenarnya pria itu? Bagaimana dia tahu jati diriku?” Berbagai pertanyaan mulai menyeruak di benak Mawar. Meskipun demikian, ia sedikit merasa lega karena informasi tentang orang yang dicari akhirnya menemui titik terang.
“Jaring laba-laba, Kota Metrolink, dunia bisnis,” pikir Mawar mengingat tiga kunci informasi yang didapatkannya dari pria misterius.
Beberapa hari berlalu dan tibalah saat-saat penuh ketegangan dari wajah para siswa yang menantikan pengumuman kelulusan. Mawar dan teman-temannya berkumpul di depan papan pengumuman, wajah-wajah penuh harap memancarkan kegelisahan. Mata mereka dengan teliti menyusuri setiap nama yang tertera di papan pengumuman tersebut.
Tiba-tiba, sorak sorai kebahagiaan memecah keheningan. Mawar dan teman-temannya bersorak gembira melihat nama mereka tertera sebagai siswa yang lulus ujian dengan sukses. Gelombang kebahagiaan seketika melanda, dan mereka saling berpelukan sambil tertawa riang.
“Ya ampun, lihat itu! Kelas kita lulus semua!” seru Intan begitu takjub.
“Serius lu, Intan?” tanya Angga yang berdiri di belakangnya.
“Ini beneran gak sih? Gue takut salah baca,” sambung Tiwi sambil menunjuk namanya.
“Ya beneran dong, kan tadi gue udah bilang, kelas kita semuanya lulus,” kata Intan dengan bangga.
“Pastinya! Sekarang waktunya merayakan keberhasilan kita. Ada yang punya rencana?” Angga ikut berkomentar seraya meminta pendapat.
“Gimana kalau kita berwisata ke kaki Gunung Cikaleng? Di sana kita bisa arung jeram, flying fox, dan pastinya, kita bisa berkemah di pinggiran Sungai Cikaleng. Pasti seru banget!” cetus Violetta memberikan saran dengan begitu semangat.
“Setuju!” sahut beberapa siswa menyetujuinya.
Akhirnya semua setuju dengan saran yang dicetuskan Violetta, dan mereka pun bersiap-siap untuk merayakan kelulusan mereka dengan penuh kegembiraan. Gelombang kebahagiaan masih terasa begitu kuat, dan mereka tahu bahwa momen ini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan dalam perjalanan hidup mereka.
“Mawar, lu mau ikut?” tanya Violetta menoleh ke arah Mawar yang masih berdiam diri melihat keriuhan suasana di sekitarnya.
“Kenapa tidak?” Mawar tersenyum simpul.
“Hei, Teman-Teman. Mawar bisa tersenyum, lihatlah!” teriak Violetta mengagetkan semua siswa.
Mereka semua langsung melirik Mawar dan begitu terpesona melihat kecantikan sang gadis pucat yang hampir dua tahun tidak pernah memperlihatkan senyumnya. Itulah pertama kalinya Mawar tersenyum di hadapan banyak orang setelah terakhir kali ia tersenyum sebelum kejadian nahas yang menimpa diri dan keluarganya.
Hari yang dinantikan tiba, Mawar bersama teman-temannya dengan riang melangkahkan kaki masuk ke dalam bus yang nyaman. Bus yang dihiasi dengan warna-warni bunga dan ornamen perjalanan ini menjadi saksi bisu kegembiraan mereka. Bau khas interior bus, campuran antara aroma pembersih dan semangat petualangan, menyambut para penumpang dengan hangat.
Dalam bus, kursi-kursi yang tersusun rapi menjadi saksi dari serangkaian perjalanan yang akan dijalani. Para siswa duduk dengan penuh semangat, menempati kursi-kursi yang telah ditentukan. Tawa ceria dan obrolan riang memenuhi ruang di dalam bus. Beberapa siswa sibuk berbagi cerita dan harapan tentang petualangan yang akan mereka alami.
Jendela-jendela bus menjadi layar kecil yang menampilkan pemandangan perjalanan. Langit biru dan awan putih menjadi latar belakang perjalanan yang akan membawa mereka ke tempat yang jauh dari rutinitas sehari-hari. Bus melaju di jalan raya, meninggalkan kota dan memasuki daerah pedesaan yang indah.
Suara nyanyian dan tawa riang yang saling bersahutan, menciptakan harmoni kebersamaan di dalam bus. Beberapa siswa sibuk mengabadikan momen dengan kamera ponsel mereka, merekam setiap momen indah di perjalanan mereka. Para guru pendamping dengan senyum sumringah turut merasakan kebahagiaan anak-anak didik mereka.
Bus meluncur dengan mantap, membawa para siswa menuju petualangan yang ditunggu-tunggu. Dengan semangat yang menyala-nyala, mereka tak sabar untuk menjelajahi dan merayakan kebersamaan di tempat wisata yang menanti di kaki Gunung Cikaleng.
Lebih dari delapan jam waktu yang ditempuh dalam perjalanan. Rombongan bus yang membawa siswa yang merayakan kelulusan itu berhenti mendadak di tengah area hutan, beberapa kilometer sebelum mencapai lokasi wisata. Mesin yang tadi menggema dengan mantap kini terdengar hening, menyisakan sunyi yang kontras dengan hiruk-pikuk kehidupan perkotaan yang biasa mereka alami.
Sejenak, kebingungan dan ketidakpastian melanda rombongan siswa yang tengah dalam perjalanan menuju destinasi wisata mereka. Gelapnya hutan dan hilangnya sinyal ponsel menambah suasana menjadi semakin tegang. Tawa ceria dari beberapa menit yang lalu seolah terhisap oleh keheningan hutan yang menyelimuti.
Puluhan siswa dan siswi yang sebagian besar tengah tertidur tampak menggerutu kesal karena harus bangun dan turun dari bus yang mengalami kendala.
“Tanggung banget nih lokasinya, mana tidak ada sinyal lagi. Menyebalkan!” nyinyir Tiwi yang tampak begitu merah matanya karena terpaksa bangun.
Dih, lu kira cuma lu doang yang kesal? Semua juga gitu kali, Neng!” Intan menyahuti dengan ketus.
“Dasar cewek, sabar dikit kenapa sih? Namanya juga musibah, siapa yang menyangka bus bakalan mogok di tengah hutan begini?” Angga mencoba memberikan komentar bijak, tetapi kekesalan tergambar di wajahnya yang tampak lesu.
Lebih dari satu jam berlalu, namun bus yang mogok itu tak kunjung menyala. Langit yang semula cerah kini berganti gelap, menyelimuti rombongan siswa yang terdampar di tengah hutan. Beberapa dari mereka mencoba mengusir kebosanan dengan bernyanyi, yang lainnya makan, bahkan ada yang memanfaatkannya untuk berkumpul bersama kekasihnya di bawah rimbunnya pepohonan.
Violetta, atau yang akrab dipanggil Vio, duduk bersandar di bawah pohon dengan ekspresi kesal. Andre, seorang pria yang pernah berselisih dengan Mawar, mendekatinya dengan hati-hati.
“Vio, bisa kita bicara sebentar?” tanya Andre, memulai percakapan.
“Ada apa, Dre? Selama bukan ngomongin tentang si Vino sialan itu, lu boleh ngomong di sini,” ucap Violetta, menegaskan batas pembicaraan mereka.
“Gue ga ngomongin soal Vino, gue mau ngomongin hal yang nggak mungkin bisa lu tolak,” ujar Andre dengan serius.
“Gak usah basa-basi, langsung aja sebutin!” desak Vio tanpa ingin bertele-tele.
Andre melihat ke kanan-kiri, lalu membisikkan sesuatu, “Lu jangan kaget, bisa?”
Vio mengangguk, menunjukkan kesiapannya mendengarkan.
“Teman lu, Mawar, dia yang sengaja membuat bus mogok,” sambung Andre dalam bisikan, mencoba menyelipkan informasi yang dijadikan umpan dari rencana terselubung.
“Lu tau dari mana? Jangan sembarangan nuduh! Dia teman gue,” tolak Violetta dengan cepat.
“Stt! Jangan berisik! Buktinya sudah ada,” bisik Andre dengan nada semakin serius.
“Lanjutin!” pinta Vio, semakin penasaran.
“Gue, Rian, Iwan, dan Shela nggak sengaja melihat Mawar mengendap-endap di suatu tempat tak jauh dari sini. Gue khawatir lu yang dijadikan target. Secara, lu doang yang dekat dengannya,” jelas Andre, berusaha meyakinkan Vio.
“Terus?” Violetta mulai merasa penasaran dan khawatir.
“Lu ikut sama gue, di sana lu bisa lihat dengan mata lu sendiri apa yang teman lu perbuat,” ajak Andre, menampilkan senyuman samar di wajahnya setelah berhasil menarik perhatian Violetta.
“Oke, gue ikut.”
Andre menyeringai samar setelah targetnya memakan umpan. Ia membawa Violetta ke tempat yang telah direncanakannya bersama beberapa teman-temannya yang tadi disebutkan.
ga nyangka aja bisa berbuat busuk sm Mawar ..