JUARA 1 Event Sweet Marriage
Rania, gadis tomboi yang memiliki saudari kembar terpaksa menikahi kakak iparnya sendiri karena wasiat terakhir dari kakak kembarnya sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Evan Anthony. Kakak ipar super jutek dan menyebalkan adalah pria yang akan menjadi suami Rania. Lantas, mampukah Rania bertahan dalam kehidupan rumah tangga bersama pria yang tidak dicintainya?
"Aku menikahimu hanya karena wasiat istriku, tidak lebih! Jadi, jangan berharap aku akan menyentuhmu dan menganggapmu sebagai seorang istri!" (Evan Anthony)
"Aku tidak pernah bermimpi untuk disentuh oleh pria sepertimu. Jadi, tidak perlu khawatir! Aku tidak akan mengganggumu!" (Rania Tyas Permata)
Lantas, bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apa jadinya jika tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah Junior
Evan pun langsung memeluk sang istri. Pada akhirnya ia bisa tidur berdua bersama sang istri tercinta. Malam yang dingin disertai rintik-rintik hujan yang semakin syahdu. Di saat Junior sedang tertidur pulas. Di bawah ranjang sedang sibuk naik gunung turun gunung. Melanjutkan percintaan kedua insan yang tengah dimabuk cinta itu.
"Evan, stop!"
"Ssssttt diam dan rasakan!" bisik Evan di belakang Rania.
"Evan! Emmmppttt!" seketika Rania menutup mulutnya sendiri saat sang suami sudah membuatnya hampir saja berteriak membangunkan Junior.
"Yes, sudah masuk!" ucap Evan dengan senang. Rania pun tidak bisa lagi lari, terpaksa ia harus menuruti apapun yang dilakukan oleh sang suami. Sambil berselimutkan sarung sang suami ia sesekali menggigit sarung bercorak kotak-kotak itu.
Beruntung malam itu suara rintik hujan membuat suara-suara di bawah ranjang menjadi sedikit tersamarkan. Sehingga Junior tidak mendengarkan apa yang sedang terjadi di bawah sana, di mana kedua orang tuanya sedang berjuang membuatkan adek untuknya.
Setelah perjuangan keras itu. Rania dan Evan pun tertidur dengan posisi saling memeluk. Sampai akhirnya di subuh hari. Rania mendengar suara adzan subuh dan ia bergegas untuk bangun. Namun, ia menghela nafasnya karena dirinya masih berada di dalam sarung sang suami.
Rania menatap wajah sang suami yang saat itu sedang tertidur pulas. Ia tersenyum sambil memandangi wajah pria yang selama ini menjadi musuhnya. Dirinya tidak menyangka jika bisa menikah dengan pria yang sangat menyebalkan. Jika teringat masa-masa sekolah dulu, Rania selalu tertawa bagaimana bisa mereka dulu saling membenci jika sekarang keduanya saling mengasihi dan membutuhkan.
"Aku tidak tahu kenapa aku bisa seperti ini. Kamu dulu tuh nyebelin banget Evan! Pingin aku jitak saja!"
Tiba-tiba saja Evan membuka kedua matanya dan menatap wajah sang istri yang saat itu sedang mengomeli dirinya.
"Apa? Kamu ingin menjitak ku?" seru Evan yang akhirnya membuat Rania salah tingkah.
"Emm kamu sudah bangun! A-aku ...."
"Kalau kamu ingin menjitak ku? Lakukan saja! Aku tidak akan marah. Karena aku tahu kamu pasti sangat kesal dan marah tentang ucapan-ucapanku dulu. Aku siap jika itu bisa membuatmu puas ..." ucap pria itu sambil mengarahkan tangan sang istri pada kepalanya.
Rania menggelengkan kepalanya dan tidak mungkin ia melakukan itu. "Evan, apa sih! Nggak mungkinlah aku lakukan itu!"
"Tadi bilangnya gitu! Kamu pingin jitak aku, gimana sih! Plin plan banget," sahut Evan.
"Ya nggak mungkinlah aku seperti itu. Masa aku jitak suamiku! Nanti kepala kamu sakit gimana," ucap Rania sambil mengusap-usap rambut Evan.
Evan tertawa kecil sambil menciumi tangan sang istri. "Hmm aku tuh gemes sekali sama kamu! Sayangnya aku dulu tidak punya keberanian untuk mengatakannya. Memang aku saja yang terlalu memendam perasaan ini,"
"Kenapa coba kamu pendam. Kan bisa langsung ngomong terus terang!" sahut Rania.
"Pinginnya gitu, tapi takut kamu tolak. kamu kan cewek preman sekolah waktu itu. Sedangkan aku, cowok-cowok rajin dan soleh. Kamu selalu pergi dengan motor sport mu sedangkan aku cuma cowok dengan motor bebek jadul. Kamu salip, aku sudah oleng dan kalang kabut. Gimana mau ngomong," terang Evan yang membuat Rania tertawa.
"Iya bener-bener. Inget banget pas kamu aku salip di jalan pas bonceng mbak Rina. Hampir aja kamu bikin mbak Rina jatuh. Motor kamu oleng dan nyungsep di semak-semak ya Allah!" ucap Rania saat ia mengingat nostalgia bersama sang suami.
"Jangan ingatkan itu dong! Malu banget aku tuh, gara-gara nggak fokus lihatin kamu terus jadi gitu, oleng deh! Untung aja Rina nggak apa-apa,"
"Iya tuh untung saja mbak Rina nggak apa-apa, kalau saja terjadi apa-apa dengan mbak Rina. Kamu adalah orang pertama yang mendapatkan tendanganku. Salah sendiri ngapain lihatin aku!"
"Ya gimana lagi, kamu kece banget kalau naik motor sport. Emang kayak cowok sih, tapi sangat keren menurutku,"
"Cie ... dulu aja bilangnya aku tomboi nggak ada anggun-anggunnya. Sekarang kamu baru nyadar ya kalau aku ini keren! Udah ah, kita mandi yuk lalu sholat. Sebelum Junior bangun!" sahut Rania yang langsung mengajak suaminya untuk pergi mandi.
"Setomboi-tomboinya kamu, sekeren-kerennya kamu, tapi masih kalah dengan aku!" sahut Evan sambil tersenyum smirk. Rania pun tampak malu-malu dan ia pun langsung beranjak bangun.
"Hmm ... udah yuk! Mandi dulu. Bukannya hari ini kita balik ke kota. Besok kamu udah kerja. Kita harus siap-siap untuk pulang!"
"Oke oke! Bentar-bentar!"
"Apa lagi!"
"Junior bangun!"
"Apa! Junior bangun?" seketika Rania melihat ke atas tempat tidur dimana Junior masih tertidur pulas.
"Enggak kok! Junior masih tidur," seru Rania saat melihat sang putra masih memejamkan matanya.
"Bukan Junior anak kita yang bangun. Tapi junior yang ini!" seru Evan sambil mengarahkan tangan sang istri pada sesuatu yang terbiasa bangun di pagi hari.
"Astaghfirullah haladzim, Evan! Ini masih pagi. Aku aja belum pakai celana!"
"Justru masih pagi, dia tuh bangun lebih rajin. Ini tugas kamu untuk menidurkan dia, cepat buka nggak pakai lama! Setelah ini kita mandi dan sholat," ucap sang suami sambil tersenyum nakal.
Rania tidak bisa berkata apa-apa lagi. Nyatanya Evan sudah terlanjur tergila-gila padanya.
*
*
*
Drama di pagi hari pun dimulai. Evan dan Rania sedang bersiap untuk kembali pulang. Tentu saja Junior yang sudah bangun melihat kedua orang tuanya yang sudah bangun terlebih dahulu.
Junior melihat wajah sang mama yang terlihat segar karena seusai mandi keramas. Junior yang peka, bocah itu tampak mengernyitkan dahinya saat melihat sesuatu berwarna merah pada leher sang mama.
Junior menyilangkan kedua tangannya sambil berpikir apa yang sudah terjadi pada sang mama.
Rania melihat putra sambungnya yang terlihat sedang memperhatikan dirinya. "Junior kenapa lihatin mama seperti itu?" tanya Rania penasaran.
"Ma, semalam papa nggak nyakitin mama, kan?" tanya Junior tiba-tiba. Evan yang saat itu sedang merapikan baju-bajunya mendadak berhenti dan mendengarkan percakapan putra dan istrinya.
"Papa nyakitin mama? Enggak kok! Papa nggak ngapa-ngapain mama, emangnya kenapa?"
"Kok leher mama merah-merah kenapa, Ma? Pasti papa sudah mencekik mama ya semalam!" ucap polos Junior yang seketika membuat Rania menatap wajah sang suami yang saat itu sedang tercengang mendengar fitnahan dari anak kandungnya sendiri.
"Bisa-bisanya nih anak fitnah papanya sendiri sudah mencekik mamanya. Papa semalam menjadi vampir, Nak. Tuh mamamu keenakan karena gigitan papa!" gumam Evan sambil garuk-garuk kepalanya.
Ingin sekali rasanya tertawa. Namun Rania mencoba untuk menahannya. Ia pun memberikan penjelasan kepada sang anak apa yang sebenarnya dilihatnya.
"Junior, Sayang! Papa nggak mencekik mama kok. Ini karena, semalam tuh ada semut yang gigit di leher mama. Semutnya nakal sekali sampai leher mama merah-merah gini!" ucap Rania berbohong.
"Oh digigit semut! Nakal sekali semutnya, Ma. Pasti gigi semutnya panjang-panjang kayak buaya. Kalau saja Junior tahu semutnya, uhhh udah Junior tabok sama sendal tuh mulut semutnya. Biar nggak gigit leher Mama lagi!"
Ucapan sang anak seketika membuat Evan melototkan matanya. "Assssem! Panjang kayak gigi buaya katanya. Ya Allah, Junior. Papa ini sedang berjuang mati-matian buatin kamu adek, Nak! Malah kamu fitnah!"
Rania melihat ekspresi wajah sang suami sambil menahan rasa ingin tertawanya.
BERSAMBUNG