Danisa adalah istri Kaivan yang sangat menyayangi dan mencintai nya sehingga Kaivan selalu melakukan yang terbaik buat Danisa.
Kaivan selalu ingin membahagiakan istri nya itu, tapi Danisa tidak menyukai cara Kaivan memperlakukan dirinya yang menurut Danisa Kaivan terlalu over dan banyak bicara hingga Danisa ingin membuat Kaivan menceraikan nya.
Sehingga Kaivan meminta bantuan kepada salah satu dokter cantik untuk membantu dirinya terlepas dari Kaivan.
Tapi kebersamaan Kaivan dan dokter cantik itu semakin dekat, dan membuat sikap Kaivan juga berubah hingga membuat Danisa merasa cemburu dan menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan.
Apa Kaivan akan memaafkan Danisa atau malah memilih untuk berpisah kuy kita simak selanjut nya di karya aku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💫✰✭𝕸𝖔𝖒𝖞𓅓 𝕹𝕷✰✭🌹, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyesal
Kaivan melajukan kembali mobil nya menuju rumah Dinda untuk mengambil berkas Dinda yang ketinggalan, tapi suara ponsel berbunyi dan itu bukan dari ponsel nya sendiri.
Kaivan melirik ke arah jok belakang ternyata tas Dinda ketinggalan, Dinda memang suka menyimpan tas nya di jok belakang, tapi tadi Dinda sedikit terburu-buru sehingga Dinda lupa membawa tas nya.
"Aduh tas nya Dinda ketinggalan, mana ada yang menghubungi nya lagi, kalau aku pulang membawa berkas nya dulu takut kelamaan dan takut telepon nya sangat penting, ya sudah lah aku balik lagi saja ke cafe, biar nanti aku langsung pulang dan membawa berkas nya dengan tenang." Gumam Kaivan lalu memutar balik kan mobil nya dan kembali menuju cafe dimana Dinda di turunkan tadi.
Kaivan melajukan mobil nya sedikit kencang karena ponsel Dinda terus berbunyi, hingga akhirnya mobil yang di kendarai Kaivan pun masuk ke pelataran cafe.
Kaivan mengambil tas nya Dinda lalu keluar dari mobil dan masuk ke dalam Cafe.
Kaivan menelisik seisi cafe mencari sosok Dinda atasan nya itu.
"Itu dia." Gumam Kaivan dan langsung menghampiri nya, tapi begitu jarak Kaivan dan Dinda sudah dekat, terdengar isi pembicaraan antara Dinda dengan seseorang yang ternyata adalah Danisa istri nya sendiri.
Dengan jantung yang berdegup kencang serta sesak yang di rasakan Kaivan ketika dirinya mendengar semua pengakuan dari istri nya yang ternyata ingin berpisah dari nya.
Kaivan memang hanya mendengar sekilas dari ucapan Dinda jadi Kaivan tidak mendengar nya dari awal, tapi itu membuat Kaivan bisa mengartikan nya sendiri kalau sebenar nya Danisa memang ingin menjauh dari nya.
Tanpa sengaja Kaivan menjatuhkan tas nya Dinda hingga membuat Dinda dan Danisa menatap ke arah nya.
"Ternyata sikap kamu selama ini seperti itu kepada ku hanya karena kamu ingin berpisah dari ku,." Gumam bathin Kaivan sambil menggelengkan kepala nya, ke dua mata nya menatap tajam ke arah Danisa.
"Mas." Ucap Danisa.
Kaivan yang merasa sakit hati pun pergi meninggalkan Dinda dan Danisa, dia tidak perduli lagi dengan semua nya, tas dan kunci mobil sudah dia jatuh kan ke lantai.
Kaivan sungguh kecewa kepada istri nya, dia ngga habis pikir dengan sikap Danisa, padahal dia sangat mencintai Danisa melebihi dirinya sendiri.
Kaivan terus berjalan keluar dari Cafe dan tak tentu arah, Kaivan hanya terus melangkah dan melangkah dengan mata yang sudah berkaca-kaca, dirinya hanya ingin meluapkan kemarahan nya.
Terlihat ada sebuah jembatan panjang di depan nya, Kaivan pun menuju jembatan tersebut dan menatap aliran air sungai yang melintas.
Kaivan menunduk dengan ke dua tangan nya menyentuh besi jembatan, sungguh dirinya sangat kecewa dengan istri nya.
"Baik, kalau kamu sudah tidak menginginkan kehadiran ku lagi, tapi sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan mu, aku sangat mencintai kamu Danisa." Ucap Kaivan dengan suara yang sangat lantang hingga membuat pengguna jalan melirik nya.
*********
Sementara di cafe Danisa merasa marah dengan Dinda karena tidak menepati janji nya untuk berbicara empat mata, Danisa mengira kalau Dinda sengaja menghadirkan Kaivan agar Kaivan mendengar ucapan mereka dan marah kepada dirinya.
"Sudah aku bilang aku ingin bicara empat mata sama kamu, tapi kenapa kamu malah membawa mas Kaivan kesini? Apa kamu memang sengaja ingin rumah tangga ku hancur." Ucap Danisa sambil menatap tajam ke arah Dinda.
"Bukan kah kamu sendiri yang mau menghancurkan rumah tangga kalian, dan asal kamu tahu aku tidak mengajak nya, dia datang kesini mungin mau memberikan tas aku yang ketinggalan di dalam mobil." Ucap Dinda sambil mengambil tas dan kunci mobil yang tergeletak di lantai.
"Itu hanya alasan kamu saja, kamu sengaja kan meninggalkan tas kamu biar mas Kaivan datang kesini dan mendengar semuanya." Danisa benar-benar marah hingga suara nya sedikit agak tinggi membuat se isi cafe menatap mereka berdua.
"Terserah, yang jelas kamu sendiri yang awal nya ingin berpisah dengan mas Kaivan, dan kamu sendiri kan yang datang dan memohon sama aku agar aku membantu kamu untuk menjauhkan kamu dari mas Kaivan? Jadi jangan salahkan aku dalam hal ini." Ucap Dinda dengan wajah kesal nya.
"Tapi kamu sangat berharap kan kalau aku dan mas Kaivan untuk berpisah?"
"Ya, aku sangat berharap sekali kalian berdua berpisah, aku sudah mulai nyaman dengan mas Kaivan dan aku sudah jatuh hati kepada nya." Ucapan Dinda membuat hati Danisa semakin panas di buat nya.
"Jangan mimpi kamu bisa mendapatkan mas Kaivan, dia itu suami saya dan kita saling mencintai."
Dinda hanya tersenyum smirk mendengar ucapan dari Dinda, "Asal kamu tahu, aku sudah merasakan bibir nya, teryata bibir nya sangat manis sekali, tadi nya aku ingin merasakan ada di bawah tubuh nya mas Kaivan, tapi kamu selalu menjadi penghalang buat aku dan mas Kaivan."
"Plak." Danisa pun menampar pipi mulus Dinda, Danisa benar-benar sudah diluar kendali ketika mendengar ucapan dari Dinda yang membuat hati nya semakin terbakar emosi.
"Brengsek kamu, berani-berani nya kamu menampar aku, seharusnya yang kena tamparan itu kamu bukan aku, agar kamu sadar dengan semua kesalahan kamu, kamu sudah menyia-nyiakan cinta mas Kaivan, kamu tidak bersyukur sudah mempunyai suami seperti mas Kaivan, kamu sendiri yang menginginkan perpisahan ini tapi kenapa kamu sendiri juga yang ingin mempertahankan nya, dasar wanita egois, wanita gila, makan tuh ego mu sendiri." Setelah meluapkan kemarahan nya Dinda pun pergi meninggalkan cafe tersebut dan tidak lupa Dinda membayar tagihan nya sebelum dia keluar dari cafe itu.
Danisa tertunduk lemas, air mata nya terus menetes di pipi nya, Danisa merasa menyesal karena sudah berniat ingin berpisah dari suami nya.
Setelah dirinya tenang Danisa pun keluar dari Cafe itu, Danisa tidak memperdulikan para pelanggan dan para pelayan cafe yang menatap nya, Danisa terus keluar dan masuk ke dalam mobil nya.
Danisa mengambil ponsel nya lalu menghubungi no Kaivan.
Beberapa kali Danisa menghubungi no Kaivan, tapi tetap saja jawaban nya sama, hanya ada suara operator yang di dengar oleh Danisa.
"Kamu kemana mas, aku minta maaf mas, aku menyesal sudah berniat untuk berpisah dari kamu." Gumam Danisa sambil menangis.
Karena no Kaivan tidak bisa dihubungi juga, Danisa pun memutuskan untuk pergi dari cafe itu dan menuju pulang ke rumah nya dengan harapan ada Kaivan di rumah nya,
Danisa terus melajukan mobil nya dengan kecepatan sedikit tinggi, Danisa ingin segera bertemu denan Kaivan untuk menjelaskan semua nya.