sekuel dari novel KEPEDIHAN
Tere Anderson, adik sepupu dari Ziko Anderson, karena kekejamannya di masalalu, Tere dikirim ketempat terpencil, dimana tempat anak buah Ziko tinggal, dia diberi hukuman atas segala perbuatannya, Agar tidak pernah melakukan kekejaman dimasa yang akan datang, namun siapa sangka ditempat yang baru Tere di dampingi oleh pria yang selama ini menyiksanya, bahkan orang yang dengan tega menghancurkan hidupnya, namun karena kebencian dan ketakutan Tere padanya, Tere lebih memilih bungkam.
Jay Kusuma, dia sejujurnya sangat tidak suka diperintah untuk merubah perilaku Tere yang menurutnya tidak punya etika sama sekali, namun ketika Jay mengingat perbuatan Tere, dia bersemangat untuk memberi pelajaran pada wanita tidak punya sopan santun itu.
bagaimana kisah keduanya, yuk kita simak bersama
happy reading 💞💞💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia pakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS-25
"Aku tidak akan bertanya tentang anakmu Ris, tapi aku akan berusaha membantumu dekat dengan Ricky, dengan begini, aku sedikit ingin menembus kesalahanku dimasalalu, meskipun itu sulit untuk kamu lupakan," batin Tere yang kini terus memandang Riska yang setia menundukkan kepalanya, dan Ricky yang terus menatapnya dengan raut tak terbaca.
"Ayo Ter, kita pergi dari sini, sebentar lagi istirahat usai," ajak Riska dengan suara pelannya, namun suara itu bisa didengar dengan jelas oleh Ricky yang masih menatap keduanya secara bergantian, namun tatapan itu lebih lama pada Riska.
"Mungkin dia ingin segera bertemu suaminya," celetuk Ricky dengan senyum sinisnya menatap Riska, seakan-akan dia ingin selalu mencari masalah dengan Riska, namun Riska sama sekali tidak peduli, entah kenapa dia hanya diam saja saat Ricky mengatakan banyak hal padanya, dan dia juga tidak sakit hati akan hal itu.
"Ada apa dengan mereka, kenapa Ricky seperti menyimpan amarah pada Riska," batin Tere yang sejak tadi memperhatikan wajah Ricky, sungguh begitu aneh menurut Tere, apa cuman hanya pikiran Tere saja, ah sudahlah, akhirnya Tere ikut berdiri ketika melihat Riska juga berdiri, mereka berdua pamit pada Ricky, lebih tepatnya hanya Tere yang pamit, Riska hanya tersenyum begitu tipis, bahkan senyumnya tidak terlihat sama sekali.
Tidak lama keduanya sudah sampai di pantry atas, "Ris, aku buat kopi dulu ya buat CEO," pamit Tere yang hendak beranjak dari sana, setelah keduanya duduk sejenak setelah dari kantin.
"Biarkan aku saja Tere, kamu bekerjalah, masak sekertaris bos sibuk disini," ujar Riska dengan menggeleng, kenapa Tere Jadi gak enakan sekarang, begitu pikir Riska, lagi-lagi dia merasa wanita didepannya ini memang sudah berubah.
Deg, Tere keluh, dia tidak tahu harus bicara seperti apa, jika dia bilang hanya pembantu Jay, maka dia tidak akan tahu jawaban selanjutnya, jika Riska terus bertanya kenapa, tapi setelah dipikir-pikir Tere lebih memilih menjelaskan saja, toh ini memang sebuah kenyataan, namun tidak dengan pernikahannya.
"Aku bukan sekertaris CEO, melaikan pembantunya," jelas Tere akhirnya, dan dia manatap Riska, dia menunggu reaksi wanita itu, namun Tere tidak mendengar apapun dan hanya melihat Riska diam saja.
"Kenapa?" Tanya Riska setelah melihat Tere tidak meneruskan perkataannya, malah menatap dirinya.
"Kenapa?" Bingung Tere.
"Tentu saja, bukannya kamu lulusan terbaik laur negri, kenapa tidak bekerja ditempat yang sesuai dengan ijasahmu," sepertinya Riska tidak tahu, jika Tere sendiri bahkan memiliki prusahaan, dan Riska mengira Bahwa Tere tidak memanfaatkan gelas masternya itu, andai saja dia cerita karena dia menjalani hukuman, entah apa yang akan dipikirkan Riska.
"Ada alasan, dan aku belum bisa cerita sekarang, aku akan buat kopi dulu buat CEO, keburu dia datang," Tere segera meneruskan niatnya yang tertunda, sekalian menghindar dari obrolan ini, namun lagi-lagi Riska melarangnya.
"Biarkan aku saja Ris, kerjakan saja pekerjaanmu, biar kita bisa mengobrol lagi nanti," ucap Tere sambil tersenyum dan mengelus pundak Riska, mau tidak mau Riska membiarkan itu, Riska terus menatap gerak gerik Tere, sampau wanita itu benar-benar berlalu dari hadapannya.
Ceklek...
Suara pintu dibuka dari luar, Tere masuk kedalam ruangan Jay, dia berjalan begitu santai menuju meja dan meletakkan kopi ketika tidak melihat Jay disana, "setidaknya aku tidak harus bertemu dengannya," Tere manarik nafasnya panjang dan menghembuskannya, entah kenapa setiap ketemu Jay akhir-akhir ini seperti ketemu mahluk tak kasat mata, merinding.
Dukk,,,
"awww...."