Menikah dengan teman sendiri? Tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Dulu kami saling bermusuhan. Em, no! Bukan bermusuhan. Lebih tepatnya berteman, bersahabat, tapi jarang sekali kita bisa akur.
Dan sekarang kami harus terlibat dalam suatu pernikahan.
Tidakk!!
Rumah tangga yang bagaimana yang akan kami jalani nanti?
Apa rasa sayang sebagai teman bisa berganti menjadi rasa sayang sebagai suami?
Tolong! Tolong katakan padaku kalau ini hanya mimpi!
Katakan padaku ini tidak nyata!
- Carissa Amalina -
Harus tinggal satu atap dengan perempuan yang bawel dan cerewet tak pernah terbayangkan olehku.
Kami berteman sejak kecil. Walaupun tidak bermusuhan tapi juga jarang akur.
Kami lebih banyak berdebat, tak ada yang mau mengalah. Apa jadinya kalau dikumpulkan didalam satu rumah?
- Raka Putra Wibawa -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhessy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TTM 25
Hari sudah mulai gelap saat Raka membuka kedua matanya. Setelah sholat ashar, Raka merasa letih dan seluruh badannya terasa sakit. Hal itu membuat Raka begitu mudah memejamkan matanya. Terlebih lagi beberapa hari terakhir Raka memang jarang bisa tidur dengan nyenyak.
Raka hanya menemukan sang kakak yang sedang becanda di karpet depan tv bersama ponakannya, anak dari kakaknya yang baru berusia satu tahun.
Diperhatikannya seluruh rumah. Terlihat sepi tanpa tahu kemana kedua orangtuanya pergi.
"Bapak sama ibu kemana, Mbak?"
Tya sedikit terkejut. Namun segera menormalkan kembali raut wajahnya. "Oh, lagi pergi sebentar. Nggak tahu kemana," ucap Tya berbohong. Padahal dia tahu pasti bahwa kedua orangtuanya sedang pergi untuk menemui Rissa.
Beruntung Raka tak bertanya banyak perihal orangtuanya. Raka kembali merebahkan tubuhnya diatas sofa.
Entahlah. Karena efek pukulan di wajahnya atau memang tubuhnya sudah menuntut haknya, tubuh Raka terasa sakit semua dan kepalanya terasa begitu berat.
"Kamu nggak apa-apa, Raka? Muka kamu pucat banget."
"Aku nggak apa-apa, Mbak. Cuma sedikit pusing," jawab Raka sambil memijat pelan kepalanya.
"Yakin nggak apa-apa?" Tya memastikan.
"Iya, Mbak. Kalau boleh Raka minta tolong buatkan wedang jahe saja, Mbak."
"Oke." Tya segera beranjak dari tempat duduknya. "Bantu awasin Kiara, ya."
Raka mengangguk lemah.
Sepeninggal sang kakak, Raka kembali memejamkan mata. Sesekali matanya terbuka untuk melihat keponakannya. Memastikan dia dalam keadaan baik-baik saja.
🌹🌹🌹
Rissa tertidur pulas saat Dwi dan Widi masuk ke ruang rawatnya. Kurnia mengatakan bahwa sejak subuh, Rissa terus saja mual dan tidak ada makanan yang dapat masuk ke dalam perutnya.
Widi memandang Rissa yang tertidur. Air matanya tidak berhenti sejak dia menginjakkan kakinya di rumah sakit.
Tangan kanannya mengelus kepala Rissa yang tak tertutup jilbab. Sedangkan tangan kirinya mengelus perut Rissa yang sedikit membuncit.
Di sanalah cucunya sedang bertumbuh sehat. Anak dari Raka. Darah dagingnya. Keturunannya.
Widi tak sanggup membayangkan kalau saja ancaman Rissa kepada Raka itu benar-benar terjadi.
Dia tak sanggup kalau harus kehilangan menantu yang sudah dia anggap seperti anak kandungnya, dan juga calon cucunya yang begitu dia cintai.
Sejak dulu memang dia begitu menyukai seorang Rissa. Anak yang periang, baik hati, cerdas. Widi sudah mengenal Rissa sejak kecil.
Dulu, sempat dia berharap jika suatu saat Rissa bisa menjadi menantunya. Namun harapan itu putus karena Raka berkata bahwa dia memiliki calon lain.
Sampai akhirnya takdir memisahkan Raka dengan kekasihnya, dan pada akhirnya Raka mengenalkan Rissa sebagai calon istrinya. Widi bahagia bukan main.
Rissa menggeliat pelan. Widi buru-buru menghapus air matanya dan tersenyum manis menyambut Rissa yang baru saja membuka matanya.
"Ibu..." Ucap Rissa dengan suara khas bangun tidur.
Rissa mencoba untuk bangun. Namun Widi mencegahnya. "Jangan banyak gerak. Mama kamu bilang kamu harus bed rest, kan?" Kata Widi dengan penuh perhatian.
"Aku udah baikan, kok, Bu," tukas Rissa sambil membenarkan posisi duduknya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Widi sambil mengelus pelan perut Rissa.
"Dia sehat, Bu. Kata dokter dia sangat sehat," jawab Rissa. "Bapak dan ibu sehat?" Dia bertanya balik. Rissa tak berniat untuk bertanya tentang keadaan Raka.
Rasa kecewanya lebih besar daripada rasa pedulinya.
"Alhamdulillah, kami sehat. Bapak sama ibu senang sekali mendengar berita kehamilan kamu."
Rissa tersenyum tipis. Dalam hati dia merasa begitu miris. Nenek dari anaknya saja begitu menyayanginya meskipun masih berbentuk janin di dalam sana. Namun Raka yang notabene adalah ayah kandung dari anaknya justru menganggap dia adalah hasil dari benih yang dia tanam.
Hati Rissa begitu sakit mengingat akan hal itu.
Belum kering luka yang Raka berikan pada Rissa dengan perselingkuhan Raka dengan Windi, sudah ditambah dengan kabar kehamilan Windi yang mengaku anak yang di kandungnya adalah anak Raka.
Kini di tambah lagi Raka menuduhnya hamil dengan laki-laki lain.
Harga diri Rissa sudah di injak-injak. Secara tidak langsung Raka sudah merendahkan dirinya. Menganggap dirinya bukan wanita baik-baik sampai hamil anak yang bukan dari benihnya.
Masih pantaskah Raka di beri kesempatan?
"Pak, Bu, ada yang mau Rissa sampaikan."
Ucapan Rissa membuat kedua orangtuanya dan juga mertuanya yang sedang berbincang ringan mengalihkan perhatian mereka pada Rissa.
"Ada apa, Nduk?" Widi mendekati Rissa. Dia berusaha bersikap setenang mungkin kendati jantungnya berdebar hebat.
Widi takut apa yang Rissa sampaikan ada hubungannya dengan kekhwatiran yang Widi rasakan.
Rissa menghela napas pelan. Sesaat dia memejamkan matanya.
Bayangan senyuman kedua orangtuanya dan juga kedua orangtua Raka yang begitu bahagia di hari pernikahannya dengan Raka melintas di hadapannya.
Lalu kenangan-kenangan indah yang Raka berikan. Hari-hari indah hingga malam panas yang hampir tak pernah di lewatkan setiap malam memutar dalam pikiran Rissa.
Namun sesaat kemudian berganti dengan bayangan saat dirinya mendapati sang suami bergelung dalam satu selimut dengan wanita lain.
Kemudian ucapan Raka yang meragukan bayi dalam kandungannya juga kembali terdengar dengan jelas.
Perlahan air matanya jatuh bercucuran. Seberapa kuat dia mencoba tabah dan tetap terlihat tegar nyatanya tak mampu bertahan lama.
"Rissa ..." Panggil mamanya pelan. Dia sangat paham dengan apa yang dirasakan oleh Rissa sekarang. "Istirahat, ya. Jangan banyak pikiran, ingat kata dokter," lanjutnya sambil mengelus kepala Rissa.
"Aku minta maaf," ucap Rissa di sela isakannya.
"Aku nggak bisa lagi melanjutkan pernikahan ini."
Pernyataan Rissa membuat para orangtua terkejut. "Nduk?" Pekik Widi tak percaya. "Kamu sudah berpikir dengan jernih? Apa tidak ada lagi kesempatan buat Raka, Nduk?"
Rissa hanya terisak. Dia tak mampu menjawab pertanyaan Widi.
"Pikirkan baik-baik, Sa. Pernikahan kamu baru seumur jagung. Jangan gegabah dalam mengambil keputusan," nasihat Rahardi.
"Maaf. Aku mau sendiri dulu. Bisa tinggalkan aku sendiri?" Putus Rissa pada akhirnya.
Dia kembali berbaring dan membelakangi para orangtuanya.
Satu persatu dari mereka keluar meninggalkan ruang rawat Rissa. Widi tak bisa berbuat apa-apa karena nampaknya Rissa memang benar-benar tak ingin di ganggu.
Tersisa Kurnia yang belum beranjak keluar.
"Mama pernah baca quote. Isinya, setiap hubungan pasti akan ada masalah. Simple, selesaikan masalahnya, atau selesaikan hubungannya. Mama harap, kalian bisa menyelesaikan masalah tanpa harus menyelesaikan hubungan. Tidak semua perceraian itu akhir dari sebuah masalah. Jangan gegabah, Nak. Pikirkan lagi kedepannya bagaimana," ucapnya sebelum akhirnya meninggalkan Rissa yang masih terdiam mencerna ucapannya.
🌹🌹🌹
Sudah seminggu Rissa di rawat di rumah sakit dan ijin dari pekerjaannya. Hari ini Rissa sudah di ijinkan untuk pulang ke rumah.
Setelah hari itu, tak ada lagi pembahasan yang menyangkut permasalahannya dengan Raka. Bedanya Rissa kini lebih pendiam dan tidak lagi bercerita apapun kepada orangtuanya.
Tak ada tanda-tanda Raka ingin menemuinya. Entah di rumah sakit atau sekedar pesan WhatsApp yang mampir ke ponsel Rissa.
'Hey, Rissa! Bukankah kamu yang menutup semua akses agar Raka tak bisa menghubungi atau bahkan menemui kamu!?'
Orangtuanya juga tak membahas perihal hubungannya dengan Raka karena memang Rissa yang selalu mengalihkan perhatian ketika Rahardi atau Kurnia membicarakan hal yang menyangkut Raka.
Tubuh Rissa menegang kala dia turun dari mobil, dia melihat ada Raka yang tengah berdiri di teras rumahnya dan tersenyum melihat kedatangannya.
Dalam hati Rissa, saat itu juga Rissa ingin memeluk Raka. Dia merasa akhir-akhir ini begitu merindukan Raka. Rissa pikir, ini efek dari hormon kehamilannya. Terkadang Rissa membayangkan Raka mengelus dan menciumi perutnya. Berbicara dengan gembira dengan calon anak mereka.
Tunggu! Semua karena hormon kehamilannya, atau karena Rissa memang... Rindu?
🌹🌹🌹
usia 27 udah jadi spesialis kandungan .
wah Rissa termasuk jenius nii.