Tak ada yang menyangka jika orang yang dianggap musuh ternyata orang yang dikirim Tuhan untuk menjadi orang yang berarti dalam hidupnya.
Walau banyak sekali rintangan untuk mengucap janji suci. Tapi jika Tuhan sudah berkehendak rintangan seberat apapun tidak akan mengalahkan tekadnya.
Gama Alexander berubah menjadi posesif ketika sudah menjadi suami Elata. Tegas dan mempunyai karismatik yang menawan. Sehingga tak banyak yang kagum pada sesosok pengusaha muda tersebut.
Elata wanita yang dari dulu sangat dicintai dan diinginkan Gama. Siapa yang tidak kenal dengan wanita jutek itu. Tapi, setelah menikah dengan Gama, Elata berubah menjadi sosok yang ramah. Berbeda jika pada saat dengan Gama, wanita cantik itu akan berubah 180 derajat. Tingkah absurdnya akan kembali.
Apakah Gama dan Elata akan tetap bertahan dengan pernikahannya seperti waktu mereka pacaran dulu dengan cobaan yang akan datang menimpa pernikahan mereka. Ataukah akan sebaliknya?
Simak di MEIML
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seizy kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan?
Hari mulai berganti. Kemarin pun berhasil di lewati. Gama yang masih memejamkan matanya. Tiba-tiba suara bising dari nada dring menandakan adanya panggilan masuk mengganggu pendengarannya. Tangannya mencari-cari ponsel yang mengeluarkan suara bising itu.
"Hhmmm" jawaban Gama saat sudah menempelkan benda pipih ke telinganya. Tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Gama, loe masih tidur? Bangun.. Woyy!!!" suara dari sebrang sana mengagetkan Gama, sampai-sampai ia menjauhkan benda yang menempel di telinganya.
"Berisik"
"Sekolah jemput gue. Ban mobil gue belum di ganti. Dan loe, harus tanggung jawab karna udah bocorin ban mobil gue" cerocosnya Elata di ujung sana.
"Enggak" Gama menjawab Elata masih dengan wajah bantalnya. Tetapi, kadar kegantengannya masilah sama.
"Tanggung jawab!"
"Enggak! Lagian bukan gue yang bocorin ban mobil, Loe" Gama terkekeh. Dirinya masih berbaring dan selimut putih pun masih menutupi sebagian tubuhnya.
"Gama....." suaranya melembut. Yang siapa saja mendengarnya pasti akan terhanyut.
"Loe, kemarin pergi kemana? Pulang jam berapa? Semalam gue ke sana!"
"Kesana kemana?" Elata bingung sendiri apa yang di ucapkan Gama. Apa ngelindur karna baru bangun tidur?
"Ke rumah loe, lha." menjeda "Lagian gue marah sama, loe" lanjutnya kemudian.
"Marah kenapa?"
"Ngapain loe kemarin nyuruh gue buat bayar makanan yang loe pesan?"
"Ya ampun Gama, bayar cuma lima ratus delapan puluh ribu doang."
"Gue, gak suka loe deket sama dia"
"Kenapa?" Elata menggigit bibir bawahnya.
"Ya, gue gak suka saja. Lagian loe kemana sama dia? Sejak kapan loe mulai deket sama dia?" pertanyaan Gama yang panjang. Dengan tarikan satu kali nafas.
"Apa perlu gue jawab?"
"Hhmmm"
"Kalau gak mau?"
"Harus!"
"Maksa banget"
"Ya... Karna gue..."
"Mending cepet bangun deh. Udah siang ini. Loe, mau di hukum karna kesiangan lagi?" Elata dengan cepat memotong ucapan yang akan di lontarkan Gama. Dan menutup panggilannya begitu saja.
Gama hanya melipat bibirnya. Kenapa selalu gagal? Pikirnya.
Hanya pandangan matanya yang terus menatap sebuah foto yang terpajang di meja belajar nya. Foto Elata dan Gama.
****
"Pagi sayang?" sapanya Mama Dara pada sang putri tercinta.
Elata hanya diam acuh tak menjawab. Duduk di kursi biasa, mengambil roti dan selai kesukaannya. Pagi ini Elata lagi badmood. Karna masih kesal dengan Gama. Masa, ia masih ingat saat Gama mengecup bibirnya waktu di toilet sana. Sampe ke bawa mimpi segala.
"El? Dosa tau ka...."
"Tau, Mah. Dosa kalau gak jawab orang tua." Elata memotong ucapan sang Mama.
"Ngambek nih ceritanya?"
"Ia! Masa Mama sama Papa gak ngajakin El jalan. El kemarin ke restoran sama teman-teman. Tapi Mama sama Papa gak ada di sana. Malah jalan kaya anak jaman sekarang"
Mama Dara dan Papa Tio cuma tertawa. Ternyata, anaknya ini masihlah sama. Elata yang selalu marah saat gak ikut di ajakin jalan. Kaya anak kecil. Tapi memang bagi mereka Elata masihlah putri kecilnya yang manja dan keras kepala.
"Kalau Papa, kasih ini masih mau ngambek kah?" Papa Tio menunjukan benda kecil di tangannya.
Elata menoleh. Kemudian cengengesan.
"Di sogok nih ceritanya?" Elata masih tak bergeming. Tapi kemudian..
"Kalau El di kasih itu mah, ngambek nya El pending dulu" Elata mengambil benda yang ada di tangan sang Papa.
"Dasar..." ucap Mama Dara geleng-geleng kepala.
Elata berteriak kegirangan saat matanya mendapati sebuah Mobil Sport Lamborghini Putih di garasinya. Ya, tadi Papa Tio memberinya kunci mobil.
"Thank you so much Papa.." Elata memeluk Papanya. Papa Tio membalas pelukan Elata dengan hangat. Sangat senang bisa memberikan kebahagiaan buat anak semata wayangnya.
Kemarin waktu Papa Tio dan Mama Dara pergi. Mereka pergi untuk mencari hadiah buat Elata. Karna Elata selama ini tidak pernah meminta yang aneh-aneh pada orang tua, jadi Papa dan Mama Elata berinisiatif untuk memberi kejutan pada putrinya.
****
"Pagi, Tan?" sapa Elata pada Mama Sonia yang sedang menyirami bunga.
"Pagi, El sayang. Mobil baru ya?"
Elata hanya cengengesan.
"Gama masih ada kan, Tan?"
"Masih sarapan dia mah, El."
"Ya sudah, El masuk dulu ya, Tan!"
Elata hendak melangkahkan kakinya. Tapi suara Mama Sonia yang memanggilnya, Elata mengurungkan niatnya.
"Iya, Tan?" Elata menoleh kembali. Mama Sonia melangkah mendekati Elata.
"Kamu sama Gama, gimana?" tanya Mama Sonia tiba-tiba.
Elata mengerutkan keningannya. Bingung, kenapa tiba-tiba Mamanya Gama menanyakan dirinya dengan Gama. Gak biasanya.
"Maksud Tante gimana apanya?"
"Kalian kan udah deket dari kecil. Apa Elata gak suka sama Gama? Gama kan ganteng, El?" Elata terkekeh geli mendengar pertanyaan dan pernyataan Mama Gama.
"Hehe... Iya, Tan Gama ganteng." jawab Elata jujur.
"Trus, apa kamu gak suka sama Gama?"
Elata hanya terdiam. Ingin sekali Elata jujur pada Mama Sonia, tapi rasanya sangan asing jika Elata harus terus terang pada Mama Sonia.
"Kalau kamu suka Gama, tante seneng jika kamu jadi calon mantu Tante."
Elata masih terdiam menyimak.
"Tapi, kalau kamu gak suka Gama. Tante merasa kecewa. Tapi Tante juga gak bisa maksa. El, selama ini tante gak pernah lihat Gama deket sama perempuan lain, apa lagi bawa perempuan ke rumah. Boro-boro bawa perempuan, di kenalin aja sama Tante gak ada."
Elata sama sekali tidak mengerti apa maksud omongannya Mama Sonia. Gadis itu masih diam seribu bahasa. Hanya menyimak saja.
"Tante, tuh pengen Gama bawa temen perempuannya ke rumah. Di kenalin gitu sama Tante, tapi Gama gak pernah. Kalau tante jodohin Gama sama anak temen Tante, gimana ya, El? Kamu setuju gak?" ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Mama Sonia.
"Hah..? Di jodohin?" Elata kaget bukan main. Ko ya bisa-bisanya Mama Gama ngomong soal perjodohan sama Elata? Gimana perasaan Elata coba? Tapi salah sendiri juga. Kenapa gak mau jujur sama Mama Sonia. Kalau sudah gini, gimana jadinya?
"Iya, El. Gimana?"
"Sebenarnya, El....." kata-kata El tergantung di awan, saat Gama datang.
"El?" Gama kini sudah ada di antara Mamanya dan Elata.
Ini anak, kenapa tiba-tiba nonghol gitu aja. Bentaran lagi kek nongholnya. Mama kan mau pancing Elata. Dikit lagi Elata jujur sama Mama. Dasar, Gama sama Elata sama aja. Emang cocok udah kalian ini. Tapi kenapa kalian masih gak mau jujur?
Batin Mama Sonia bicara dengan kecewa. Oowwhhhh jadi ini tho maksud Mama Sonia ngomong mau jodohin Gama. Ternyata cuma mancing Elata, biar bisa jujur sama perasaannya.
"Ngapain di luar?" tanya Gama pada Elata.
"Gue...." bingung Elata mau jawab apa. Pikirannya lagi gak bisa di ajak waspada.
"Wiihhhh.... Mobil baru, El?" saat Gama melihat mobil putih di depannya. Sudah pasti tau itu mobil siapa. Gama kan tau selera Elata seperti apa.
Elata tak menjawab, ia masih mencerna apa yang di katakan sama Mama Sonia.
"Berangkat?" tanya Gama. Elata pun hanya nengangguk saja.
Gama dan Elata pamit sama Mama Sonia, berlalu setelah menyalaminya.
"Biar gue yang bawa!"
Elata langsung melempar kunci mobilnya pada Gama. Dengan sigap tangan Gama menerimanya.
****
Mobil Sport putih itu melaju melewati gerbang tinggi rumah Gama. Namun di dalam sana hanya keheningan yang tercipta.
"Kenapa? Sariawan?" tanya Gama yang melihat Elata hanya membisu.
Elata masih kepikiran dengan kata-kata Mama Sonia. Gama bakal di jodohin. Trus nasib gue gimana? Apa gue jujur aja ya? Batin Elata bergemuruh seperti suara air yang mengalir. Pandangannya tetus melihat ke depan tanpa menoleh atau pun menjawab pertanyaan.
Gama terus memperhatikan. Sampai mobil yang ia bawa di berhentikan, di pinggiran jalan.
"Gama...." teriak Elata, hampir saja keningnya terbentur dashboard mobil. Seketika ingatan Elata kembali pada saat ia akan kecelakaan di waktu itu. Nafasnya menderu. Dadanya naik turun.
"Loe, kenapa?" tanya Gama saat melihat Elata tiba-tiba panik. Elata hanya menggeleng pelan.
" Kenapa ngerem mendadak?" Elata memukul bahu Gama, wajahnya sudah bisa ia kuasi sendiri. Sehingga raut panik itu tak terlihat lagi. Gama terkekeh melihat Elata.
"Loe, kenapa?"
"Kenapa apanya?"
Cek..! Membuat Gama berdecak kesal. Elata selalu saja membalikan pertanyaan.
"Udah jalan lagi. Udah siang ini!"
Gama kembali menghidupkan mesin mobil, menancap gas dengan kecepatan penuh. Sementara gadis yang ada di sebelahnya hanya diam. Masih mencerna kata Mama Sonia tentang perjodohan.
****
TBC
Jangan lupa share like komen vote love jika suka sama cerinya. Kasih Author semangat dengan itu semua. Agar bisa terus berkarya.
Fallow Ig Author ya Seizyll_Koerniawan