NovelToon NovelToon
Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:286.5k
Nilai: 5
Nama Author: husna_az

Asha dan Aji tidak mengenal satu sama lain, mereka menikah karena perjodohan orang tua. Namun, di malam pertama mereka, Aji justru dikejutkan dengan keadaan istrinya yang tengah berbadan dua padahal dia sama sekali belum menyentuhnya. Asha memohon pada sang suami untuk tidak mengatakan pada siapa pun mengenai keadaannya. Dia hanya perlu nama sang suami di akta anaknya agar kelak tidak mendapat bully-an dari orang sekitar.

Aji menolaknya dengan tegas karena dia bukanlah ayah dari bayi itu. Dia meminta agar ayah dari bayi itu saja yang bertanggung jawab, tetapi Asha enggan dan tetap memohon pada Aji karena bagaimanapun juga anak itu tidaklah bersalah.

Apa yang akan dilakukan Aji nanti, apakah dia bersedia jika namanya tertera dalam akta anak itu dan menerima Asha sebagai istri? Atau tetap pada pendiriannya, menolak permintaan Asha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Sudah tidur

Sejak Aji mengizinkan Naura datang ke apartemennya, gadis itu mulai sering ke sana. Bahkan saat Aji pergi bekerja, dia juga datang. Namun, pria itu sudah mewanti-wanti temannya untuk tidak lancang masuk ke kamar. Jika datang pun tidak boleh lebih dari dua jam. Naura juga dilarang untuk menginap di sana.

"Aww!"

Suara pekikan Naura dari dapur membuat Aji yang berada di ruang makan pun segera mendekat. Asha yang berada di sampingnya pun juga ikut panik melihat gadis itu terjatuh. Padahal dari tadi mereka terlihat baik-baik saja.

"Naura, kamu kenapa?" tanya Asha yang berdiri di sampingnya karena kesulitan untuk jongkok.

Perutnya yang sudah membuncit membuat gerakan wanita itu terbatas. Saat ini kandungan Asha memang sudah menginjak sembilan bulan. Meskipun sampai saat ini cinta itu belum dia dapatkan dari sang suami, wanita itu tidak mau menyerah. Asha masih tetap berusaha dan berharap suatu hari nanti usaha itu akan membuahkan hasil.

"Ada apa? Kenapa Naura?" tanya Aji yang berjongkok di samping gadis itu.

Pagi-pagi sekali Naura sudah datang ke apartemen mereka untuk berkunjung. Seperti biasa gadis itu akan selalu berpura-pura baik dengan mencoba dekat dengan Aji. Salah satunya seperti ini, membantu Asha untuk memasak. Padahal dalam hati dia menggerutu karena harus repot-repot berpura-pura seperti ini.

"Tidak tahu, tiba-tiba aku terpeleset. Lantainya licin sekali," jawab Naura dengan mencoba memijat pergelangan kakinya. "Ini sepertinya terkilir," lanjutnya.

Aji melihat ke arah kaki Naura dan pandangannya tertuju ke arah lantai yang di samping kaki gadis itu. Dia pun menyentuhnya dan memang terasa licin.

"Ini seperti ada minyak, apa tadi minyaknya tumpah di sini?" tanya Aji.

"Nggak tahu, aku 'kan baru saja datang."

Aji menatap sang istri. Asha yang merasa dituduh pun menggelengkan kepala karena memang tadi dia juga tidak melihat tumpahan minyak. Wanita itu hanya menumpahkan minyak ke dalam wajan dengan hati-hati. Di dekat kompor saja tidak ada tumpahan, bagaimana bisa ada di lantai.

"Sudahlah, Aji. Aku juga tidak apa-apa. Mungkin tadi Asha nggak sengaja. Yah, untung saja bukan Asia yang terjatuh, tapi aku. Kalau Asha kan bisa berbahaya dengan kandungannya," ujar Naura dengan mengusap lengan Aji.

Seketika Aji terdiam, tadi dia tidak terpikirkan ke arah sana. Kali ini pandangannya tertuju pada sang istri dengan tajam. Pria itu juga perlu memperingati istrinya agar tidak lagi ceroboh. Bukan hanya keselamatannya yang jadi taruhan, tetapi bayi yang ada dalam perutnya.

"Asha, lain kali hati-hati. Kalau kamu ceroboh seperti ini, kamu bisa membahayakan orang lain, seperti Naura sekarang ini. Apalagi kamu sedang hamil, apa kamu sengaja ingin mencelakai anakmu sendiri!"

Asha terkejut mendengar hal itu karena Aji langsung memarahinya begitu saja. Padahal dirinya tidak bersalah dan tidak tahu apa pun. Apalagi kata 'anakmu' kembali terucap setelah sekian lama, semakin menambah luka di hatinya. Naura yang melihat itu pun seketika menyeringai, rencananya kali ini berhasil. Aji sudah mulai termakan hasutannya dengan mudah.

Meskipun semua sudah terlambat, mengingat usia kehamilan Asha sudah sembilan bulan, tetapi tidak masalah. Di luar sana juga banyak orang yang terpisah setelah memiliki anak dan Naura pun akan membuat hal itu terjadi. Ini baru permulaan, nanti akan ada hal yang lebih besar lagi.

"Naura, apa kamu bisa berjalan?" tanya Aji.

Naura pun mencoba untuk berdiri. Namun, gadis itu kembali terjatuh dan meringis dengan memegangi pergelangan kakinya. Aji yang tidak tega pun akhirnya terpaksa menggendong temannya itu dan membawanya ke ruang keluarga. Asha dapat melihat seringai di wajah Naura, itu artinya gadis itu telah berbohong.

Pasti itu semua juga demi mendapatkan perhatian dari Aji dan dengan lugunya pria itu menolongnya begitu saja tanpa curiga. Hati wanita itu terasa sakit. lagi-lagi sang suami sangat mudah diperdaya. Namun, Asha juga tidak bisa menyalahkan sang suami sepenuhnya. Memang Naura terlihat begitu sangat licik dengan memanfaatkan keadaan. Dia juga sangat yakin jika minyak yang berada di lantai juga pasti kerjaannya.

Bagaimana bisa minyak ada di lantai, sementara di meja dapur saja tidak ada. Asha meminta Bik Ika untuk melanjutkan memasaknya, tetapi lebih dulu memintanya untuk membersihkan lantai agar nanti Bibi tidak terpeleset. Bik Ika hanya mengangguk, dia sendiri juga bingung bagaimana bisa Naura terjatuh. Padahal tadi dirinya yang di sana baik-baik saja, tetapi baru ditinggal sebentar sudah ada kejadian seperti ini.

Asha sendiri menuju ruang keluarga di mana Aji membawa Naura tadi. Di sana sang suami dengan telaten mengurut kaki Naura. Padahal pria itu sudah menawarkan untuk membawa gadis itu ke rumah sakit. Namun, temannya itu menolak dengan halus alasannya karena dia merasa kakinya baik-baik saja. Selain itu dirinya juga takut jarum suntik, serta malas berurusan dengan dokter dan obat-obatan.

Melihat Naura yang kesulitan untuk berjalan, akhirnya Aji pun berinisiatif untuk mengantarkan gadis itu, setelah sarapan pagi tentunya. Asha hanya bisa diam tanpa bisa mencegah, padahal dia sangat ingin sang suami tetap di rumah saja. Wanita itu juga yakin jika Naura bisa pulangvaendiri.

Saat di rumah Naura, justru ada drama panjang lebar. Dari kedua orang tuanya yang tidak ada di rumah, asisten rumah tangga pun juga tidak ada karena pulang kampung. Aji pun terpaksa menunggu kedua orang tua Naura yang sedang pergi ke pesta. Padahal gadis itu sudah meminta Aji untuk pulang dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja sendiri. Tentu saja dengan wajah yang dibuat-buat semenyedihkan mungkin agar Aji tidak pergi dan benar saja pria itu tetap menunggu di dalam rumah.

Saat akan menjelang makan siang orang tua Naura tak kunjung pulang. Aji pun terpaksa berpamitan untuk pulang karena dia tidak mungkin menunggu sampai mereka pulang. Lagi pulang pria itu juga tidak yakin kedua orang tua Naura pergi ke pesta. Mana ada pesta pagi-pagi sekali sampai siang begini belum selesai.

Naura pun mengizinkannya meskipun dia berusaha berakting sesedih mungkin. Namun, Aji mengeraskan hatinya dan tetap pergi dari sana. Gadis itu dibuat kesal karena Aji sama sekali tidak peduli padanya. Namun, biarlah. Dia juga sudah mulai sedikit menarik perhatian pria itu.

Naura segera mengirim pesan pada kedua orang tuanya untuk segera pulang. Di jalan tadi memang dia sengaja mengirim pesan pada kedua papa dan mamanya untuk pergi dari rumah, sekalian membawa asisten rumah tangga agar rumah sepi. Gadis itu bersyukur mereka setuju begitu saja tanpa banyak bertanya, hanya sedikit kode sudah mengerti.

Sementara itu, Aji yang baru pulang dari rumah Naura begitu terkejut mendapati Asha yang tertidur di sofa depan televisi. Dia menghela napas kasar, kenapa istrinya itu tidak tidur di kamar saja. Bukankah tidak nyaman hamil dengan perut yang begitu membuncit, malah tidur di sofa.

"Bik, kenapa Asha tidur di sini? Kenapa tidak di kamar saja?" tanya Aji saat melihat bayangan Bik Ika, dia yakin wanita itu juga mendengarnya.

Bik Ika pun segera mendekat ke arah Aji agar bisa bicara pelan dan tidak mengganggu tidur Asha. "Tadi saya sudah meminta Non Asha tidur di kamar, tapi Non Asha bilang tidak ngantuk. Dia bilang juga akhir-akhir ini kesulitan tidur, selalu terbangun di tengah malam karena punggungnya sakit. Saya bilang saja jika itu memang wajar di usia kehamilan yang sudah menua seperti ini, tapi tadi baru saya tinggal sebentar, Neng Asha sudah tidur. Saya tidak tega membangunkannya, pasti semalam Neng Asha juga kurang tidur lagi."

Aji yang mendengar itu pun jadi merasa kasihan, selama ini dia tidak terlalu memperhatikan sang istri yang ternyata kesulitan tidur. Pria itu juga tidak bisa membantu apa pun, Asha selama ini juga tidak pernah mengeluh, apa pun yang terjadi, selalu dipendam seorang diri.

Aji meminta Bik Ika untuk kembali ke belakang. Dia pun mengangkat tubuh Asha, membawanya ke kamar wanita itu dan membaringkannya dengan perlahan. Untung saja tidak terbangun. Aji mengusap rambut sang istri, pandangannya tertuju pada perut yang membuncit. Terlihat perut itu bergerak-gerak, hal tersebut tentu membuat pria itu penasaran dan tanpa sadar mengulurkan tangan, menempelkannya di perut sang istri.

Alangkah terkejutnya saat tangan itu merasakan getaran yang belum pernah dia rasakan. Senyum terukir di bibir Aji, andai saja itu adalah anaknya pasti dirinya saat ini begitu bahagia. Beginikah rasanya menjadi seorang ayah. Namun, sayang sekali bayi itu bukanlah miliknya. Bagaimana nanti jika ayah dari anak itu mencarinya, dia juga pasti akan membiarkan Asha pergi dengan mantan kekasihnya jika memang itu pilihan dari sang istri.

Aji segera menarik tangannya saat melihat pergerakan Asha. Namun, itu hanya sebentar dan kembali terlelap. Pria itu pun tidak mau mengganggu sang istri dan lebih memilih untuk keluar. Semoga saja wanita itu bisa beristirahat dengan tenang siang ini, mengingat jika malam tidak bisa tidur, seperti kata Bik Ika tadi.

1
Fitrian Delli
mk khari jgn sok lo dasar anak miskin lo
Fitrian Delli
asha murahan si jd aji tidak mau
Hafifah Hafifah
saking lamanya g up ampe lupa alur ceritanya gimana
Hafifah Hafifah
ya ampun nih orang PD amat ya.jangan dengerin tuh orang salwa
Hafifah Hafifah
sehati nih calon pengantin sama" g bisa tidur
ArlettaByanca
knp Asha harus seEmosi itu....mungkin lebih elegan klo bicaranya lebih tenang tp tegas. Kan posisi Asha saat pergi emng kurang mendukung. Ortu mana yg ga akan shock dg keadaan anaknya hamil ga tau bpknya siapa. Atau mertua yg tiba2 tau anaknya nikah sama perempuan hamil bukan sama anaknya
Hafifah Hafifah
cie bisik" 🙊🙊🙊
Hafifah Hafifah
tenang kamu g akan kecewa
Hafifah Hafifah
tenang si khairi kayaknya udah ada rasa ama si salwa
Hafifah Hafifah
mungkin si aji akan jodohin khairi ama si salwa
Hafifah Hafifah
ibunya udah kayak gitu jadi g heran lw sifat anaknya kayak gitu juga
Hafifah Hafifah
mungkin ini adalah doa dari seorang ibu yg menginginkan anaknya membantu orang tuanya
Hafifah Hafifah
kayaknya jodohnya si khairi bener" salwa deh 🙊🙊
Suanti
akhirnya ketahuan juga kedok nya, rasain /Joyful//Joyful//Joyful/
Hafifah Hafifah
😁😁😁😁😁 kebongkar juga kan sifat aslinya
Hafifah Hafifah
g sabar nunggu kebusukan si ira kebongkar
Hafifah Hafifah
semua keluarga merasa aneh dengan keluarga ira tapi si khairi masih g sadar juga
Suanti
pasti ira nanti selingkuh /Joyful//Joyful//Joyful/
Hafifah Hafifah
mungkin dengan si khairi naik jabatan sifat aslinya si ira perlahan akan keluar
Hafifah Hafifah
kan yg beli itu salwa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!