(Hiatus untuk sementara waktu)
Bagaimana jadinya jika anak kembar mencintai wanita yang sama?
Siapa di antara mereka yang akan berhasil mendapatkan hati wanita tersebut?
Pertengkaran merebut hati seorang wanita, akankah berakhir bahagia?
Kelanjutan dari Novel 'Bayi Kembarku'.
Kisah cinta si kembar Jully dan Leon, anak dari Willy Gu sang Presdir Perusahaan Gu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama, Bukan Malam Pertama II
Clara menjadi takut melihat ekspresi Leon.
Ia segera berkata, "Baiklah ... baiklah! Aku memang berbohong. Kakiku sakit, jadi tidak bisa tidur!"
"Hem???" Leon menaikan satu alis matanya. Bertanya dengan tatapan.
"Sakit?" Leon segera melihat kaki kecil dan panjang Clara dengan teliti.
Di kaki itu memang ada sedikit merah dan lecet, tapi luka kecil itu tidak mungkin menimbulkan rasa sakit hingga wanita itu tidak bisa tidur.
Leon pun bertanya lagi, "Mana yang sakit? Hanya lecet sedikit, masa iya, sakit? Jangan berbohong!"
"Tidak! Aku tidak berbohong. Kakiku memang sakit!" Clara masih meringis. Ia tidak terima dituduh berbohong oleh Leon.
"Ini yang sakit!" Clara menunjuk lutut dan betisnya yang terasa nyeri dan berdenyut.
Mungkin karena terlalu lama berjalan, kakinya menjadi sakit.
"Kenapa bisa sakit? Apa kau terjatuh?" tanya Leon, masih belum percaya.
Ia memegang kaki Clara yang tadi ditunjuk olehnya. Tanpa sadar, Leon memijit kaki gadis itu dengan lembut.
Gerakannya itu membuat Clara kembali gugup.
Clara menjawab dengan susah payah, "U-itu ... itu ka-karena, karena tadi aku mencarimu di sepanjang jalan! Jadi, sekarang kakiku sakit!"
"Benarkah?" Leon sudah duduk di atas tempat tidur samping Clara. Ia masih memijit kaki Clara, sekarang dengan kedua tangan.
Walau suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, tapi Leon tidak bisa berbuat kasar pada wanita itu. Dari kecil pun, ia sudah menyayangi Clara layaknya adik kandung sendiri, tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
"Apa ini membuatmu nyaman?" Leon semakin menambah tenaga di pijatannya. Ia ingin meringankan rasa sakit di kaki Clara.
"Aahh!" Bukanya lebih nyaman, pijatan Leon malah membuat kakinya semakin sakit.
"Pelan-pelan! Sakit!" rengek Clara terdengar manja. Ia meringis lagi di akhir ucapannya karena Leon menambah tenaga di pinatannya.
"Apa begini?" tanya Leon, mengurangi tenaganya.
Clara masih meringis. "Masih sakit! Lebih pelan lagi!"
"Begini?"
"Sedikit lagi!"
"Bagaimana kalau ini?"
"Aahh! Ya! Itu lebih baik, Kak!"
"Aisshhh! Pelan begini! Bagaimana bisa enakkan?
"Hehehe!" Clara malah tersenyum. Ia takut Leon menghentikan pijatannya.
Walau sangat malu sedekat ini dengan pria yang sangat dia sukai, tapi Clara tidak ingin momen ini berakhir dengan cepat. Ia masih ingin menerima perhatian dari Leon, seperti halnya dulu, ketika mereka masih kecil. Leon selalu perhatian dan menolongnya.
Dari balik pintu kamar, ada ibunya Clara dan ibunya Leon sedang menguping aktifitas di dalam kamar dengan menempelkan telinga mereka di pintu. Mereka mendengar suara Leon dan Clara yang terdengar sedang melakukan olahraga malam.
Lea dan Carissa awalnya khawatir karena Leon bersikap dingin pada Clara. Mereka takut Leon akan melampiaskan kekesalannya pada Clara.
Namun, setelah mendengarkan aktifitas mereka, sepertinya Clara dan Leon sedang melakukan malam pertama mereka.
Berpikir demikian, Lea dan Carissa malah jadi malu sendiri. Mereka segera pergi ke kamar dan membiarkan pengantin baru itu bersenang-senang.
"Bagaimana, apa kakimu sudah baikan?" tanya Leon setelah sekian lama memijat kedua kaki Clara.
Leon pun merasa bersalah pada wanita itu. Clara kesakitan seperti ini karena mencari Leon. Jika tidak, mungkin kaki Clara tidak akan sakit seperti ini.
"Sekarang, tidurlah!" Leon menghentikan pijatannya.
Ia mengambil selimut dari lantai, lalu menyelimuti tubuh Clara lagi.
"Besok pagi, aku ingin kita segera kembali ke Kota A. Aku akan memesan tiket pesawatnya sekarang! Jika kau ingin tetap tinggal di sini bersama orang tuamu, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa. Kita tinggal bilang saja, kau sedang menyelesaikan kuliahmu di sini!"
"Tidak! Tentu aku akan mengikutimu Kak! Karena sekarang,kita sudah menikah! Ya, walau menikah karena sesuatu hal, tapi secara hukum di negara ini, kita sepasang suami istri yang sah!"
Walau Clara sudah pasti mengikuti ke manapun Leon pergi, tapi ia tidak tahan jika tidak bertanya tentang alasan pria itu kembali ke rumahnya. Padahal rencananya, Clara dan Leon akan tinggal dulu di rumah keluarga Clara selama beberapa hari.
"Kenapa buru-buru kembali, Kak? Apa ada pekerjaan yang harus Kakak selesaikan di Kota A? Atau, karena Kakak ingin bertemu dengan—"
Clara ingin menyebutkan nama Michelle pada Leon. Tapi ia urungkan. Ia takut pria tampan itu marah lagi jika mendengar nama itu disebut.
"Bukan itu!" Tiba-tiba Leon bangkit berdiri. Ia menatap Clara yang berbaring di depannya. "Kita harus segera kembali dan mencari tempat untuk kita tinggal. Aku tidak enak jika kita harus tinggal di rumah keluarga Gu. Itu tidak akan nyaman untuk hubungan pernikahan kita! Lebih baik jika kita tinggal terpisah dari keluarga. Nanti kita bisa tidur terpisah di kamar yang berbeda tanpa diketahui oleh para pelayan."
Takutnya, para pelayan di rumah keluarga Gu membuka keluar rahasia pernikahan Clara dan Leon.
"Oh!" Clara tidak berbicara lagi. Ia berbaring sambil memegang erat selimutnya.
Setelah itu, Leon kembali ke sofa, untuk tidur.
***
Keesokan harinya, tanpa sarapan bersama, Leon bergegas membawa Clara ke Kota A dengan menaiki pesawat penerbangan pagi. Leon dan Clara segera mencari apartemen di Kota A untuk mereka tinggal.
"Punyaku ini memiliki dua kamar tidur. Ada dapur dan ruang tamu juga. Dengan harga segitu, kalian bisa menyewa lengkap dengan semua perabotannya." Sang pemilik unit apartemen itu menjelaskan pada Leon dan Clara.
Leon mendapatkan informasi unit apartemen disewakan itu dari iklan di internet.
"Ini unit baru, kan?" tanya Leon pada pria yang berusia empat puluh tahun itu.
Pria itu baru saja bercerai dari dari istrinya. Jadi ia tidak bisa terus tinggal di apartemen itu sendiri tanpa pasangan. Dia berniat menyewakan unit itu lengkap dengan semua isi di dalamnya.
"Kami baru lima bulan tinggal di apartemen ini. Ya, kalau kami tidak bercerai, unit ini tidak akan aku sewakan!" balas pria itu dengan sedikit tersenyum. Padahal dalam hati merasa tidak nyaman membahas pernikahannya yang kandas di tengah jalan.
"Emh! Baiklah! Kapan kami bisa pindah ke sini?" Tiba-tiba Leon bertanya hal itu pada sang pemilik unit itu.
Leon memberikan tanda bahwa dirinya setuju dan akan menyewa apartemen itu.
"Oh! Haha! Apa kalian benar-benar sudah cocok?" tanya orang itu terlihat sangat senang. Ia pun menyarankan Leon untuk segera membayar yang sewa apartemen itu selama satu tahun.
"Jika kalian membayar uang sewa itu sekarang, besok, atau bahkan hari ini pun kalian sudah bisa tinggal!"
"Baiklah! Sekarang saja! Lebih cepat, akan lebih baik." Leon tidak sabar.
Leon segera mengajak orang itu untuk makan di luar sambil membuat surat kontrak sewa dan mentransfer uangnya.
Leon benar-benar ingin segera pindah ke apartemen yang dekat dengan tempat kerjanya.
Bersambung ....
(๑˃̵ ᴗ ˂̵)و(๑˃̵ ᴗ ˂̵)و(๑˃̵ ᴗ ˂̵)و
Halo semua! Author kembali untuk melanjutkan cerita ini.
Semoga kalian suka, ヾ(^-^)ノ
Love U
Muuaacchh!
Kan miselle uda ada Jully.
Sukses thoor & lanjut.
Sukses thoor & lanjut.
cerita ini akan dilanjut mulai 1 Agustus ya.
tunggu aja 👋😄