Devina Stefani Germanotta, wanita yang tengah hamil tua berusia 25 tahun berjalan masuk ke dalam rumah setelah memeriksa kandungannya ke rumah sakit Sejahtera Harapan Bunda.
Wanita itu menyeret dirinya ke rumah sakit, karena suaminya tidak punya waktu untuk mengantar dirinya dengan alasan sibuk mengurus perusahan yang sedang berkembang pesat.
Devina berjalan menuju kamar, karena tubuhnya terasa pegal sekali. Dan ia ingin segera mandi, agar tubuh pegalnya bisa kembali segar.
Baru separuh pintu di buka, Devina malah mendengar suara des*h*n seorang wanita tepat di dalam kamarnya. Ketika ia menghidupkan lampu kamarnya, sontak saja matanya menangkap dua orang berlawanan jenis, sedang bergumul di atas tempat tidur yang biasa ia gunakan untuk berhubungan dengan suaminya.
Namun, kini suaminya menggunakan tempat tidur itu untuk bergumul dengan wanita yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri, yaitu Vindy Bernadette Claudia.
Tapi... untuk mengetahui lebih lanjut, ikutin terus dong alur cer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25.
Sinopsis–25.
Tepat pukul 04 : 38 subuh, Alexa tiba-tiba terbangun dari tidurnya lantaran ingin BAK alias (Buang Air Kecil). Alexa berjalan masuk kamar mandi, dengan mata sedikit tertutup. Namun saat Alexa kembali dari kamar mandi.
"Pocong!!!" Alexa meloncat kaget sambil berteriak sangat keras, sebab melihat sosok putih tiba-tiba muncul di kamarnya.
"Hai... ini, aku?!" sahut Verlyn, melangkah mendekati temannya.
"Astaga... Verl bikin kaget aja, lagian ngapain subuh-subuh gini udah pake gituan?!" ujar Alexa mengelus dada lantaran jantungnya yang hampir copot.
"Ini... namanya mukena, dan aku baru aja selesai sholat?" dengan santai Verlyn memberitahu, sembari melepas kain putih itu dari tubuhnya.
"Hah! Gak ... salah nih, apa kamu masih sakit. Tumben... kamu, sholat?!" tanya Alexa mengucek matanya dengan ekspresi terkejut, sembari menyentuh dahi temannya untuk mengecek suhu tubuh.
"Ya... gak salah, karna ini terjadi begitu saja? Aku... melakukan sesuatu hal mustahil, di bawah alam sadar ku?!" tutur Verlyn dengan gimik wajah serius seraya duduk di tepi tempat tidur.
"Wait! Wait! Maksudnya... kamu sholat bukan murni keinginanmu, emangnya waktu itu apa yang kamu pikirkan?!" tanya Alexa jadi penasaran, lalu ikut duduk di tepi tempat tidur sebelah kanan temannya.
"Waktu... itu, aku tidur. Dengar... suara adzan, aku ke bangun. Ambil... air, wudhu. Cari-cari... sesuatu, tapi gak ketemu. Aku... keluar kamar, lihat mbok Inem baru selesai sholat. Aku... samperin, minjam kain putih yang di pakainya. Dan... aku langsung sholat deh, di kamar kamu?!" jelas Verlyn panjang lebar untuk memberitahu.
"Hah! Lama-lama... kok jadi aneh sih, merinding aku dengarnya?! Sejak... kamu reinkarnasi, kamu jadi seperti punya beberapa kenangan abadi yang tidak terjelaskan?!" ucap Alexa dengan suara pelannya.
"Ya... mungkin aja semasa hidup wanita ini, dia sering atau biasa melakukan ibadah, makanya begitu dia sudah meninggal. Memori... ini, masih suka ke bawa di bawah alam sadar ku?!" sarkas Verlyn menimpali ucapan temannya.
"Itu... artinya kamu harus bersyukur, Verl? Karna... lewat jasad wanita ini, kamu bisa memperbaiki hidupmu dari karma buruk?!" sambung Alexa lagi-lagi mengingatkan temannya kambali.
"Justru... karna ini Xa, aku semakin bertekad untuk membalas dendam! Bukan... hanya kepada anak pelakor itu, tapi untuk wanita ini!! Orang-orang... yang pernah menyakiti wanita ini, akan membayar mahal perbuatan mereka?!" timpal Verlyn dengan gimik wajah penuh amarah dan dendam.
"Emang... kamu tahu siapa orang-orang itu, udah ketemu sebelumnya?!" tanya Alexa memastikan.
"Udah! Bahkan aku sangat hafal dengan wajah mereka? Istri baik hati dan sholehah gini, malah di tukar dengan barang rongsokan?!" rutuk Verlyn dengan tatapan sangat marah.
"Ya... kalau ini udah jadi keputusanmu, apa boleh buat? Dan... aku sebagai teman hanya bisa mendukungmu, 99% persen? Tapi... ingat, jangan pernah memaksakan diri? Jika... udah gak sanggup, hentikan, karna mungkin saja kamu yang akan celaka. Paham?!" tutur Alexa panjang lebar memberitahu sekaligus mengingatkan temannya.
"Kalaupun... itu harus terjadi, aku udah siap?! Tapi... sebelum ini, antar aku bertemu dengan David terlebih dahulu?!" tegas Verlyn menatap serius wajah temannya, penuh ambisi yang sangat besar.
"Astaga... Verl, kamu kok keras kepala banget sih kalau di bilangin!!" ucap Alexa mulai berkaca-kaca.
"Hai... ini masih subuh loh, kok udah nangis aja?!" bujuk Verlyn pada temannya yang mulai menitihkan air mata.
"Kamu... paham gak sih, kekhawatiran aku sama kamu. Hah!!" tutur Alexa dengan mata yang sudah mengeluarkan kristal bening, ia mulai menangis tersedu-sedu.
"Apa... sih Xa, kok malah nangis kayak gini?!" ucap Verlyn mulai ikut terpancing suasana.
"Kamu... baru aja loh, siuman dari koma dan udah juga melakukan operasi? Tahu... kamu masih hidup aja aku tuh senang banget Verl, meskipun wajahmu beda sekarang? Ini... baru satu malam kita ketemu, tapi—" tutur Alexa di sela-sela isak tangisnya. Dan Verlyn hanya terdiam menanggapi sikap temannya yang akhirnya menangis untuknya. Verlyn berusaha tegar, supaya dirinya tidak ikut menangis.
"Kamu... udah niat lagi ninggalin aku Verl, tega kamu!! hiks... hiks... hiks...?!" lanjut Alexa dengan bahu tersentak-sentak lantaran masih menangis terisak.
"Hai... ini cuma balas dendam, bukan melakukan peperangan?" dengan suara sedikit tegar Verlyn mencoba menenangkan temannya, ia mengelus punggung serta menghapus air mata temannya.
"Sama... aja, kamu pikir balas dendam itu mudah? Meskipun... kamu melakukannya untuk kebaikan, tapi itu namanya cari perkara?!" ujar Alexa panjang lebar dan masih menangis tersedu-sedu.
"Katanya... dukung 99% persen, tapi kok mewek sekarang?" sindir Verlyn pada akhirnya.
"Ya... karna kamu, ngomong kayak gitu barusan? Balas... dendam ya balas dendam, tapi jangan sampai membahayakan diri sendiri juga?!" sungut Alexa dengan mata sebab, lantaran terus-terusan menangis terisak.
"Oke... oke, aku tarik deh kata-kata ku yang barusan? Tapi... kamu, jangan nangis lagi? Dan... kamu gak usah khawatir, aku pasti bisa jaga diri. Okey?! " ucap Verlyn dengan suara lembutnya, mencoba menenangkan temannya kembali.
"Promise?? " pungkas Alexa pada wanita di hadapannya, sembari menghapus air matanya.
"Hmmm," dehem Verlyn menimpali sambil membuat gimik wajah serius.
"Nah... gitu, dong?" ucap Alexa sembari memeluk temannya. Ia merasa lega sekarang.
"Sorry... Xa, if I just gave you false hope? Because... honestly, I don't know what will happen to me either?! " batin Verlyn sedih, sambil membalas pelukan temannya.
Sementara di sisi lain.
"Bab... kamu dari mana, kok baru pulang jam segini?!" sambil menguap dan merenggangkan otot-otot tubuhnya, Vindy bertanya pada suaminya dengan suara khas bangun tidur.
"Habis... cari, Mama?" ujar Jonathan dengan penampilan kusutnya, sembari duduk di sebuah kursi depan meja rias.
"Hmm... Mama emangnya pergi ke mana, kok pake di cari segala?!" tanya Vindy pura-pura tidak tahu.
"Gak... tahu, dan kata mbok Surati Mama udah pergi dari sejak tadi siang? Aku... udah coba cari ke tempat-tempat yang biasa Mama datangi, tapi gak ketemu-ketemu juga? Karna... kecapean, aku sampai tertidur di mobil?!" tutur Jonathan panjang lebar untuk memberitahu.
"Ya Tuhan... semoga aja Mama gak kenapa-kenapa ya Bab, aku jadi ikut cemas memikirkan Mama belum pulang?!" pungkas Vindy seketika membangunkan tubuhnya, meskipun sebenarnya wanita itu tersenyum dalam hati, mendengar penuturan dari suaminya.
"Kamu... yang sabar Bab, aku yakin Mama pasti baik-baik saja dan aku doakan semoga Mama cepat kembali?!" sambung Vindy melangkah menghampiri sambil mengelus punggung suaminya untuk pura-pura menenangkan.
"Terima kasih... ya Bab, udah perhatian sama Mama? Dan... kalau gak ada kamu, aku gak tahu harus curhat dengan siapa lagi?!" tutur Jonathan sembari memeluk pinggang istrinya, untuk sekedar melepas kegundahan hatinya.
"Oke.... berhubung hari ini hari baik, aku akan masakin kamu makanan spesial?!" kata Vindy sembari tersenyum sumringah.
"Spesial... Mau masak apaan emangnya, Bab?" tanya Jonathan sembari mendongakkan kepalanya menatap wajah istrinya.
"Rahasia?!" jawab wanita itu sembari melepaskan pelukan suaminya .
"Baby—"
"Buruan... mandi, aku tunggu kamu di ruang makan?!" timpal Vindy menyela ucapan suaminya, sembari berlalu pergi keluar kamar.
Tak lama kemudian, setelah melihat suaminya masuk kamar mandi. Buru-buru wanita itu mencomot ponselnya dan langsung menghubungi nomor kekasih gelapnya.
Sambil melangkah menuruni anak tangga, wanita itu memulai percakapan lewat sambungan telepon. Ketika menunggu suaminya selesai mandi, wanita itu mengambil kesempatan untuk mengobrol dengan kekasih gelapnya. Dalam percakapannya pun, ia meminta kekasih gelapnya untuk merawat bekas cambukan Mama mertuanya terlebih dahulu. Karna wanita itu tidak akan melepaskan wanita paruh baya itu, sebelum bekas cambukan nya menghilang. Dan setelah bekas cambukannya hilang, barulah wanita itu akan meminta kekasih gelapnya untuk.
"Bab... apa makanan spesialnya, udah jadi?!" Jonathan yang telah selesai mandi serta berpakaian lengkap, seketika mengejutkan istrinya. Dan untuk wanita itu, agar suaminya tak curiga kepadanya, ia pun langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak, setelah suaminya tiba-tiba memanggil dirinya.
"Eh... Bab, udah selesai mandinya?!" sahut Vindy gelagapan sembari menyembunyikan ponselnya pada laci dapur agar Jonathan tidak menaruh curiga kepadanya.
"Lah... kok meja makannya masih kosong, padahal aku udah ngiler banget dengan masakan spesial kamu?!" sungut Jonathan sembari mendudukkan tubuhnya di kursi depan meja makan.
"Sabar... dong, ini baru selesai juga?!" sahut Vindy melangkah keluar, sambil menenteng nampang berisi dua mangkuk. Namun wanita itu seperti sengaja tutupi mangkuk itu, agar isinya tidak kelihatan dari luar.
"Astaga... sampai di tutupin segala, makin tambah penasaran aja?!" sarkas Jonathan menggosok-gosokkan tangan di depan mulut, lantaran karna dirinya mulai tidak sabar.
"Buka... sekarang, Bab?" Vindy meletakkan nampang itu di atas meja depan suaminya, lalu meminta pria itu untuk membuka penutup mangkuk itu.
"Lah... katanya makanan spesial, tapi kok isinya cuma kertas doang?!" sesal Jonathan merasa kecewa setelah melihat isi mangkuk itu.
"Baca... dulu dong Bab isi, kertasnya?!" bujuk Vindy sembari tersenyum mengembang melirik kertas yang ada di hadapannya suaminya. Sedangkan Jonathan dengan tatapan kesal, ia pun secara perlahan membuka dan mulai membaca isi kertas tersebut.
"Bab... ini gak salah, A—aku sebentar lagi akan jadi Ayah?!" mata pria itu melotot seketika, saat mengetahui isi kertas itu. Bahkan kebahagiaannya saat ini, tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Sangking senangnya kalau dirinya sebentar lagi akan menjadi Ayah, dari anak yang di kandung oleh wanita selingkuhannya sekaligus istrinya.
"Hasilnya... positif Bab, aku sekarang hamil anak kamu?!" timpal Vindy pura-pura tersenyum bahagia.
"Ya... Tuhan, terima kasih atas karunia mu? Aku... sebentar lagi akan, jadi seorang Ayah?!" ucap Jonathan berucap syukur, dengan ekspresi penuh kebahagiaan.
"Tapi... Bab, kamu kan udah punya anak dari Devina? Sedangkan... anak kita cuma anak haram, yang tidak berhak di lahir—"
"Hush! Ngomong... apa sih kamu, Bab! Anak... kita, berhak di lahirkan ke dunia ini? Anak... aku sama Devina, itu cuma kesalahan? Sedangkan... anak kita, itu murni hasil dari buah cinta kita berdua? Jadi... jangan pernah lagi banding-bandingkan anak kita, dengan anak wanita sialan itu?!" ujar pria itu dengan angkuhnya, sambil memeluk erat tubuh istrinya untuk sekedar menenangkan wanita itu.
"Dasar... pria, bodoh?! " umpat Vindy dalam hati, tersenyum penuh kemenangan karna pria di peluknya lagi-lagi masuk dalam perangkapnya.
Bersambung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
Nah guys, untuk hari ini cukup sekian dulu cerita dari author. dan nantikan episode selanjutnya yang nantinya akan semakin seru dan menarik, oke👍👍
See you again thanks for watching 🙏🙏🙏