Nara seorang gadis biasa dan sederhana terpaksa harus menikah dengan pria yang tidak pernah dia kenal sebelumnya karena sebuah surat wasiat dari kakeknya.
Dia harus rela berpisah dengan kekasihnya dan menjalani kehidupan pernikahannya yang bagaikan neraka.
Follow IG Author : @hanania442 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Nara mencoba untuk menenangkan seluruh tubuh dan pikirannya. Begitu menenangkan suasana malam ini. Sunyi dan terasa damai, hanya terdengar suara jangkrik bersahutan dan deru kendaraan bermotor di kejauhan.
Nara masih berenang kesana kemari sambil sesekali menenggelamkan seluruh tubuhnya. Saat dirasa sudah cukup Nara pun beranjak untuk menyudahi aktifitasnya.
Saat dia mengeringkan rambut dan tubuhnya yang basah ada langkah kaki di belakangnya yang sangat jelas menghampirinya. Nara mengernyitkan tubuhnya saat dua tangan memeluknya. Sesaat Nara begitu ketakutan dan jantungnya pun berdetak tak karuan. Namun ketakutannya berubah menjadi rasa bahagia.
Hampir saja Nara berteriak jika saja dia tidak mengenali pemilik dari tangan yang berbulu halus itu dan jam tangan berwarna hitam dengan bentuk yang tidak asing baginya.
“Bagaimana kamu bisa disini?” tanya Nara pada pria itu
Pria itu diam hanya terdengar hembusan napasnya di telinga Nara. Dia semakin mengeratkan pelukannya dan mencium leher Nara.
“Kamu tidak terkejut atau takut?” tanya pria itu sambil meraba perut Nara yang sedikit membuncit. Wajar saja lemak masih menumpuk di perutnya karena kehamilan yang lalu.
“Apa ada pria lain yang kamu harapkan datang?” ucap pria itu lagi kini tangannya semakin berani akan meraba kearah intim Nara. Nara segera menarik tangan pria itu dan melepaskan pelukannya
“Terserah kau saja!” Nara pergi meninggalkan pria itu yang sedang berkacak pinggan memandangi tubuhnya.
Ketika Nara membuka pintu kaca untuk masuk ke rumah utamanya. Tubuhnya tiba-tiba terangkat pria itu menggendongnya ala bridal style.
“Brengsek! Turunkan aku. Sekarang!” Nara meronta-ronta agar pria itu menurunkannya.
“Diamlah, aku tidak ingin para pengawal itu datang karena teriakanmu dan mereka melihat tubuhmu dalam keadaan seperti ini,” pria menatap ke arah mata Nara dengan tajam.
“Turunkan aku!” Nara tetap tidak ingin pria itu menyentuhnya
“Kamu akan aku turunkan di ranjang,” pria itu tersenyum penuh arti.
Nara mendengus kesal dan hendak pergi mengganti bikininya dengan yang kering. Namun pria itu tidak membiarkan itu terjadi. Dia menarik Nara jatuh dalam pelukannya.
Nara mendorong tubuhnya agar menjauh darinya. Tetapi pria itu semakin memajukan tubuhnya lalu mendorong tubuh Nara hingga jatuh terlentang di ranjang. Dia **** tubuh Nara yang masih mendorong tubuhnya agar menjauh
“Come on Nara. Aku suamimu bukan pemerkosa,” ucap Revan kesal menghadapi penolakan Nara.
“Kau memang suamiku dan kamu bukan pemerkosa. Tapi kamu penjahat. Penjahat yang sudah menghancurkan impian dan kebahagianku. Sejak kamu datang dalam kehidupanku semuanya hancur. Saat kamu memberikan aku kebahagian tapi dengan singkat, kamu menggantinya dengan penderitaan,” Nara terus saja memukul dada Revan meluapkan segala kemarahannya selama ini.
“Kamu menjadikan aku ratu dirumahmu tapi ternyata aku hanya kamu jadikan penghasil anak. Jika aku bisa memutar waktu aku tidak ingin bertemu denganmu bahkan mendengar namamu pun aku tidak sudi,” Revan tak bergeming dan tanpa mencoba untuk menghindari pukulan Nara.
“Aku benci padamu...a-aku benci pada Mona...aaku benci dengan takdir ini..aaku benci kalian semua!!” genggaman tangan Nara pun melemah dan menghentikan pukulan sia-sia itu.
“Menangislah, itu akan membuatmu lebih baik” Revan menarik Nara dalam pelukkannya
“Maafkan aku. Aku sudah menyakitimu begitu besar sampai aku pun tak sanggup memperbaiki semua ini,” Revan mencium pucuk kepala Nara dengan lembut dan membelai wajah istrinya yang terlihat sedikit kurus dan pucat.
Nara terus saja menangis dipelukan suaminya. Rasa kesal, marah dan benci bercampur dengan rasa tidak ingin kehilangan seseorang yang sangat dia cintai.
Mungkin dulu dia ingin mendapatkan hati Revan hanya untuk menghindari masalah dalam hidupnya. Tetapi kini Nara menginginkan cinta Revan seutuhnya karena memang dia sangat membutuhkannya dan Nara tidak bisa membayangkan jika Revan pergi meninggalkannya.
“Siapa yang lebih kamu cintai aku atau wanita itu?” tanya Nara disela-sela isakan tangisnya.
Nara menutup matanya sekilas. Merutuki dirinya sendiri karena menanyakan hal konyol itu. Bagaimana mungkin Revan mencintainya jika dihatinya ada mona.
“Jangan bertanya lagi. Kamu sudah tahu jawabannya,” Revan menyapu air mata Nara yang belum juga berhenti
mengalir.
“Jadi, memang benar kamu tidak mencintaiku?” Nara menegaskan lagi jawaban Revan. Sudah kepalang basah
lebih baik dia melanjutkan pembahasan ini. Nara terus berusaha menguatkan dirinya.
“Tepatnya aku tidak bisa membedakan siapa yang lebih aku cinta. Bagiku Mona memiliki tempatnya sendiri di hatiku begitu juga denganmu. Seiring berjalannya waktu aku bisa mencintaaimu dan semua tentang dirimu menetap ‘Disini’ ?” Revan meletakkan jari jemari Nara tepat di jantungnya.
Nara menatap kedalam mata Revan berharap pria itu memilihnya.“Lalu sampai kapan kita menjalani hidup seperti ini. bukankah jika berlarut-larut kita akan merasakan sakit yang lebih dalam?”
“Maaf... aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Sungguh ini pilihan yang sulit untukku” Revan duduk menyandar di kepala ranjang dan tetap membelai kepala Nara.
“Ayo, kita pergi sejauh mungkin. Kita tinggal dimana tidak ada seorang pun yang mengenali kita”
“Jangan asal bicara. Kau tahu aku tidak bisa melakukan itu dan kau akan sangat rindu dengan orang tuamu,” ucap Revan dengan memberikan jentikan dengan jarinya di dahi Nara
“Sakit” Nara mencicit dan meraba dahinya
“Baguslah! Itu untuk pemikira konyolmu” Revan mengacak-acak rambut Nara yang seketika menjadi kusut.
Mereka tertawa lepas, seakan tidak pernah ada pertengkaran dan masalah dalam hidup mereka.
Walaupun tak terucap dibibir mereka tetapi mereka bejanji dalam hati mereka bahwa mereka akan mulai menghadapi bersama semua masalah yang akan datang.
Semuanya tidak akan mudah. Tetapi biarkanlah untuk kali ini saja mereka jujur dengan perasaan masing-masing tanpa keegoisan.
“Bukankah kau pergi bersama Mona? Lalu dimana dia sekarang?” tanya Nara saat terbesit diingatannya.
“Dirumah orang tuanya”
Nara mengangkat alisnya dan reflek matanya sedikit melebar. Revan memainkan alis Nara dengan jari telunjunnya. “Aku hanya mengantarnya lalu pulang kesini”
“Apa tidak masalah? Aku dengar dia sedang menjalani therapy,” Nara mendapat kabar ini dari Bia beberap hari yang lalu
“Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku tidak bisa menginap disana karena pekerjaan kantor sangat membutuhkanku,” ucap Revan sambil memakaikan selimut untuk Nara dan dirinya.
“Tapi kau sedang bersamaku dan tidak bekerja” Nara mencubit pipi Revan gemas
“Ini waktunya istirahat besok aku akan pergi pagi-pagi sekali karena ada meeting penting”
Nara menganggukkan kepalanya mengerti. “Kau sedang apa?” Nara mempertanyakan tindakan Revan yang tiba sudah membuka pakaian dalamnya.
“Tidak baik mengenakan pakaian yang sudah basah seperti ini. nanti kamu bisa sakit”
Aku tidak tahu sampai kapan takdir mempermainkan hidupku. Aku akan tetap menjalani ini. Aku berharap perasaan mu padaku tak akan pernah berubah dan terganti. Harapanku mendapatkan cinta seutuhnya darinya tak akan terwujud tetapi aku sudah cukup seperti ini. Aku sangat bahagia bisa melihat senyum dan tawa mu kapanpun aku mau.
Nara terhanyut dalam hangatnya pelukan Revan menuju alam mimpinya. Namun tidak dengan Revan. Dia mengguncang-guncang tubuh Nara agar terbangun tapi sia-sia saja.
“Kita belum selesai, bangunlah jangan tidur dulu,” Revan menghembuskan napasnya dengan kesal. Bagaimana dia bisa tidur setelah melihat tubuh istrinya yang sangat dia rindukan.
Flashback off
sejauh ini memang menarik ceritanya....
Mampir jg ke novelku ya : HARD TO SAY GOODBYE, ini bikin baper jg lho... Thx...