Cerita ini hanya karangan author buat menghibur. jangan dianggap serius...
......
Cinta yang di kira membawa kebahagiaan ternyata menghadirkan petaka yang besar didalam hidupnya.
Janji manis seorang pria telah menghancurkan seluruh harapan dan martabat keluarganya sekaligus.
"A..aku hamil!" lirihan bergetar keluar dari bibir mungilnya. ia menatap nanar wajah seorang pria yang telah membuatnya terjebak didalam nuansa cinta ini.
"Kau gila! aku tak merasa menghamilimu."
Bagi petir menyambar di langit sana, Ia sungguh terkejut dengan pandangan lemahnya. Malam itu ia tak tahu apa yang terjadi tapi akhir-akhir ini ia merasakan gejalanya.
Sakit dan rasa malu yang ia tanggung setelah itu tak lagi membuatnya hidup dalam ketenagan. Ia benci benih yang ada didalam kandungannya serta keluarganya tak lagi menerimanya.
"Aku memang menyedihkan. karna bualannya aku sampai mengandung benih menjijikan-ini."
Ia harus menerima di kucilkan disuatu tempat yang jau
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama seperti dulu!
Setelah kejadian saat itu tadi. Rusel diam tak berkata sepatah katapun. Ia seakan merasa bersalah melakukan hal seperti itu pada Sandra yang sudah banyak tersakiti.
Sekarang keduanya sudah sampai ke area landasan dimana jalan setapak yang dulu mereka lalui sudah tak segelap pertama menginjak kesini. Ada obor di sepanjang jalan yang di tapaki.
Sandra-pun sama. ia tak mengerti kenapa Rusel diam dan terlihat menjauh?! ia merasa tak nyaman dengan situasi seperti ini.
"Apa dia jijik padaku?!"
Batin Sandra merasa sesak. apa setelah menciumnya Rusel jadi menganggapnya wanita murahan? kalau tidak kenapa dia tak mau mendekatiku.
Berbeda dengan Sandra. Rusel lebih tenggelam dalam perasaan bersalahnya. seharusnya ia lebih bisa mengendalikan diri agar tak kecolongan begitu lagi.
"Kauu..."
Keduanya sama-sama berucap dengan langkah terhenti. Pandangan dua pasang manik itu saling menghunus satu sama lain.
"Kau duluan!" lagi-lagi bersamaan membuat keduanya menghela nafas sejenak membuang pandangan kearah lain.
"Katakanlah!" ucap Rusel membelakangi Sandra yang mengambil nafas tenang.
"Apa kau jijik padaku?"
Rusel tersentak mendengar pertanyaan Sandra. ia langsung berbalik dengan pandangan tak percaya.
"Maksudmu?"
"Apa kau jijik setelah menciumku?" tanya Sandra lagi serius.
Bagaimana bisa aku jijik? bahkan, kau tak tahu betapa aku ingin menciummu.
Pikir Rusel tak menyangka. Sandra selalu saja menduga-duga hal sempit yang belum tentu terjadi.
"Aku tahu.. aku memang wanita liar yang suka ke Club dan dunia malam. wajar jika kau jijik padaku." ucap Sandra mengerti tak mau membantah nasibnya.
"Kau bicara apa?"
"Kau pasti mengira Bibirku telah jadi permen banyak lelaki. bukan?"
Ucapan Sandra membuat Rusel mengepal langsung menarik pinggang ramping itu mendekat merapat kearahnya.
"Dan yang sekarang kau!" sambung Sandra hanya tersenyum saja. tapi dibalik lengkungan indah itu tersimpan rasa kecewa pada dirinya sendiri.
"Kau menilai dirimu sendiri buruk!" desis Rusel tapi Sandra mengangguk.
"Di mata siapapun aku bukan apa-apa."
"Tapi kedua orang tuamu menganggap kau itu.."
"Kau tak mengenal mereka!" sambar Sandra dengan raut wajah tampak berusaha tegar bahkan tak mau menangis.
"Terkadang hidup di kelilingi orang luar biasa itu sangat susah. Sel! aku merasa kecil di hadapan mereka."
Rusel di bungkam dengan kalimat Sandra. Apa kepala Militer Hatomo benar-benar membedakan anak-anaknya? tapi, ia tak percaya itu.
"Kakak pertamaku seorang Dokter ternama, Kakak kedua-ku seorang tentara wanita yang terlatih dan aku..."
Sandra terkekeh kecil menepuk bahu Rusel yang diam hanya melihat itu.
"Aku adalah beban dan perusak keluarga!" sambung Sandra mengakui itu. ia sadar jika hanya ia yang begitu terbelakang diantara para saudarinya.
"Kau pasti punya kelebihan!" jawab Rusel tapi Sandra menertawakannya.
"Apa? menyusahkanmu? membuat onar dimana-mana? atau.."
"Kau.."
"Atau aku seorang wanita bodoh muda di tipu. begitu? seharusnya benar. kau sangat pintar." sambung Sandra menepuk bahu Rusel lalu melangkah ke arah tempat lapangan landasan.
"Sel! sekarang-pun aku masih ragu jika Papaku mengizinkanku pulang!"
"Dia pasti melakukannya!" jawab Rusel yakin jika Tuan Hatomo tak setega itu membiarkan Sandra disini terlalu lama apalagi hubungan keluarga mereka mulai retak.
"Kalau iya, pasti dunia ini akan berakhir!" sambung Sandra yang tak terlalu berharap karna ia sedari awal memang ragu. hanya saja Rusel yang bersikeras melakukanya.
Rusel hanya ingin mengabulkan keinginan Sandra dan membuat semuanya tenang. setelah itu akan ia pikirkan bagaimana cara menjaga wanita itu dari jauh.
"Baik! kau begitu yakin. bukan? kalau begitu kita tunggu bersama!"
Sandra duduk diatas batang pohon besar yang tumbang di tepi sana seraya menatap langit yang di penuhi kemerlap bintang malam ini.
"Kau ingin pulang. bukan?" tanya Rusel mendekati Sandra yang mengangguk.
"Yah! aku rindu kamarku."
Rusel diam duduk di samping Sandra yang tak melepas tatapannya ke atas sana. Terlihat sangat indah dari sini.
"Kapan kau menghubungi Papaku?" tanya Sandra heran.
"Bukan aku. tapi Tetua!"
Sandra manggut-manggut mengerti kembali diam. hanya menikmati hembusan angin malam ini. Untung saja ada Syal dan Mantel rajut hangat yang membalut tubuhnya.
Setelah beberapa lama tak juga ada yang datang. bawahan Rusel yang memantau dari arah Bukit juga heran tak ada rombongan penjeput yang hadir.
"Mau berapa lama lagi?" tanya Sandra membuat Rusel diam. Tadi ia sudah bicara dengan Tuan Hatomo dan dia bilang akan menjemput Sandra tapi bagaimana ini bisa terjadi?
"Kau tunggu disini sebentar!"
Rusel melangkah pergi ke arah kegelapan sana dimana Simob sudah ada untuk melapor.
"Ketua!"
"Katakan!" tegas Rusel serius.
"Dari arah manapun tak ada yang datang. bahkan, saat di perbatasan-pun kami tak mendapatkan sinyal mereka." jawab Simob benar adanya.
Rusel menatap Sandra yang masih menunggu disana. bagaimana bisa Tuan Hatomo mengingkari ucapannya?
"Sebaiknya kau jujur padanya. Ketua! katakan kalau ponsel-mu itu dari Tetua Herdan saja." timpal Simob sopan tak mau membuat Rusel semakin merasa bersalah.
"Kalau dia tahu aku memakai ponsel. dia juga akan curiga padaku." jawab Rusel tak mau melakukannya.
"Mau bagaimana lagi? Nona Sandra itu tak akan cukup dengan jawaban singkat tanpa penjelasan."
Mau tak mau Rusel mengeluarkan benda pilih itu dari dalam sakunya. Sandra tak boleh tahu identitasnya yang asli atau semuanya akan runyam.
"Ketua! Tuan Besar tak akan tahu soal Nona Sandra selagi tak ada yang melapor padanya." timpal Simob yang sudah tahu bagaimana Rusel.
"Hm. selagi dia percaya padaku. aku tak bisa gegabah." gumam Rusel lalu melangkah kembali mendekati Sandra. ia menggenggam benda pipih itu untuk memantapkan alasannya.
"Kau kemana saja?" tanya Sandra menoleh pada Rusel yang kembali duduk di sampingnya.
"Pakai ini untuk menelfonnya!"
Sandra tersentak saat Rusel memberikan ponsel pintar itu. Mata lebar Sandra benar-benar tak percaya Rusel memiliki ini.
"K..kau..."
"Ini ku pinjam dari Tetua! bisa di bilang salah satu aset Desa." elak Rusel semurni mungkin. Tapi, mata Sandra menyipit heran. Dulu saat pertama kali bertemu aku melihat hanya dia yang berpakaian seperti anak kota. jadi, apa Rusel sama sepertinya?
"Kenapa kau menatapku?"
"Terkadang aku pikir kau ini bukan orang biasa."
Jawaban Sandra hanya di jawab wajah datar Rusel yang seakan tak tahu apapun.
"Aku hanya pria petualang! disini tempatku dan aku tak tahu hal apapun."
"Benarkah?"
"Kau mau memakainya atau tidak?"
Sandra langsung mengambil benda itu membuat Rusel lega. setidaknya ia bisa mengelak untuk saat ini.
"Ponsel Tetua canggih juga. ini sangat mahal. mustahil Gaji-mu di Petinggi Desa bisa membayarnya." gumam Sandra membuat Simob tersenyum sinis. Mungkin jika Sandra tahu siapa Rusel maka berdiri saja di hadapan pria itu dia akan merasa seperti debu.
"Aku tahu aku memang tak berada." rendah Rusel membuat Sandra tersenyum kecil menepuk paha Rusel.
"Tak apa. aku suka pria sepertimu yang apa adanya, kau tak banyak janji tapi langsung memberi kepastian." puji Sandra hanya di jawab kebisuan Rusel.
"Hm."
"Tapi, kau tenang saja. nanti saat aku sudah sukses aku akan meneraktirmu makan di kota, rasanya enak dan bahkan tempat tidurnya empuk dari yang di sini."
Rusel hanya mengangguk saja membiarkan Sandra mengotak-atik ponselnya.
Sandra menghubungi nomor Papanya tapi tak di jawab sama sekali. hanya suara operator yang terputus-putus.
"Lihat. dia tak menjawabnya."
"Aku saja!" Rusel mengambil alih. Ia menghubungi Tuan Hatomo tapi masih saja tak terdambung. Tapi, Rusel terus mencobanya agar tak mengecewakan Sandra yang melihat kesungguhan Rusel melakukan keinginanya.
"Mereka itu orang-orang sibuk!"
"Sebentar!"
Rusel berdiri diatas batang yang ia duduki mencari sinyal yang buruk. akhir-akhir ini memang ada masalah dengan jaringan disini.
"Shitt!" umpat Rusel tak juga mendapat jawaban. Guran yang tadi tengah melihat alat pemantau seketika mendekat untuk melaporkan pesan dari Kota.
"Ketua!"
"Hm."
Rusel masih mencoba menghubungi tak putus asa sama sekali.
"Bawahan Tuan Hatomo memberikan pesan!"
"Apa?" tanya Sandra berbinar. mungkin saja Papanya berubah pikiran.
Guren menatap rumit Sandra lalu ia beralih pada Rusel yang merasa ini kabar buruk.
"Apa Papaku sudah kesini?"
"Tuan Hatomo.."
"Apa?"
"Dia tak bisa datang karna putrinya tengah sakit!"
Duarr....
Sandra diam mendengar itu. Tiba-tiba saja ia merasa terbongkem saat alasan yang sama hadir terulang lagi setiap kalinya.
"Putri pertamanya sakit. kemungkinan dia akan kesini beberapa minggu lagi."
"Pergilah!" titah Rusel pada Guren yang mengangguk melangkah pergi. Rusel kembali duduk di samping Sandra yang berkaca-kaca menatap ke atas sana.
"Dia pasti akan menjemputmu!"
"Tidak akan. kau percayalah ucapanku." jawab Sandra tersenyum pelit sesekali menghapus air matanya. Rusel tak tahu lagi harus bagaimana sekarang? ia seakan membeku melihat kekecewaan Sandra.
"Maaf!"
"T..tidak. ini.. ini biasa, dulu.. " Sandra terkekeh kecil terus mengusap air matanya yang berjatuhan berusaha tetap ceria.
"Dulu aku ingin menerima Raport sekolahku. kau tahu siapa yang terus datang?" tanya Sandra membuat Rusel terasa tertusuk.
"Pembantuku!" jawab Sandra lalu tertawa seakan itu hal lucu padahal ia terlihat sakit dengan ucapannya sendiri.
"Aku...aku itu.. "
Rusel segera merengkuh kepala Sandra bersandar ke dadanya. ia mengusap punggung bergetar Sandra yang mencengkram lengannya kuat.
"Aku itu sering seperti ini. mereka tak akan sudi melihatku."
"Kau tak serendah itu." ucap Rusel menyangkalnya. Sandra hanya bisa tersenyum disela rasa tak berguna ini.
"Kau pria teraneh yang dekat denganku tanpa memanfaatkan tubuh dan wajahku!"
"Aku tak bilang kau cantik. Nona!"
Sandra langsung mendengus mendorong bahu Rusel yang hanya ingin mencairkan suasana. memang ia akui Sandra sangat cantik bertubuh menggiurkan hanya saja tingkahnya sangat menjengkelkan.
"Kau memang buta! tak bisa melihat wanita secantik aku."
Rusel belagak ingin muntah membuat Sandra terbahak mendorong bahu Rusel sekuat tenaga tentu Sandra tak bisa. lagi-lagi ia yang di kurung dalam pelukan hangat itu.
"Siluman aneh dan menyebalkan!"
"Terserah padamu saja." acuh Rusel memeluk dari bekakang. ia meletakan dagunya ke bahu Sandra yang sama-sama melihat langit indah diatas sana. setidaknya ini tak buruk dari pada menelan kekecewaan.
Namun. Rusel langsung menajamkan matanya ke arah semak sana saat merasakan ada yang tengah melihat mereka. Ia menoleh ke arah Simob yang mengangguk melesat pergi mengejar kilatan bayangan itu tanpa membuat kecurigaan bagi Sandra yang asik melihat bintang di atas sana.
"Banyak hal buruk disini!"
.....
Vote and Like Sayang..
alur ceritanya seakan2 kira ikut di sana
kren habis
dia dapat lelaki sempurna, andai di dunia ini ada lelaki sempurna seperti rusel pasti pasangannya begitu bahagian, karena begitu di ratukan di mata rusel