follow igku @zariya_zaya
Bagaimana perasaanmu jika melihat calon suamimu berada di dalam kamar hotel dengan wanita lain dimalam pernikahanmu? Pasti nyesek senyesek-nyeseknya.
Itulah yang terjadi pada Kinan. Wanita malam itu dikhianati oleh calon suaminya sendiri dimalam sebelum acara pernikahan berlangsung. Alih-alih menadapat simpati karena tersakiti, Kinan malah di caci dan di cemooh karena bertubuh gendut dan berwajah pas-pasan.
Banyak hal yang tejadi dan Kinan hampir bunuh diri, tapi seorang pemuda desa menyelamatkannya dan membantu mengatasi maslahnya. Kinan mulai menjalani program pengurusan berat Badan dengan pemuda desa bernama Pram. Ia ingin membuktikan pada mantan yang mengkhianatinya, si Andra, kalau Kinan juga bisa berubah jadi cantik seperti wanita lainnya.
Apakah Kinan berhasil? Simak kisah Kinan dan ikuti terus ceritanya.
Seperti apa kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 25 Cinta Kinan dan Pram
Begitu keluar dari hotel tempat pesta resepsi pernikahan Andra dan Riri, Pram mengajak Kinan untuk makan malam bersama disebuah rumah makan sederhana. Mungkin Kinan tidak tahu kalau mantan pacarnya kini sudah menuai hasil dari apa yang ia tanam. Baru beberapa waktu lalu Andra berada diatas awan, tapi hanya dalam waktu sekejap ia jatuh ke comberan. Tak bisa dibayangkan seperti apa kondisi Andra saat ini begitupula dengan nasib pernikahannya dengan Riri.
Bagi Kinan, Andra adalah masa lalu, sedangkan Pram, adalah masa depannya meskipun Kinan masih sedikit ragu akan ketulusan cinta pria yang kini ada dihadapannya. Mungkin, kandasnya hubungan Kinan dengan Andra yang berakhir miris, meninggalkan sedikit trauma dalam hati Kinan. Ditambah lagi, Kinan masih belum tahu betul siapakah sosok Pram yang sebenarnya. Dimata Kinan, Pram adalah orang yang misterius.
"Kau belum jawab pertanyaanku?" Pram mulai pembicaraan disela-sela makan malam mereka.
"Yang mana?" tanya Kinan was-was, ia memang jatuh cinta pada Pram, tapi ia takut dikecewakan lagi.
"Apa ... kau juga mencintaiku?" tanya Pram to the poin.
Kinan menunduk dan mulai perang batin dalam dirinya. Haruskah aku menerima cinta Pram? Apakah dia benar-benar tulus sama aku? Gimana kalau setelah ini dia berubah kayak Andra dulu? Tapi nggak mungkin Pram berubah, dia pemuda yang baik, dan aku cinta dia, batin Kinan. Ia jadi galau sendiri sekarang.
"Aku nggak akan memaksamu, kok. Kita nggak perlu buru-buru. Mungkin kau butuh waktu banyak untuk tahu tentang siapa aku."
"Kita bisa mencobanya, sejujurnya aku kira cintaku ke mas Pram bakal bertepuk sebelah tangan. Tapi ternyata ..."
"Tunggu!" Pram memotong kata-kata Kinan. "Kau bilang apa, tadi?" tanya Pram hampir tidak percaya. "Cinta ke aku? Maksudmu ... kau juga cinta aku?" tanya Pram memastikan. Matanya berbinar-binar senang.
Kinan hanya mengangguk malu. Ia bahkan tak berani menatap pria yang sudah berhasil membuat Kinan jatuh hati. Seketika Pram bangun berdiri dari kursinya dan menghampiri Kinan. Tanpa ragu, Pram berlutut dihadapan Kinan untuk melihat wajah imut kemerah-merahan itu.
"Kinan, aku berjanji padamu ... aku hanya akan mencintaimu seorang disepanjang sisa hidupku. Meskipun kau bukan yang pertama, tapi kupastikan kau akan jadi yang terakhir dan tidak akan ada wanita lain selain dirimu. Jika aku melanggar janjiku, aku siap mati ditanganmu!" Pram mengucapkan kalimat yang benar-benar menggetarkan hati dan jiwa saat mendengarnya.
Mata Kinan langsung berkaca-kaca melihat betapa Pram mencintainya sampai seperti ini. Kinan bahkan kehabisan kata-kata dan tak tahu harus bicara apa. Pria tampan itu tak menjanjikan apa-apa selain cinta suci yang ia punya.
Belum juga Kinan bisa mengatasi rasa shocknya, tiba-tiba, Pram mengeluarkan sebuah cincin berlian mahal dan itu membuat terkejut Kinan. Ia serasa mimpi sekarang, sungguh Kinan tak pernah menyangka Pram bakal seromantis ini padanya.
"Mungkin, cincin ini harganya tidak seberapa, tapi ini simbol cinta yang aku berikan untukmu. Jangan lihat harganya, tapi lihat ketulusan cinta yang aku sematkan di jari manismu, duhai tambatan hatiku. Kinanku, yang kini telah menjadi belahan jiwaku, sekarang dan untuk selamanya," ujar Pram dan langsung memakaikan cincin berlian tersebut di jari manis Kinan.
Entah sejak kapan Pram menyiapkan cincin indah itu. Yang jelas, Kinan benar-benar terharu. Air matanya sudah tak bisa dibendung lagi, gadis itu langsung memeluk pria yang ada dihadapannya dengan sangat erat tanpa bisa berucap sepatah katapun. Kinan sudah tak peduli pada tatapan mata semua orang serta sorak sorai ramai mereka.
Hari ini, Kinan sangat bahagia, benar-benar bahagia melebih saat Andra setuju menikah dengannya dulu. Selama ini, Kinan tak pernah merasakan kebahagiaan yang begitu besar seperti yang ia rasakan sekarang. Pram adalah hidupnya dan juga masa depannya. Dalam hati, ia berjanji bakal membuang semua kenangan masa lalunya agar ia bisa terus bahagia bersama dengan Pram tak peduli siapapun Pram sebenarnya.
***
Beberapa bulan telah berlalu, hari-hari Kinan serasa indah dengan kehadiran Pram dalam hidupnya. Setiap malam Pram datang ke rumah Kinan dan menemaninya melakukan banyak hal, termasuk program diet yang tetap dijalani Kinan agar ia mendapatkan bentuk tubuh yang ideal. Tentu saja dengan dukungan dari sang pujaan hati, gadis itu semakin semangat menurunkan berat badannya.
Kini, Kinan benar-benar sudah langsing dan menjadi cantik. Hubungan Pram dan Kinan juga semakin serius apalagi, ibu Kinan juga merestui hubungan keduanya. Tiga bulan menjalani masa pacaran membuat mereka berdua semakin lengket seakan tak terpisahkan saja.
Malam ini, wajah Pram agak murung, ia tak seperti biasanya. Hal itu membuat Kinan jadi bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan kekasihnya. Biasanya Pram cerewet banyak bicara, tapi kali ini ia hanya diam dan kalau ditanya selalu jawab seadanya.
"Mas," panggil Kinan saat Pram sedang ketahuan melamun. "Mas kenapa? Kok tumben diam saja?" tanya Kinan ikut cemas.
"Nggak ada apa-apa," jawab Pram singkat tapi jelas Kinan tidak percaya.
"Mas jangan bohong, aku tahu Mas lagi ada masalah. Cerita aja Mas, Kinan siap dengerin kok," ujar Kinan.
"Begini, lusa aku ada pekerjaan di luar kota, Nan. Ini pertama kalinya aku meninggalkan desa ini setelah sekian lama. Dan kayaknya aku lama di sana."
"Apa Mas dipindah tugaskan? Mas sudah nggak jadi satpam lagi di pabrik?" tanya Kinan.
Pram tidak menjawab, mungkin ia bingung bagaimana menjelaskan tentang pekerjaan Pram sebenarnya pada Kinan. Harusnya ia sudah memberitahu Kinan siapa sosok Pram yang sesungguhnya, tapi ia tak ingin Kinan salah paham. Makanya ia menyembunyikan identitas asli Pram dengan membiarkan Kinan mengira bahwa dirinya adalah seorang satpam salah satu pabrik di desa ini.
"Aku harus pergi ke luar kota dalam jangka waktu agak lama. Paling cepat sebulan, dan paling lama ... setahun," terang Pram dengan nada sedih. Ia tak tega meninggalkan Kinan di desa ini seorang diri.
Melihat kegalauan kekasihnya, Kinan duduk disebelah Pram dan menggenggam erat kedua tangan laki-laki tampan itu. Meski hati serasa berat mengetahui fakta bahwa hubungan mereka akan mengalami long distance, Kinan tetap harus bisa mengerti apapun kondisi Pram dan terus mendukungnya.
"Mas, kalau masalah pekerjaan, Mas jangan khawatir. Kinan nggak masalah kok kalau Mas harus pergi ke luar kota. Toh Mas kerja ... juga untuk Kinan nantinya, kan? Selama ini mas Pram juga sudah banyak bantu Kinan. Kinan nggak keberatan kalau Mas Pram harus pergi lama. Kinan janji akan menunggu sampai mas Pram kembali." Kinan mencoba membantu menghilangkan kegalauan yang dirasakan pria idaman hatinya.
"Kamu beneran nggak keberatan kalau aku keluar kota lama?" tanya Pram.
"Ya berat sih, tapi mau gimana lagi, toh ini semua juga untuk masa depan kita, kan?" Kinan tetap tersenyum agar kekasih hatinya tidak lagi sedih. Namun ternyata Pram malah salah mengartikan makna senyuman dari Kinan.
"Kok kamu senyum?" Pram mulai sewot.
"Lah, memangnya aku harus nangis?" Kinan malah bingung.
"Bilang saja kalau kamu mau cari pria lain selama aku pergi, kan? Sekarang kamu sudah cantik dan banyak pemuda di desa ini ngelirik kamu. Kamu seneng kan kalau aku pergi supaya kamu bisa main sama mereka-mereka?" tuduh Pram mulai cemburu. Tentu saja Kinan kaget tiba-tiba Pram bicara seperti itu.
"Mas ini bicara apa, sih? Setiap ada pemuda yang deketin Kinan kan selalu Mas kasih bogem mentah. Mana berani mereka deketin Kinan lagi sekarang, lagian Kinan cintanya cuma sama mas Pram doang. Kinan sama sekali nggak tertarik sama mereka semua. Bagi Kinan, mas Pram adalah segalanya. Kok mas Pram jadi meragukan cinta Kinan, sih?" Kinan kesal karena Pram berpikiran yang bukan-bukan tentangnya.
"Ya kali aja, kamu udah bosan sama aku, dan pengen cari pria yang lebih kaya dari aku."
"Terserah mas Pram ajalah kalau gitu, Kinan ngantuk! Kinan mau tidur! Selamat malam!" Kinan malas debat dengan Pram. Entah kenapa kekasihnya itu tak percaya pada apa yang ia katakan. Padahal Kinan benar-benar hanya mencintai Pram seorang.
Tanpa menunggu sahutan dari Pram, Kinan langsung masuk ke dalam kamar dan membanting pintu kamarnya sendiri sampai terdengar bunyi 'brak'. Sedangkan Pram, hanya tersenyum melihat kekasihnya ngambek.
BERSAMBUNG
***
ceritanya Keren👏aq suka..
pengajaran: jangan pernah memandang hanya berdasarkan luaran sahaja.. sebenarnya d novel ini tuu banyak pengajaran yg bisa d ambil...
Terima kasih author udah bikin novel yg bagus ini...yg paling bikin seneng itu, HAPPY ENDING 😍💖...
#SUKSES SELALU AUTHOR ✨🌹