Kiran, seorang gadis cantik yang sederhana.
Dia tak menyangka bila pernikahannya dengan kekasih pilihannya tak berjalan baik-baik saja.
Begitu banyak lika liku yang harus dia hadapi setelah dirinya menikah dengan Dayat Saputra sang suami juga cinta pertamanya.
Ibu mertuanya yang kejam juga tak hentinya berusaha memisahkan mereka!
Akankah Kiran dapat bertahan dan mempertahankan keluarga kecilnya?
Atau akankah Kiran menyerah?
Penasaran?
Baca selengkapnya kisah mereka disini.....
.
.
Semoga kalian suka😁
Ini cerita pertama author, maaf kalo bahasa dan tanda baca masih kurang, masih proses belajar.
Mohon dukungannya yaa, jangan lupa tinggalin jejak bila kalian suka cerita ini.
Sebelumnya author berterima kasih untuk kalian yang bersedia membaca cerita ini😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellennola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nurma atau Suci?
Tak terasa hampir satu bulan sudah Ibu tak pulang kerumah.
Bapak dan mas Dayat juga sepertinya tak begitu peduli dengan ketiadaan Ibu dirumah ini.
Mereka adem ayem saja, tak melakukan apapun, juga tak mencoba mencari Ibu dimanapun.
Bahkan hari libur pun mereka lebih memilih bersamaku.
Mengajakku berlibur bersama, entah ke kebun binatang, alun-alun kota, atau sekedar bercengkrama ditaman sendiri, tepat di belakang rumah.
Bahkan mereka ikut membantuku didapur bila aku tengah sibuk membuat cemilan bersama mbak Kar, membuatku bahagia.
Tak jarang kami berempat tertawa bersama saat cemilan yang kami buat tak jelas bentuknya, terutama bentuk yang dibuat oleh Bapak serta mas Dayat, meski enak rasanya.
Karna memang masih dalam adonan yang kubuat, tentu rasanya pasti sama.
Setelah cemilan matang kami menikmati cemilan tersebut bersama, sembari menonton tv atau sembari duduk ditaman kecil dibelakang, seolah sedang rekreasi saja.
Mbak Kar juga selalu kuikutsertakan bila kami pergi, atau sekedar ngobrol.
Bapak dan mas Dayat juga merasa tak masalah sama sekali.
Mereka justru bersyukur aku jadi punya teman dirumah ini.
Tak ada rasa canggung bagi Bapak dan suamiku, membantuku memasak didapur, jadi semakin membuat kami terutama untukku, seperti satu keluarga yang utuh bahagia.
Baik Bapak ataupun suamiku sama sekali tak ada yang membahas soal ibu maupun berniat membujuk Ibu untuk segera pulang.
Sekedar mengirim pesan bertanya kapan akan kembali kerumah ini pun sepertinya tidak mereka lakukan.
Atau mencari dimana keberadaan Ibu yang sesungguhnya saat ini, padahal Ibu telah cukup lama kabur dari rumah.
Meski Bapak sudah memberitahuku bahwa Ibu tengah berada ditempat Nurma, tapi entahlah, biarkan saja.
Aku sendiri juga tak mau terlalu ikut campur.
Meski aku masih merasa tak enak hati pada Bapak.
Tapi aku tak berani lagi membahas soal Ibu.
Apalagi Bapak sendiri sepertinya sudah mulai cuek, dan seperti lupa bahwa dia memiliki seorang istri.
Beliau tetap melakoni aktifitas beliau seperti biasanya, sudah tak pernah kulihat Bapak melamun seperti saat sepulangku dari rumah Abah.
"Terserahlah", pikirku.
Toh dengan begini hidupku jadi lebih terasa damai dan adem tanpa adanya Ibu disini yang selalu menggangguku.
Bapak dan suamiku juga tak pernah meributkan apapun yang kulakukan dirumah ini.
Tak ada yang menyalahkanku, atau berteriak padaku agar melakukan ini, itu, harus seperti ini, atau seperti itu.
"Aahh, senangnyaa..",
hatiku jadi tenang sekali selama Ibu tak ada.
Bahkan aku dan mba Kar, asisten rumah tangga ibu, malah kian hari jadi semakin akrab denganku.
Katanya beliau sudah jadi art ibu bahkan sebelum ibu dipensiunkan, sudah lebih dari dua puluh tahun beliau bekerja pada mertuaku.
Menurutnya Ibu merupakan sosok majikan yang baik.
Mbak Kar sendiri juga sebenarnya bingung, kenapa Ibu seolah tak menyukaiku.
Dan bertanya apa alasannya.
Namun aku menutupinya, kubilang pada mbak Kar bahwa itu hanya perasaan beliau saja.
Mbak hanya mengangguk saja waktu itu, beliau juga pasti maklum aku tak ingin menceritakan hal yang sebenarnya.
Mbak Kar juga sering merasa kasian saat aku tengah kena omelan Ibu, tapi beliau tak berani menolongku, atau membelaku, karna beliau jelas takut hal itu akan berimbas pada pekerjaannya.
Aku maklum, aku sendiri juga pasti akan melakukan hal yang sama bila berada di posisi mbak Kar.
Pastilah lebih baik cari aman saja, agar perut keluarganya tetap bisa dapat terisi.
Pekerjaan rumah sudah selesai sedari tadi, karna memang ada mbak Kar yang setia membantuku.
Siang ini aku juga berniat membuat puding dan es krim untuk isi-isi kulkas.
Apalagi cuaca yang panas, pastilah cocok bila membuat sesuatu yang dingin.
Suamiku sedang tak enak badan hari ini, makanya dia tak bisa berangkat kerja, badannya panas sedari malam, untung aku sigap dengan kotak obat yang kupunya, jadi tak perlu kepuskesmas untuk priksan.
Alhamdulillah esok harinya panas mas Dayat sudah turun, sekarang sudah mendingan, katanya.
Pagi-pagi aku juga sudah membuat bubur ayam sebelum mbak Kar datang, tentu aku buat empat porsi sekalian, agar mbak Kar juga bisa ikut nyicip bubur yang kubuat.
"Enak mbak Kiran bubur ayamnya, makasih yah bibi dikasih jatah juga, hehe, kebetulan tadi bibi belum makan dari rumah, takut udah ditungguin mbak disini",
ujar mbak Kar saat kusuruh sarapan saat baru tiba tadi.
Puding dan es krim yang kubuat akhirnya jadi.
Untuk es krim sendiri sudah kumasukkan kedalam frezer agar cepat beku.
Untuk pudingnya berhubung belum dingin jadi masih kutaruh diatas meja.
Lalu dari luar aku seperti mendengar suara Ibu berteriak :
"Ibu pulaaangg..",
teriak Ibu dengan suara keras.
Aku dan mbak Kar yang masih didapur saling pandang, lalu bergegas keluar untuk menyambut Ibu.
Bapak dan mas Dayat juga turut keluar dari dalam kamar masing-masing.
Rupanya Ibu tak sendiri, dia bersama seorang gadis cantik, mungkin tak jauh usianya denganku.
Kulitnya putih mulus, rambut panjang hitamnya lurus tergerai.
Aku perlahan mulai mendekat.
Sedikit mengamati, seolah tak terasa asing bagiku.
Meski sang gadis masih terus saja menunduk malu.
Sedetik kemudian aku teringat :
"Loh Suci? Bagaimana kamu bisa kesini dengan Ibu?",
tanyaku setelah jarak kami begitu dekat.
Suci lalu mendongakkan kepalanya, lalu melihatku dengan pandangan heran.
"Loh Ran, kamu tinggal disini? Jadi maksud tante, wanita yang mas Dayat nikahi itu kamu?"
"Dunia begitu sempit rupanya yah Ran"
"Aku tak menyangka kamu istri mas Dayat",
ujar Suci dengan nada kaget juga gugup.
"Kalian saling kenal?"
"Kenal dimana?",
ujar Ibu dan mas Dayat berbarengan.
"Ini Nurma yank, yang pernah mas critain sama kamu."
"Ini Kiran, Nur, istri mas"
"Mas ngga tau kalo kalian saling kenal",
ujar mas Dayat heran sembari memperkenalkan kami.
"Duduk saja dulu Ci, biar lebih enak ngobrolnya"
"Silakan Pak, Bu, Ci, mas Dayat. Mbak Kar tolong buatin kami minum yah, sama sekalian puding yang tadi tolong bawa sini, sekalian cemilan yang kita buat kemarin sore", ujarku sembari duduk.
Kami duduk berjajar diruang tv.
Tentu tv tak kami nyalakan, agar tak mengganggu perbincangan kami.
"Nggih mbak Kiran, bibi siapkan sebentar",
mbak Kar langsung menuju dapur membuat minuman pesananku, juga mengambil puding yang kami barusan buat.
Jadi Suci itu tak lain adalah Nurma.
Dunia sungguh begitu sempit. Aku tak menyangka Suci dan Nurma adalah orang yang sama.
Aku sendiri tak mengingat jelas siapa kepanjangan Suci, biar aku tanya saja besok pada Eri.
"Kami saling kenal di 'Klik cafe', mas, bu, pak!",
ujarku mulai menjelaskan awal perkenalan kami.
"Ituloh tempat Kiran bekerja hingga saat ini"
"Tapi Suci hanya bekerja beberapa bulan saja bersama Kiran, iyakan Ci?"
Suci seperti masih tak percaya kalo aku istri mantan kekasihnya.
Dia terus menunduk entah memikirkan apa.
Aku sendiri juga tak menyangka Suci adalah wanita yang begitu suamiku cintai sewaktu dulu, bahkan aku jadi yakin bahwa suamiku pasti masih memiliki rasa pada Suci alias Nurma meski hanya sedikit.
Karna terlihat jelas dari binar mata suamiku yang terlihat begitu bahagia melihat kedatangannya bersama Ibu.
Aku juga tak menyangka bahwa kekasih yang Suci begitu cintai adalah mas Dayat, suamiku kini.
Aku pikir lelaki yang dia nikahi dulu adalah pria yang selalu Suci ceritakan padaku.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa begini, pertanda apa ini?",
batinku. Perasaanku sungguh menjadi tak tenang.
Apalagi kuingat mas Dayat bercerita bahwa Suci kini telah bercerai dari mantan suaminya, dan menjadi singgle parent, meski tak memiliki buah hati.
Tiba-tiba saja aku merasa cemas, jangan-jangan Ibu akan merencanakan sesuatu lagi padaku.
Atau Ibu akan menjodohkan mas Dayat kembali dengan Nurma?
Kugelengkan kepalaku, mencoba menghapus anganku yang bukan-bukan.
"Kenapa Ran? kamu pusing?",
ujar mas Dayat dengan tatapan khawatir.
Mungkin melihat aku menggelengkan kepalaku tadi.
"Hehe, ngga mas, Kiran baik-baik aja kok"
"Jadi benar Kiran rekan kerjamu dulu Nur?",
tanya Ibu tak sabaran, tak peduli padaku.
Karna suci terus saja menundukkan kepalanya.
Dia lalu mendongak sembari tersenyum.
"Iya tante, Ran teman Nurma bekerja dulu"
"Wah, dunia benar-benar sempit yah, tapi baguslah, jadi Ibu tak perlu repot-repot menyembunyikan kamu untuk bertemu putra Ibu"
"Bukannya Nurma kesini memang ingin melihat Dayat? Lihat kan, tante tak bohong, putra tante memang semakin hari kian tampan kan, Nur?",
ujar Ibu sama sekali tak memperdulikan perasaanku yang saat ini begitu tak karuan.
Aku benar-benar tak dianggap ada oleh Ibu.
Aku yang gusar akhirnya beranjak menuju kamar, rasanya kata-kata Ibu sungguh menusuk hatiku.
Dengan terang-terangan ibu tega mengiyakan apa yang kupikirkan.
"Ya sudah, silakan kalian mengobrol saja, Kiran tak mengganggu, Kiran tak masuk kamar dulu, permisi",
kataku sopan.
Kutahan air mata yang ingin keluar begitu saja.
"Hmm", ujar Ibu dengan sinis.
Mas Dayat juga sama sekali tak menahanku, membuat batinku makin berkecamuk.
"Yat, susul saja istrimu ke kamar, biar Nurma ngobrol sama kami, toh dia juga sudah bertemu denganmu kan",
ujar Bapak seolah peka apa yang kurasakan.
Suamiku tampak bimbang, pastilah banyak yang ingin dia obrolkan dengan Nurma.
Tapi pada akhirnya urung dia lakukan, mas Dayat beranjak menyusulku.
Ketika aku hampir masuk, mbak Kar rupanya baru selesai membuat minum untuk kami.
"Loh mbak Kiran mau masuk kamar? Lah ini minuman mbak sama mas gimana?,
ujar mbak Kar.
"Punya kami taruh dimeja makan saja bi, nanti kami minum",
ujar mas Dayat menyauti dari belakangku.
Aku hanya mengangguk pada mbak Kar.
"Oh, baik mas",
ujar mbak Kar sembari mengantar tiga gelas lainnya beserta puding yang kami buat tadi untuk sandingan Bapak, Ibu dan Nurma diruang tv.
Dikamar aku langsung berbaring, menyembunyikan tangisku dengan bantal guling.
Mas Dayat menghampiri menenangkanku.
"Kenapa yank, kok nangis?"
"Sayang mikirin ucapan Ibu lagi?"
"Sayang tenang yah, apapun yang terjadi, mas akan selalu berada disamping sayang"
"Tak ada yang akan memisahkan kita, sekalipun itu Nurma"
"Mas janji, cuma sayang satu-satunya wanita yang akan berada disisi mas"
"Sayang tak perlu mengkhawatirkan apapun"
"Mas akan selalu ada buat sayang, sudah yah, jangan nangis lagi, nanti cantiknya ilang loh", kata mas Dayat sembari mengelus kepalaku agar aku tenang.
"Apa mas tak sadar? Ibu dengan terang-terangan hendak menyatukan mas kembali dengan mantan mas, Nurma, atau mesti Kiran panggil Suci?"
"Bagaimana Kiran tak merasa sedih, bila Ibu begitu? Bahkan Ibu tadi tak menganggap Kiran ada, padahal Kiran tepat disampingnya",
aku berkata sembari terus menangis.
"Sudah-sudah yank! Mas janji ngga ada yang akan terjadi dengan kita, dengan pernikahan kita"
"Mas akan selalu ada disamping sayang apapun yang terjadi, tak akan membiarkan sayang sendirian"
"Mas janji tak akan meninggalkan sayang sampai kapanpun"
"Sayang tenang yah"
"Sudah ah, jangan nangis lagi, masa wanita mas lemah begini, kan sayang mas selalu kuat",
mas Dayat menggodaku.
Janji suamiku akhirnya bisa membuatku tenang.
Mas Dayat membantu menghapus airmataku, lalu menyuruhku untuk mencuci muka.
Aku manut, lalu beranjak mencuci mukaku, kupakai bedak tipis untuk menyamarkan wajahku yang sembab.
Lalu terdengar suara ketukan pintu diluar :
"Tok tok", pintu diketuk.
"Mbak, mas ,kata Bapak, mba sama mas disuruh keluar, itu mbak Nurmanya mau pamit pulang",
ujar mbak Kar dari luar.
"Iya bi, kami keluar sebentar lagi",
ujarku sembari berteriak sedikit, takut mbak Kar tak mendengar.
Aku melihat diriku kembali didepan cermin, untunglah sudah tak terlihat kalo aku habis menangis.
Mas Dayat masih menungguku dengan sabar didekat pintu, lalu aku bergegas menghampiri, Mas Dayat memegang tanganku dengat erat, lalu melangkah keluar.
Genggaman tangan mas Dayat cukup untuk kembali menghangatkan hatiku.
"Disuruh keluar aja lama banget sih kalian, kasian kan nak Nurma jadi nunggu lama"
"Dasar leled", ujar Ibu dengan nada ketusnya.
"Ngga apa-apa kok tante, mungkin Ran dan mas Dayat tadi sibuk, makanya lama",
ujar Nurma mencoba menenangkan Ibu.
"Iya nak, kamu memang benar-benar menantu idaman Ibu, udah cantik, lembut bicaranya, sabar lagi sama Ibu"
"Ngga kaya itu tuh, menantu Ibu yang ngga ada akhlaknya",
ujar ibu memalingkan wajahnya menatapku tajam.
Aku hanya diam, beristighfar banyak-banyak didalam hati, berharap diberi kekuatan oleh sang pencipta.
Nurma diam saja tak menanggapi ucapan Ibu, pastinya karna tak enak padaku.
"Ya udah, tante, om, Ran sama mas Dayat, saya pamit dulu yah, permisi",
sembari menyalami tangan kami semua.
Nurma mulai melangkah keluar, tapi Ibu kembali memanggilnya :
"Tunggu nak, biar putra Ibu mengantar kamu sampai kerumah."
"Sana Yat, kamu antar nak Nurma sampai ke rumah, Ibu takut ada apa-apa sama dia nanti selama diperjalanan",
ujar Ibu menyuruh suamiku.
Mas Dayat memandangku seolah meminta persetujuanku.
Aku hanya mengangguk pelan, meski sebenarnya hatiku sungguh tak rela.
Tapi Ibu terus saja menatapku tajam, jadi mau tak mau kuiyakan saja daripada Ibu mengajakku ribut kembali.
Tapi Bapak melarang, Bapak mertua benar-benar pahlawan buatku.
"Tak perlu kamu antar Nurma Yat, jangan dengarkan perintah Ibumu"
"Pikirkan bagaimana perasaan istrimu, kalo kamu mengantar wanita lain"
"Biar kamu dirumah saja sama Kiran"
"Toh nak Nurma juga bawa mobil sendiri kan nak? Apalagi sekarang belum terlalu larut"
"Nak Nurma bisa kan pulang sendiri?",
kata Bapak.
Kulihat Ibu mencebikkan bibirnya tak suka, karna Bapak masih terus membelaku.
"Iya Om, bisa kok, lagian rumah Nurma juga ngga terlalu jauh dari sini"
"Ya udah kalo begitu saya pamit pulang dulu, Om, Tante, permisi"
Akhirnya Nurma pun pulang kerumahnya, tentu kami mengantar sampai depan rumah.
Setelah Nurma pergi, kami kembali masuk kedalam.
Kudengar Ibu kembali mengumpat padaku, meski lirih.
"Dasar menantu pembawa sial", ucap Ibu.
Kubiarkan saja, aku kembali menuju kamar untuk tidur lebih awal.
Mbak Kar tentu sudah pulang sebelum Nurma pulang tadi, tentu lewat pintu belakang.
Aku merasa kasian pada mbak Kar, dia mesti pulang sehabis maghrib, padahal jam kerjanya hanya sampai jam lima sore saja.
Pastilah dia tak enak karna ada tamu yang datang.
Menunggu Nurma yang tak kunjung pulang, pasti mbak Kar jadi nekat pulang, mungkin khawatir suami dan anaknya nanti mencarinya.
Meski sebenarnya rumah mbak Kar tak jauh dari sini, hanya berjarak sepuluh rumah dari rumah mertuaku.
Aku maklum saja, beliau pasti bingung mau pamit pada siapa tadi, takut mengganggu juga pastinya.
Sedang sekarang sudah pukul delapan malam.
Cukup lama Nurma ngobrol dengan mertuaku.
Aku akhirnya berbaring dan terlelap tidur.
Tak kupedulikan mas Dayat yang masih duduk diluar bermain hape.
Rasanya aku benar-benar lelah.
.
.
.
.
Hai hai, jangan lupa tinggalin jejak yah bila kalian suka part ini😁
Jangan lupa like, dan dukung author biar author lebih semangat lagi Up cerita ini😀
Atas dukungan kalian author ucapin terima kasih.
Semoga kita selalu diberikan kesehatan, dan semoga pandemi covid19 bisa segera berakhir.😇
Salam sehat semua, tetap semangat!!😇💪
#ngayalngarep
ini cerita.a bagus bgt tpi ndk d lanjutin sayanggg