Sebuah kotak yang diwariskan turun temurun akhirnya jatuh ditangannya, tanpa sengaja berhasil membukanya dan memperoleh sebuah benih peradaban, tapi bagaimana kalau bukan hanya itu? bagaimana jika sebuah cahaya kecil mewakili teknologi juga tertarik dengan benih itu dan menjadi milik orang itu juga
Disinilah cerita bermula dari seorang anak biasa menjadi pemilik alam semesta
ikuti Yogi dalam menaklukkan alam semesta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan asli yang terbongkar
Citra yang kaget dan tidak memiliki cara untuk menghindari kecepatan peluru dan dengan terpaksa Citra harus menggunakan kekuatan pikiran untuk menyelamatkan nyawanya.
"Apa apaan ini? makhluk mutan?" Alfa tiba tiba bergumam dan terlihat meragukan penglihatannya.
peluru terhenti begitu mendekati Citra dan jatuh kebawah seolah ada dinding tidak terlihat yang melindungi Citra dari peluru peluru itu.
Hal ini membuat orang orang yang melihatnya bingung dan mengira mereka salah lihat tetapi setelah menggosok matanya berkali kali mereka menyadari kalau ini nyata.
Citra kemudian mengeluarkan belati yang disimpannya sebelumnya dan melangkah maju dengan perlahan, peluru yang sebelumnya terhenti mulai jatuh ke lantai.
Sebelumnya Citra berencana untuk melawan Alfa setelah melepaskan Alvin yang sekarang sekarat karena kekurangan darah tapi tembakan dari Alfa tadi membuat Citra harus menggunakan kekuatan pikiran didepan banyak orang jadi Citra tidak ingin berpura pura lagi dan akan menggunakan kekuatan penuhnya.
Citra mengangkat tangannya ke depan searah dengan Alfa dan Alvin, Alvin yang ditahan oleh Alfa langsung terangkat sedikit dan terbang menuju Citra.
Alfa mencoba menahannya namun dia merasa setiap gerakan tubuhnya dihentikan secara paksa jadi dia hanya bisa melihat Alvin yang perlahan menuju Citra.
"Jangan salahkan aku, kau yang membuatku memakai ini" Citra berbicara dengan nada dingin kepada Alfa.
Sementara Alfa masih tidak bergerak karena gerakannya ditahan oleh kekuatan pikiran Citra, 3 orang perampok lainnya sepertinya ketakutan melihat apa yang dilakukan oleh Citra.
"Hantu!" Salah satu perampok berteriak dan mulai berlari keluar dari supermarket.
Perampok itu keluar tanpa memikirkan bahwa disana ada kepolisian dan militer yang berjaga dan siap menangkap mereka atau bahkan menembak mati ditempat, dirinya dipenuhi ketakutan dengan hal 'gaib' yang ada dipikirannya.
Para sandera juga ingin lari keluar tapi masih ada 2 orang perampok yang menjaga mereka, meskipun dapat dilihat mereka gemetaran tapi tetap saja mereka bersenjata jadi para sandera hanya bisa mengurungkan niatnya.
Citra tidak peduli dengan perampok yang kabur, bagian luar supermarket sudah dikelilingi oleh kepolisian dan militer yang selalu siap siaga.
Citra menangkap Alvin yang sudah ada di hadapannya dan meletakan Alvin di lantai dengan posisi yang nyaman untuk orang terluka, Citra juga menghentikan pendarahannya menggunakan kekuatan pikiran.
"Dasar iblis, lepaskan aku!" Alfa berteriak kencang tapi tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena ditahan oleh kekuatan pikiran Citra.
Citra mendengar perkataan Alfa hanya balas menatapnya dengan dingin kemudian pisau dan belati yang sebelumnya dilempar oleh Citra dan yang ada di tangannya mulai terbang menuju Alfa.
Alfa terlihat panik melihat pisau dan belati yang terbang menuju dirinya menutup matanya dan berharap semoga itu tidak menyakitkan.
"Sepertinya kau belum menyadari dimana posisi yang kau miliki sekarang" Alfa mendengar suara Citra dan membuka matanya, yang ada di depannya adalah pisau yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
Kembali ke pihak kepolisian dan militer yang berjaga di luar saat ini, setelah mendengar tembakan pertama pihak kepolisian dan militer sudah mulai bersiap untuk masuk.
Beberapa tembakan terus terdengar dalam 5 menit terakhir dan hal ini membuat orang orang mulai merasakan ada yang salah dengan tembakan itu.
"Apa para perampok di dalam mulai bertengkar?" kapten mulai memikirkan situasi di dalam supermarket.
Kapten mulai menebak berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi tapi sebuah laporan dari seorang tentara mengganggu pikirannya saat ini.
"Lapor kapten, ada seseorang yang keluar dari supermarket, diduga orang ini adalah salah satu kelompok perampok yang membajak supermarket" prajurit itu melapor.
"Dimana dia sekarang" kapten bertanya kepada prajurit itu.
"Dia sudah kami tangkap setelah dia keluar dari supermarket tadi" Prajurit itu menanggapi sang kapten.
Kapten kembali memikirkan kejadian tembakan dan ledakan sebelumnya serta kejadian perampok yang berlari keluar dari supermarket dan menghubungkannya, dia terus berpikir dan melihat prajurit itu masih ada ditempatnya.
"Apa masih ada yang perlu dilaporkan?" kapten bertanya kepada prajurit yang masih tinggal itu.
"Ya kapten, setelah interogasi singkat dari perampok ini kami menemukan beberapa hal, dia berkata bahwa seorang gadis dan pacarnya berhasil merebut senjata mereka dan mengalahkan lebih dari setengah jumlah perampok sendirian" prajurit menjelaskan hal hal yang mereka dapat dari interogasi namun di akhir dia terlihat agak ragu untuk melanjutkan.
Kapten yang melihat prajurit itu ragu untuk melanjutkan lantas bertanya "Apa ada hal lainnya yang perampok itu katakan?"
"Itu… perampok itu berkata bahwa gadis yang melawan mereka bisa menghentikan peluru dengan dinding tak terlihat dan juga bisa menerbangkan orang lain" prajurit akhirnya mengatakan hal yang agak bertentangan dengan akal sehat manusia saat ini dan membuat kapten mengerutkan keningnya.
Kapten diam untuk beberapa saat, dia terlihat sedang berpikir dan kemudian mengangguk tanpa ada yang tau apa yang dipikirkannya, kapten kemudian memberi perintah untuk menerobos masuk ke dalam supermarket.
Dengan lebih dari setengah anggota perampok terluka dan tidak bisa bertarung sangat mudah untuk mengalahkan para perampok ini dan korban jiwa bisa ditekan bahkan ditiadakan, sedangkan untuk gadis yang dimaksud oleh perampok itu dia bisa mengurusnya nanti.
Segera setelah menerima perintah dari atasan para pasukan khusus kepolisian mulai memasuki supermarket dengan cepat dan dalam keadaan siaga.
"Amankan para sandera dan tangkap perampok yang ada" pemimpin regu memberi perintah kepada yang lainnya dan mereka terus bergerak maju dengan cepat.
Mereka masuk dengan mudah dan tidak ada perlawanan sama sekali dari para perampok yang ada, tidak lama kemudian mereka sampai ke tengah supermarket dan melihat ratusan orang duduk tercengang melihat seorang gadis yang merentangkan tangannya ke depan.
Mereka juga menemukan 3 orang dengan topeng dan senjata tapi yang mengejutkannya ada satu atau dua pisau yang melayang di dekat mereka dan ujungnya mengarah ke arah mereka sendiri.
Apa yang dilihat regu ini juga dilihat oleh orang orang di ruang komando yang ada di depan supermarket saat ini, kapten melihat pisau yang melayang tanpa mengikuti gravitasi yang ada, jika dia tidak tau bahwa ini adalah siaran real time yang diambil oleh salah satu anggota regu maka dia akan dengan tegas mengatakan ini efek khusus tanpa mau berdebat sedikitpun.
"Perintahkan pasukan khusus untuk membawa gadis tadi juga setelah berhasil menangkap semua perampok" kapten memberikan perintah baru dan perintah ini diteruskan kepada pasukan khusus yang ada di dalam supermarket.
Pasukan khusus melakukan apa yang diperintahkan komandan dan dengan cepat menangkap semua perampok termasuk 4 orang perampok yang dikalahkan di toilet sebelumnya, mereka juga memberikan pertolongan pertama kepada perampok yang terkena tembakan Citra sebelumnya dan tentunya mengevakuasi semua sandera termasuk Citra dan Alvin.
Citra saat ini sudah melepaskan semua kendali kekuatan pikirannya termasuk kekuatan pikiran yang digunakan untuk menghentikan pendarahan di tangan Alvin sebelumnya, setelah pertolongan pertama dilakukan pendarahan sudah sepenuhnya terhenti jadi tidak perlu menggunakan kekuatan pikiran Citra untuk menahannya.
Citra melihat tangan kanan Alvin yang berbalut perban dan sudah tidak utuh lagi tapi Alvin masih bisa tersenyum saat ini dan sesekali bercanda dengannya.
"Jangan terus melirik tanganku, nanti juga tumbuh nih jadi tenang aja" Alvin bercanda sambil mengayunkan tangan yang hanya tersisa sampai siku saja.
Citra tidak tau harus tertawa atau menangis mendengar candaan dari kakak tingkatnya ini tapi dia mengingat perkembangan Ares yang sangat cepat jadi pasti bisa menyelesaikan masalah ini dalam beberapa tahun atau bulan.
"Ya, itu akan tumbuh nanti, jika tidak maka tinggal beli yang baru" Citra membalas candaan Alvin tapi jika diperhatikan lebih detail terkandung keseriusan dalam kata katanya.
Mereka kemudian melanjutkan pembicaraan seperti biasa dan beberapa candaan, Alvin belum bertanya apapun mengenai hal hal yang yang disembunyikan Citra dan masih bersikap seperti hal aneh di dalam diri Citra tidaklah ada.
Saat keduanya sedang asik berbicara dua orang laki laki dengan seragam polisi menghampiri mereka atau lebih tepatnya menghampiri Citra.
"Dengan saudari Citra?" Polisi itu bertanya dan hanya dibalas anggukan oleh Citra.
"Kami mendapat perintah dari atasan untuk melakukan pemeriksaan terhadap anda atas tuduhan penggunaan senjata api ilegal" polisi itu mengeluarkan surat tugas mereka dan memborgol Citra.
Citra yang masih kebingungan dengan penangkapan ini tiba tiba sadar saat dirinya telah diborgol oleh keduanya dan dipaksa untuk berjalan menjauh.
Citra yang sudah kesal dengan perlakuan mereka yang kasar kemudian berhenti dan tidak lagi berjalan mengikuti mereka, dia menatap mereka dengan tajam dan melihat kedua polisi ini mulai waspada.
"Kalian sepertinya salah paham disini, meskipun aku menggunakan senjata api saat itu tapi aku menggunakannya untuk menjaga diri dari para perampok, apakah membela diri dilarang di negara kita?" Citra bertanya dengan kesal kepada mereka .
Hal ini membuat Citra tidak bisa berkata kata dan sedikit heran dengan hukum negara ini yang mana bahkan membela diri bisa menjadi pelaku kejahatan tapi sebagai orang biasa Citra tidak bisa melawan dan setelah beberapa kali penjelasan "kami hanya menjalankan tugas" akhirnya Citra mengikuti mereka dengan terpaksa.