Sarah Adelia menjalin kisah percintaan selama 7 tahun lebih dengan pacar pertamanya sewaktu kuliah bernama Reza Rahmawan.
Disela persiapan pernikahan yang mereka sudah rencanakan mendadak Reza dijodohkan oleh orang tuanya. Ditengan kegalauan menunggu Reza, datanglah seorang laki-laki yang ia ketahui berprofesi sebagai pengemudi taxi online.
Akhirnya ia memilih lelaki tersebut tanpa ia ketahui ternyata pengemudi itu merupakan bosnya di tempat kerja.
"Mbak mau gak jadi pacarku yang hanya seorang driver ini" tanya Ocep kepadaku
"Ehm aku gak pernah masalah dengan pekerjaan seseorang, harta kita bisa cari bersama tetapi kesetian dan komitmen untuk selalu bersama dalam suka dan duka itu yang utama" jawabku yakin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girang_Hari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Aku bangun pagi-pagi karena sudah terbiasa. Malam tadi aku juga sudah mengirimkan pesan ke Bu Mia bahwa hari ini aku tidak kekantor dan akan beristirahat selama 1 minggu karena bengkak dikaki ku ini .Kulihat ponselku ada pesan dari Reza.
"Sarah lagi apa? Sudah makan malam?" tulis pesannya.
Aku tidak membalasnya, karna sekarang aku sudah berpacaran dengan Ocep, aku akan memulai hari ku kedepan dengannya. Saat sudah sampai dirumah semalam Ocep juga menelepon ku sekitar satu jam, ia sangat manis baik dari penampilan maupun ucapannya, tipe bad boy seperti Ocep memang sangat menawan makanya aku harus berhati-hati. Seperti semalam saja dia sudah berani mengecup bibirku, dulu dengan Reza ia baru berani mencium bibirku setelah 6 bulan berpacaran.
Aku masih berada dikasurku dan tiba-tiba ada telpon dari Reza kemudian kuangkat telponnya.
"Sarah aku sudah depan kos, mau berangkat bareng" tanya nya dengan suara lembut.
"Gak Za kamu duluan aja, Za plis kamu gak usah lakuin ini lagi,kita jalan masing-masing aja okey, inget Za kamu udah nikah" kututup panggilannya , dan aku tidak mengatakan juga bahwa aku tidak masuk kekantor karna sakit. Kadang aku capek dengan Reza kenapa dia tidak memahami keadaan kami sekarang, aku sudah mengatakan bahwa hubungan kami sudah berakhir tetapi Ia masih terus mempertahankan.
Aku berjalan pelan kekamar mandi untuk membersihkan badanku, disaat seperti ini aku merindukan keluargaku. Aku juga sengaja tidak memberi tahu mereka agar tidak khawatir, ternyata hidup sendiri disini sangat susah, meskipun sekarang aku punya Ocep tapi aku belum bisa banyak mengandalkannya karna sejujurnya kami belum lama mengenal. Kupikir-pikir apakah Ocep hanya sekedar pelarian saja dari Reza, semoga saja bukan.
Saat keluar dari kamar mandi, kulihat Ocep berdiri depan kamarku , ia memakai celana bahan dan kaos oblong warna putih sembari membawa tongkat, kemudian ia melihatku dan mendekatiku.
"Pagi cantik" ia mengecup keningku.
"Aku bantuin ya" tiba-tiba saja ia menggendongku ala brides style, karena kaget akupun berteriak.
"Arggg Ocep"
"Ssstt jangan teriak nanti pada bangun"
"Kamu ngagetin aja sih,lagian udah gak ada orang jam segini kan pada kerja" aku merangkul lehernya.
Kamipun masuk kekamarku , ia menutup pintu dengan kakinya dan ia meletakanku di kasur.
"Asyik dong gak ada orang, kita bisa bebas" ia kembali mengecup bibirku.
"Enak aja" aku memukul bahunya.
"Kamu pagi-pagi kesini emang gak kerja, kalau pagi gini kan banyak yang pakai taxi online" aku melihat ponselku sekilas.
"Tadi udah sekalian kesini, setelah ini aku pergi lagi, aku malam baru kesini lagi gak apa-apa kan, biar setoran kekamu lancar" ia kembali membuka pintu kamar dan mengambil tongkat yang tadi dibawanya.
"Kamu pakai ini ya, biar gak susah kalau ke kamar mandi, jangan turun dulu minta tolong sama mbak penjaga kos aja ya kalau pesan makanan" ku terima tongkatnya dan coba berjalan dengan alat itu. Lumayan membantu ku berjalan.
"Iya Mas, makasih ya" aku tersenyum kepadanya
"Makasih doang nih" ia mengambil tongkat yang kupegang kemudian memegang pinggangku. Aku kesusahan berdiri dan merangkul lehernya. Ia pelan-pelan mendekat kebibirku kemudian menempelkan bibirnya ke bibirku, aku masih terdiam, aku bisa merasakan sedikit sisa-sisa aroma tembakau di bibirnya, sepertinya Ocep seorang perokok berbeda dengan Reza. Kemudian ia mulai ******* bibir bawahku pelan-pelan dan menggigitnya berkali-kali. Lidahnya pun mencoba masuk ke mulutku, kubuka mulutku sedikit dan lidah kami pun bertemu, lama kami saling beradu dalam ciuman tersebut. Bagaimana cara ia menciumku terlihat ia sangat ahli dan sering melakukannya. Sungguh ini sensasi berbeda dari yang sebelumnya kami lakukan, tanpa sadar ternyata sekarang aku ada diatas pangkuannya. Aku menginginkan lebih dari ini, mataku terpejam sambil menikmati ciumanku dengannya, seketika Ocep menarik bibirnya dari ku.
"Cukup Yang besok lagi ya, bisa gawat ini kalau diterusin " ia tersenyum nakal didepan wajahku. Sungguh laki-laki ini sangat berbahaya. Aku pun mengangguk sambil menetralkan jantungku. Aku masih duduk dipangkuannya dan merasakan sesuatu yang mengeras dibawah sana, dan sadar aku langsung berdiri tapi karna kaki ku masih sakit sehingga aku pun terjatuh dengan kencang ke pangkuannya kembali. Ocep refleks teriak.
"Sshitt, Yang bisa hancur ini masa depanku" aku kemudian bergeser dan duduk disebelahnya.
"Maaf ya Mas aku gak sengaja beneran, sakit banget ya" bodohnya diriku aku mengelus-elus bagian tersebut agar tidak sakit.
"Yang kamu ngapain " ia memandangku dan aku tersadar akan kebodohanku.
"Maaf Mas, duh koq aku jadi bego gini ya" aku malu sekali atas apa yang kulakukan dengannya barusan.
"Mau dilanjutin lagi nih, tapi kaki kamu sakit nanti susah " ia menggoda ku smabil mengusap pipiku.
"Ih enggaklah, aku gak sengaja tadi" aku menurunkan tangannya yang ada dipipiku.
"Gimana Yang ukurannya menurut kamu, pas gak sama bayangan kamu" ia menaikkan kedua alisnya.
"Ihh mesum banget sih kamu Cep" aku mengalihkan pandangan dari dirinya.
"Udah sana kerja nanti gak dapat uang, gak bisa traktir aku lagi" aku mendorongnya bersamaan dengan bunyi di ponselnya. Kembali nama Mami muncul, ia pun langsung menjawabnya
"Iya Mi"
"Sebentar Mi masih ada urusan"
"Iya iya paham",sambungan iya putuskan.
"Aku tinggal ya Yang sekarang"
"Siapa itu Mami" tanyaku penasaran.
"Kapan-kapan aku kenalin, semacam bos aku gtu, aku pergi sekarang ya" ia mengecup bibirku kembali. Aku mengangguk, dan malas bertanya lebih lanjut.
Ocep pergi dari kamarku, aku sungguh harus berhati-hati dengannya. Pesona seorang bad boy memang susah dihindari kaum wanita.
Hari semakin siang, karna tidak bisa melakukan hal apapun akhirnya aku tertidur. Ponsel ku berbunyi dengan setengah ngantuk aku mengangkatnya.
"Halo dengan Ibu Sara Adelia"
"Iya benar dari siapa"
"Perkenalkan Bu, saya Nina HR Recruitment dari ADNGrup, ingin mengundang Ibu untuk hadir pada tahap interview dengan User yang bersangkutan di Hari Kamis, apakah Ibu bisa ?" tanya nya
"Iya saya bisa Bu, pasti saya hadir" jawabku antusias
"Baik detail nya akan saya emailkan sesuai dengan alamat email yang diberikan kekami, selamat siang"
Senang sekali aku medengar panggilan interview barusan, semoga saja ini menjadi kabar baik untukku.
Tok tok tok.
Pintu kamar ku ada yang mengetuk, Ocep mungkin tadi kan dia bilang akan kesini, tapi ini masih siang. Ku berjalan pelan-pelan menuju pintu dan membukanya, dan kulihat Reza ada dihadapanku sambil membawa kantung plastik berisi makanan.
"Kamu koq gak bilang kalau sakit, ini aku beliin makanan kesukaan kamu." Aku mengambil plastik yang di tangannya.
"Aku gak boleh masuk?" tanya ya
"Masuk Za" aku kemudian memberikan ruang agar ia masuk kekamar.
"Makasih makannya" kemudian aku duduk dikursi dan ia masih berdiri didepanku.
"Masih bengkak?, sudah dibawa ke dokter?, kamu jatuh dimana sampai kaya gini?" kemudian ia berjongkok dan melihat pergelangan kaki ku yang bengkak.
"Nanya nya banyak banget, kenapa kamu kesini ini kan masih jam kerja" ia kemudian berdiri.
"Tadi abis dari ketemu konsultan mampir sebentar lihat kamu" ia membelai rambutku pelan.
"Za please jangan kaya gini" aku pun menangis lagi, aku tidak tahan harus bagaimana.
"Please Za lepasin aku" ia kemudian memelukku.
"Maaf Sar aku belum bisa, aku bodoh banget bisa nerima pernikahan ini, aku menderita jauh dari kamu" Reza pun menangis dibahuku.
"Za kalau memang kita berjodoh pasti akan ada jalan tapi tidak seperti ini, kamu sebagai laki-laki harus berkomitmen dengan apa yang telah kamu pilih, jangan pikirin aku lagi, aku baik-baik saja dan aku juga berhak untuk bahagia dengan orang lain, aku sudah punya pacar Za" Reza melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahuku.
"Sama laki-laki itu"
Aku hanya mengangguk
"Kamu cinta sama dia?"
"Untuk sekarang aku belum tau itu cinta atau bukan yang pasti aku nyaman sama dia" aku menjawab dengan pasti.
"Kamu harus buktikan kalau kamu bahagia dengan orang itu baru aku akan lepasin kamu" Reza berdiri dan membuka pintu kamarku kemudian pergi. Tak berselang lama Ocep datang.
tbc
wkwkwkwk
jadi keinget kisah sendiri 😭😅🤣,,,
ingat karma itu ada, kamu rusak kebahagian org,. org lain jg akn merusak kebahagian mu kelak