Seorang wanita yang hidup hanya berdua dengan adik laki-lakinya, namun sang adik selalu saja membuat masalah sampai membuat sang kakak harus membereskan masalah yang di buatnya, dari masalah yang datang kepadanya di situlah dia di pertemukan dengan seorang pria yang akan masuk di kehidupan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurmay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zidan or Afdhal
Kehidupan Syafa berjalan dengan baik, ya dia saat ini bekerja di rumah sakit tempat Afdhal bekerja sebagai asisten dokter yang tak lain Afdhal sendiri.
Perlahan ia telah melupakan kepahitan hidup nya yang sulit di lupakan itu, ya dia mengakui kalau pernikahan singkatnya telah menumbuhkan perasaan yang tidak wajar baginya.
Ya dia menganggap perasaan yang dia rasakan untuk Zidan tidaklah wajar karena pernikahan itu hanyalah sandiwara dimana dia menjadi peran utamanya sebagai istri pura-pura dan Zidan sebagai suaminya.
Afdhal yang selalu ada di samping Syafa, yang selalu ada buat Syafa, yang selalu siap kapanpun Syafa butuhkan, tapi Syafa tak pernah sadar akan perasaan Afdhal yang inginkan di balasnya, ya Syafa bersikap biasa saja bukan tanpa alasan ia seperti itu karena hanya menganggap Afdhal sebagai sahabat nya.
Entah karena perasaan nya masih tertuju ke Zidan atau memang Syafa belum menyadarinya.
Seperti biasa Syafa yang selalu di jemput Afdhal untuk berangkat bareng ke rumah sakit sedang menunggu nya di halte yang ada di depan gang rumah nya.
Sembari menunggu ia memainkan ponselnya yang belum lama ia beli dari hasil kerjanya di rumah sakit, tiba-tiba ada mobil yang berhenti tepat di depan nya dan berjalan ke arahnya tapi Syafa tidak mempedulikan nya, tapi saat dia melihat ujung sepatu yang mengkilap yang dia kira itu adalah Afdhal, Syafa langsung mengangkat kepalanya. '' Af, kau sudah datang?'' ucapnya dengan senyum manisnya namun senyum itu seketika luntur karena yang dia kira Afdhal ternyata orang yang ingin dia lupakan.
'' Pak Zi-Zidan.'' Ucap Syafa dengan gugup.
Zidan tidak berkata apa-apa, dia hanya menatap Syafa di balik kaca mata hitamnya terlebih lagi Syafa yang sebelumnya menyebutkan nama orang lain bukan dirinya karena memang yang dia kira bukan dirinya.
'' Zidan, bukan Af.'' Ucap Zidan dengan nada datarnya.
'' Maaf pak, saya kira bapak,,''
Zidan memotong ucapan Syafa dengan memberi tanda stop pada tangannya.
Zidan kembali diam memperhatikan penampilan Syafa yang menggunakan pakaian rapih dengan jas berwarna putih.
'' Penampilan Syafa sangat berbeda sekali,'' ucapnya dalam hati.
'' Bapak, ada apa kesini?'' tanya Syafa tanpa basa basi.
Zidan yang mendapatkan pertanyaan itu segera berdehem untuk menetralkan gerogi nya.
'' Saya ingin menyampaikan pesan Oma, saat ini Oma sedang sakit parah dan dia meminta ku untuk membawa mu padanya,'' ucap Zidan dengan raut yang sendu walau ia berusaha untuk menutupi nya dengan wajah datarnya namun Syafa yang sangat paham raut wajah Zidan bisa langsung paham.
'' Oma sakit? terus bagaimana keadaan Oma pak?'' tanya Syafa dengan khawatir.
'' Yang seperti saya bilang, keadaan nya semakin hari semakin memburuk,'' jawabnya.
'' Tapi pak, saya mau berangkat bekerja,'' Syafa di landa kebingungan, di satu sisi dia harus bekerja dan di sisi lain hatinya ingin sekali menemui wanita rentah yang sudah di anggapnya sebagai neneknya sendiri.
'' Sya, ikut saja dengannya,'' ucap seseorang yang baru aja menghampiri mereka.
Keduanya menoleh dengan berbarengan dengan tatapan berbeda, Zidan yang menatap sinis Afdhal, dan Syafa yang menatap Afdhal dengan raut wajah yang tersenyum.
Ya sedari tadi Afdhal telah datang dan tidak sengaja mendengar perbincangan Syafa dan pria yang dia tau adalah mantan suami Syafa.
'' Apa enggak apa-apa kalau aku libur, Af?'' ucap Syafa dengan rasa yang tidak enak.
Zidan tersenyum mendengar ucapan Syafa dengan di barengi raut wajah yang menggemaskan baginya. '' Enggak apa Sya, kamu tenang saja,'' balas Afdhal.
Syafa yang senang tidak sadar dengan tindakan nya kalau membuat Zidan dan Afdhal terkejut, ya Syafa yang langsung memeluk Afdhal dan mengucapkan terima kasih tentu membuat Afdhal terkejut karena jantung nya seketika seperti di pompa dengan kencang.
Dan membuat Zidan tercengang melihat tindakan Syafa, entah kenapa dia merasa muak melihat adegan itu, Zidan pun membuang pandangannya ke arah lain dengan perasaan yang marah.
'' Terimakasih ya, Af.'' Ucap Syafa dengan senang.
'' Hah? iy-iya Sya, ya sudah sana pergi.'' jawab Afdhal dengan gugup.
'' Bang, saya titip Syafa,'' ucap Afdhal dengan memanggil Zidan dengan sebutan Abang.
'' Bang? memangnya dia kira saya penjual bakso,'' gerutu Zidan dalam hati yang tidak terima dengan panggilan Afdhal untuk nya.
Afdhal berlalu meninggalkan Syafa dan Zidan setelah mengusap lembut kepala Syafa.
'' Hati-hati Af!!'' teriak Syafa melambaikan tangannya ke arah Afdhal yang sudah berada di dalam mobil dan menatapnya.
'' Ya kau juga!'' balas Afdhal dengan senyum manisnya.
'' Hiissshh sangat drama,'' gumam Zidan dengan ketus.
'' Siapa yang bapak maksud drama?'' tanya Syafa yang ternyata mendengar gumaman Zidan.
'' Tidak, cepat masuklah.'' Ucap Zidan yang langsung masuk ke mobilnya dengan diikuti Syafa yang juga masuk ke dalam mobil namun bukan masuk ke bagian kursi depan melainkan Syafa malah masuk ke dalam bagian belakang.
'' Ck, pindah. Memangnya kau pikir aku ini supir mu,'' decak kesal Zidan.
'' Enggak mau, saya maunya di belakang, atau saya tidak jadi ikut,'' ancam Syafa yang semakin membuat Zidan merasa kesal.
'' Ck, terserah lah,'' pasrah Zidan yang langsung masuk dan menutup pintu dengan membanting nya sangat keras.
'' Awas pak pintunya rusak,'' cetus Syafa.
'' Diam lah,'' ketus Zidan lagi.
Zidan pun mengendarai mobil nya dengan sedikit kencang, ia kesal karena sikap Syafa yang tidak lagi seperti dulu.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit daerah kota, Zidan yang keluar dari dalam mobil dengan di susul Syafa.
'' Ayo,'' ucap Zidan yang tiba-tiba menggandeng tangan Syafa dan tentunya membuat Syafa terkejut dengan tindakan Zidan.
'' Pak,'' tegur Syafa yang langsung melepaskan tangan Zidan.
'' Kenapa?''
'' Bapak tidak pantas bersentuhan langsung dengan saya, karena saya wanita murahan seperti yang bapak katakan waktu itu,'' ucap Syafa dengan senyum tipisnya.
Zidan tercengang mendengar nya, dia benar-benar menyesal mengatakan itu semua dan membuat Syafa mengingat nya sampai saat ini.
Saat Syafa ingin berbalik dan melangkah pergi, lagi-lagi Zidan menyekal tangan Syafa namun dengan kelembutan. '' Maafkan saya Sya dengan ucapan saya waktu itu,'' ucap Zidan dengan rasa penyesalan nya.
'' Waktu itu saya akui, saya salah. Itu semua saya kira kau memutuskan hubungan kita karena pria itu, dan aku tidak mengetahui yang sebenarnya.'' Lanjutnya.
Syafa menatap wajah Zidan mencari penyesalan di raut wajah Zidan, dan memang dia melihat itu semua. '' Sudahlah pak, enggak perlu di bahas lebih jauh lagi, sebaik nya kita langsung menuju kamar Oma.'' Ucap Syafa.
Zidan tidak menjawab nya dia hanya menatap wajah Syafa dengan tatapan yang sulit di artikan, namun tiba-tiba tubuh Syafa terhuyung ke pelukan Zidan karena Zidan sendiri yang menariknya.
Zidan memeluk Syafa dengan erat, meluapkan penyesalan nya, '' Tolong maafkan saya, saya benar-benar menyesal,'' lirih Zidan.
'' Pak lepas, tidak enak dilihat orang,'' bisik Syafa yang merasa malu.
Syafa terus berontak meminta di lepaskan.
'' Biarkan begini dulu, apa kamu benar-benar membenci saya,'' ucap Zidan yang masih memeluk Syafa.
'' Maksudnya?''
'' Sikap mu sangat berbeda pada pria tadi dan pada ku,''
'' Berbeda?''
'' Kau mau memeluk pria tadi tanpa di pinta dan padaku kau begini,'' ucap Zidan yang sudah melepaskan pelukannya.
Alis Syafa menyatu tidak mengerti maksud dari perkataan Zidan.
Bersambung..
Hy kawan-kawan ku yang aku sayangi, berhubungan sudah memasuki bulan suci Ramadhan, saya mau meminta maaf jika ada salah, MARHABAN YA RAMADHAN SEMUA 🙏🙏🥰
maaf baru up lagi, karena kemarin aku di sibukan di dunia real ku, mohon pengertiannya 🙏🙏
suksez
semngt
mksh