NovelToon NovelToon
Kebangkitan Di Zaman Modern

Kebangkitan Di Zaman Modern

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.

Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.

Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.

Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Xiao Xi

Waktu masih menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Di halaman luar sebuah rumah mewah berlantai tiga, sunyi malam seolah mencekam.

Namun tidak bagi Liu Han. Pria itu duduk dengan kegelisahan yang nyata, sementara jemari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja kaca bundar di hadapannya secara konstan. Tok... tok... tok... Irama itu menjadi satu-satunya pelampiasan atas gejolak di dadanya.

Saat ia mencoba memejamkan mata demi mencari ketenangan, visual itu justru menghantam benaknya.

Bayangan tangan Jia Li yang berada di genggaman hangat pria lain membuat darahnya mendidih seketika.

Liu Han membuka matanya dengan sentakan napas yang memburu dan tatapan mata yang tajam menembus kegelapan. Di depannya, sebuah laptop mahal berspesifikasi tinggi menampilkan sebuah video yang sedang berada dalam posisi pause.

Dengan rahang yang mengeras, ia kembali menekan tombol play, memutar ulang rekaman yang beberapa jam lalu dikirimkan oleh asisten pribadinya. Itu adalah rekaman CCTV dari area pembantaian—tragedi berdarah yang hampir saja merenggut nyawa adik perempuan tersayangnya.

Video itu kembali berputar, menampilkan siluet pergerakan yang tidak masuk akal. Sepasang mata Liu Han menyipit, menatap layar dengan intensitas yang mengerikan.

"Siapa mereka berdua sebenarnya?" gumam Liu Han, suaranya berat dan parau memecah kesunyian malam. Hembusan napasnya terdengar frustrasi. "Jelas mereka bukan manusia biasa... kekuatan mengerikan macam apa ini?"

Ia menyugar rambutnya ke belakang, menatap nanar pada gambar di layar laptop. "Dan apa hubungan kedua pria asing ini dengan Jia Li? Kenapa Jia Li bisa terlibat dengan makhluk-makhluk seperti mereka?"

Sepanjang malam, kepalanya dipenuhi oleh labirin pertanyaan tanpa ujung yang merenggut paksa jam tidurnya. Ini bukan lagi sekadar tentang keselamatan keluarganya yang terancam oleh musuh kasat mata, melainkan ada sesuatu yang jauh lebih besar—sesuatu yang mengusik nuraninya, membuat jiwanya tidak tenang.

Sementara itu, waktu terus melangkah maju tanpa peduli pada kecemasan yang tertinggal di kepala Liu Han.

Jia Li telah kembali ke kediaman megah keluarga Jia sejak tadi malam. Ia sengaja meninggalkan kedua kakaknya untuk tetap tinggal di apartemen.

Ketika jam dinding berdentang menunjukkan pukul 05.00 pagi, Jia Li perlahan terbangun dari tidurnya. Untuk pertama kalinya sejak terlempar dan tiba di zaman modern yang serba asing ini, ia akhirnya bisa tidur dengan sangat nyenyak.

Lengkung tipis sempat terbit di bibirnya; ia tidak lagi harus bangun dengan kepala yang dipenuhi rencana-rencana rumit, taktik bertahan hidup, atau strategi masa depan yang melelahkan.

Aku tidak perlu menanggung beban ini sendirian lagi, batinnya lega. Kenyataan bahwa kedua kakaknya ternyata juga berada di dunia yang sama seolah menjadi tameng pelindung yang meluruhkan seluruh penatnya.

Jia Li beranjak dari tempat tidur, merapikan pakaiannya sedikit, lalu melangkah keluar kamar dengan niat murni menuju dapur demi membasahi tenggorokannya yang kering.

Suasana rumah masih tampak sepi dan lengang. Hanya ada satu atau dua pelayan yang berlalu-lalang, bergerak tanpa suara demi mengerjakan tugas pagi mereka masing-masing.

Namun, begitu langkah kakinya melewati ambang pintu dapur, pergerakan Jia Li langsung terhenti. Di balik konter dapur yang megah, ia melihat Xiao Xi sudah berkutat di sana.

Menantu dari keluarga Jia itu sedang memegang pisau dapur dengan pembawaan yang begitu tenang, memotong lembaran sayuran dengan presisi dan tingkat kecepatan yang sangat sempurna—sebuah keahlian yang terlalu rapi untuk ukuran ibu rumah tangga biasa.

Jia Li terdiam sejenak, matanya menatap tajam ke arah Xiao Xi. Namun, alih-alih menyapa, Jia Li memilih untuk mengabaikan keberadaan menantu keluarga tersebut.

Dengan ekspresi sedingin es yang kembali terpasang di wajahnya, ia melangkah acuh tak acuh melewati Xiao Xi, membuka pintu kulkas besar di sudut ruangan, dan mengambil sebotol minuman dingin untuk menuntaskan dahaganya.

Ia baru saja hendak menyesap isi botol tersebut sampai sebuah suara berintonasi rendah memecah keheningan di antara mereka.

"Berhati-hatilah."

Itu adalah suara Xiao Xi. Wanita itu sama sekali tidak melirik ataupun mengalihkan fokus dari pekerjaannya, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar begitu jelas dan bergaung di ruangan yang sepi itu.

"Apapun yang sedang kau rencanakan saat ini... pastikan jangan sampai tindakan itu berbalik dan melukai dirimu sendiri," ucapnya lagi, kini dengan nada yang sedikit lebih berat.

Jia Li perlahan menurunkan botol minumannya. Ia menolehkan kepala, menatap lurus ke arah Xiao Xi yang masih tampak begitu tenang, seolah tidak baru saja melemparkan sebuah peringatan misterius.

Jia Li hanya mengangkat sebelah alisnya, menyembunyikan keterkejutan di balik topeng dingin nya. "Maksudmu?" tanyanya dingin.

Xiao Xi akhirnya melirik sekilas ke arah Jia Li. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan makna tersembunyi dan misteri.

"Hanya sekadar mengingatkan," katanya tenang. Dengan gerakan luwes, ia menyapu sayuran yang baru saja selesai dipotong ke dalam sebuah panci besar yang sudah mengepulkan uap. "Kau tahu, terkadang, seseorang yang pernah atau sedang mengalami nasib yang sama, bisa dengan sangat mudah membaca situasi di sekitarnya," lanjut Xiao Xi sembari meletakkan tutup panci dengan dentang halus yang tegas.

Jia Li meletakkan botol minumannya ke atas konter dapur. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menantang tatapan wanita di hadapannya. "Nasib yang sama?" ulangnya dengan nada menyelidik, menuntut penjelasan lebih.

Alih-alih menjawab dengan kalimat panjang, Xiao Xi justru mempertahankan senyuman misteriusnya.

Ia mematikan kompor, melangkah mendekat ke arah Jia Li hingga jarak mereka mengikis, lalu mencondongkan tubuhnya untuk berbisik lirih tepat di dekat telinga Jia Li. "Contohnya... tentang seseorang yang dipaksa untuk hidup dan bertahan di dunia asing."

Mendengar bisikan itu, sepasang mata Jia Li sedikit melebar selama beberapa detik. Ada kilatan keterkejutan yang coba ia redam, sebelum akhirnya matanya menyipit penuh curiga dan kewaspadaan tinggi.

Xiao Xi mundur beberapa langkah, memberikan ruang bagi Jia Li untuk bernapas. Ia merapikan celemeknya sekilas, lalu bersiap untuk pergi. "Intinya... aku sangat menyukai caramu yang sekarang, yang mulai berani menunjukkan taring untuk melawan keluarga ini," katanya lirih, sebelum akhirnya melangkah anggun meninggalkan area dapur.

Jia Li berdiri mematung, hanya bisa menatap punggung wanita itu yang perlahan menjauh dan menghilang di balik lorong dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada gejolak emosi yang tertahan di dadanya.

"Aneh... awalnya aku tidak terlalu memperhatikan dia. Karena Ibu tidak pernah menceritakan satu hal pun tentang keberadaannya di rumah ini. Tapi sekarang..." Jia Li sengaja menggantungkan kata-katanya di udara.

Ia menatap dingin ke arah koridor kosong tempat Xiao Xi menghilang, sementara kilat licik mulai terpancar dari kedua matanya. "Sepertinya aku baru saja menemukan teman bermain yang menarik di rumah ini."

1
Thewie
pindah kemari kami bah.. kejaman modern🤭
Lee Yaa
tak kira kaisar yun shang yg dteng🤭
Sekar
lanjut thor💪💪💪💪
Atik Kiswati
next ...
Atik Kiswati
gk sabar tgg lnjt nya.....
Sekar
lanjut thor💪💪💪💪
Atik Kiswati
ada hubungan masa lalu kah....
Sekar
lanjut thor💪💪💪💪
Aeriah Kayla
tidak apa Thor better than nothing. get well soon ya thor
Sri Wulan
semoga cepat sembuh ya Thor..
Ayra Hijab
lekas sehattt thoorr 💪
Inay
semoga lekas sehat, dan semangat 💪!
Sekar
akhirnya ketemu
Anonim
Sedikit sekali updatenya
Dewiendahsetiowati
akhirnya ketemu juga
Aeriah Kayla
bagus Thor jangan di buat belibet ya kasian kkk kembarnya terlunta" . kumpulkan mereka jadi satu.
Atik Kiswati
gk sabar tgg lnjt nya.....
Ayra Hijab
asliii, karyanyaa keren skaalii thorrr
Anonim
Ditunggu bab yg banyak thor
Ayra Hijab
serruuuuu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!