Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DETIK-DETIK DI ATAS PUKUL LIMA
Waktu di dinding kamar utama merayap lambat, seolah mengejek setiap detak jantung Ziva yang berdegup kencang di dalam rongga dadanya. Jarum pendek jam antik menunjuk ke angka lima tepat. Cahaya jingga kemerahan mulai merayap naik, membasuh dinding-dinding kaca kamar megah di kediaman Dharmawangsa dengan bias senja yang muram.
Ziva berdiri kaku di depan jendela kaca besar lantai dua, tangannya mencengkeram erat tirai kain tipis yang setengah tersingkap. Tenggorokannya terasa kering. Sejak membaca pesan rahasia yang diselipkan oleh kurir suruhan Keyla tadi pagi, pikirannya terus berkecamuk antara ketakutan yang mencekam dan secercah harapan palsu. Apakah ini jebakan baru dari Gibran untuk menguji kesetiaannya, ataukah benar Keyla sahabat setianya yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri telah menemukan celah untuk menembus benteng pertahanan sang Jenderal?
Di bawah sana, halaman depan tampak lengang. Hanya ada satu orang pengawal berbadan tegap yang sedang merokok di pos jaga dekat gerbang besi, sementara Mbok Nah terdengar sibuk membereskan dapur di lantai bawah.
Tiba-tiba, deru mesin mobil SUV hitam memasuki area pelataran parkir luar. Ziva menahan napasnya. Jantungnya hampir copot dari tempatnya. Namun, bukan mobil dinas militer Gibran yang datang. Sebuah mobil van jasa pengiriman logistik swasta berhenti tepat di dekat pagar samping, terhalang oleh rindangnya pohon palem besar.
Seorang pria berseragam kurir dengan topi pet turun dari kemudi membawa sebuah kotak kardus besar. Pengawal di pos jaga sempat menghampiri dan memeriksa kartu identitas sang kurir selama beberapa detik sebelum akhirnya melambaikan tangan, membiarkan van tersebut mendekati area servis belakang rumah.
Dari balik kaca jendela lantai dua, mata Ziva menangkap siluet seseorang yang turun dari pintu penumpang sebelah pengawal van. Sosok wanita berbalut mantel krem panjang dengan syal melilit lehernya menengadah ke atas mencari jendela kamar utama.
Keyla.
Ziva membekap mulutnya sendiri untuk menahan jeritan tertahan. Itu benar-benar Keyla. Sahabat sejatinya yang seumuran dengannya, yang telah berkeluarga namun belum dikaruniai anak sehingga selalu mencurahkan kasih sayangnya kepada Ziva layaknya anak kandung sendiri, kini nekat mempertaruhkan keselamatannya demi mendekati sangkar emas ini.
Keyla memberikan isyarat cepat dengan tangannya—menyuruh Ziva untuk melempar sebuah sinyal atau kain putih dari jendela, sementara ia berpura-pura mengantar paket titipan untuk staf rumah tangga.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Ziva menyambar sehelai syal putih dari dalam lemari, lalu membukanya lebar-lebar di balik kaca jendela lantai dua selama tiga detik sebelum menariknya kembali. Di bawah sana, Keyla tampak mengangguk cepat, memberi tahu bahwa ia telah melihat sinyal tersebut.
Ketukan di Pintu Utama
Waktu berputar terasa begitu cepat dan menegangkan. Kurang dari lima belas menit setelah insiden di jendela, suara ketukan pintu utama terdengar menggema di lantai bawah, disusul oleh suara Mbok Nah yang menyambut tamu.
Ziva yang berada di kamar mondar-mandir gelisah. Ia tidak tahu apa yang sedang diperbincangkan di lantai bawah, namun ia bisa mendengar suara langkah kaki bersepatu hak menaiki anak tangga secara tergesa-gesa.
Cklek.
Pintu kamar utama terbuka lebar. Sosok Keyla berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan mata yang berkaca-kaca menatap tajam ke arah Ziva. Di belakangnya, Mbok Nah tampak panik dan kebingungan.
"Maafkan saya, Mbak Ziva... Ibu ini memaksa naik dan mengatakan ada titipan penting dari keluarga..." ucap Mbok Nah tergagap-gagap.
Ziva langsung berlari dan memeluk tubuh Keyla erat-erat, menumpahkan segala ketakutan dan sesak yang ia pendam selama berminggu-minggu di dalam dekapannya. Keyla membalas pelukan itu tak kalah erat, mengusap punggung sahabatnya dengan air mata yang mulai tumpah.
"Ya Tuhan, Ziva... kamu benar-benar dikurung di sini," bisik Keyla parau di telinga Ziva. Ia lalu menatap Mbok Nah dengan tatapan tajam seorang wanita berpendirian kuat. "Biarkan kami bicara berdua. Kalau Jenderal Gibran bertanya, katakan padanya bahwa saya yang memaksa masuk atas nama keluarga besar Adriana."
Mbok Nah yang ketakutan hanya bisa menunduk, lalu perlahan memundurkan diri dan menutup pintu kamar rapat-rapat dari luar.
Begitu mereka berada di dalam ruangan yang aman, Keyla langsung memegang kedua bahu Ziva, memeriksa setiap inci tubuh sahabatnya dengan cemas. "Ziva, dengarkan aku baik-baik. Ayah dan Ibumu di rumah sudah setengah mati mencarimu. Om Bramantyo bahkan sudah mendatangi Mabes TNI untuk menemui Gibran secara langsung kemarin, tapi pria itu menutup rapat mulutnya!"
"Aku tahu, Key..." suara Ziva bergetar hebat. "Gibran mengancam keselamatan Ayah dan Aris. Dia menggunakan kekuasaannya untuk menjadikanku tawanan di rumah ini. Aku tidak punya jalan keluar."
"Kita tidak boleh tinggal diam," potong Keyla tegas, merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar baru yang belum teregistrasi. Ia menyodorkannya ke tangan Ziva. "Ambil ini. Ini ponsel sekali pakai. Hubungi ayahmu sekarang juga dan beritahu titik koordinat tempat ini. Suamiku dan beberapa relasi diplomatik ayahmu di luar negeri sedang menyiapkan langkah hukum darurat."
Ziva menatap ponsel kecil itu dengan tangan gemetar. Belum sempat ia meraihnya, suara deru mesin mobil yang teramat familier dan berat menderu tajam memasuki pelataran halaman bawah. Suara bodi mobil militer berhenti mendadak.
Wajah Keyla dan Ziva langsung memias pucat seketika.
"Gibran..." bisik Ziva dengan napas tercekat. Pria itu pulang jauh lebih cepat dari jadwal biasanya.
Belum sempat mereka merencanakan apa pun, suara langkah kaki tegap dan berat berdengung di sepanjang koridor lantai dua. Pintu kamar utama diketuk satu kali dengan keras, lalu langsung didorong terbuka dari luar tanpa menunggu aba-aba.
Sosok Letnan Jenderal Gibran Mahendra berdiri di ambang pintu dengan seragam dinas lengkap dan rahang yang mengeras bagai baja. Sepasang manik mata hitamnya menatap tajam ke arah Keyla yang berdiri melindungi Ziva, lalu beralih pada ponsel yang masih tergenggam di tangan gadis itu.
Suhu di dalam ruangan seakan merosot drastis hingga titik beku. Perang terbuka di dalam sangkar Dharmawangsa baru saja dimulai.