NovelToon NovelToon
Mahabbah Yang Ternoda

Mahabbah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

“Affan, aku ingin nafkah batin.”

“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”

Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.

Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecupan

Tak lama kemudian, Affandy kembali masuk ke kamar. "Hulya."

"Apa?"

"Minum."

"Nggak, ku nggak haus."

"Minum." Affandy menyodorkan segelas air putih.

"Aku nggak mau, Affan. Jangan kasar."

"Aku cuma menyuruh kamu minum. Masa kamu nggak mau?"

"Aku nggak haus. Kamu ngerti, kan?"

"Minum."

Hulya akhirnya menerima gelas tersebut. Namun, ia tersedak ketika meneguknya terlalu cepat.

"Uhuk! Uhuk!"

Hulya menepuk dada Affandy.

"Sakit, tahu."

"Maafin, ya. Makanya jangan membantah."

Hulya masih merasa kesal. Namun, ia juga bingung karena Affandy tiba-tiba begitu memperhatikannya. Pria itu terus memandangi wajah Hulya hingga wanita tersebut salah tingkah.

"Ngapain lihat-lihat aku?"

Affandy terdiam. "Kamu cantik," ucapnya dalam hati.

Hulya tiba-tiba memijit pelipisnya. "Kok kepalaku pusing banget?"

Affandy hanya memasang wajah datar. Namun, ada kegelisahan yang tersembunyi di balik tatapannya.

"Kamu mau ke mana?" tanya Affandy ketika istrinya berdiri.

"Aku mau tidur, ngantuk."

Hulya baru melangkah satu langkah ketika tubuhnya tiba-tiba kehilangan tenaga. Affandy segera menangkap tubuhnya sebelum terjatuh.

"Hulya..."

Wanita itu tidak menjawab. Affandy menatap wajahnya yang mulai terpejam.

Keputusan yang diambilnya kali ini membuat perasaan bersalah kembali muncul. Namun, ia tetap membawa Hulya menuju ranjang, menyadari bahwa tindakannya telah melewati batas yang seharusnya tidak ia lewati.

"Maaf, Hulya..."

[] [] []

Sudah dua hari Affandy dan Hulya berada di Kalimantan. Selama itu pula, tidak ada pertikaian di antara mereka. Hulya masih terus berusaha meluluhkan hati suaminya.

Begitu pula dengan kejadian ketika Affandy mengambil haknya. Hulya sebenarnya menyadari hal tersebut, tetapi ia bingung karena tidak pernah tahu kapan suaminya melakukan semuanya.

Sore itu, Hulya sedang membereskan kamar. Saat merapikan barang-barang Affandy, ia melihat sebuah bungkusan yang terselip di antara barang-barang tersebut.

"Pil?" gumam Hulya setelah membuka bungkusan itu.

"Hulya..." Suara Affandy terdengar dari arah pintu.

"Buatin aku minuman dingin. Aku capek."

Hulya menoleh. Affandy baru saja masuk ke kamar. Ia segera menghampiri pria itu. Kedua telapak tangannya menyentuh wajah Affandy.

"Apa?" tanya Affandy heran.

"Kamu sakit? Kenapa nggak bilang sama aku?" Hulya tiba-tiba memeluk Affandy. "Kamu memang kasar sama aku, tapi aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."

"Apaan, sih, Hulya? Lepas."

"Maafin aku, ya, karena belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu." Air mata Hulya mulai mengalir.

"Kamu pasti tersiksa, kan, sama pernikahan kita? Sampai-sampai kamu sakit begini."

"Sakit apa, Hulya?" Affandy mencoba melepaskan pelukan itu. "Lepas."

"Kenapa kamu nangis?" tanya Affandy setelah berhasil melepaskan pelukan Hulya.

"Kamu sakit apa? Kenapa nggak kasih tahu aku?" Hulya kembali terisak.

"Aku nggak sakit!" tegas Affandy.

"Terus ini apa?" Hulya menunjukkan obat yang ditemukannya di dalam tas Affandy. "Obat ini aku temuin di tas kamu."

"Eumm... Itu..." Affandy terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

"Sakit kamu parah, hm?" tanya Hulya khawatir.

"Sudahlah, nggak usah nangis. Aku nggak apa-apa."

"Gimana aku nggak nangis? Suami aku sakit, tapi dia malah menyembunyikan penyakitnya." Hulya kembali terisak.

"Udah, udah." Tanpa sadar, Affandy justru menarik Hulya ke dalam pelukannya. "Aku nggak apa-apa. Itu cuma vitamin."

"Beneran cuma vitamin?"

"Iya, say—Eh, Hulya." Affandy langsung menghentikan ucapannya.

"Say?" Hulya mendongak. "Kenapa nggak diterusin?"

"Aku nggak sayang sama kamu. Jadi nggak perlu aku terusin."

Hulya memilih mengabaikan ucapan itu. Ia ingin kembali fokus pada obat yang ditemukannya.

"Affan ... Walaupun kamu belum menerima aku, aku akan tetap berbakti sama kamu. Aku takut kamu kenapa-kenapa."

"Aku kan sudah bilang. Aku baik-baik aja."

"Tapi..." Affandy menangkup wajah Hulya. Tanpa diduga, pria itu mengecup bibirnya singkat.

Cup!

"Ya Tuhan! Kalian ini ... Kenapa nggak tutup pintu dulu?" Terdengar suara seorang wanita dari arah pintu.

Hulya dan Affandy sama-sama terkejut. Orang tua Hulya yang melihat kejadian itu langsung berlalu pergi sambil tersenyum malu.

"Kenapa cium sih? Mama lihat, tuh."

"Sebentar!" Affandy segera menutup pintu. Setelah itu, ia berbalik menghadap Hulya. "Pintunya sudah ditutup. Mau lagi nggak?"

"Apa?" Hulya heran.

"Cium."

"Affan, ih. Kamu kan nggak mau menyentuh aku. Ngapain malah minta cium?"

Affandy menatap wanita itu. "Aku sudah kecanduan sama kamu, Hulya. Bahkan lebih dari sekadar ciuman, aku sudah merasakan kedekatan itu," batinnya.

Affandy menarik dagu Hulya. Wanita itu memejamkan mata, bersiap menerima kecupan berikutnya. Namun, tiba-tiba suara ponsel Affandy berdering.

Hulya langsung membuka matanya. Ia menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal, merasa bodoh karena lagi-lagi mengikuti permainan pria yang sering membuatnya menangis.

Affandy mengambil ponsel dari saku celananya, kemudian memandang Hulya. "Kamu nggak mau tanya siapa yang menelepon aku?"

"Nggak. Nggak penting juga. Yang ada kamu malah marah sama aku."

"Tiffany yang telepon."

"Ya sudah. Angkat aja."

Hulya hendak keluar dari kamar, tetapi lengannya segera digenggam Affandy. "Mau ke mana?"

"Ya ... Kamu kan mau teleponan sama Tiffany. Aku jagain Mama di luar. Biar dia nggak lihat kamu."

Affandy malah memberikan ponselnya kepada Hulya. "Angkat tuh."

Hulya mengernyitkan dahi. "Ha?"

"Angkat."

"Lho, kok aku?"

"Aku lagi malas ngobrol sama Tiffany. Kamu aja yang ngomong."

"Aku nggak mau."

"Angkat!"

"Nggak."

"Angkat!" Tatapan Affandy mulai tajam. Genggamannya pada lengan Hulya pun semakin kuat.

"Sakit, Affan."

"Aku bilang angkat."

"Kalau aku angkat, terus aku mau ngomong apa?"

"Terserah kamu."

"Sakit, ih."

"Angkat nggak?"

"Iya, iya."

Hulya akhirnya mengambil ponsel tersebut. Ia sama sekali tidak suka berbicara dengan perempuan yang dianggapnya telah merebut suaminya. Namun, karena dipaksa Affandy, ia tidak punya pilihan.

"Assalamualaikum..."

"Hulya? Andy mana? Kenapa kamu yang pegang HP-nya?" tanya Tiffany dengan nada kesal.

"Dia..." Hulya melirik Affandy. "Dia sama aku. Kan dia suamiku."

"Cepat kasih teleponnya."

"Aku nggak mau. Kamu ngapain sih telepon suami orang? Nggak malu?"

"Awas, ya, kamu, Hulya."

Tuuut! Tuuut! Tuuut!

Sambungan telepon terputus. Hulya menatap layar ponsel Affandy, kemudian menyodorkannya kepada pria itu.

"Ambil."

"Masukin."

"Masukin ke mana?" tanya Hulya.

"Saku celanaku."

"Affan, ih. Jorok banget."

"Lho, salah?"

"Masukin sendiri, nih."

"Masukin cepat."

"Nggak mau."

Affandy menggenggam kedua bahu Hulya. Tatapannya tertuju lekat pada wanita itu.

"Masukin."

"Jangan macam-macam, Affan. Aku bisa teriak."

"Kalau kamu teriak dan Mama datang, aku tinggal bilang kalau kamu sudah lama nggak melayani aku."

"Memangnya aku pernah melayani kamu?"

Affandy yang tadinya sedikit membungkuk kini berdiri tegap. Kedua tangannya pun perlahan terlepas dari bahu Hulya.

"Kenapa diam?"

"Eumm ... Ya, kan namanya aku bohong sama Mama."

"Yakin bohong?"

Affandy terdiam.

"Ini."

Hulya kembali menyodorkan ponsel tersebut. Namun, Affandy malah mengepalkan tangannya.

"Nggak bisa," ucapnya mengejek. "Masukin sendiri, lah."

"Affan, ih. Malu tahu."

"Malu apa, Hulya? Aku cuma suruh kamu masukin ponsel ke saku celana. Bukan suruh buka celanaku."

Plak!

Hulya memukul lengan Affandy. "Kamu aneh banget. Nggak biasanya kayak gini."

"Biasa aja, kok. Kamu yang aneh. Disuruh masukin malah nggak mau."

"Ya sudah."

Perlahan Hulya memasukkan ponsel itu ke saku celana Affandy. Ia merasa sangat malu melakukan hal sesederhana itu.

Tiba-tiba Affandy mendekap tubuhnya. "Affan..." lirih Hulya.

"Kenapa kita harus menikah, Hulya?"

Hulya terdiam.

"Kamu terlalu baik buat aku, Hulya."

"Harusnya kamu tanya sama diri kamu sendiri," jawab Hulya. "Ngapain kamu nikahin aku kalau cuma mau balas dendam sama Tiffany?"

Affandy tidak menjawab.

"Aku memang bukan perempuan yang berpakaian terbuka seperti yang kamu inginkan, Affan."

Hulya menatapnya.

"Tapi kalau kamu menginginkan aku berubah, aku bisa melakukannya di tempat yang tertutup. Bukan di depan orang lain."

Affandy terdiam mendengar ucapan istrinya.

"Awas!"

Hulya tiba-tiba melepaskan pelukannya. Tangannya terulur untuk membuka hijabnya.

"Kamu mau ngapain?" tanya Affandy.

"Ini, kan, yang kamu mau? Aku bisa memperlihatkannya sama kamu. Tapi nggak di tempat umum."

Affandy kembali memeluk Hulya. "Jangan lakukan itu. Aku sudah melihatnya," ucapnya dalam hati.

"Buatin aku minuman dingin tadi. Aku haus."

"Haus? Maaf, ya. Aku sampai lupa."

1
azzura faradiva
Thor..., please pemain perempuannya jgn di bikin lemah/menye².harus ambil sikap tegas menghadapi suami durjana macam dia,cerai aja udah!!!!
Mardzan J.: sabar sabar, baru juga beberapa part
total 1 replies
Tamirah
Kok ada suami model gini jadi istrinya kok yo betah,mbok ya minta cerai aja
Mardzan J.: sabar, nanti juga ada waktunya.
total 1 replies
azzura faradiva
kasih karma tu laki biar pedangnya karatan(impoten) biar ga banyak tingkah
Mardzan J.: sabar lho🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!