Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.
Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.
Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.
Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.
Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Kopi: Perjodohan yang Sekadar Alibi
Abas sudah memarkirkan mobilnya di area parkir Ruang Kopi. Dia menarik napas dalam-dalam lalu melepaskan sabuk pengamannya. Dia melihat jam tangannya. Jam delapan tepat.
Abas perlahan keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki Ruang Kopi. Tangan Abas menyentuh dada sebelah kirinya. Entah mengapa jantungnya berdegup begitu kencang seiring kakinya melangkah menuju Ruang Kopi.
Saat memasuki Ruang Kopi, Pak Rendi menyambutnya dengan ramah.
"Mas Abas! Senang sekali Anda mampir kemari," kata Pak Rendi. Abas tersenyum tipis. Pak Rendi menatap ujung kaki hingga ujung kepala.
"Anda rapih sekali! Seperti biasa," komentar Pak Rendi.
"Saya ada janji," kata Abas.
"Oh! Kencan?" tanya Pak Rendi dengan nada berbisik dan senyum menggoda.
Abas tidak menjawab. Dia sibuk menyapukan pandangan ke seluruh kafe. Bukan untuk mencari pasangan jodohnya, melainkan seseorang yang seharusnya ada di panggung live music.
"Kafe hari ini agak sepi," komentar Abas.
"Hm?" tanya Pak Rendi bingung. Pak Rendi menatap sekeliling kafe yang dipadati pengunjung.
"Maksud saya... musik..."
"Oooh... Sepertinya Melodi lagi istirahat sebentar," kata Pak Rendi lalu menoleh ke meja yang tak jauh dari panggung.
"Ah! Itu disana," kata Pak Rendi.
Abas mengikuti arah pandang Pak Rendi. Di meja yang tertutup dinding bercelah, duduk seseorang yang, entah mengapa, ingin dilihatnya saat memasuki Ruang Kopi.
"Mas Abas ada janji dengan Melodi?" tanya Pak Rendi, membuat Abas menoleh cepat ke arahnya.
"Ehem... Bukan," jawab Abas sambil kembali menyapukan pandangannya ke kafe, mencari wanita yang dijadikannya alasan untuk datang ke sana.
Mata Abas menangkap wanita yang duduk sambil memainkan ponselnya di meja nomor lima.
"Permisi, Pak. Saya sudah ditunggu," kata Abas.
"Oh ya, ya. Silakan, Mas Abas. Maaf sudah menahan Anda terlalu lama," kata Pak Rendi. Abas mengangguk tipis lalu berjalan menuju meja nomor lima.
"Maaf, saya terlambat," kata Abas saat berdiri di samping meja nomor lima.
Wanita yang duduk itu menatap Abas datar. Abas sedikit memiringkan kepalanya.
"Anda putri Tuan Erlangga, bukan?" tanya Abas memastikan dia tidak salah orang.
Wanita itu mengangguk sambil memainkan ponselnya, seakan tidak tertarik dengan Abas maupun perjodohan itu.
"Nayla," kata wanita itu sambil masih sibuk dengan ponselnya. Abas diam, menatap wanita itu.
"Aku Nayla. Kamu Abas kan?" tanya Nayla. Abas mengangguk.
"Mau sampai kapan kamu berdiri?" tanya Nayla sambil meletakkan ponselnya di atas meja. Abas perlahan duduk di hadapan Nayla yang sedang menyeruput kopinya.
"Langsung aja ya," kata Nayla sambil meletakkan cangkir kopinya.
"Sebenernya, aku setuju buat ketemuan sama kamu cuma buat nolak perjodohan ini," lanjutnya. Abas menaikkan satu alisnya. Nayla menatap Abas dalam-dalam lalu menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
"Well, sebenernya you're very good-looking," kata Nayla.
"Tapi, pernikahan belum menjadi prioritasku sekarang," lanjutnya.
"Aku yakin kamu tahu aku baru aja balik dari Inggris. Aku baru aja lulus kuliah dan masih ada banyak hal yang pengen aku lakuin. Jadi," kata Nayla sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Kalau perkenalan ini dimaksudkan untuk pernikahan dalam waktu dekat, aku harus menolaknya," tutup Nayla.
Abas menatap mata wanita di hadapannya itu. Dia dapat menilai bahwa Nayla bukan wanita yang mudah dipengaruhi dan memiliki prinsip. Abas menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
"Jadi, kalau pernikahan ini dilakukan dua atau tiga tahun lagi, apa hal itu akan mengubah keputusanmu?" tanya Abas. Nayla menaikkan kedua alisnya.
"Mungkin saja. If you could impress me," kata Nayla percaya diri.
"Impress you? Dan kamu pikir aku akan menerima perjodohan ini begitu saja?" tanya Abas. Nayla menaikkan kedua bahunya.
"Aku pikir, kamu masih cukup kacau karena pernikahanmu yang batal," jawab Nayla to the point. Mata Abas sedikit membulat.
"Ops. Sorry. Bukan maksudku..."
Abas tersenyum kecut. Nayla mengerjapkan kedua matanya.
"Kita membicarakan pernikahan seperti membicarakan bisnis," kata Abas. Nayla tersenyum.
"Bukankah memang seharusnya begitu?" tanya Nayla.
"Ting... Ting... Ting..."
Mata Abas bergerak cepat saat mendengar petikan gitar. Nayla menoleh ke arah mata Abas menatap.
"Terimakasih bagi pengunjung Ruang Kopi yang masih setia, duduk dan menyeruput secangkir kehangatan yang disediakan Ruang Kopi," kata Melodi sambil menyapukan pandangannya ke sekeliling kafe.
"Oke. Lagu selanjutnya, ada Hello dari Adele. Selamat menikmati," tutup Melodi sambil mulai memainkan gitarnya sambil tersenyum ke arah Panji.
Abas melihat itu dari mejanya. Napasnya tertahan sesaat seiring rahangnya mengeras perlahan. Nayla kembali menatap Abas. Dahinya mengerut melihat perubahan mimik wajah Abas.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Nayla.
Abas kembali menatap Nayla. Dia mencoba kembali fokus pada apa yang sedang mereka bicarakan meski telinganya membuatnya sulit untuk fokus.
"Hello from the other side
I must've called a thousand times
to tell you I'm sorry for everything that I've done
but when I call, you never seem to be home"
Nayla memperhatikan Abas sesekali melirik ke arah panggung. Dia memiringkan sedikit kepalanya.
"Kamu suka lagu ini?" tanya Nayla.
"Hm? Bukan. Aku baru mendengar lagu ini disini," jawab Abas.
"Eh? Padahal lagu ini cukup terkenal. Trus apa lagu favoritmu?" tanya Nayla.
"Lagu favorit?"
Nayla mengangguk sambil menyeruput kopinya. Abas menatap permukaan meja sesaat. Selama ini dia tidak pernah mendengarkan lagu apapun. Kalaupun Abas harus menjawab pertanyaan Nayla saat ini, hanya ada satu judul lagu yang terlintas di kepalanya.
Mata Abas kembali menatap Melodi yang masih bernyanyi. Nayla melirik ke arah Abas yang kembali melirik ke arah panggung.
"Kamu mau request lagu?" tanya Nayla. Abas menatap Nayla.
"Dari tadi kamu lihatin ke panggung terus," kata Nayla sambil tersenyum.
"Jangan-jangan..."
Abas menahan napasnya. Nayla tersenyum menggoda ke arah Abas.
"Kamu mau request lagu, tapi malu?" tanya Nayla sambil tersenyum. Abas menghela napas panjang.
"Aku bilangin ke singernya kalau kamu malu. Kamu mau request apa?" tanya Nayla.
Abas menatap Nayla. Dia sudah membuka mulutnya lalu kembali diam.
"Hm?" tanya Nayla.
"Senja..." kata Abas lirih.
"Senja? Senja di Batas Kota?" tanya Nayla. Abas terkejut. Dia tak pernah tahu ada lagu yang memiliki judul dengan awalan yang sama dengan lagu yang dia maksud.
"Seleramu unik juga. Bentar aku panggilin waitress sekalian kamu belum pesen minum kan?" komentar Nayla.
Abas menggelengkan kepalanya perlahan. Abas kembali melirik ke arah panggung. Kali ini dia melihat Melodi mencondongkan tubuhnya ke arah Panji. Keduanya lagi-lagi terlihat berbisik-bisik. Melodi tersenyum sebelum akhirnya kembali memainkan gitarnya.
Tanpa Abas sadari rahangnya perlahan mengeras. Entah mengapa, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Dia bahkan tak mendengar Nayla yang menanyakan pesanannya.
'Apa yang mereka bicarakan di sana?'
***
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Hafal bagian reffnya🤭
eaaa....🤭
bener2 plot twist nya..
jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪