NovelToon NovelToon
Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Komedi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaicha

Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Nyawa

Rara dengan cepat menarik map bab empatnya jarinya bergetar. Kertas yang selama enam bulan ini jadi sumber tangisannya, sekarang sudah sah.

"M-makasih banyak, Pak Baskoro," cicit Rara, suaranya pecah menahan haru.

Arka tidak membuang waktu. Pria itu menarik pinggang Rara dengan protektif, memutar tubuh gadis itu untuk segera keluar. Bara yang sejak tadi memblokir pintu langsung mundur, memberi jalan sebelum kembali menutup pintu kayu itu rapat-rapat.

Begitu di luar, Rara mendekap map itu di dadanya. Dadanya kembang-kempis, napasnya lega luar biasa, sampai-sampai setetes air mata jatuh. "Sumpah, gue berasa baru lahir kembali," bisiknya parau.

Arka mendengus pelan, tapi menatap raut lega di wajah gadis itu dengan saksama. Tangan besarnya merengkuh bahu Rara. "Simpan air matamu. Skripsimu sudah aman. Sekarang, kita keluar dari sini."

Namun, napas lega itu tak berumur panjang.

Saat mereka baru menuruni separuh anak tangga utama fakultas, Bara mendadak berhenti. Pria kaku itu menyentuh earpiece di telinganya. Raut wajahnya yang sedatar beton seketika menegang.

"Bos," panggil Bara. Suaranya pelan, tapi cukup untuk membekukan darah Rara. "Dua van tanpa pelat baru saja menerobos gerbang utama. Dua belas orang, bersenjata laras panjang. Victor menjebak kita."

Jantung Rara serasa dihempaskan ke dasar jurang. Euforianya hancur berkeping-keping. Udara di sekitarnya mendadak hilang.

"Berengsek," desis Arka. Rahangnya mengeras hebat. Aura membunuh yang sangat pekat langsung menguar dari tubuhnya. "Lobi utama terlalu terbuka. Jika kita lari bersama, kalian hanya akan jadi tameng peluru."

Arka menoleh. Tatapannya kembali dingin dan penuh kalkulasi. "Bara, bawa mereka ke basemen lewat tangga darurat. Saya akan memotong jalan mereka di lobi."

"Hah?" Rara tersentak. Otaknya yang sempat nge-blank mendadak bekerja paksa. "Lo mau ngapain?!"

"Bawa dia, Bara." Arka sama sekali tidak memedulikan jeritan Rara. Pria itu menarik selongsong pistolnya, bersiap turun ke arena pembantaian.

"Nggak! Lo gila?!" Rara menerjang maju. Kedua tangannya yang bergetar hebat mencengkeram kemeja hitam Arka sekuat tenaga. Matanya membelalak panik, air mata ketakutan langsung tumpah membasahi pipinya. "Perut lo baru dijahit semalam, Arka! Lo mau ngelawan dua belas orang sendirian?! Nggak! Gue nggak izinin!"

Arka menghentikan langkahnya. Pria berdarah dingin itu menunduk, menatap sepasang tangan kecil yang meremas kemejanya dengan putus asa. Tubuh Rara gemetar parah, bukan karena takut pada musuh, melainkan takut kehilangannya.

"Lepasin gue, Bara!" jerit Rara saat Bara mencoba menarik lengannya. Gadis itu makin erat mencengkeram baju Arka. "Arka, please... kita lari bareng-bareng! Jangan sok jagoan, gue mohon! Lo bisa mati!"

Tangan besar Arka perlahan turun. Dengan tangan yang bebas, ia menangkup rahang Rara. Cengkeramannya kaku, kasar, namun entah bagaimana menahan gadis itu agar tidak semakin histeris.

"Rara, dengarkan saya," suara Arka sangat rendah, berat, dan absolut. Matanya menatap tepat ke dasar mata Rara yang basah. "Saya hidup untuk memastikan musuh saya hancur. Saya tidak pernah peduli apakah saya mati hari ini atau besok."

Arka menatap Rara tajam, menegaskan setiap kata-katanya. "Tapi hari ini, nyawa saya punya tujuan lain. Saya harus memastikan tidak ada satu pun peluru yang berani menyentuhmu."

Rara menggeleng histeris, isakannya makin keras. "Nggak mau... Arka, jangan..."

"Bara, bawa dia. Sekarang," perintah Arka mutlak.

Ia melepaskan tangan Rara dari kemejanya dengan paksa. Sebelum Rara bisa meraihnya lagi, Arka berbalik dan melesat turun ke lobi utama tanpa menoleh sedikit pun.

"ARKA!" jerit Rara memilukan, suaranya merobek keheningan koridor.

"Jalan, Nona! Kalau kamu mati, pengorbanan Bos sia-sia!" bentak Bara kasar. Pengawal itu menarik kerah Rara dan Beby, menyeret mereka paksa masuk ke pintu tangga darurat.

DOR! DOR! TATATATATA!

Rentetan tembakan brutal langsung meledak dari arah lobi, disusul suara jeritan dari kejauhan dan kaca yang pecah berkeping-keping.

Di dalam lorong tangga darurat, Rara terus memberontak. Air matanya mengalir deras. Hatinya hancur membayangkan pria arogan itu tumbang bersimbah darah di bawah sana hanya demi memberinya waktu untuk lari.

"Lepasin! Bara, dia sendirian! Dia bisa mati!" racau Rara histeris, kakinya tersandung-sandung menuruni tangga.

Bara tidak peduli. Ia terus menyeret mereka hingga mendobrak pintu basemen. SUV hitam mereka langsung melesat mendekat, dan Dino membuka pintu dari dalam dengan panik.

Bara melempar Beby dan Rara ke jok belakang, lalu melompat mengambil alih kemudi dari Dino.

"Bara, kita harus tolongin dia! Puter balik!" tangis Rara memukul-mukul jok depan dengan kalut.

Bara menginjak pedal gas dalam-dalam. SUV itu mengaum buas. Bukannya menuju pintu keluar, Bara memutar kemudi dengan tajam, mengarahkan moncong SUV lapis baja itu lurus menuju dinding kaca lobi utama.

BRAAAK!!

Kaca lobi hancur berantakan ditabrak SUV hitam itu. Di tengah hujan peluru dan debu semen yang beterbangan, Rara melihatnya.

Arka berlindung di balik pilar yang sudah hancur separuh. Jas pria itu robek, lengan kemejanya bersimbah darah, tapi ia masih berdiri tegap, menembak dua musuh di depannya hingga tumbang dengan wajah tanpa ampun.

Bara mengerem mobil tepat di dekat pilar, membuka pintu penumpang depan. "Bos! Naik!"

Arka melompat masuk. Pintu dibanting, dan SUV itu langsung melesat menerobos sisa barikade, keluar dari kampus menuju jalan raya raya dengan kecepatan gila-gilaan.

Di dalam kabin, napas Arka tersengal keras. Keringat bercampur debu menutupi wajahnya yang pucat. Ia menekan pinggang kirinya yang kembali merembeskan darah, lalu bersandar kaku di jok kulit.

Melihat pria itu masih bernapas dan duduk di depannya, pertahanan Rara jebol total.

Gadis itu menerjang maju dari jok belakang. Ia tidak memedulikan noda darah, debu, atau seberapa berbahayanya pria ini. Rara memeluk leher Arka dengan putus asa dari belakang, menenggelamkan wajahnya di ceruk bahu pria itu dan menangis sejadi-jadinya.

"Orang gila! Lo beneran orang gila, Arka!" isak Rara memilukan, memukul dada Arka dengan tangannya yang gemetar tanpa tenaga. "Kalau lo mati gimana, bajingan?! Gue takut banget..."

Tubuh besar Arka langsung menegang kaku.

Seumur hidupnya, tidak ada yang berani menyentuhnya tanpa izin, apalagi memukul dadanya dan menangis keras-keras membasahi kemejanya. Otot rahangnya mengeras. Arka sama sekali tidak terbiasa dengan situasi cengeng seperti ini.

Perlahan, tangan kiri Arka yang bebas bergerak naik. Alih-alih mengelus punggung Rara dengan lembut, pria itu justru mencengkeram lengan Rara dengan kaku dan sangat posesif, menahan tubuh gadis itu agar berhenti meronta memukul dadanya.

"Baju saya sudah penuh darah musuh, Rara. Jangan ditambah dengan air mata," tegur Arka dingin, suaranya serak dan datar. "Berhenti menangis. Suaramu membuat kepala saya pusing."

"Biarin! Gue mau nangis! Lo nyebelin banget!" racau Rara makin kencang di pelukan pria itu, tangannya meremas kemeja Arka. "Gue kira lo bakal mati di lobi..."

Arka mendengus tajam. Kesombongan dan aura mutlaknya kembali menguar sempurna. "Kamu pikir kecoak-kecoak amatiran itu bisa membunuh saya? Jangan meremehkan saya."

"Gue nggak meremehkan lo, gue cuma panik!" semprot Rara di sela isakannya, masih enggan melepaskan pelukannya.

Merasakan Rara yang masih gemetar hebat di pelukannya, Arka tidak menepisnya. Ia membiarkan gadis itu bersandar di bahunya. Cengkeraman tangannya di lengan Rara mengerat, sebuah gestur perlindungan mutlak khas mafia, kasar tapi tak terbantahkan.

"Saya masih hidup. Kamu aman, dan kertas skripsimu juga aman," ucap Arka mutlak, menatap lurus ke luar jendela dengan sorot mata sedingin es. "Sekarang diam, atau saya benar-benar akan melempar temanmu itu ke luar mobil."

Di sudut jok belakang, Beby yang sejak tadi meringkuk ketakutan, buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan. Ia melirik Dino di kursi depan dengan tatapan horor.

Beby menelan ludah, lalu berbisik pelan sekali agar tidak kedengaran Arka. "Mas... di geng kalian, orang yang nenangin cewek emang auranya kayak mau ngajak tawuran gini ya?"

Dino mendengus pelan sambil mengecek sisa pelurunya. "Bersyukur aja Mbak, teman lo belum dilempar ke jalan tol. Seumur hidup ngabdi, baru hari ini gue lihat Bos Arka biarin bajunya dipakai buat lap ingus tanpa nembak kepala orangnya."

1
beybi T.Halim
ya Allah gak ada tenang nya 1 hr pun ,neng rara apa gak tauma berat itu waduh..,mana mau sidang lagi kudu konsentrasi🙈laa ini malah tembak2an ,kejar2an haih saket dadaku
nischa: Hahaha maafkan Rara ya kak, Ujian hidupnya emang paket komplit, urusan skripsi bonus kejar-kejaran mafia 😭 Makasih banyak ya udah ikutan gregetan sama ceritanya
total 1 replies
beybi T.Halim
🤣🤣🤣🤣kocak ini
beybi T.Halim
kita mampir.,suka karakter ceweknya di awal sedikit penakut tapii bar bar👍kita lanjutkan
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
lanjut Thor pengen baca bab selanjutnya
Yuyum Yunengsih
mulai seru nih, interaksi antar tokohnya dapet banget
Yuyum Yunengsih
wah, awal cerita yang langsung bikin penasaran sama karakternya😍
Yuyum Yunengsih
keren banget ceritanya, nggak nyesel ikutan baca dari awal. pertahankan terus kualitas tulisannya author
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
semangat💪cerita nya seru😍
Winna Yun
wah wahh seru ni ka, lanjut ka
nischa: siap,ka😍
total 1 replies
Erni Saputri
lama kali upnya Thor🥺
Erni Saputri: ok semangat💪💪💪
total 2 replies
Suzie
💪 mangatt
nischa: siap,makasih🤩
total 1 replies
Cilia
Ceritanya enteng banget! Enak buat dibaca pas lagi ngisi waktu kosong. Vibesnya berasa lagi baca AU yang target audience nya emang nyari bacaan pas lagi penat😆
nischa: Makasih banyak ya! Senang banget kalau ceritanya bisa jadi teman pas lagi santai atau penat. Enjoy terus ya bacanya! ✨
total 1 replies
partini
lucu banget ini mahasiswi
nischa: terimakasih kak sudah mampir😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!