Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.
Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.
Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.
Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.
Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:
Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 017
Siapa Dia
Tatapan pria asing itu membuat Seline tidak nyaman sampai acara foto keluarga selesai.
Ia mencoba mengabaikannya. Ballroom terlalu ramai, terlalu banyak tamu yang saling memperhatikan. Mungkin pria itu hanya heran melihat gadis tidak dikenal berdiri dekat Oma Mei. Mungkin ia mencari seseorang di belakang Seline. Mungkin Seline terlalu sensitif karena dua tahun di rumah Hartono mengajarinya membaca ancaman dari arah mata orang.
Namun setiap kali ia menoleh sedikit, pria itu masih berada di sana.
Tidak mendekat.
Tidak tersenyum.
Hanya menatap seperti sedang kehilangan napas.
Menjelang sore, setelah sesi salam keluarga selesai, Seline keluar sebentar ke taman hotel. Udara ballroom terlalu penuh parfum, bunga, dan suara ucapan selamat. Di luar, taman kecil di samping gedung lebih tenang. Lampu gantung mulai menyala di antara pohon, memantulkan cahaya ke kolam dangkal.
Seline berdiri di tepi kolam, menarik napas perlahan.
"Maaf."
Suara pria membuatnya berbalik.
Pria asing dari ballroom berdiri beberapa langkah di belakangnya. Dari dekat, ia terlihat lebih muda dari yang Seline kira, mungkin hanya beberapa tahun di atasnya. Setelannya rapi, wajahnya tenang, tetapi matanya tidak setenang suaranya.
"Saya tidak bermaksud mengejutkan," katanya.
Seline menegakkan punggung. "Tidak apa-apa."
"Saya mencari jalan kembali ke ballroom utama. Sepertinya saya salah pintu."
Alasan itu terdengar wajar. Terlalu wajar.
Seline melihat pintu kaca besar di belakangnya, jelas mengarah ke ballroom. Pria itu pasti melihatnya juga. Jika ia benar-benar tersesat, ia tersesat dengan sangat buruk.
Namun Seline tidak menunjukkannya.
"Ballroom lewat pintu itu, lalu belok kanan."
Pria itu mengikuti arah tangannya, lalu tersenyum kecil, seperti orang yang baru sadar kebohongannya terlalu tipis. "Terima kasih. Saya Bryan Wijaya."
Wijaya.
Nama itu membuat ujung jari Seline dingin.
Ia hampir menyentuh liontin di balik gaunnya, tetapi berhasil menahan diri.
"Seline," katanya.
"Saya tahu." Bryan cepat menambahkan, "Maksud saya, saya mendengar Oma Mei memanggilmu tadi."
Seline mengangguk. "Ko Bryan tamu dari keluarga Wijaya?"
Panggilan Ko itu keluar setelah ia mengingat aturan sopan di lingkungan Tionghoa. Bryan tampak terkejut sesaat, lalu matanya melembut dengan cara yang membuat Seline semakin waspada.
"Iya. Keluarga kami cukup dekat dengan keluarga Hartono, meski akhir-akhir ini jarang bertemu."
"Opa Herman berhalangan hadir?" Seline bertanya, mengingat daftar tamu yang ia bantu periksa.
Bryan mengangguk. "Beliau akan datang malam nanti kalau kondisinya memungkinkan."
"Maaf, Ko Bryan. Saya salah sebut."
"Tidak apa-apa."
Ada jeda.
Seline berharap percakapan selesai di sana. Tetapi Bryan justru berjalan pelan ke samping kolam, tidak terlalu dekat, menjaga jarak sopan.
"Kamu tinggal dengan keluarga Hartono?"
"Iya."
"Sudah lama?"
"Sekitar dua tahun."
"Sebelumnya?"
Pertanyaan itu halus, tetapi terlalu cepat. Seline menoleh padanya. "Sebelumnya saya tinggal di Surabaya."
Bryan berhenti.
Kali ini perubahan di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Tangannya yang berada di sisi tubuh mengepal sebentar, lalu lepas lagi. Matanya memandang Seline seolah satu jawaban pendek baru saja membuka pintu yang ia takutkan selama bertahun-tahun.
"Surabaya," ulangnya pelan.
"Iya."
"Kamu lahir di sana?"
Seline mengerutkan kening. Pertanyaan itu sudah melewati batas percakapan basa-basi.
"Saya besar di sana."
Bryan menangkap koreksi itu. "Besar di sana, bukan lahir di sana?"
Seline diam.
Angin sore menggerakkan ujung gaunnya. Dari ballroom, terdengar tepuk tangan, mungkin Michelle dan suaminya baru masuk lagi untuk sesi berikutnya. Di taman kecil itu, suara pesta terasa jauh.
"Maaf," Bryan berkata cepat. "Pertanyaan saya lancang."
"Memang agak lancang."
Ia tampak tidak tersinggung. Justru seperti lega karena Seline berani mengatakan itu.
"Boleh saya bertanya satu hal lagi?"
Seline tidak langsung menjawab. "Tergantung pertanyaannya."
"Umurmu sekarang?"
Pertanyaan itu seharusnya mudah. Namun setelah nama Wijaya di liontinnya dan cara Bryan memandangnya sejak ballroom, tidak ada yang terasa mudah.
"Dua puluh."
Wajah Bryan berubah lagi. Ia menutupinya cepat, tetapi tidak cukup cepat untuk Seline yang sudah dua tahun hidup di antara senyum setengah benar.
"Bulan lahir?"
"Ko Bryan," Seline berkata pelan, "itu sudah bukan pertanyaan orang tersesat."
Bryan menunduk singkat. "Benar."
Ia seperti hendak mundur dari percakapan, lalu gagal karena sesuatu di dalam dirinya lebih kuat daripada sopan santun.
"Saya punya adik perempuan," katanya setelah beberapa detik. "Dia hilang waktu masih kecil."
Seline tidak tahu mengapa dadanya ikut menegang.
Bryan menatap permukaan kolam. "Sudah lama sekali. Banyak orang bilang keluarga kami harus menerima kenyataan. Tapi ada hal-hal yang tidak bisa selesai hanya karena waktu lewat."
Ia menarik napas, dan untuk pertama kalinya suara tenangnya retak. "Dia hilang saat festival lampion. Umurnya masih terlalu kecil untuk mengingat jalan pulang. Kami mencari ke kantor polisi, rumah sakit, terminal, sampai kota-kota lain. Setiap kali ada kabar anak perempuan tanpa keluarga, kami datang. Hampir semuanya salah."
Seline merasakan ujung jarinya dingin.
Festival lampion.
Cahaya merah dalam mimpi Tao bergerak di kepalanya seperti pintu yang diketuk dari jauh.
Untuk sesaat, bau asap, gula panas, dan kerumunan yang tidak ia kenal seperti lewat di hidungnya.
Rasanya asing, tetapi terlalu dekat.
Seline tidak menjawab. Ia ingin bertanya kenapa Bryan menceritakan itu padanya, tetapi takut jawaban yang keluar akan terlalu dekat dengan nama di liontinnya.
"Namanya?" tanya Seline akhirnya, suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan.
Bryan menoleh. Untuk satu detik, sesuatu yang hampir hancur muncul di wajahnya.
Namun sebelum ia menjawab, suara Jessica memanggil dari pintu taman.
"Seline! Oma cari kamu."
Seline menoleh. Jessica berdiri di ambang pintu, matanya bergerak cepat dari Seline ke Bryan.
"Aku datang," jawab Seline.
Ketika ia kembali menatap Bryan, pria itu sudah menyimpan ekspresinya.
"Maaf sudah mengganggumu," katanya.
"Tidak apa-apa, Ko Bryan."
Seline berjalan menuju Jessica. Di tengah langkah, ia merasakan dorongan kuat untuk menoleh lagi. Ia melakukannya.
Bryan masih berdiri di tepi kolam, menatapnya dengan mata yang sama seperti di ballroom.
Bukan kagum.
Bukan penasaran biasa.
Seperti seseorang yang takut berharap, tetapi lebih takut berhenti berharap.
Jessica menunggu sampai mereka masuk koridor, lalu langsung berbisik, "Kamu kenal dia?"
"Tidak."
"Dia melihatmu seperti baru lihat hantu."
Seline tidak menjawab.
Di parkiran hotel, Bryan masuk ke mobilnya dengan gerakan yang tidak setenang biasanya. Sopir bertanya apakah ia ingin kembali ke ballroom, tetapi Bryan mengangkat tangan, meminta diam.
Ia membuka ponsel, mencari nomor yang sudah terlalu sering ia hubungi untuk kabar yang selalu berakhir kosong.
Begitu sambungan tersambung, suara di seberang menyapa.
Bryan menutup mata sebentar.
"Papa," katanya, suaranya pecah tipis. "Aku mungkin menemukan dia."