Kehidupan dua insan manusia yang berbeda latar belakang namun saling berkaitan secara tidak langsung.
Sahabat Pena...
Mungkin itulah yang membuat mereka terhubung hingga sekarang. Diawali dengan sebuah pertemanan melalui surat semenjak kecil namun tidak pernah sekalipun bertemu.
Hingga akhirnya mereka dipertemukan dalam sebuah ikatan pekerjaan.
Akankah mereka saling mengenali satu sama lain???
Serta, apakah surat yang selama ini mereka tulis dan terima hanyalah sebuah mainan belaka atau adakah diantara mereka yang menuangkan perasaan di setiap baitnya.
Dan bagaimanakah akhir dari pencarian mereka satu sama lain???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SANG PURNAMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
"Rose memang handal dalam membuat salad buah dan kalian tidak perlu ragu lagi dalam masalah rasa" Jessica memuji kepandaian adiknya itu dalam memasak dan membuat sesuatu karena memang benar Rose memang suka membuat makanan dan mencoba resep-resep baru tentang masakan.
David sepertinya masih menjunjung tinggi egonya dengan tidak perduli akan komentar mereka yang menyebut jika salad buah tersebut sangat enak apalagi Rose lah yang membuatnya.
Rose yang berada tepat dihadapan David sedari tadi melirik kearah pria tersebut dan memang nampak jika David juga menginginkan makanan itu namun mulutnya sudah terlanjur berkata tidak akan ikut makan jika dalam satu tempat yang sama.
"David?."
"Aa..."
David pun menoleh ke sumber suara dengan mulut yang hendak berucap namun Rose dengan sigap menyodorkan satu suapan salad buah ke mulut David hingga meninggalkan saus dibibirnya.
Hahahaha Rose kembali tertawa minat wajah bengong David.
"Kunyahlah dan rasakan bagaimana rasanya" ucap Rose.
David pun mengunyah satu suap salad buah yang Rose sodorkan paksa kedalam mulutnya tadi.
Lagi-lagi David terkesima dengan rasa yang ada pada mulutnya. Ternyata benar apa yang dikatakan Alex tadi kalau rasa salad buah ini sangat enak.
"Ayolah tidak perlu malu, makanlah bersama kami" Rose memberikan sendok yang semula memang milik David tadi.
David pun mengambil sendok tersebut dan ikut makan bersama yang lain hingga membuat mereka yang ada disana menahan tawanya.
"Dasar, mulut dan hati tidak sejalan. Tadi saja bilang tidak mau berbagi dengan kami, tapi lihatlah sekarang betapa cepatnya dia memakan salad buah ini" Alex dengan segera ikut memakan salad buah tersebut sebelum David menghabiskannya.
Setelah salad buah tersebut habis dan mereka semua meletakkan sendok yang mereka pakai tadi didalam mangkuk besar tersebut.
David mengusap perutnya yang seperti akan meledak karena kekenyangan. Benar-benar berada dirumah ini membuat perut David serasa dimanjakan, ingin sekali dirinya seperti Alex yang ikut tinggal dirumah ini.
"Sepertinya kalau Tuan David memiliki istri seperti Nona Rose pasti akan dibuat kenyang tiap hari, apalagi makanan yang dibuat Nona Rose sangat enak" Alex mulai melancarkan serangannya untuk menggoda bosnya itu.
David yang semula menyandarkan punggungnya di sofa empuk langsung saja bangun dan duduk dengan tegap seraya memberikan tatapan mematikan untuk Alex.
"Iya kan Tuan David??" tanya Alex sambil menarik turunkan alisnya.
Bahkan Alex menahan senyumnya saat melihat wajah David yang tegang akan pertanyaannya barusan.
David hendak menjawab dengan sudah membuka mulutnya namun hal itu ia urungkan lantaran Rose sudah terlebih dahulu berbicara.
"Tentu saja, bukan hanya dia tapi siapa saja yang nanti akan menjadi suamiku pasti akan selalu aku manjakan dan aku buat dia bahagia setiap harinya" sahut Rose dengan wajah yang bersinar dan berseri seakan dirinya saat ini tengah mengkhayal akan kehidupan rumah tangganya nanti.
"Hei, bagaimana bisa kamu yang berbicara seperti itu, harusnya seorang laki-laki yang berbicara seperti itu kepada perempuan. Dasar aneh" David merasa tidak terima akan jawaban Rose tadi.
Entahlah tidak terima dalam hal jawaban atau tidak terima dengan siapa yang akan menjadi suami Rose nanti yang pastinya akan disayang oleh perempuan itu.
"Terserah aku lah, itukan rumah tangga ku nanti. Urus saja rumah tangga mu sendiri" Rose seakan tidak mau kalah.
"Jelas saja itu menjadi urusanku, karena ..."
Ucapan David terhenti setelah dia merasa kalau apa yang barusan ia ucapkan adalah sesuatu yang salah.
Mengapa dia harus ikut campur dalam kehidupan pribadi perempuan itu, sungguh keanehan telah terjadi didalam diri David.
"Karena apa??" tanya Rose penasaran karena David tidak melanjutkan perkataannya barusan.
"Hah??"
David menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu seraya melirik kepada Sekertaris Ren dan Alex seakan ingin meminta bantuan kepada mereka berdua namun keduanya tidak ada yang perduli sama sekali dan berpura-pura sibuk dengan aktivitas masing-masing.
"Silahkan anda jawab sendiri Pak David, bukankah anda yang memulai semuanya tadi"
Sekertaris Ren menertawakan kebodohan atasannya itu dalam hati.
"Sialan, mereka berdua tidak ada yang mau membantuku, lihat saja nanti kalian".
David akan memberi perhitungan kepada Sekertaris Ren dan Alex nanti tetapi sebelum itu dirinya harus bisa menyelesaikan masalah yang berada didepan matanya ini lebih dulu.
"Karena apa??" tanya Rose lagi karena tidak mendapatkan jawaban sedari tadi.
"Em karena aku adalah CEO Agensi mu, aku tidak mau menanggung rugi jika nanti kamu akan berkencan dengan seseorang yang tidak jelas. Iya betul, aku tidak ingin perusahaan ku mengalami kerugian akibat skandalmu nanti"
Berhasil, David akhirnya memberikan jawaban yang masuk akan menurutnya.
"Oh begitu, tapi kau tenang saja karena aku tidak akan membuat perusahaan mu mengalami kerugian karena pasangan ku nanti adalah seseorang yang hebat"
Rose bangga memperkenalkan Steve sebagai pasangannya meskipun dirinya tidak pernah bertemu dengan laki-laki itu namun Rose percaya dan yakin jika Steve adalah seseorang yang hebat dan membanggakan.
Suasana perseteruan masih jelas dirasa antara Rose dan David, diantara mereka berdua sepertinya tidak ada yang mau mengalah.
"Baguslah jika pasangan mu adalah laki-laki yang hebat, itu lebih baik dari pada menyebabkan Perusahaan ku nanti rugi" David memasang wajah datar dan angkuhnya.
"Tentu saja, aku tidak akan memilih laki-laki yang salah untuk jadi pendamping hidupku" sahut Rose yang merasa tidak terima jika Steve nya dihina oleh orang lain.
"Dia sangat menyebalkan".
Rose mengumpat David di dalam hatinya.
"Memangnya seperti apa pasanganmu itu hingga membuat dirimu begitu membanggakannya?" tanya David penasaran.
"Paling tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan diriku, lihatlah aku ni bukan cuman CEO sebuah Agensi tapi juga calon penerus satu-satunya dari Brawijaya Group apalagi diriku sangat tampan, tentu saja laki-laki itu tidak ada apa-apanya sama sekali. Dia pasti hanya seorang laki-laki bodoh saja"
David membanggakan dirinya sendiri, atau lebih tepatnya tidak mau kalah dengan pasangan Rose meskipun dia tidak tau seperti apa wujudnya namun yang pasti David yakin jika pasangan Rose itu tidak akan dapat menyainginya dari segi apapun.
"Kenapa kau jadi penasaran dengan pasangan ku?" tanya balik Rose dengan tatapan menyelidik.
"Aku tidak penasaran hanya mau tau saja bagaimana rupa pasangan yang kau banggakan itu"
"Lalu apa bedanya ingin tau dengan penasaran, dasar aneh"
"Apa kau bilang!!"
David tidak terima dirinya di katakan aneh oleh Rose, bagaimana manusia super tampan dan kaya seperti dirinya bisa disebut aneh.
...****************...
Baku hantam aja dah kalian 😒😌
Serba salah kalian, kalo deket bawaannya pen berantem mulu, nikah sono biar bisa berantem dikamar... eh 😵🤕🤣🤣
Dukung terus ya jangan lupa votenya, kembangnya siram sama air kopi kalo ngga ada juga, nonton iklan dah kalian yang gratisan wkwk 🤣🤣
tp itu siapa yg kirim surat nya?