Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Papa
Hari berganti begitu cepat, Alana dan Cia kini sudah pulang ke rumah. Namun, kaki Alana belum sepenuhnya sembuh ia menggunakan kursi roda setiap hari.
"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya. Aku pulang cepat hari ini". Rafa mencium kening Alana.
"Mas hati-hati ya". Sahut Alana pelan.
Rafa mengangguk sambil tersenyum lalu meninggalkan Alana dikamar sendirian.
Saat turun tangga, Cia tengah duduk di sofa sambil di suapi oleh pengasuhnya.
"Cia, papa berangkat kerja dulu ya. Cia baik-baik dirumah ya".
Cia mengangguk sambil tersenyum lucu.
"Mba, jagain Cia ya. Sekalian cek Alana sesekali ya".
"Baik pak" sahut pengasuh Cia.
________
Sore hari, Safa baru pulang dari pekerjaannya. Dilampu merah, ia melihat Johan dan Vino membeli buket bunga dua. Terlihat wajah ceria Vino begitu menggemaskan.
"Mereka beli buket bunga dua, buat siapa? Untuk aku? Apa dia mau meminta maaf karna pertengakaran kemaren?" Safa tersenyum didalam mobil.
Saat mobil Johan melaju, Safa mengikutinya dari belakang. Seketika Safa tersadar bahwa jalan yang diambil Johan bukan jalan menuju rumahnya.
"Mereka mau kemana? Apa mau beli sesuatu lagi?" Safa terus mengikuti mereka.
Safa menginjak rem mendadak saat melihat mobil Johan terparkir di depan gerbang besar berwarna hitam.
"Ini rumah siapa? Oh... Mereka mau kasih bunga itu untuk mantan istrinya dan anak sialan itu".
Safa memperhatikan dari mobil hingga mobil Johan masuk ke pekarangan rumah besar itu.
Safa mengendap, penasaran dengan apa yang mereka lakukan didalam. Rahang Safa mengeras saat melihat Alana dan Cia memegang bunga itu.
"Makasih Vino, udah jenguk kita. Ayo masuk"
Ajak Alana kepada Vino dan juga Johan.
Disana Rafa mendorong kursi roda Alana, langkah mereka terhenti saat suara Safa menggema.
"Hebat ya, kalian semua sama brengseknya ternyata. Suami macam apa kamu Rafa membiarkan istri kamu menerima bunga dari mantan suaminya?"
Safa menatap tajam orang disana dengan penuh emosi. "Vino... Ngapain kamu disini? Pulang!! Mommy bilang pulang ya pulang!!" Suara Safa meninggi.
Rafa segera memanggil pengasuh Cia untuk membawa Vino dan Cia ke kamarnya.
"Vino!" Safa berteriak kesal. "Lo semua brengsek".
"Kamu, kamu yang berengsek." Sahut Alana penuh penekanan. "Kamu pembuat onar Safa".
Safa dan Alana saling menatap tajam penuh kebencian diantara keduanya.
"Lo yang bikin semua kacau Alana. Gue minta jangan ganggu Johan. Dan anak lo gak sepantasnya dapet kasih sayang Johan."
"Udah, gak usah berantem. Kamu mau apa kesini?" tanya Rafa pada Safa. "Jika hanya menimbulkan keributan lebih baik kamu pulang". Rahang Rafa mengeras, matanya tajam menatap Safa.
"Johan... Kamu liat sendiri kan? Alana dan Rafa gak sebaik yang kamu kira. Kita pulang, ingat baik-baik Vino anak kamu satu-satunya. Anal sialan itu bukan anak kamu" Safa menghampiri Johan menunjuk dada Johan.
"Cukup Safa! Kamu gak berhak larang aku ketemu Cia. Dia bukan anak sialan, Cia anak aku sama seperti Vino. Harusnya kamu dukung aku memperbaiki kesalahan aku dimasa lalu. Bukan kayak gini Safa". Ucapan Johan memojokan Safa.
"Dan lagi, Alana lebih baik dari pada kamu. Satu hal yang aku sesali, nikah sama kamu Safa. Harusnya aku sadar kalo kamu bukan perempuan yang siap jadi istri aku. Tapi hanya memanfaatkan aku". Tambah Johan lagi.
"Oh... Jadi sekarang yang bermasalah aku? Tau kenapa aku jadi jahat kayak gini? Karena dulu juga kalian jahat. Kalian nikah, punya anak dan aku? Aku pacar kamu saat itu harus pura-pura baik-baik aja. Bahkan aku rela di jadikan selingkuhan".
"STOP!!" Teriak Alana.
"Itu kebodohan kamu Safa. Toh, sekarang Johan balik sama kamu lagi. Apa yang kamu permasalahin lagi? Karna Johan ingin ketemu anaknya? Itu hal wajar Safa. Johan punya hak atas Cia, dan Cia berhak dapat kasih sayang dafi Johan. Biarkan Vino tau jika dia punya kakak".
Kalimat Alana membuta Safa semakin geram dan marah. Rafa yang dibelakang Alana, membuka suara.
"Kalian pulang aja, urus permasalahan kalian. Selesaikan dirumah kalian jangan disini".
"Pak Rafa, saya minta maaf atas kegaduhan yang disebabkan Safa, saya pamit dulu pak"
Johan menjemput Vino dikamar Cia,
"Cia, papa sama Vino pulang ya sayang. Cia harus cepat pulih ya, Nak. Besok papa kesini lagi". Johan mencium kening putri kandungnya.
"Vino mau ikut ya Dad" Sahut Vino
Johan mengangguk sambil tersenyum
lalu segera pulang. Meninggalkan Cia dikamar sendirian, dan meninggalkan rumah Rafa.
Mobil Johan melaju pelan, wajahnya dipenuhi rasa bersalah, cemas dan juga amarah.
"Daddy, Mommy marah-marah lagi? Apa benar tante yang duduk dikursi roda perempuan jahat yang mengambil Daddy dari Mommy?"
Vino bertanya polos, tapi penuh tuntutan jawaban.
"Tante itu bukan orang jahat sayang, dia mama dari kakak Cia, dulu Daddy sempat menikah dengan tante Alana, tapi sekarang Daddy menikah dengan Mommy, lalu lahir Vino. Jadi Cia adalah kakak Vino. Papa faham, kamu masih bingung. Suatu hari nanti kamu pasti mengerti, Nak". Johan menjawab pertanyaan Vino penuh perhitungan.
Vino yang masih bingung menganggukan kepalanya.
"Vino ngerti Daddy, Vino punya kakak namanya Cia. Anak Daddy. Tapi kenapa kakak manggilnya papah?"
"Sejak bayi, kakak emang panggil daddy dengan sebutan papah". Sahut Johan sabar.
"Daddy happy di panggil Papa sama kakak?"
Johan mengangguk sambil senyum
"Vino mau manggil Papah juga kalo gitu, biar Papa happy" kalimat Vino membuat dada Johan terasa hangat. Amarah pada Safa luntur sedikit, Johan bahkan berfikir untuk tidak meributkan hal apapun lagi didepan Vino.
"Vino mau panggil Papah? Boleh sayang jadi mulai sekarang panggil Papah?"
"Iya, Papah"
Vino membiasakan diri dengan panggilan Papa ke Johan. Tujuan Vino tak jauh, ia hanya ingin sama dengan kakaknya, Cia. Yang memanggil Papa sejak bayi kepada Johan.