Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 KELUARGA HARUM INTAN PURNAMASARI SEBENARNYA
Di tengah rasa tersanjung atas ucapan teman baru anakku itu, tetap saja aku sangat penasaran dengannya.
Aku merasakan semua kebetulan ini bukanlah sebuah kebetulan yang "biasa".
Ada sesuatu yang harus aku tahu lebih jauh darinya.
Akan tetapi, dengan duduknya anakku di sampingku, apakah harus kutanyakan semua itu pada anak perempuan itu?
Apakah anakku juga harus tahu identitas sosok Harum Intan Purnamasari ini dari sekarang?
Sambil tetap melihat mereka berdua kembali mengobrol riang, aku coba merenung sebentar, berpikir. Apakah harus aku bertanya semuanya?
Dan, setelah beberapa lama, akhirnya kuputuskan saja untuk bertanya semuanya pada anak perempuan itu. Karena, aku yakin Harumku juga bisa memahami. Dan ia juga harus tahu tentang teman barunya itu.
"Emmm, maaf ya, Ibu mau tanya lagi. Boleh?" kataku, membuat obrolan ceria mereka berdua terhenti.
"Iya, Bu. Boleh, kok!" jawab anak perempuan itu.
"Tadi kan anak Ibu bilang, kalo di sekolah tadi, Pak Koko kasih panggilan baru buat kalian, nih..." kataku, membuka obrolan lagi.
"Iya, Bu! Bener!" malah anakku yang menjawab dengan ceria.
"Iya, Bu... Hehehe..." tambah anak perempuan itu.
"Haruma dan Harumi, ya?" tanyaku memastikan lagi.
"Hehehe... Iya, Bu! Aku dipanggil Haruma, dia dipanggil Harumi!" malah anakku lagi yang menjawab.
Memang agak menggemaskan tingkah anakku ini. Ditambah juga dengan cengengesannya anak itu.
Benar-benar terasa seperti mengobrol dengan anak kembar.
"Ya udah, boleh gak, kalo Ibu juga manggil kalian begitu? Hehe..." tanyaku, sedikit memberikan kode kalau aku juga suka dengan panggilan itu saat mereka berdua bersama.
"Wah? Ibu suka juga, ya? Yeeeyyy!" respon anakku.
"Boleh, Bu! Boleh! Hehehe..." tambah anak itu.
"Okeee..." jawabku.
"Emmm, Haruma..." panggilku pada Harum, anakku.
Dia menatapku dengan mata buta putihnya.
"Kamu tau, gak?" tanyaku.
"Apa Bu?" tanya anakku.
"Harumi ini, ternyata rumahnya di Gang Ansip, loh..."
"Iya, Bu. Aku udah tau kalo itu. Tadi Harumi juga udah bilang kok, Bu." jawab anakku.
Aku pun tersenyum, dan kembali bertanya pada anakku.
"Tapi, kamu tau juga, gak?"
"Apa tuh, Bu?" anakku mulai penasaran.
Sejenak, kutatap mata putih anakku. Dan sedikit melirik ke arah Harumi, wajahnya terlihat tenang dan polos saja.
"Harumi ini, ternyata dulunya tinggal di Cirebon juga, Nak." kataku.
Sontak, reaksi yang sudah kuduga pun muncul dari anakku.
Wajahnya terlihat agak tak percaya.
Dan anakku pun menatap Harumi.
Mereka berdua kini saling pandang.
"Loooh? Ha-Harumi, kamu dari Cirebon juga?" tanya anakku.
"Iya, Haruma. Sebelumnya aku tinggal sama orang tua kandungku di Cirebon. Tapi, sejak orang tuaku meninggal, aku diadopsi sama orang tua baru. Nah, sekarang, aku pindah ke Gang Ansip sama orang tua baruku."
Penjelasan panjang lebar dari Harumi itu, membuat Haruma jadi diam. Aku bisa merasakan juga bagaimana batin anakku mendengarnya.
Akan tetapi, Haruma pun malah membuka kisah hidupnya juga pada Harumi.
"Loooh... Kalo gitu, kita sama banget, dong! Aku juga kayak gitu loh, Harumi!" kata anakku.
"Hah? Sama banget gimana, Haruma?" anak itu pun tampak heran dan sedikit bingung.
"Iya... Aku juga dulunya di Cirebon. Dan orang tua kandung aku juga meninggal..." jelas Haruma.
Harumi malah tampak semakin tak percaya mendengarnya.
"Hah? Masa, sih?" tanya Harumi.
"Iya! Jadi, Ibuku ini, orang tua angkat aku. Aku juga diadopsi sama Ibuku ini, Harumi." jawab Haruma dengan entengnya.
Harumi pun semakin tak percaya. Dia sampai menganga sedikit mulutnya mendengar penjelasan Haruma.
"Kok? Bisa sama banget gini ya kita?" respon Harumi selanjutnya.
"Iya, ya? Aku juga kaget loh, pas tadi Ibuku bilang kamu dari Cirebon, orang tua kandung kamu meninggal, terus kamu tinggal sama orang tua angkat juga." celoteh Haruma.
Aku yang diam melihat mereka berdua saling membuka sejarah keluarga dan kehidupannya ini, malah merasa seperti mempertemukan dua saudara kembar yang terpisah.
Padahal, aku juga belum tahu detail sebenarnya yang lebih jauh tentang Harumi itu.
Aku pun melanjutkan pertanyaanku.
"Emmm... Harumi,"
"Iya, Bu?"
Maaf nih, Ibu mau tanya sama kamu. Tapi, kalo kamu gak mau jawab, gak apa-apa, kok..." kataku.
"Tanya aja Bu, aku jawab, kok..." kata Harumi.
"Emmm... Maaf ya, Harumi. Kalo Ibu boleh tau, maaf banget, maaf..."
"Iya, Bu. Tanyain aja, gak apa-apa..." Harumi meyakinkanku untuk bertanya apa adanya.
"Emmm... Orang tuamu, meninggalnya karena sakit? Atau, karena apa?"
Dan...
Jawaban Harumi selanjutnya malah membuat batinku dan batin Haruma sangat terkejut.
Harumi, menjawab, dengan entengnya, dengan polosnya...
"ORANG TUA KANDUNG SAYA, MENINGGAL KARENA JADI TUMBAL, BU..."