NovelToon NovelToon
Dikira Sampah Ternyata Pemegang Nasib Dunia

Dikira Sampah Ternyata Pemegang Nasib Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.

Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.

Sejak saat itu, hidupnya berubah.

Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.

Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.

Dan ini baru permulaan.

Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pangeran Sampah

Hari-hari berlalu tanpa banyak perubahan dalam kehidupan Ash.

Bulan demi bulan berganti, lalu tahun demi tahun berlalu dengan ritme yang hampir selalu sama. Setelah mendapatkan kembali ingatan tentang kehidupan sebelumnya, ia sempat berpikir bahwa hidup barunya akan dipenuhi hal-hal luar biasa seperti yang sering muncul dalam cerita fantasi yang pernah ia baca.

Namun kenyataannya, sebagian besar waktunya justru diisi dengan rutinitas yang tenang dan cenderung membosankan.

Ash tidak terlalu keberatan dengan itu.

Sebagian besar waktunya ia habiskan di perpustakaan istana. Tempat itu perlahan menjadi ruang favoritnya. Rak-rak buku yang menjulang tinggi dan aroma kertas tua memberinya ketenangan yang sulit ia temukan di tempat lain. Di sanalah ia mempelajari dunia tempat ia kini hidup, mulai dari sejarah Kerajaan Astoria, geografi dunia luar, kisah para raja terdahulu, hingga teori dasar mengenai sihir dan mana.

Bagaimanapun juga, meski tubuhnya kini adalah milik seorang pangeran, jiwanya masih membawa kebiasaan lamanya sebagai seseorang yang selalu mencari jawaban melalui buku.

Di luar kegiatan membaca, Ash tetap menjalani pendidikan yang diwajibkan bagi keluarga kerajaan. Etika, politik, sejarah, hingga latihan pedang harus ia ikuti tanpa terkecuali.

Latihan pedang bukan sesuatu yang ia sukai, tetapi juga tidak ia benci. Ia memang tidak berbakat, namun setidaknya masih mampu mengimbangi latihan dasar.

Berbeda dengan sihir.

Tidak peduli seberapa banyak teori yang ia pelajari atau seberapa keras ia mencoba mengikuti arahan para pengajar, mana di dalam tubuhnya tidak pernah merespons.

Suatu sore, seorang guru sihir kembali menggeleng pelan setelah melihat Ash mencoba mengumpulkan mana.

"Cukup. Istirahatlah untuk hari ini Yang Mulia," ucapnya pelan tampak mengandung kekecewaan.

Ash menatap telapak tangannya yang tetap kosong.

"Maaf," balasnya lirih.

Guru itu menghela napas pelan dan berbicara pelan, "Aku sudah mengajari Anda selama bertahun-tahun, Yang Mulia. Jika tetap tidak ada perubahan..."

Kalimat itu menggantung.

Ash sudah tahu kelanjutannya.

Harapan mereka perlahan menghilang.

Baru saja ia melangkah keluar dari ruang latihan ketika suara tepuk tangan terdengar dari lorong.

"Hebat sekali."

Ash bahkan tidak perlu menoleh untuk mengenali suara itu.

Pangeran Cedric, kakak keduanya, berjalan mendekat bersama dua kakaknya yang lain.

"Masih gagal lagi?" tanya Cedric sambil tersenyum tipis. "Kudengar kau bahkan tidak bisa menyalakan percikan api," lanjutnya.

"Jangan terlalu keras padanya," sahut kakak sulungnya sambil terkekeh. "Bukankah adik kita memang spesial? Mana saja tidak mau mendekatinya."

Ketiganya tertawa pelan.

Ash hanya menundukkan kepala. "Aku masih akan terus berlatih," balasnya lirih.

"Berlatih?" Cedric mendengus. "Kalau memang tidak punya bakat, berlatih seratus tahun pun hasilnya tetap sama."

Saat Ash mencoba melewati mereka, Cedric sengaja menyenggol bahunya cukup keras hingga tubuh Ash kehilangan keseimbangan.

"Bahkan berjalan dengan benar saja tidak bisa," ejeknya.

Ketiga pangeran itu berlalu sambil tertawa kecil.

Ash mengusap bahunya yang terasa nyeri.

"Huft~ emang anak-anak bangsat yang cuma suka nindas orang lemah," gerutunya pelan.

Ia memilih berjalan menuju perpustakaan.

Melawan mereka hanya akan membuat keadaan menjadi lebih buruk.

Hal itu pernah ia coba beberapa tahun lalu.

Saat itu ia membalas ejekan kakaknya dengan satu kalimat. Akibatnya, latihan pedang hari itu berubah menjadi alasan bagi mereka untuk "memberinya pelajaran". Memar di tubuhnya baru benar-benar hilang hampir dua minggu kemudian.

Sejak saat itu Ash belajar satu hal.

Diam jauh lebih mudah.

Setidaknya rasa sakit karena ejekan akan lebih cepat berlalu dibandingkan jika ia mencoba melawan.

Meskipun begitu, bisikan para pelayan tetap terdengar di mana-mana.

"Itu Pangeran Ash."

"Pangeran yang tidak bisa memakai sihir."

"Kasihan Yang Mulia Raja..."

Ash berpura-pura tidak mendengar.

Ia terus berjalan hingga akhirnya tiba di perpustakaan, satu-satunya tempat di istana yang terasa seperti rumah baginya. Tempat ia bisa menenangkan diri dari lelahnya.

Setidaknya, sampai suatu malam ketika seluruh keluarga kerajaan berkumpul untuk makan malam bersama.

.

.

.

Malam itu, aula makan keluarga kerajaan dipenuhi cahaya lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit. Meja makan panjang telah dipenuhi berbagai hidangan mewah, sementara para pelayan berdiri berjajar di sepanjang dinding, menunggu perintah dalam diam.

Seperti biasa, seluruh anggota keluarga kerajaan hadir.

Ash duduk di kursinya tanpa banyak bicara. Tangannya bergerak perlahan memotong daging di atas piring, sementara telinganya hanya menangkap potongan-potongan percakapan mengenai pajak wilayah utara, perdagangan dengan kerajaan tetangga, dan laporan para kesatria.

Topik-topik itu sudah sangat akrab baginya.

Ia memilih diam dan makan dengan tenang.

Suasana baru berubah ketika Raja Astoria meletakkan gelasnya.

"Ada satu hal yang perlu kita bicarakan," ucapnya dengan nada tenang.

Seluruh ruangan seketika menjadi hening.

Raja memandang satu per satu putra-putranya sebelum akhirnya berhenti pada Ash.

"Beberapa bulan lagi, kalian yang telah mencapai usia lima belas tahun akan mengikuti Upacara Vassal."

Ash mengangkat kepalanya.

Ia tentu mengetahui upacara itu.

Selama bertahun-tahun ia membaca berbagai buku yang menjelaskan sejarah Senjata Vassal. Setiap orang hanya memperoleh satu Senjata Vassal sepanjang hidupnya. Bentuknya berbeda-beda, mulai dari pedang, tombak, busur, perisai, hingga benda-benda yang bahkan tampak tidak cocok digunakan dalam pertempuran.

Tak seorang pun benar-benar memahami bagaimana pemilihannya bekerja.

Sebagian percaya bahwa itu adalah kehendak dunia.

Sebagian lagi meyakini bahwa para dewa memilih sendiri senjata yang paling sesuai dengan jiwa pemiliknya.

Namun satu hal tidak pernah berubah.

Semakin kuat Senjata Vassal yang diterima, semakin tinggi pula masa depan seseorang. Terlebih bagi anggota keluarga kerajaan.

Cedric kemudian melirik Ash. "Saat upacara nanti kurasa ada seseorang yang mungkin justru cocok mendapat sapu."

Tawa kecil terdengar.

Ash tetap menatap piringnya, ia sudah terbiasa mendengar ejekan dari para saudaranya.

"Jangan bersikap tidak sopan, Cedric," ujar Raja dengan nada datar.

Ruangan kembali sunyi.

Cedric segera menundukkan kepala. "Maaf, Ayah."

Meski ditegur, senyum tipis di wajahnya belum benar-benar menghilang.

Raja kemudian kembali menatap Ash. "Walaupun kau tidak bisa menggunakan sihir..."

Kalimat itu membuat Ash menggenggam garpu sedikit lebih erat.

"Setidaknya dapatkan Senjata Vassal yang kuat."

Tidak ada nada marah atau bentakan, namun juga tidak ada sedikit pun kehangatan seorang ayah. Kalimat itu terdengar lebih seperti harapan terakhir daripada sebuah dukungan.

Ash menundukkan kepala. "Ya, Ayah," balasnya lirih.

Hanya itu yang mampu ia ucapkan.

Pangeran ketiga menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil berbisik pelan, cukup keras agar Ash mendengarnya.

"Kalau Vassal pun menolaknya, mungkin dia benar-benar tidak berguna."

Cedric tersenyum kecil. "Jangan bilang begitu. Siapa tahu dia mendapat sendok emas."

"Atau tongkat pel," sambung Pangeran ketiga.

Keduanya kembali tertawa pelan.

Ash mendengar semuanya. Namun ia tidak bereaksi. Ia hanya terus memotong makanan di piringnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Di dalam hati, ia sudah terlalu lelah untuk merasa marah. Ia hanya ingin makan malam ini segera berakhir.

Beberapa saat kemudian, Raja kembali membahas urusan kerajaan, seolah percakapan sebelumnya hanyalah bagian kecil dari agenda makan malam.

Tak lama setelah jamuan selesai, Ash berdiri dan memberi hormat.

"Kalau begitu, izinkan aku kembali ke kamar," ucapnya pelan.

Raja hanya mengangguk singkat.

Ash berbalik meninggalkan aula makan tanpa menunggu siapa pun.

Baru ketika pintu besar itu tertutup di belakangnya, ia mengembuskan napas panjang.

"Capek banget rasanya... Padahal cuma makan malam, udah kayak rapat aja," keluhnya.

Ia tersenyum tipis, tetapi senyum itu segera menghilang.

Langkahnya membawanya menuju balkon kamarnya.

Di hadapannya, langit malam terbentang luas, dipenuhi ribuan bintang yang berkilauan. Entah mengapa, hanya saat memandang langit seperti ini ia merasa pikirannya sedikit lebih tenang.

"Upacara Vassal, ya..."

Ia menyandarkan kedua siku di pagar balkon.

"Aku benar-benar penasaran."

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasakan secercah harapan.

Mungkin... Upacara itu akan menjadi awal dari perubahan dalam hidupnya.

1
Blueria
1 Vote untuk karyamu thor👍
Blueria
Ohhhh... gitu, terjawab sudah
Blueria
Konstelasinya manggil Ash Anda—... Apakah Ash atau Lucien punya indentitas tersembunyi ya
Blueria
Pakai bahasa formal—kayak sebelum-sebelumnya aja puh, nggak enak bacanya😁 Hanya saran🙏
Katsumi: Buat ngobrol ama bangsawan atau orang tua nanti pling pake bahasa formal. Selain itu pake informal, karena pengen kubuat santai
total 1 replies
Blueria
Recommended, alurnya mengalir dan percakapannya enak dibaca. Adapun yang paling membuatku ingin terus lanjut baca ialah konsep konstelasinya...
Blueria
Dari nama Ophiuchus di sinopsis, keinget Return The Disaster Class Hero. Lupa nama mc-nya karena udah lama gak baca manhwanya.
Deutsch
keren lanjut
Mr. Wilhelm
Sang Sepuh is Back! /Determined/
Katsumi: mana ada🗿
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!