Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengapa?
Masih terngiang setiap kalimat yang dilontarkan Emma kepadanya. Levi sengaja menayangkan adegan di pantai berulang kali di setiap sudut matanya memandang. Puluhan bahkan ratusan kali ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua itu bukan mimpi. Wanita yang ia kenal sebagai Emina itu menaruh hati kepadanya? Benarkah? Tapi kenapa dia tidak pernah menunjukkannya selama ini?
"Mungkinkah ia sengaja biar aku penasaran? Hehehe."
Levi tertawa tanpa sebab selama perjalanan berangkat kerja pagi itu. Ia sudah tidak sabar untuk menemui penghuni hatinya sebulan terakhir ini.
"Selamat pagi Pak Levi," sapa siswa perempuan yang tak sengaja berpapasan dengannya ketika ia keluar dari mobilnya.
"Selamat pagi juga," Levi menjawab sapaan itu dengan senyum sumringah lebih dari biasanya. Kini dimatanya semua tampak indah. Tempat kerja yang selama ini membuatnya stress dengan segala tugas yang bejibun itu berubah menjadi taman bunga lengkap dengan air mancur ditengahnya.
Para siswa yang dulunya tampak seperti monster karena kenakalan mereka, kini menyamar menjadi malaikat dengan lingkaran cahaya di atas kepala mereka. Bahkan Pak Surya yang biasanya berpenampilan layaknya raja iblis yang selalu memberikan perintah seabrek malah menjadi badut pesta ulang tahun di matanya.
"Wah.... Sungguh indah hari ini," celetuknya.
"Haaah... Miss Emina udah berangkat belum ya? Masih pagi sih ini, mobilnya juga belum ada."
"Oke kita tunggu di kantor aja lah, mumpung jam pertama kosong."
Levi dengan wajah merah muda ranum menaruh tas di mejanya. Ia menata buku-buku dan lembaran kertas yang berserakan di meja, seperti bukan dirinya.
"Wih... Kayaknya ada yang lagi seneng nih," goda Martin yang berada di meja seberang deret.
"Nggak usah ikut campur deh, urusin aja club anehmu itu!" Hardik Levi.
"Itu bukan Club aneh, tapi club matematika."
"Ya...ya, terserah kamu aja!"
Levi sungguh tidak mau moodnya rusak hanya karena meladeni Martin, si musuh bebuyutan.
Levi dan Martin sebenarnya adalah sahabat dari kecil walaupun mereka tidak pernah belajar di atap yang sama. Keluarga mereka yang saling mengenal membuat keduanya akrab seperti saudara. Tapi persahabatan mereka mulai retak ketika pandangan Levi terhadap kehidupan berubah.
Lima tahun yang lalu, Levi meninggalkan hingar bingar dunia gemerlap yang penuh dengan gadis cantik yang selalu memujanya. Dia melepaskan semua urusan kenikmatan duniawi yang ia dapatkan lebih dari orang lain itu dan lebih memilih menjadi Guru seni yang murah senyum.
Sedangkan Martin? Dia tetap disana, sendiri tanpa ada Levi lagi di sisinya. Walaupun ia sudah berusaha mengikuti jejak Levi untuk menjadi guru, tetap saja dia tidak pernah mendapatkan sahabatnya lagi di pihaknya.
'Duh, kok dia lama banget sih? Udah siang pula. Apa dia nggak masuk ya?' batin Levi yang sesekali melihat jam tangannya.
"Apa dia sakit?"
Kini Levi menyesal telah meminta Emma menemaninya di pantai sore itu. Dia pikir angin pantai membuat Emma sakit, sampai absen tidak masuk kerja.
"Lagi nunggu siapa?" Tanya Martin yang tengah selesai dengan kelasnya dan kembali ke kantor.
"Bukan urusanmu!" Levi berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar kantor.
"Lagi nunggu Miss Emina ya?"
Levi yang hampir saja melangkahkan kakinya melewati pintu, tiba-tiba berhenti. Baru kali ini omongan dari Martin bisa mencuri perhatiannya.
"Loh kamu nggak tahu?" Martin memancing Levi walaupun sebenarnya dia sudah terpancing dari awal Martin mengucapkan nama Emina.
"Tahu apa?" Ketus Levi, menoleh dengan wajah sangar.
"Miss Emina sudah resign. Mulai hari ini dia tidak lagi bekerja disini."
"Apa? Jangan bohong! Itu nggak lucu!"
"Hah, aku nggak pernah bohong tuh. Kalau nggak percaya, tanya aja ke Pak Surya."
Tanpa mendengar perkataan Martin lebih lama, Levi sudah berlari ke Kantor Kepala Sekolah. Dia tak lagi menghiraukan jadwal mengajar dan siswa yang berjalan kearahnya untuk menjemputnya.
Brakkk!!!!!
"Astaga! Kamu kenapa? Kok datang-datang nendang pintu."
Pak Surya yang sedang mengagumi dirinya sendiri di depan cermin, terkejut sampai berjingkat memegangi dadanya.
"Bapak memecat Emina?" Tanyanya langsung tanpa babibu.
"Tidak, buat apa aku memecatnya. Toh dia pergi sendiri kan akhirnya. Emang kalau orang yang tidak berdedikasi itu pasti nggak akan lama bekerja. Lihat aja dia!!"
Levi mendengus sampai kerutan di dahinya terlihat jelas. Dia masih tidak mengerti apa yang menyebabkan Emma memilih mundur dari pekerjaannya.
"Ck!"
"Levi! Leviiiii! Dasar anak itu!!!!"
Pak surya memanggil Levi yang berlalu begitu saja, meninggalkan Pak Surya dengan cermin kesukaannya.
.
.
.
"Ada apa denganmu Emina?"
Levi berdiam diri di kursi depan mobilnya. Otaknya memproses semua yang sedang terjadi. Alasan apa yang dimiliki Emma sampai dia tiba-tiba meninggalkannya.
'Apakah aku berbuat salah?'
Dia berusaha mengingat kembali momen terakhir mereka bertemu.
"Shhh.... Ah. Kayaknya kemarin normal aja deh. Kecuali dia yang bilang cinta." Ingatan itu langsung membuatnya tersenyum bersemi.
"Stop! Bukan saatnya membayangkannya!" Levi menepuk pipinya untuk membuat dirinya sadar atas posisinya sekarang.
Kemudian muncul bayangan saat dirinya dan Emma berdua saja di mobil waktu pulang dari Pantai. Ia kembali menelusuri apa yang dia lihat. Matanya, wajahnya, dan caranya menyelipkan rambutnya di belakang telinga, semua tampak biasa saja.
"Lalu kenapa? Bukankah dia mencintaiku? Apa semua itu hanya halusinasiku saja?"
Tut...tuuuut...tuuut...
Levi berusaha menggapainya dengan menelpon, tapi Emma tidak mengangkat. Ia ingin sekali menghampiri tempatnya tinggal, tapi dia tak tahu alamatnya. Sedangkan dirinya sudah terlanjur gengsi untuk sekedar bertanya ke Pak Surya tentang alamatnya di kertas lamaran.
Tut....tuuuut...tuuut...
Ia masih berusaha menghubunginya berulang kali, berharap kali ini ia akan mengangkatnya.
Bip
Senyum Levi kembali mengembang karena ia berpikir akan mendengar suara orang yang ia rindukan itu.
"Halo?"
Bukannya suara wanita yang menyambut, malah ia mendengar suara yang berat khas laki-laki.
"Halooo?" Suara itu meninggi karena Levi tak kunjung menjawab salamnya.
Lalu ia mendengar seseorang dari kejauhan berteriak ke orang yang telah menerima panggilan darinya.
"Ngapain kamu? Cepetan! Lelet banget ah!"
'Emina? Itu suaramu?'
"Ha, halo. Bisa bicara dengan Emina?" Levi berusaha meredam kecemburuan demi bisa berbicara dengan pujaan hatinya itu.
"Emina? Siapa Emina?"
Mendengarnya, Levi terkejut. Dia jelas mendengar suara calon kekasihnya itu di telepon.
"Tejo?" Ucap Levi menerka siapa yang mengangkat panggilannya.
"Iya, loh kok kenal?"
"Bu, ada telepon!" Tejo berteriak sedangkan Emma sedang serunya mengadakan rapat di ruang 1.
"Tutup dan cepat kesini!!!!" Teriak Emma dari kejauhan.
"Maaf ya, kita lagi sibuk banget. Kalau mau-"
"TEJO!!!!!" Teriakan Emma semakin lantang dan penuh amarah.
"Iyaaa....." "Maaf ya," ucap Tejo menutup panggilan Levi yang masih tidak percaya dengan pendengarannya.
Dia semakin bingung dengan apa yang terjadi. Namun satu yang dia tahu pasti, Emma sudah tidak menginginkan Levi berada di sisinya lagi.
.
.
.