Keira baru saja menyaksikan kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil.
Detik berikutnya, dia membuka mata -- dan menyadari dirinya terjebak di tubuh bayi berusia satu setengah tahun.
Ini bukan mimpi. Ini adalah kehidupan keduanya. Dan hari ini... adalah sehari sebelum Papa Jiankok dan Mami Sherly bercerai.
Di kehidupan pertamanya, perceraian itu menghancurkan segalanya. Papa kembali menjadi budak Oma Hoo -- nenek yang pernah mencubit bayi Keira sampai merah, yang menyebut cucunya sendiri "anak cewek nggak berguna," yang menggeledah kantong celana Jiankok sampai ke dalam untuk merampas uang terakhirnya. Mami Sherly berjuang sendirian sampai tubuhnya hancur. Dan pada akhirnya, mereka berdua pergi meninggalkan Keira selamanya.
Tapi kali ini, Keira tidak akan membiarkan itu terjadi.
Dengan otak dewasa di balik wajah bayi yang menggemaskan, Keira mulai bergerak. Langkah pertama: pastikan Papa tidak menyerahkan uang terakhirnya ke Oma. Langkah kedua: bantu Mami jualan nasi di pinggir proyek -- dari penghasilan dua puluh dua ribu per hari. Langkah ketiga: gunakan ingatan dari kehidupan sebelumnya untuk mengubah keluarga kecil ini dari nol... menjadi kerajaan bisnis bernilai miliaran.
Tapi mengubah nasib tidak semudah membalik telapak tangan.
Oma Hoo datang dengan rencana menculik Keira. Keluarga Goh menuntut Sherly jadi "ATM" untuk adik laki-lakinya. Dan ketika keluarga Hoo mulai kaya, seluruh kerabat yang dulu menginjak-injak mereka tiba-tiba datang mengetuk pintu dengan senyum manis.
Maka Keira merancang satu strategi besar: **pura-pura miskin**.
Di balik baju lusuh dan mobil butut, tersembunyi kekayaan yang tak seorang pun tahu.
Dan di antara semua kekacauan ini, ada seorang anak laki-laki pemurung bernama Yuchuan -- pewaris keluarga konglomerat Tjia -- yang tujuh tahun lalu pernah diselamatkan oleh seorang gadis kecil gemuk yang memanggilnya "teman."
Akankah Keira berhasil menyelamatkan keluarganya, menjaga rahasia kekayaannya, dan menemukan kembali cinta pertamanya... sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Foto Berdua dan Janji Kecil
Sherly memutuskan pulang ke Jakarta pada hari ketiga.
Bukan karena perjalanan tidak menyenangkan. Bukan pula karena uang habis. Tetapi sejak pagi, ia sudah tiga kali mengecek telepon hotel, menanyakan keadaan Warung Kei kepada Shanshan, lalu menghitung di kepala berapa banyak pesanan nasi kotak yang tertunda.
"Tujuh hari terlalu lama," katanya sambil menutup buku catatan kecil. "Tiga hari cukup. Toko ditinggal lama, hatiku tidak tenang."
Jiankok mengangguk cepat. "Aku juga kangen dapur."
Keira menatap Papi.
"Papi kangen dapur atau kangen nasi gratis?"
"Dua-dua."
Sherly mencubit pinggang suaminya. "Dasar."
Keira tertawa, tapi matanya melirik Yuchuan yang berdiri tidak jauh. Anak itu memegang kertas perjanjian kecil di sakunya. Sejak semalam, ia beberapa kali menyentuh saku itu, seperti memastikan kertasnya belum hilang.
Ketika rombongan TK mendengar keluarga Hoo pulang lebih cepat, Ong Lily tentu tidak melewatkan kesempatan.
Di lobi hotel, ia mengangkat alis. "Sudah pulang? Uangnya habis, ya?"
Beberapa orang tua menoleh.
Dulu, kalimat seperti itu mungkin akan membuat Sherly menunduk. Sekarang ia hanya tersenyum.
"Iya," jawab Sherly ringan. "Makanya pulang cari uang."
Ong Lily tersedak oleh jawabannya sendiri. "Anda..."
"Kami orang usaha, Tante. Kalau tidak kerja, uang tidak jalan. Tidak semua orang bisa liburan sambil uang tidur manis di bank."
Jiankok buru-buru mengangkat koper untuk menutupi senyumnya.
Keira menatap Ong Lily dengan wajah polos. "Tante juga cari uang?"
Wajah Ong Lily menjadi merah. "Anak kecil tidak usah ikut bicara."
"Oh." Keira mengangguk. "Berarti Tante tidak cari."
Sherly cepat menarik Keira sebelum perang kecil berubah jadi perang besar. Tapi tawa tertahan sudah terdengar di sekitar mereka.
Keira tidak merasa malu.
Dalam kehidupan lalu, ia mudah terluka oleh tatapan orang kaya karena di rumahnya sendiri tidak ada tempat aman. Kalau orang tuanya bertengkar, dunia luar terasa seperti pisau tambahan. Tapi sekarang Papi Mami berdiri di sisinya. Orang lain boleh menertawakan uang, baju, pekerjaan, bahkan bau minyak goreng. Semua itu tidak bisa menusuk terlalu dalam.
Karena rumahnya tidak bocor lagi.
Sebelum berangkat ke bandara, Ong Yunxia meminta satu foto terakhir di halaman hotel. Kali ini Yuchuan tidak langsung menolak. Ia hanya menatap Keira, lalu berdiri kaku di sampingnya.
"Senyum," kata Keira.
Yuchuan diam.
"Kalau tidak senyum, nanti foto kamu kayak patung mahal."
"Patung mahal bagus."
"Tapi tidak dapat camilan."
Sudut bibir Yuchuan bergerak.
Sherly cepat mengangkat kamera. Jiankok menyalakan perekam video, kali ini benar-benar mengarah pada anak-anak, bukan rumput.
"Kei, Chuan, lihat sini."
Keira tersenyum lebar. Yuchuan tidak tersenyum penuh, tetapi bibirnya sedikit melengkung. Untuk anak lain, itu hanya senyum kecil. Untuk Yuchuan, itu sudah seperti membuka jendela setelah hujan panjang.
Klik.
Lampu merah di perekam video menyala.
Keira tiba-tiba menoleh kepada Yuchuan. "Chuan."
"Apa?"
"Kalau Papi Mami kamu ribut, kamu boleh sedih. Tapi jangan benci diri sendiri."
Yuchuan memandangnya.
Kalimat itu berat untuk anak kecil. Keira tahu. Maka ia menurunkannya menjadi kata-kata yang lebih sederhana.
"Orang besar juga bisa salah. Papi Mami juga manusia. Kalau mereka capek, mereka ribut. Kalau mereka pergi kerja, bukan berarti kamu jelek."
Yuchuan menggenggam ujung bajunya.
"Kalau... mereka pisah?"
Ong Yunxia yang berdiri tidak jauh langsung memucat. Sherly juga menahan napas.
Keira tidak melihat orang dewasa. Ia hanya melihat Yuchuan.
"Kalau rumah orang besar berubah, Chuan tetap Chuan." Ia menepuk dada kecilnya sendiri. "Di sini harus sayang Chuan."
"Sayang diri sendiri?"
"Iya. Kalau kamu tidak sayang Chuan, nanti siapa yang bikin camilan buat Bu Guru Gembul?"
Yuchuan menatapnya lama.
Lalu ia berkata pelan, "Aku belum bisa bikin."
"Makanya belajar."
Kali ini, senyum kecil Yuchuan benar-benar terlihat.
Ong Yunxia menunduk cepat, menyembunyikan mata basahnya. Ia tidak menyela. Mungkin untuk pertama kalinya, ia membiarkan anaknya menerima kalimat yang tidak bisa ia berikan sendiri.
Di bandara, suasana lebih ramai daripada saat berangkat. Anak-anak membawa oleh-oleh, orang tua menarik koper, guru menghitung kepala berkali-kali. Keluarga Hoo dan Ong Yunxia berdiri di jalur check-in berbeda karena jadwal penerbangan tidak sama.
Yuchuan memegang kertas perjanjian di sakunya lagi.
"Pulang nanti," katanya kepada Keira, "kamu ajarin aku lagi?"
Keira mengangguk. "Iya."
"Setiap hari?"
"Kalau kamu bayar camilan."
"Aku belajar dulu."
"Aku tunggu."
Yuchuan terlihat ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi kata-katanya berhenti di bibir.
Keira mengangkat kelingking.
Yuchuan menatap jari itu.
"Janji kecil," kata Keira.
Setelah beberapa detik, Yuchuan mengaitkan kelingkingnya. Jarinya dingin, tapi tidak menarik diri.
"Janji kecil," ulangnya.
Ong Yunxia berdiri di belakang putranya, menatap pemandangan itu seperti seseorang yang sedang melihat matahari setelah lama tinggal di ruang tertutup.
"Bu Sherly," katanya pelan, "kalau nanti kembali ke Jakarta, boleh saya mampir ke Warung Kei?"
Sherly tersenyum. "Tentu. Tapi jangan salahkan saya kalau Chuan ketagihan bapao."
Yuchuan menoleh cepat. "Bapao apa?"
Keira langsung menyombong. "Bapao Mami enak sekali. Kamu belum tahu."
"Aku mau coba."
"Bayar."
Jiankok tertawa. "Anak ini benar-benar anak kasir."
Saat panggilan penerbangan keluarga Hoo terdengar, Yuchuan tidak menangis. Ia hanya berdiri lebih tegak, seperti anak kecil yang sedang berusaha keras menjadi kuat.
Keira melambaikan tangan.
"Chuan, jangan lupa. Sayang Chuan."
Yuchuan mengangguk kecil.
Di dalam pesawat, Keira duduk di dekat jendela. Ia pikir perjalanan pulang akan sunyi. Tapi beberapa menit sebelum pintu pesawat ditutup, Ong Yunxia muncul tergesa di lorong bersama Yuchuan.
Ternyata maskapai memindahkan mereka ke penerbangan yang sama karena jadwal awal tertunda.
Yuchuan berdiri di samping kursi Keira, menatap bangku kosong di sebelahnya.
Sherly melihat Ong Yunxia, lalu tersenyum memahami. "Chuan boleh duduk sini kalau mau."
Yuchuan tidak langsung menjawab.
Keira menepuk kursi. "Bayar camilan nanti."
Ia duduk.
Pesawat lepas landas. Awan putih lewat di luar jendela. Jiankok masih tegang, tapi sudah tidak seheboh pertama kali. Sherly memeriksa tas kamera, lalu melihat dua anak di sebelahnya.
Yuchuan awalnya duduk tegak. Lama-lama kepalanya miring. Matanya setengah tertutup.
Keira tidak bergerak.
Akhirnya, kepala kecil itu jatuh pelan ke bahunya.
Yuchuan tertidur.
Sherly dan Jiankok saling pandang.
"Anak kita bisa jadi guru," bisik Jiankok.
Sherly tersenyum lembut. "Guru yang minta dibayar camilan."
Keira menunduk menatap Yuchuan yang tidur. Bulu matanya panjang, wajahnya tidak lagi sedingin saat pertama terlihat di pesawat menuju Surabaya.
Dalam kehidupan lalu, Yuchuan pernah menjadi penyesalan yang tidak sempat ia pahami.
Kali ini, ia ada di bahunya sejak awal.
Keira menatap awan di luar jendela.
Kali ini, aku tidak akan melewatkanmu lagi.
jadi makin seru
Ending nya dapet banget
💪semangat thoor