Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Racun asing dari barat
Kediaman Guan.
Setelah tiba dikediamannya Guan Yu bergegas meletakkan Qiuye diatas dipan, lalu memberikan pertolongan sebisa mungkin sebelum tabib datang mengobati.
Ia membebat luka terbuka dengan kain agar darah tidak terus terbuang, lalu mendudukkan raga Qiuye agar ia bisa menyalurkan tenaga dalamnya untuk membuang sisa darah kotor yang masih tertinggal didalam tubuh dan membantu penyembuhan organ dalam.
Lima menit pertama Guan Yu berjuang keras menyelamatkan Qiuye dari ambang kematian, terlihat keringatnya mengalir cukup deras karena tenaga dalamnya terkuras cukup banyak.
Namun selama penyaluran tenaga dalamnya itu terjadi dirinya sama sekali tidak mengerti, mengapa energi dalam tubuh Qiuye terus saja menolak pemberian bantuan energi darinya.
"Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa energinya begitu berantakan," gumam Guan Yu melepas telapak tangannya pada punggung Qiuye.
Pertama didalam hidupnya, Guan Yu merasa kesulitan mengobati seseorang dengan tenaga dalamnya. Ditambah energi Yin dan Yang dalam tubuh Qiuye sangat tidak beraturan, membuat ia harus bekerja ekstra menenangkan energi tersebut.
Guan Yu kembali menyalurkan tenaga dalamnya, kali ini ia mengubah energinya untuk mengatur energi Yang dan Yin pada Qiuye terlebih dahulu agar tenang. Lalu sejurus kemudian ia baru bisa menyalurkan pengobatan organ dalamnya.
Setelah berjuang cukup keras hingga menguras tenaga, akhirnya Guan Yu berhasil membuat Qiuye memuntahkan darah kotor yang menggumpal.
Disusul dirinya memuntahkan darah serupa.
Merasa kelelahan, Guan Yu mengistirahatkan dirinya sejenak untuk memulihkan tenaganya kembali.
Ia bersandar pada kepala dipan, mengatur nafasnya berulang-ulang kali dan membiarkan Qiuye yang masih tak sadarkan diri terbaring diatas pangkuannya.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya Xin yang baru saja tiba.
"Ya, aku baik-baik saja."
Xin membantu Guan Yu agar bisa duduk kembali dan membenarkan posisi Qiuye agar berbaring diatas dipan.
"Xin, aku ingin mengganti pakaianku," ucap Guan Yu merasa tidak nyaman dengan pakaiannya yang kotor terkena darah.
"Baik Tuan," patuh Xin lalu membantu Guan Yu berjalan. Sambil memikirkan sesuatu, kenapa tuannya bisa terluka parah seperti ini?
Lalu setelah selesai membersihkan diri, Guan Yu dan Xin kembali ke kamar dimana Qiuye masih tertidur diatas dipan.
Mereka berdua memandangi penampilan Qiuye yang berantakan dan noda darah diseluruh tubuh maupun pakaiannya.
"Tuan, kita harus bagaimana?" tanya Xin tidak mengerti harus apa. Karena didalam kediaman keluarga Guan Yu tidak ada satu pun seorang pelayan perempuan.
"Bawakan aku air hangat dan baju ganti," ucap Guan Yu pada akhirnya.
"Lalu Tuan? Apa hamba harus mengganti pakaiannya juga?" tanya Xin panik.
"Bawakan saja!" balas Guan Yu gemas.
"B-baik," jawab Xin mengerjakan.
Setelah Xin tiba membawa sebaskom air hangat dan pakaian yang diminta, Guan Yu kemudian duduk disisi Qiuye.
"Xin, keluarlah dulu. Tutup pintu dan jaga kamar ini jangan sampai ada orang lain yang masuk," titah Guan Yu membuat Xin salah tingkah.
"Tuan muda, apa anda akan ---"
"Keluar!" ucap Guan Yu memperingatkan sekali lagi.
"B-baik Tuan," patuh Xin lalu pergi dan menunggu di depan kamar.
Setelah Xin pergi, Guan Yu kembali menatapi wajah Qiuye yang malang. Anda saja waktu itu ia tidak datang tepat waktu, maka sudah dipastikannya nyawa gadis itu tidak mungkin tertolong.
"Bodoh sekali ... " ucap Guan Yu pada Qiuye. Merasa heran karena masih ada manusia bodoh yang lebih mementingkan keselamatan orang lain daripada dirinya sendiri.
Guan Yu menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya perlahan untuk menenangkan diri. Ia mengambil handuk bersih dan membasahinya dengan air hangat, lalu membasuhkan-nya pada wajah Qiuye yang kotor karena darah kering dan keringat.
Kemudian berhenti sejenak untuk membuka pakaian atas Qiuye dan mulai membersihkan luka dan noda darah pada bahu hingga pergelangan tangannya.
Guan Yu selalu menyadarkan dirinya bila saat ini ia sedang berhadapan dengan lawan jenis, karena tidak ada pilihan lain untuk saat ini, karena luka Qiuye bisa saja terkena infeksi bila terus dibiarkan seperti ini.
Maka dari itu selama pembersihkan diri ia selalu memalingkan wajahnya dan menutup matanya untuk menghindari tatapan yang tidak pantas demi kehormatan Qiuye maupun kehormatan dirinya.
Setelah dirasa tubuh Qiuye sudah bersih dari noda darah, Guan Yu bergegas memakaikan pakaian tidur miliknya. Lalu memanggil Xin kembali. "Xin," panggilnya.
"Ya Tuan," sahut Xin masuk ke dalam kamar.
"Bereskan semua ini," perintahnya.
"Baik, Tuan." Xin mengutip pakaian kotor milik Qiuye dan baskom berisi air serta kain basah bekas menyeka tubuhnya.
Guan Yu kembali menatap Qiuye yang masih terbaring lemah diatas kasur, wajahnya masih sangat pucat dan ia kembali mengingat energi kacau didalam tubuh gadis itu.
"Ada sesuatu didalam tubuhnya, mungkin tabib Min bisa membantuku menjelaskan gejala apa ini."
Tak berselang lama kemudian, tabib yang di minta salah satu anak buahnya telah tiba. Tabib itu bergegas masuk dan memeriksa kondisi kesehatan Qiuye.
Tabib Min adalah tabib kepercayaan keluarga Guan, sekaligus mata-mata yang dimiliki Guan Yu perihal informasi lain yang tidak bisa ditangani oleh anak buahnya. Salah satunya mengenai obat-obatan dan racun.
"Hmm.. Ini aneh," ucap Tabib Min setelah memeriksa urat nadi Qiuye.
"Ada apa tabib Min? Cepat beritahu aku."
"Nadinya sangat lemah, namun ada energi tidak beraturan sedang berkecamuk dalam dirinya. Energi itu butuh dilepaskan agar ia bisa sadar," balas Tabib Min.
"Bagaimana cara melepaskannya?" tanya Guan Yu.
"Mohon maaf sebelumnya Tuan muda, sebelum hamba menjawab pertanyaan anda. Ijinkan hamba menjelaskan terlebih dahulu kondisi nona ini."
"Silahkan tabib," balas Guan Yu.
"Baiklah, Tuan. Melihat dari kondisinya, Nona ini telah terkena racun yang cukup lama. Mungkin saja ia sudah terkena semasa didalam kandungan ibunya," balas Tabib Min.
"Racun?"
"Benar, Nona ini terkena racun asing dari barat," ucap Tabib Min
"Racun asing dari barat?"
"Ya racun asing dari barat terdiri dari logam berat, racun rumput patah hati dan juga opium. Setahu hamba racun asing dari barat ini hanya bisa didapatkan di pasar gelap kota bawah tanah," jawab Tabib Min.
"Apa racun itu juga yang membuat rambutnya berwarna seperti ini?" tanya Guan Yu kemudian.
"Rambut berwarna keemasan penyebabnya adalah arsenik, jadi selain terkena racun asing dari barat, nona ini juga terkena racun arsenik. Benar-benar gadis yang malang, namun yang jadi pertanyaan hamba sekarang adalah bagaimana caranya nona ini bisa bertahan hidup hingga saat ini?"
Guan Yu terdiam dan mengingat sesuatu saat ia membersihkan tubuh Qiuye ia menemukan sebuah guci obat, mungkin obat itu yang menyelamatkannya selama ini.
"Tabib Min, coba anda periksa obat ini."
Tabib Min menerima dan memeriksa kandungan obat dari pil itu. "Pil ini terdiri dari beberapa herba, seperti bawang putih, kunyit, alga hijau dan juga daun ketumbar, lalu ada jahe dan juga ginseng, herba ini memang bagus untuk membuang racun logam berat dan lainnya. Namun obat ini bukanlah obat utama dalam mengobati penyakit ini, obat ini hanya sekedar penahan racun agar tidak menyebar luas ke organ-organ utama," jawab tabib Min.
"Lalu apa penawarnya? Dan bagaimana aku bisa mendapatkan penawar itu?" tanya Guan Yu.
"Racun asing dari barat didapatkan dari pasar gelap, begitu pula dengan penawarnya. Tapi Tuan Muda, jangan bilang kalau anda ingin pergi kesana. Pasar gelap bukanlah tempat yang mudah untuk dikunjungi, selain itu kota bawah tanah adalah tempat berbahaya, jadi hamba mohon untuk mempertimbangkan hal ini dengan bijak," jawab Tabib Min.
...Bersambung....