Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.
Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.
Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.
Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.
Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?
[Ding!]
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Jadi Wanita Barbar Dan Petakilan
Dyah Ayu tidak menunggu siapapun memberi perintah.
Begitu sosok berjubah hitam itu melangkah keluar dari bayangan, kakinya sudah bergerak lebih dulu dari pikirannya sendiri.
Kemudian tangannya mencengkeram batu sebesar kepala yang entah dari mana ia temukan. Setelah itu melemparnya dengan tenaga yang jauh melampaui manusia murni biasa.
"Hei kau! Siapa kau berani muncul tiba-tiba?!"
Sukuba menepis batu itu dengan satu jari tanpa mengubah posisi berdirinya.
"Manusia murni yang baru saja mendapat kekuatan dan sudah merasa bisa melawan?" ejek Sukuba dengan senyum yang mengandung racun, lalu matanya yang merah tua memandang Dyah Ayu dari atas ke bawah, "Menggemaskan sekali."
Dyah Ayu tidak mendengar ejekan itu. Atau lebih tepatnya, ia mendengar tapi tidak peduli.
Ia sudah melompat dengan kedua tangan mengepal ke arah Sukuba dengan teriakan yang membelah keheningan perbatasan yang masih berasap.
"Mati kau! Bedebah!"
Sukuba melangkah ke samping dengan malas. Tinju Dyah Ayu menghantam tanah, hingga meninggalkan kawah kecil yang membuat Sukuba mengangkat satu alis.
"Oh? Kekuatan fisiknya tidak buruk untuk pemula."
Namun sebelum Dyah Ayu sempat bangkit, tendangan Sukuba menghantam rusuknya dan melontarkan tubuhnya sejauh sepuluh meter. Dyah Ayu menghantam tumpukan bebatuan dengan punggungnya, lalu merosot ke tanah dengan nafas yang tersengal.
"Aduh! Sakit!" pekik Dyah Ayu.
Harjasa melangkah maju satu langkah dengan rahang yang mengeras.
Namun bukan karena Dyah Ayu yang baru saja terpental.
Matanya emas murni memandang lambang Phantom di dada Sukuba dengan sorot yang berbeda dari sebelumnya. Sesuatu bergerak di dalam dadanya, sesuatu yang sudah lama ia kubur, tetapi tidak pernah benar-benar mati.
Klan Wyvern yang tempo hari menyerang Arjuna, dan diindikasikan oleh manipulasi kata Arjuna bahwa Phantom bekerja sama dengan klan Wyvern untuk membantai semua anggota klan Hydra.
Ditambah lagi anggota klannya telah dibunuh oleh Wiryo, Suryadewa, dan Abhinata saat penculikan Dyah Ayu. Sedangkan Wiryo adalah dalang dibalik penjebakan, dan perburuan Arjuna yang memiliki token klan Hydra. Artinya Arjuna adalah orang dari Jendral Harjasa, dan klan Wyvern.
Di balik semua itu, lambang yang sama dengan yang terpasang di dada Sukuba.
"Phantom," geram Harjasa dengan suara yang keluar dari kedalaman dadanya, bukan suara seorang jenderal, melainkan suara seseorang yang menyimpan bara terlalu lama, "Kalian berani muncul dihadapanku lagi. Bajingan!”
Sukuba berpaling ke arah Harjasa dengan senyum yang sama.
"Jenderal Hydra yang terkenal itu. Kontrak kami tidak ada hubungannya denganmu, mundur saja dan—"
Harjasa sudah bergerak sebelum kalimat itu selesai. Hydra Venom First!”
Satu langkah cepat dengan satu gerakan yang penuh kepastian.
Kepalan tangannya menembus dada Sukuba dengan presisi yang tidak memberi ruang untuk tangkisan atau penghindaran apapun. Suara yang terdengar bukan suara tumbukan, melainkan suara sesuatu yang berhenti berdetak.
Sukuba menatap ke bawah dengan ekspresi yang tidak sempat berubah menjadi apapun. “Uhuk! Ti-tidak mung-mungkin?!”
Kemudian tubuhnya ambruk.
Harjasa menarik tangannya kembali dengan nafas yang masih terkendali. Namun matanya tidak melunak sedikit pun.
Dia memandang tubuh Sukuba yang tergeletak tanpa ekspresi yang berubah. Namun jari-jarinya mengepal satu kali sebelum akhirnya merenggang kembali.
“Cuih! Kalian pantas mati!” hardik Harjasa meludah ke arah mayat Sukuba.
Dyah Ayu merangkak bangkit dari tumpukan bebatuan dengan rambut berantakan.
"Eh? Sudah selesai?" Dia menoleh ke arah Harjasa dengan ekspresi yang lebih mirip kecewa daripada lega, "Aku belum puas memukulnya."
Harjasa menatapnya datar. "Kau terpental sepuluh meter."
"Itu pemanasan."
Arjuna tidak menanggapi percakapan itu. Tangannya sudah bergerak membuka panel sistem, dan mentransfer isi gulungan Arc Of Embodiment ke dalam dantian Dyah Ayu dengan satu sentuhan yang presisi.
Panel sistem melayang di hadapan Dyah Ayu seketika.
[Arc Of Embodiment telah diterima]
[Teknik Penempaan senjata dan kultivasi: Serap logam untuk menempa tubuh, dan meningkatkan ranah]
[Arc Of Embodiment adalah skill yang digunakan untuk menempa senjata tanpa harus memukulnya dengan palu. Cukup memasukan bahan senjata ke dalam formasi Arc Of Embodiment. Senjata yang dibuat levelnya selalu melebihi ekspektasi pembuat]
[Level senjata, artefak, dan armor, yakni Common, Uncommon, Rare, Super Rare, Ultra Rare, Legendary]
Dyah Ayu memejamkan mata, dan merasakan sebuah energi berada di dalam kepalanya. Pemahaman tentang Arc Of Embodiment yang sudah menyatu dengan jiwa, dan raganya.
Kemudian matanya bergerak ke arah armor yang masih menempel di tubuh mayat Sukuba. Setelah itu ke arah armor Abhinata, Suryadewa, dan Wiryo yang berserakan di sekitar kawah.
Sorot matanya berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan.
"Boleh?" tanyanya kepada Arjuna dengan nada yang terdengar terlalu antusias untuk situasi yang sedang berlangsung.
"Ambil saja!" jawab Arjuna dingin
Dyah Ayu tidak menunggu dua kali.
Ia mencabut panel armor dari tubuh Sukuba dan menggigitnya langsung dengan bunyi kerenyahan logam yang membuat Harjasa memalingkan wajah dengan ekspresi yang tidak bisa ditentukan apakah itu jijik atau tidak percaya.
"Ini … enak? Rasanya seperti Barbeque," gumam Dyah Ayu sambil mengunyah dengan ekspresi yang sangat serius.
Harjasa memejamkan mata satu detik.
Dyah Ayu sudah beralih ke armor Abhinata yang jauh lebih tebal. Ia merobeknya dari tubuh dengan kekuatan yang membuat Harjasa mengangkat satu alis, lalu mulai memakannya dengan cara yang tidak bisa digambarkan selain barbar.
Panel sistem melayang berulang kali di hadapannya.
[Mortal Frame Realm: Celestial Star — Penempaan Aktif]
Arjuna memandang semua itu tanpa ekspresi yang berubah. Kemudian bracelet di pergelangan tangannya bergetar.
Satu kali. Kemudian berhenti.
Arjuna menunduk memandang bracelet usang itu. Bracelet itu adalah sisa masa dari lalunya sebagai penjaga perbatasan Etherion yang sudah tidak pernah ia lepas.
Layar kecil di permukaannya menyala dengan cahaya merah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
[Status Buronan Diperbarui]
[Arjuna Sasrabahu]
[Level Hazard: S ke SS]
[Hadiah: 5 Juta Koin Emas]
[Perintah: Tangkap Hidup atau Mati]
“Lima juta koin emas?!”
Arjuna menutup layar bracelet itu dengan ibu jarinya tanpa ekspresi yang berubah. Namun matanya merah membara memindai seluruh area sekitar dengan kalkulasi yang tidak pernah berhenti berputar di balik ketenangan wajahnya.
Level SS berarti bukan hanya Phantom yang akan datang.
Seluruh benua akan bergerak, karena level SS berarti sudah masuk ke level perburuan internasional, yakni Alliance.
Kemudian suara tepukan tangan yang berbeda terdengar dari arah yang berbeda pula. Bukan dari kegelapan pepohonan, melainkan dari cabang pohon tertinggi yang tersisa di tepi kawah.
Sosok kecil dengan telinga lancip dan mata kuning berbentuk bulan sabit melompat turun dengan gerakan yang terlalu ringan untuk ukuran tubuhnya yang gempal. Jubah hijaunya berkibar, dan senyum di wajahnya adalah senyum yang Arjuna kenal dengan sangat baik.
Terlalu baik.
"Arjuna!" serunya dengan nada hangat yang penuh keakraban, kedua tangannya terentang seolah bertemu sahabat lama, "Kau masih hidup! Aku sudah khawatir setengah mati mencarimu!"
Dia adalah Wiranata.
Harjasa mengerutkan dahi, matanya berpindah antara sosok Hyper Goblin itu dan Arjuna.
Arjuna tidak menjawab, tidak bergerak, dan tidak mengubah ekspresi sedikitpun.
Matanya merah membara hanya menatap Wiranata dengan sorot yang datar seperti permukaan danau yang tidak mengenal riak. Namun di baliknya mengandung kedalaman yang tidak bisa diukur.
Wiranata tertawa kecil dan melangkah maju.
"Kau tahu, aku punya tawaran yang sangat menarik untukmu. Bergabunglah dengan Phantom, dengan kemampuanmu sekarang kau akan disambut dengan—"
"Kau tidak datang sendirian.” Arjuna berkata dengan nada yang sama sekali tidak mengandung pertanyaan, “Sudahi saja sandiwaramu.”
Wiranata berhenti melangkah. Senyumnya tidak berubah, tapi sesuatu di balik mata kuning bulan sabitnya bergerak sangat cepat sebelum kembali tersembunyi.
Dari balik bayangan di sisi kiri kawah, sosok dengan armor hitam berlapis tulang melangkah keluar dengan aura yang menekan seluruh area seketika.
“Perkenalkan dia adalah Rah Tengger, pilar Demonia yang pertama,” ucap Wiranata tersenyum licik.