Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.
Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.
Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Amukan Jingyuan
Jingyuan kembali ke markas dan segera menghubungi kediamannya di Guangzhou. Ibu Mei yang sudah mengetahui kondisinya sedari tadi sibuk menghubungi banyak keluarga pejabat untuk mencari tahu keberadaan Wanqing, sama halnya dengan si Tua Lu yang sibuk mencari bantuan sebanyak-banyaknya dari teman lama atau koneksinya.
"Jingyuan, Kau sudah coba pergi ke kediaman Su, Nak?" Tuan Lu Tua berkata dengan nada serak beratnya.
Jingyuan yang tersadar akan hal itu akhirnya langsung pamit dan bersiap. "Bawakan senjata kesayanganku, si merah."
Ajudannya yang mendengar itu terkejut, "Jenderal, apakah Jenderal yakin dengan keputusan ini?" Ajudan itu dengan ragu menggenggam senjata kesayangan Jingyuan yang telah lama ia museumkan di dalam lemari kaca.
Tanpa menjawab, pria itu langsung menyambar senjata api berwarna merah dengan kasar. "Ayo."
Mobil itu pun berangkat diiringi beberapa mobil ajudan dan tentara yang Jingyuan pilih sendiri, tentara khusus yang personilnya sudah tetap berisikan orang-orang kepercayaannya yang rela mati bersamanya. Malam yang sudah menuju pagi buta itu, Jingyuan memantapkan tekadnya untuk tidak akan beristirahat sampai menemukan keberadaan istrinya.
Sementara itu di kediaman Su Gongqi, pria tua itu masih terus berusaha menelpon beberapa pihak yang bisa ia andalkan untuk membantunya mencari keberadaan Wanqing.
BRAK
Telepon kabel itu ia banting dengan kasar ke lantai. Istrinya yang sedari tadi masih menemani dirinya tampak sangat ketakutan. "Tenanglah sayangku, semuanya akan baik-baik saja."
"Seharusnya Aku tidak mendengarkan saran dan permintaan wanita jalang itu lagi!" Teriaknya kasar.
Baru saja terduduk di atas kursi kerjanya, Su Gongqi dikejutkan dengan radar merah tanda bahaya dari alarm penjaga di depan gerbang rumahnya, dengan perasaan campur aduk dan tegang, ia meraih senapan panjang yang selama ini ia gantung di dinding.
"Jangan.." Istrinya terus memohon. Pria tua itu menepis lengan sang istri dan memandangnya sebentar, "Jika Aku harus mati, bawa anak-anak pergi dari sini, sejauh yang Kau bisa, bahkan jika itu harus ke luar negara."
Su Gongqi berjalan keluar. Di luar sudah terdengar suara keributan dan beberapa tembakan yang terdengar nyaring dan mencekam. Istri kedua Su Gongqi berlari mencari kedua anaknya dan menyelamatkan diri mereka menuju ruang bawah tanah, hatinya cemas begitu mendengar suara tembakan terus bersahutan di depan kediamannya. Amukan, ada yang mengamuk, pikirnya.
"Su Gongqi! Kau pilih keluar atau Aku bom kediamanmu!" Suara lantang nan gagah itu disambut dengan Su Gongqi yang keluar dari kediamannya dengan senjata laras panjangnya. Beberapa pengawal dan penjaga rumahnya sudah mengarahkan senjata mereka masing-masing kepada pria yang tengah menyandra pria berbaju hitam utusan Su Gongqi yang baru saja keluar beberapa menit lalu.
"Cih, bodoh!" Su Gongqi meludah.
"Kemarilah atau Kuhabisi semua orang-orang ini dan seisi rumahmu, termasuk istri dan anak-anakmu."
Jenderal Lu Jingyuan berdiri tegap dengan senjata yang tertodong kepada kepala pria berbaju hitam di genggamannya. Beberapa ajudan dan tentaranya sibuk menodongkan senjata kepada Su Gongqi dan para pengawalnya.
Beberapa pengawal Su Gongqi juga tergeletak mati berserakan di depan pagar yang sudah jebol sepenuhnya.
"Kau membuat keributan separah ini di rumah pengusaha paling kaya di Guangzhou, Aku khawatir akan sangat menyulitkan karirmu bukan Jenderal?"
Su Gongqi tanpa perasaan takut dan ragu maju perlahan. "Dimana istriku." Tanpa banyak basa-basi, pria itu langsung menanyakan keberadaan Wanqing.
"Istrimu? Bukannya Istrimu adalah urusanmu Jenderal?" Tanyanya sarkas.
Jenderal Lu Jingyuan yang terlihat sangat tidak bisa mengendalikan amarahnya berjalan maju mendekat, tangan kekarnya yang semula menodongkan pistol berwarna merah pada pria di genggamannya dengan cepat menekan pelatuk.
*DOR*
Suara tembakan itu menggema kencang, pria berpakaian hitam itu jatuh ke lantai yang kini telah bersimbah darahnya. Su Gongqi yang tidak menyangka melihat kekejaman asli Jenderal yang terkenal tidak berempati itu meneguk ludahnya kasar.
"Dimana."
"Istriku."
Ujarnya sembari berjalan terus mendekat. Beberapa ajudan dan pasukannya yang ingin mendekat ia tahan dengan dua jarinya yang memberikan sinyal jangan mendekat.
Beberapa pengawal Su Gongqi mulai maju menodongkan senjatanya. "Jenderal, apakah Kau fikir hanya dengan membunuh beberapa semut, Kau bisa.."
"PAPA!!"
Su Gongqi menoleh kaget ke arah sebaliknya. Di depan pintu masuk kediamannya, berdiri istri, dan kedua anaknya dengan tiga orang tentara yang sudah menodongkan pistol mereka pada ketiga anggota keluarganya itu.
Su Gongqi menatap horror pria yang kini telah berada tepat beberapa sentimeter di hadapannya. "Dimana, Istriku!" Tegasnya lagi.
Su Gongqi masih berusaha tidak panik dan menahan emosinya ketika akhirnya seluruh pertahanannya runtuh melihat sinar laser yang tertodong tepat di tengah pelipisnya. Seseorang atau tentara khusus milik Jingyuan tengah menodongkan snipernya pada dirinya.
Di tengah ketakutan dan kepungan yang tak lagi bisa ia atasi sendirian, Su Gongqi bergumam, "Kau akan membayar ini kelak."
"Ayo, ikut Aku masuk."
Su Gongqi berjalan memasuki kediamannya diikuti Jingyuan dan beberapa ajudannya. Istri dan anak-anaknya juga sudah dilepaskan dan dibiarkan berlari mengikuti Su Gongqi.
"Duduklah."
Su Gongqi mempersilahkan Jenderal Lu untuk duduk.
"Tidak ada waktu." Ujarnya dingin. Ia mengokang pistolnya tanda mengisi amunisi, seolah tidak memberikan Su Gongqi banyak waktu.
"Baiklah, berdiri jika Kau mau. Tapi cerita ini, tidaklah singkat." Ujarnya.
Sambil menatap jauh ke luar jendela, Su Gongqi menghela napas panjang, "Wanqing, bukanlah anakku."
...****************...
Wanqing terbangun dengan tubuh yang sudah sepenuhnya kering dan luka-luka di beberapa bagian tubuhnya telah diperban rapih. Karena kebingungan dan masih pusing, ia kembali memejamkan matanya, mencoba memahami situasi dan kondisinya saat ini.
"Aku dimana?" Gumamnya lagi. Ia berharap kali ini bukan penculik yang sama yang menculik atau mungkin menahannya. Setidaknya ini jauh lebih manusiawi.
Wanqing kembali membuka matanya, ia sadar kini sedang berada di sebuah ruangan yang sangat mirip dengan kamar yang rapih dan bersih. Wanqing mulai duduk perlahan, ia mengamati pintu kamar itu dan mencoba berjalan menuju pintu itu perlahan.
Berjinjit perlahan, Wanqing mencoba melihat luar kamar itu yang terlihat dari lubang pintu kecil di pintu. Ia tidak yakin apakah sekarang dirinya sudah aman atau belum, namun ia juga tidak bisa mengenali dimana dirinya berada sekarang.
Ditengah kebingungannya, Wanqing mendengar suara langkah kaki, beberapa langkah kaki yang berjalan mendekati kamarnya. Yakin tidak ingin terlihat sudah sadar, Wanqing berjalan cepat menuju kasurnya dan memejamkan matanya, berusaha berpura-pura masih tertidur.
Wanqing mendengar suara kunci kamar dibuka dan beberapa orang masuk. Salah satunya sepertinya seorang pria yang sedang menjelaskan kondisi Wanqing.
"Tidak ada luka serius kan?"
DEG
Suara itu?
Suara yang sudah tidak pernah ia dengar sejak usianya masih 6 tahun. Suara yang terus menerus menemaninya dan menenangkannya untuk tidur di malam hari. Suara yang lembut dan penuh kasih sayang yang ia sangat rindukan.
Membuka matanya lebar, Wanqing langsung duduk dengan mata terbelalak.
"IBU?!"
*BERSAMBUNG*
Tetap support Author dengan like, komen, vote, dan subscribe ya, love u all!