"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Jebakan Pasar Modal
Atmosfer di dalam ruang operasi finansial lantai bawah gedung Arsa Group terasa seperti pusat komando perang. Ruangan berukuran besar itu terkunci rapat dari dunia luar, hanya menyisakan deretan layar monitor raksasa yang memancarkan grafik pergerakan harga saham Arsa Food Group dan Luminous Beauty. Puluhan analis keuangan dan trader elit yang diikat oleh kontrak kerahasiaan tingkat tinggi duduk di depan komputer masing-masing, jemari mereka bergerak cepat di atas papan ketik.
Suhu ruangan sengaja diatur sangat dingin untuk menjaga fokus, namun ketegangan yang ada di dalam sana membuat udara terasa begitu menyesakkan.
Elena berdiri di tengah ruangan, memegang kendali penuh atas strategi perlawanan mereka. Ia tidak lagi memakai blazer putihnya; kemeja sutra di balik pakaian formalnya kini disingsingkan hingga sesiku. Sepasang mata indahnya menatap tajam ke arah grafik bursa yang terus merosot ke bawah akibat gempuran tanpa ampun dari akun-akun investor bayangan milik Syndicate faksi atas.
"Nyonya Elena! Saham Luminous Beauty sudah anjlok hampir 14%! Pihak musuh terus menjual saham kita dalam jumlah raksasa demi menjatuhkan harga!" seru kepala analis dengan suara yang bergetar menahan tekanan.
"Biarkan saja," jawab Elena, suaranya terdengar sangat jernih, dingin, dan penuh perhitungan. "Tahan semua perintah beli kita. Jangan biarkan satu sen pun dana darurat kita masuk ke pasar sekarang. Biarkan musuh berpikir kita sudah kehabisan modal dan menyerah."
Di sudut ruangan, Adrian berdiri bersandar pada pilar beton dengan tangan bersilang di dada. Kemeja hitamnya yang kasual menyamarkan postur tegapnya yang selalu siaga. Meskipun tatapan mata gelapnya terus mengawasi barisan angka di layar utama, fokus sejatinya tidak pernah lepas dari sosok Elena. Adrian memperhatikan bagaimana istrinya itu memimpin ruang operasi dengan ketenangan absolut seorang Alexander, karakter kuat yang membuat rasa kagum di dalam dada Adrian makin mengental.
BIP!
Sebuah lampu indikator kuning menyala di meja konsol utama Elena. "Nyonya, faksi lawan mulai menggunakan trik kotor. Mereka meminjam jutaan lembar saham yang sebenarnya tidak mereka miliki untuk dijual massal secara fiktif. Mereka benar-benar berniat membuat saham kita hancur total sebelum jam makan siang."
Taktik licik musuh ini sebenarnya adalah perjudian yang sangat berbahaya. Musuh menjual saham pinjaman itu dengan harapan harganya akan terus merosot, sehingga nanti mereka bisa membelinya kembali dengan harga yang sangat murah untuk dikembalikan ke pemilik aslinya dan meraup keuntungan raksasa. Namun, trik ini punya risiko fatal. Jika harga saham justru mendadak melonjak naik, musuh akan terjebak dan mengalami kerugian tanpa batas.
Elena menoleh ke arah Adrian, memberikan sebuah isyarat mata yang sangat tipis namun sarat akan kesepahaman taktis.
Adrian menegakkan tubuhnya, melangkah perlahan mendekati meja Elena dengan aura predator yang begitu pekat. Ia menekan tombol interkom yang langsung terhubung dengan jalur aman perwakilan Komisi Tindak Integritas dan Otoritas Pengawas Finansial yang sejak pagi sudah memantau pergerakan dari gedung sebelah.
"Otoritas Pengawas Finansial, ini Adrian Arsa," ucap Adrian dengan suara baritonnya yang rendah namun menggelegar di dalam ruang operasi. "Seluruh akun bayangan faksi atas telah masuk ke posisi terdalam mereka. Mereka sudah menjual saham melampaui batas aturan yang sah. Kunci semua akses transaksi mereka sekarang, jangan biarkan mereka menarik diri."
"Dipahami, Tuan Arsa. Sistem pengawasan telah mengunci posisi mereka. Musuh tidak bisa membatalkan perintah jual mereka," jawab suara dari seberang interkom.
Sudut lipatan bibir Adrian terangkat, membentuk senyuman kejam yang sangat tipis. Ia menatap Elena, lalu mengangguk pelan. "Umpan sudah ditelan habis oleh serigala faksi atas, Putri Kecil. Eksekusi."
Elena berbalik dengan cepat menghadap layar utamanya. Senyuman menantang yang elegan terukir di wajah cantiknya. "Aktifkan Konsorsium Utara. Suntikkan dana taktis gelombang pertama... lima puluh triliun. Borong semua saham kita yang ada di pasar sekarang juga!"
KLIK!
Jemari Elena menekan tombol eksekusi utama dengan sentakan yang sangat tegas.
Detik itu juga, sebuah pembalasan yang mengerikan terjadi di papan saham faksi pusat. Grafik saham Arsa Food Group dan Luminous Beauty yang tadinya merosot tajam ke bawah mendadak berhenti bergerak selama beberapa milidetik, sebelum akhirnya melesat naik secara vertikal membentuk garis lurus berwarna hijau pekat.
Dinding tebal dari perintah beli dengan volume modal raksasa tak terbatas mendadak muncul dari pihak Adrian dan Elena, menyapu bersih semua lembar saham yang dijual oleh Syndicate dalam hitungan detik.
"Minus 10%... Minus 2%... Saham kita kembali ke harga normal saat pembukaan pagi tadi!" teriak analis dengan mata melotot tidak percaya.
"Jangan kasih napas! Suntikkan gelombang dana kedua sekarang juga! Naikkan harganya lebih tinggi!" perintah Elena, auranya saat memimpin benar-benar mendominasi seluruh ruangan.
Garis hijau di layar monitor melesat makin gila, menembus zona positif hingga naik mencapai plus 15%. Pergerakan naik yang sangat ekstrem dan instan ini seketika memicu kepanikan massal bagi pihak musuh. Akun-akun milik faksi atas Syndicate yang tadi menjual saham pinjaman mendadak terjebak di dalam perangkap besi. Karena harga saham justru melonjak tinggi, sistem pasar modal secara otomatis memaksa musuh untuk membeli kembali saham tersebut di harga atas yang super mahal demi menutup kerugian mereka yang terus membengkak setiap detiknya.
"Mereka panik! Musuh mencoba membeli kembali saham kita untuk menyelamatkan sisa uang mereka, tapi tidak ada barang yang dijual di pasar! Semua saham sudah kita borong dan kuasai!" Hendra berseru dengan kepuasan yang luar biasa.
"Kerugian mereka berlipat ganda! Dalam tiga puluh menit ini, faksi atas Syndicate terkonfirmasi kehilangan uang sebesar delapan puluh triliun secara permanen!" tambah kepala analis sambil bersorak gembira bersama seluruh kru di dalam ruangan.
Di tengah riuhnya sorak-sorai kemenangan para analis keuangan, Elena akhirnya bisa melepaskan napas panjang yang tertahan di dadanya. Tubuhnya mendadak terasa sedikit lemas karena sisa ketegangan adrenalin yang luar biasa besar baru saja menguras energinya.
Sebelum tubuhnya sempat terhuyung pelan ke belakang, sebuah lengan kekar dan kokoh dari arah belakang langsung melingkar di pinggang ramping Elena, menahan bobot tubuh wanita itu dengan sangat sigap dan protektif.
Elena mendongak, menemukan wajah tegas Adrian yang sudah berada sangat dekat di atasnya. Tatapan mata gelap Adrian yang biasanya sedingin es kini memancarkan binar kehangatan yang teramat intens dan penuh rasa bangga.
"Kerja bagus, Nyonya Arsa," bisik Adrian rendah tepat di depan pelipis Elena, suaranya yang berat bergetar oleh kepuasan taktis. "Kamu baru saja mematahkan kaki finansial faksi atas dalam satu gerakan skakmat yang indah."
Elena tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya sepenuhnya pada dada bidang Adrian yang terasa hangat dan kokoh di balik kemeja hitamnya. "Kita yang melakukannya, Adrian. Tanpa umpan taktis dan dana darurat darimu, jebakan ini tidak akan pernah bekerja sesempurna ini."
Adrian mempererat dekapannya di pinggang Elena selama beberapa detik, mengabaikan fakta bahwa mereka sedang berada di tengah ruang operasi yang dipenuhi orang, seolah ingin menegaskan kepemilikan mutlaknya atas wanita cerdas di pelukannya ini.
Namun, tepat saat atmosfer romantis yang intens mulai menyelimuti mereka berdua di tengah sisa kemenangan bursa, sebuah bunyi alarm peringatan dengan nada yang berbeda mendadak berbunyi dari komputer pribadi milik Hendra di sudut meja.
BIP! BIP! BIP!
Hendra yang sedang memeriksa data kerugian musuh mendadak membeku. Wajahnya yang tadi penuh senyum kemenangan seketika berubah menjadi pucat pasi saat membaca sebuah pesan ancaman tingkat tinggi yang baru saja masuk menembus sistem keamanan internal mereka.
"Tuan Adrian... Nyonya Elena..." suara Hendra mendadak bergetar hebat, memutus kegembiraan di dalam ruangan. "Ini... ini bukan tentang bursa saham lagi. Sisa petinggi tertinggi faksi atas Syndicate internasional baru saja mengirimkan sebuah pesan langsung. Mereka tahu kita menggunakan jalur Konsorsium Utara."
Adrian perlahan melepaskan pelukannya pada Elena, matanya kembali berubah menjadi sedingin predator malam yang siap menerkam. "Apa isi pesannya, Hendra?"
Hendra menelan ludah dengan susah payah, lalu membalikkan layar monitornya ke arah Adrian dan Elena. Di atas layar hitam itu, sebuah kalimat pendek berwarna merah darah tertulis dengan tulisan yang dingin:
"Kemenangan di atas kertas yang manis, Adrian. Mari kita lihat seberapa cepat seluruh perusahaan pangan Arsa Group akan runtuh saat kami memblokir total pasokan bahan baku utama dari gerbang wilayah barat besok pagi."
Elena mencengkeram erat tepi meja marmer, merasakan ancaman baru yang jauh lebih nyata dan masif langsung mengintai fondasi bisnis suaminya. Faksi atas ternyata tidak sekadar bermain di angka digital, mereka siap mencekik urat nadi fisik seluruh imperium pangan Arsa Group dari jalur pengiriman logistik global.
......BERSAMBUNG......