NovelToon NovelToon
Dua Sisi Sangkar Emas

Dua Sisi Sangkar Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Tulus

Lampu kristal yang menggantung di ruang tengah kediaman keluarga Arkatama tidak pernah benar benar mampu menghangatkan dingin yang membeku di antara Kyna dan Julian. Lima tahun pernikahan seharusnya menjadi perayaan tentang kesetiaan namun bagi Kyna itu adalah lima tahun pengabdian dalam sunyi yang mencekam. Tepat pada malam peringatan pernikahan mereka sebuah kebenaran pahit terkuak melalui celah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di sana di bawah kucuran air yang menderu Kyna mendengar suaminya menggumamkan satu nama yang selama ini menjadi hantu tak kasat mata dalam hidup mereka yakni Elara sang cinta pertama yang baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air.

Julian adalah pria yang membangun tembok es di sekeliling hatinya namun bagi Elara pria itu bersedia menjadi api yang menghangatkan. Setiap kali Julian pergi dengan alasan membantu seorang teman yang sedang kesulitan Kyna hanya mampu menjawab dengan seulas senyum tipis dan kata kata pendek yang menyembunyikan luka...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Pintu aula hotel yang megah itu akhirnya berdentum tertutup setelah satpam memastikan Aldrian dan Anara keluar dari ruangan. Keheningan yang canggung sempat menggelayuti ruangan selama beberapa detik, sebelum akhirnya kasak-kusuk para tamu kembali pecah, kali ini dengan nada yang penuh dengan cemoohan terhadap drama "pengorbanan cinta" yang baru saja dipertontonkan oleh kedua orang itu.

Kyna masih berdiri di tempatnya. Genggaman tangan Sonia di jemarinya terasa begitu hangat, seolah menyalurkan seluruh kekuatan yang sempat terkuras habis.

"Kyna, kamu tidak apa-apa?" tanya Sonia dengan mata yang berkaca-kaca karena tak tega. Di matanya, Kyna bukan sekadar murid, melainkan salah satu bakat paling gemilang yang pernah ia asuh, yang sayangnya harus meredup di dalam sangkar pernikahan yang beracun.

Kyna menarik napas dalam-dalam, lalu mengulas senyum tipis yang tulus. "Aku tidak apa-apa, Bu Sonia. Justru... aku merasa sangat lega sekarang."

Rasa pahit itu memang ada, tetapi anehnya, ada rasa rileks yang luar biasa yang menyergap dadanya. Selama lima tahun ini, dia selalu menyembunyikan status pernikahannya, menutupi kecacatan kakinya, dan hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan penilaian orang. Namun malam ini, ketika rahasia itu terbongkar dengan cara yang paling telanjang, dunia ternyata tidak runtuh. Bumi tidak berhenti berputar, dan orang-orang di sekitarnya tidak menatapnya dengan pandangan menghina, melainkan dengan simpati dan kekaguman.

Evan, suami Sonia, melangkah mendekat dengan raut wajah tegas yang perlahan melembut saat menatap Kyna. "Nona Kyna, aku minta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya. Pihak kami tidak pernah tahu bahwa Aldrian Wibowo menyembunyikan fakta sebesar ini. Mulai besok, seluruh draf proposal kerja sama dengan Wibowo Group akan resmi dibatalkan dan ditarik dari meja direksi."

"Terima kasih, Pak Evan," jawab Kyna sopan. Dia tahu pembatalan ini akan menjadi pukulan telak bagi perusahaan Aldrian, terutama di saat mereka sedang gencar melakukan ekspansi pasar. Namun, Kyna tidak merasa bersalah sedikit pun. Itu adalah harga yang harus dibayar Aldrian atas kebohongannya sendiri.

"Kak Kyna," Eldric menyela dengan suara rendah, mengalihkan perhatian semua orang kembali padanya. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku tuksedo dengan gerakan santai, seolah baru saja menyelesaikan tugas kecil yang tidak berarti. "Jangan pikirkan dokter palsu dari pria itu. Setelah pesta ini selesai, aku dan Bu Sonia akan membantumu mengatur pertemuan dengan spesialis yang sebenarnya di Paris. Kamu... masih ingin pergi, 'kan?"

Mendengar kata "Paris", mata Kyna sedikit berbinar. Waktu dua puluh sembilan harinya kini terasa berjalan jauh lebih cepat. "Tentu saja. Aku akan tetap pergi."

Sonia tersenyum haru, lalu menepuk pundak Eldric. "Baguslah kalau begitu. Malam ini, lupakan bajingan itu dan selingkuhannya. Mari kita nikmati pesta ini. Kyna, perkenalkan, ini beberapa kurator dan pengamat seni dari ibu kota. Mereka semua sangat mengagumi karya-karya koreografimu dulu."

Di bawah bimbingan Sonia dan pengawalan diam-diam dari Eldric, Kyna menghabiskan sisa malam itu dengan mengobrol bersama orang-orang yang menghargai dirinya karena kemampuannya, bukan karena statusnya sebagai "Istri Aldrian". Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Kyna merasa dirinya benar-benar hidup kembali sebagai seorang seniman.

Sementara itu, di dalam mobil yang melaju membelah kegelapan malam Kota Hatam, atmosfer terasa begitu mencekam. Aldrian mencengkeram kemudi dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara Anara terus terisak di kursi penumpang di sebelahnya.

"Aldri... maafkan aku... gara-gara aku, proyek besarmu dengan Pak Evan jadi hancur..." tangis Anara pecah, air matanya membasahi pipi. "Kalau saja aku tidak impulsif malam itu... kalau saja aku tidak membiarkan orang-orang salah paham..."

"Sudahlah, Nara. Aku bilang itu bukan salahmu," potong Aldrian dengan nada suara yang terdengar lelah namun berusaha menahan emosi. Kepalanya berdenyut menyakitkan. Kejadian di pesta tadi benar-benar menghancurkan harga dirinya sebagai seorang pria dan pemimpin perusahaan.

Namun, di tengah kemarahannya pada situasi tersebut, bayangan wajah Kyna yang menatapnya dengan pandangan dingin dan asing tadi terus berputar di benaknya. Mengapa Kyna bisa sesantai itu? Mengapa dia tidak menangis atau membuat keributan seperti biasanya? Panggilan "Pak Aldrian" yang keluar dari bibir Kyna terasa seperti sebuah garis pembatas tebal yang sengaja ditarik wanita itu di antara mereka.

Mobil akhirnya berhenti di depan lobi apartemen Anara.

"Kamu turun dan istirahatlah," kata Aldrian tanpa menoleh.

Anara menatap Aldrian dengan mata sembap. "Kamu... kamu tidak mau mampir dulu? Kamu sedang kacau, Aldri. Biarkan aku menemanimu..."

"Nggak usah. Aku harus pulang ke rumah. Ada hal yang harus aku selesaikan dengan Kyna," jawab Aldrian dingin, ada nada final yang tidak bisa dibantah dalam suaranya.

Anara mengepalkan tangannya di balik gaun, merasa tidak senang dengan penolakan itu, namun dia terpaksa turun dari mobil dengan wajah lesu. Begitu pintu mobil tertutup, Aldrian langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, melesat menuju rumah mereka. Dia harus menuntut penjelasan dari Kyna atas kekacauan malam ini.

Ketika Aldrian tiba di rumah dan membuka pintu dengan kasar, suasana rumah tampak sunyi senyap dan gelap gulita. Dia bergegas menuju kamar tamu tempat Kyna tidur belakangan ini, namun kamar itu kosong melongpong dengan tempat tidur yang sudah rapi. Aldrian beralih ke kamar utama dan menyalakan lampu, hanya untuk menemukan sebuah map putih di atas meja rias. Di dalamnya terdapat surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani oleh Kyna, lengkap dengan sebuah paspor baru dan tiket pesawat satu arah menuju Paris dengan tanggal keberangkatan tepat dua puluh sembilan hari dari sekarang, serta sebuah memo kecil: "Jangan cari aku lagi. Anggap saja ini pelunasan utang nyawamu yang sudah lunas."

1
falea sezi
sejauh ini. muter doank ini novel🤣 pret rugi baca nya gue😒
falea sezi
jahat bgt si bangsat😒
falea sezi
bukannya Julian kok jd andrian
Emi Sudiarni
bgusvsib ceritanya. tpi bingung bacanya kerna bolak balik dsk beraturan
Emi Sudiarni
sdih bngat ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!