"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35.Investigasi
Setelah sosok Salsa dan Rani menghilang di tikungan koridor, keheningan kembali menyelimuti ruangan perpustakaan yang luas itu. Pak Ardi berdiri diam di tempatnya, menatap pintu kayu yang kini tertutup kembali perlahan. Senyum sopan yang biasanya selalu menghiasi wajah tampannya perlahan luntur, berganti menjadi ekspresi dingin dan penuh perhitungan. Ia mengangkat tangan kanannya yang tadi sempat menyentuh kulit punggung tangan Salsa, mendekatkannya ke hidung, lalu menghirup udara dalam-dalam seolah sedang menikmati aroma yang sangat istimewa. Di sudut bibirnya, tersungging senyum penuh arti yang mengerikan.
"Kau tidak akan bisa lari selamanya, gadis kecilku..." gumamnya pelan, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Kau sama menariknya dengan gadis itu, bahkan jauh lebih berharga. Cepat atau lambat, kau akan menjadi milikku sepenuhnya."
Sementara itu, Rian dan Bobby baru saja sampai di depan ruang kelas tempat Ria Delia belajar. Ruangan itu kini kosong melompong karena jam pelajaran belum dimulai kembali. Mereka berdua memutuskan untuk mengumpulkan keterangan di ruang Bimbingan Konseling yang terletak tak jauh dari sana, ruangan yang tenang dan tertutup, cocok untuk keperluan wawancara. Beberapa siswa yang merupakan teman dekat sekaligus teman sekelas Ria sudah dipanggil lebih dulu untuk dimintai keterangan.
Rian duduk di kursi berhadapan dengan para siswa itu, wajahnya serius namun berusaha terlihat ramah agar mereka tidak terlalu takut. Di sebelahnya, Bobby sudah bersiap dengan buku catatan dan pulpen di tangan, siap mencatat setiap detail penting yang terucap.
"Tenang saja, saya hanya ingin bertanya beberapa hal tentang Ria. Kalian berteman dekat dengannya, bukan? Apakah akhir-akhir ini dia terlihat berbeda, atau ada bercerita tentang sesuatu yang membuatnya takut atau terancam?" tanya Rian memulai, suaranya lembut namun tajam menangkap setiap ekspresi wajah mereka.
Seorang gadis dengan rambut dikepang dua mengangguk pelan, wajahnya masih tampak pucat dan sedih. "Ria... dia anak yang baik, Pak. Dia ramah pada semua orang. Tapi dua hari sebelum dia hilang, dia memang terlihat agak lain. Dia sering melamun, suka tersenyum sendiri, dan sering pergi ke perpustakaan sepulang sekolah. Dia bilang... ada orang yang dia kagumi di sana."
"Orang yang dikagumi? Siapa itu?" potong Bobby cepat sambil mencatat.
"Kami tidak tahu pasti, Pak. Dia tidak pernah menyebut nama, hanya bilang orang itu sangat baik, sopan, dan tampan," jawab gadis itu lagi.
Setelah mendapatkan keterangan dari teman-teman sekelasnya, Rian dan Bobby memanggil guru wali kelas serta beberapa staf sekolah. Semua keterangan yang masuk mengarah pada satu titik yang sama yaitu perpustakaan, dan satu-satunya orang yang bertugas di sana sepanjang hari adalah Pak Ardi.
"Ada satu orang lagi yang harus kita temui, Pak," ucap Bobby sambil menunjuk catatannya. "Berdasarkan jadwal keberadaan Ria dan keterangan siswa, orang terakhir yang melihat dan berbicara langsung dengannya sebelum gadis itu meninggalkan lingkungan sekolah adalah Pak Ardi, guru sekaligus penjaga perpustakaan ini."
Rian mengangguk pelan, rahangnya mengeras. Ada firasat tidak enak yang menjalar di hatinya. "Panggil dia ke sini, Bob. Aku ingin dengar sendiri ceritanya."
Tak lama kemudian, pintu ruang BK terbuka, dan Pak Ardi masuk dengan langkah tenang, tegap, dan penuh percaya diri. Ia tersenyum sopan saat melihat dua petugas berseragam itu, lalu duduk di kursi yang ditunjuk dengan sikap yang sangat terjaga dan sopan. Penampilannya sangat rapi, tidak ada sehelai pun rambut yang berantakan, pakaiannya wangi dan bersih, membuat kesan pertama yang ia berikan sangat positif.
"Selamat pagi, Pak Polisi. Ada yang bisa saya bantu? Saya sudah diberitahu bahwa Anda sedang menyelidiki kasus hilang sekaligus meninggalnya siswa kami, Nona Ria Delia," ucap Pak Ardi duluan dengan nada suara yang ramah dan tenang, seolah sama sekali tidak merasa canggung atau bersalah.
Rian menatapnya lekat-lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya yang tajam, terlatih melihat ratusan tersangka dan penjahat, kini meneliti setiap gerak-gerik pria muda di hadapannya. Ada sesuatu yang samar namun terasa janggal, meski penampilan dan perilakunya sangat sempurna.
"Benar, Pak Ardi. Kami ingin bertanya, kapan terakhir kali Bapak melihat Ria? Dan apa yang dia lakukan saat itu?" tanya Rian langsung pada intinya, suaranya datar dan penuh selidik.
Pak Ardi tersenyum tenang, tangannya bersedekap di atas meja dengan sopan. "Itu sekitar sore hari, Pak. Seperti biasa, Ria memang sering mengunjungi perpustakaan sepulang sekolah. Dia suka membaca, dan kadang membantu saya merapikan buku. Hari itu pun sama. Dia datang, duduk membaca di dekat jendela, lalu sekitar pukul empat sore dia berpamitan ingin pulang. Tidak ada yang aneh, Pak. Dia terlihat ceria seperti biasanya, tidak ada yang mencurigakan sama sekali."
Bobby mencatat setiap kata yang keluar dari mulut Ardi, sementara Rian tetap diam, menatap tajam ke manik mata pemuda itu, berusaha mencari celah atau kebohongan. Namun, Ardi menatap balik dengan pandangan teduh dan tulus, tanpa rasa takut sedikit pun.
"Apakah dia sendirian saat pulang? Atau ada teman yang menemaninya?" tanya Rian lagi.
"Dia sendirian, Pak. Saat itu saya sedang merapikan berkas di meja depan. Tapi..." Ardi berhenti sejenak, seolah baru teringat sesuatu yang penting. Ia mengerutkan kening seakan sedang berpikir keras.
"Tapi apa?" desak Bobby.
"Eh, ya... ada satu hal kecil yang mungkin tidak berarti, tapi saya ingat betul," ucap Ardi pelan, nadanya terdengar ragu seolah tidak yakin harus mengatakannya atau tidak. "Saat dia berpamitan, dia meninggalkan gantungan kunci kecil di meja saya. Saya baru menyadarinya saat dia sudah berjalan cukup jauh menuju gerbang samping. Saya sempat berniat mengejarnya untuk mengembalikan barang itu. Namun, saat saya melangkah keluar dari pintu perpustakaan, saya melihat ada sosok orang lain yang berdiri agak jauh di pinggir jalan, sepertinya sedang menunggunya... atau mungkin mengikutinya. Posisi saya agak terhalang tiang, jadi saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas."
Hening seketika menyelimuti ruangan itu. Rian dan Bobby saling pandang sejenak, keduanya menangkap poin baru itu.
"Lalu kenapa tidak Bapak kejar atau tanya siapa orang itu?" tanya Rian, nada suaranya sedikit meninggi, namun tetap terkontrol.
Pak Ardi mengangkat kedua tangannya sedikit sambil tersenyum pasrah. "Maafkan saya, Pak. Saat itu pintu perpustakaan belum saya kunci, dan ada beberapa berkas penting yang belum disimpan di dalam. Saya tidak bisa meninggalkan ruangan itu terbuka begitu saja. Saya pikir mungkin itu hanya teman atau kerabat yang menjemputnya. Jadi saya kembali masuk, mengunci pintu, dan saat saya melihat ke luar lagi, mereka berdua sudah tidak ada di sana. Saya sama sekali tidak menyangka hal buruk akan terjadi pada gadis malang itu."
Rian diam sejenak, membiarkan penjelasan itu meresap. Cerita Ardi terdengar masuk akal, runtut, dan logis. Namun, naluri seorang penyidik membuatnya tetap meragukan kebenaran itu. Ada bagian yang terlalu mulus, terlalu sempurna, seolah sudah disusun rapi sebelumnya agar tidak ada celah yang bisa disalahkan.
"Baiklah, terima kasih atas keterangannya, Pak Ardi. Jika ada hal lain yang kami butuhkan, kami akan panggil lagi. Bapak boleh kembali bekerja," ucap Rian singkat, memberi isyarat agar pemuda itu boleh pergi.
"Terima kasih, Pak. Semoga penyelidikan ini berjalan lancar dan pelakunya segera tertangkap," jawab Ardi sopan, lalu berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.
Saat punggung Ardi berbalik membelakangi mereka berdua, senyum sopan itu perlahan berubah. Di sudut bibirnya, terukir senyum kemenangan yang penuh misteri dan kelicikan. Ia berjalan santai menyusuri koridor, seolah baru saja berhasil melewati jebakan yang dibuatnya sendiri, meninggalkan dua penyidik itu dalam keraguan yang semakin besar.
Di ruang kelas lain, Salsa duduk diam di bangkunya, namun pikirannya sama sekali tidak menangkap penjelasan guru yang sedang berbicara di depan. Ia duduk memeluk buku tebal sejarah yang ia pinjam tadi, dan di balik sampul buku itu, tersembunyi buku harian merah tua milik Ria yang menjadi kunci semua misteri ini.
Di sebelahnya, di bangku yang kini kosong—bangku milik Ria—sosok gadis malang itu duduk bersila di atas meja, menunduk diam dengan bahu yang turun naik karena menangis dalam diam. Wajah Ria masih tampak ketakutan, matanya sesekali melirik ke arah pintu kelas, ke arah tempat Pak Ardi berdiri tadi pagi, meski sosok itu sudah tidak ada lagi di sana.
Salsa menghela napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang belum kembali normal sejak kejadian di perpustakaan tadi. Potongan-potongan kejadian, barang bukti yang ada di tangan Ardi, tatapan mengerikan pria itu, dan peringatan wanita tua penunggu perpustakaan... semuanya mengarah ke satu kesimpulan yang mengerikan.
Apakah benar dia pelakunya? Apakah Pak Ardi yang tampan, sopan, dan disegani itu adalah orang jahat yang membunuh Ria? batin Salsa bergumam, matanya menatap kosong ke papan tulis di depan.
Namun, di sisi lain, Salsa berusaha mencari alasan lain. Mungkin aku salah paham. Mungkin tatapan itu hanya kebetulan. Mungkin dia memang hanya orang baik yang kebetulan terakhir bertemu dengannya. Bagaimana mungkin seorang guru yang begitu lembut berbuat kejahatan sekejam itu?
Namun setiap kali Salsa mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Ardi tidak bersalah, gambaran gantungan tas kesayangan Ria yang tergantung di meja kerja pria itu kembali melintas di benaknya, disusul rasa dingin dan ancaman yang ia rasakan saat tangan Ardi menyentuh tangannya tadi.
Salsa lalu melihat kearah belakang, kearah bangku kosong untuk mata orang biasa tapi bukan Salsa.
Disana Salsa melihat Ria yang terdiam merenung, yang tadinya dia menyebalkan namun sekarang sikap Ria berubah pendiam merenung.
Salsa pun berusaha untuk menyelesaikan pelajaran hari ini, dan yang di pikiranya sekarang adalah minta bantuan Rian.
knp sih gak peka banget jadi orang.
dan sekarang kamu merasakan cemburu, sukurin.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍