Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.
Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.
"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....
......
Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...
Semoga suka dengan cerita baru nya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Periksa
Dita sudah membaik dan kembali beraktifitas semua keluarganya sudah kembali ke kota masing-masing menyisakan Pak Wirawan dan Ibu Jelita. Mereka menginap di rumah Kania. Ibu Rani sering ke rumah Kania. Pak Wirawan dan Dokter Wijaya pun sering pergi bersama entah apa saja yang mereka berdua kerjakan.
Dita bersemangat kembali bekerja karena kedua pasang orang tuanya masih berada di kota Y. Setelah kejadian beberapa waktu itu Dita benar-benar waspada dengan sekitar karena tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali. Ternyata istri Dani hanya korban fitnah yang membuatnya buta mata karena cemburu.
"Dok Dit.."
"Dokter Laela yang tercantik serumah-rumah. Tolong ya panggilannya." Dita.
"An.."
"Stop! Jangan bilang anak lu yang mau." Potong Dita.
"Hahaha... Plis sayang ku jangan marah-marah dong cepet tua nanti anak gw belum lahir nih." Laela.
"Hm... Apa sih." Dita.
"Nanti siang makan bareng ya." Laela.
"resto depan aja ya." Dita.
"Siap Nona cantik... Angel sudah reservasi di depan." Laela.
"Oke..."
"Udah banyak bayi-bayi menunggu ya." Laela.
"Iya nih. Gw duluan ya." Dita.
"Siap Bu Dok Dit." Laela.
Dita dan Laela pun berpisah ke poli masing-masing. Dita merubah mimik wajahnya dengan penuh senyuman menyambut bayi-bayi yang datang menemuinya. Ada yang sakit ada pula yang datang untuk vaksin.
"Dok, ini kakak beradik masuk sekalian?" Tanya suster Mia.
"Pasien baru sus?"
"Iya Dok. Ini Kakaknya masih 18 bulan adeknya 1 bulan." Suster Mia.
"Wah,, ya udah suruh masuk sama-sama aja." Dita.
Dita pun kembali fokus pada layar komputer untuk mengisi laporan pasiennya. Saat mendengar orang masuk Dita mengalihkan pandangannya dari layar ke pasiennya. Dan ternyata seorang polisi. Entah mengapa dadanya berdetak lebih cepat Dita segera menetralisir debaran jantungnya dengan menarik nafas dalam.
"Selamat pagi. Silahkan Ibu, biar abang nya dulu ya." Dita.
"Iya Dok." Jawab Ibu Fatimah membaringkan cucunya di tempat tidur samping Dita.
"Mama.." Ucap batita laki-laki di hadapannya.
"Eh, sayang. Dokter bukan Mama. Maaf ya Dok." Ucap Ibu Fatimah.
"Tidak apa-apa Bu. Mama nya ngga ikut ya? Abang mau sama Mama ya?" Tanya Dita biasa saja.
"Bunda nya meninggal Dok satu minggu setelah melahirkan adiknya."
Bukan Ibu Fatimah yang menjawab melainkan pria yang berseragam polisi yang di duga Ayah kedua bayi pasiennya.
"Oh, maaf saya tidak bermaksud." Dita.
"Tidak apa-apa Dok." Feri.
Ya, ternyata polisi yang berada di hadapannya adalah Feri polisi yang menangani kasus Dita kemarin. Hanya saja Dita tak mengenalnya karena saat kejadian kemarin pun Dita tak banyak berinteraksi langsung dengan Feri.
"Mama..."
Putra pertama Feri terus merengek meminta gendong pada Dita.
"Iya sayang, Dokter periksa dulu abangnya ya." Dita.
Dita pun memeriksa batita yang bernama Jonathan dengan sedikit kesulitan karena Jonathan yang terus meminta gendong membuat Feri bersikap tegas pada Putranya itu hingga menangis.
"Eh,, ngga apa-apa Pak. Sini Nak sayang. Sudah ya jangan nangis. Jonathan boleh peluk Dokter tapi, sebentar ya Dokter pinjam dada nathan buat Dokter periksa. Nanti nathan boleh peluk lagi." Ucap Dita lembut.
Sungguh ajaib Jonathan mau diam dan menurut perintah Dita. Padahal biasanya Jonathan sulit mendengar jika Ibu Fatimah memberikan pengertian padanya bahkan tak jarang Feri di buat kesal oleh batita tersebut.
"Dokter mau suntik abang sebentar ya. Rasanya sakit tapi sebentar aja kok sakitnya. Abang peluk Papa dulu ya nanti boleh peluk Dokter lagi." Perintah Dita dan benar saja Batita tersebut mau memeluk Feri.
Dita melakukan tugasnya menyuntikkan vaksin pada lengan Jonathan tampak Jonathan meringis dan hampir menangis namun berhasil diam saat Dita merentangkan kedua tangannya dan Jonathan pun kembali memeluknya.
"Anak hebat anak pintar. Terima kasih ya sayang. Abang hebat tidak menangis walau sakit. Kan sakitnya sebentar ya Nak ya." Ucap Dita sambil memeluk dan mengusap punggung Jonathan.
"Wah, abang Jo hebat. Oma bangga sekali." Ucap Ibu Fatimah.
"Ayo abang sama Papa lagi. Dokter harus memeriksa adik." Ajak Feri.
Alih-alih melepaskan pelukan Feri Jonathan malah mempererat pelukannya pada Dita.
"Ups! Aduh, abang sayang. Dokter periksa adik sebentar ya." Bujuk Dita.
Kali ini tak serta merta Jonathan melepaskan Dita. Dita butuh beberapa kali membujuk Jonathan hingga akhirnya Jonathan mau lepas dari Dita. Namun, bukannya Jonathan mau melepas Dita begitu saja. Jonathan kembali merengek meminta Dita.
Perpisahan Dita dan kedua Putra dan putri Feri pun terjadi cukup alit dan menyedihkan. Entah mengapa Dita merasa berat berpisah dengan mereka apalagi Jonathan terus menangis tak ingin di pisahkan dengannya.
"Baru kali ini ya Dok ada yang ngga mau pulang." Suster Mia.
"Kasian mereka ya sus." Dita.